
Juni baru saja keluar dari unitnya. Pria tersebut melirik ke unit sebelah, yang tak lain milik Shinta. Sejak kejadian kemarin, mereka saling menjaga jarak. Juni tidak ingin ada rumor yang beredar mengatakan bahwa dirinya menjalin hubungan dengan tetangganya itu.
Namun, dengan bersikap saling acuh tak acuh seperti ini, dia juga merasa tak enak. Seperti ada sesuatu yang mengganggunya. Biasanya ia tak terlalu merasa kesepian karena Shinta yang setia menemaninya, akan tetapi kini rasa sepi itu kembali menyelimuti dirinya.
Juni memasuki mobil yang ada di parkiran. Mobil tersebut merupakan hadiah dari Alvaro untuk asisten kesayangannya. Untuk mempermudah Juni ke sana dan kemari.
Juni mulai menghidupkan mesin mobilnya, membawa kendaraan roda empat tersebut menuju ke jalanan.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, Juni pun tiba di kantor. Tak lama ia berjalan meninggalkan mobilnya, Alvaro juga tiba di kantor.
Juni langsung berjalan menghampiri atasannya, menundukkan kepala menyambut kedatangan Alvaro.
"Selamat pagi, Pak." Pria tersebut menyapa atasannya.
"Pagi. Ada apa? Sepertinya kerutan di wajahmu semakin bertambah. Apa yang kamu pikirkan?" celetuk Alvaro menatap asistennya dengan seksama.
"Kerutan?" gumam Juni yang langsung meraba wajahnya.
"Hmmm ... kamu sepertinya akhir-akhir ini sedikit stres," ujar Alvaro yang langsung berjalan mendahului asistennya.
"Stres? Apakah terlihat begitu jelas? Ah, mungkin ini hanya sekedar memikirkan urusan pekerjaan saja. Bukan hal yang lainnya," gumam Juni yang langsung menyusul Alvaro.
Juni berjalan menuju ke meja kerjanya, sementara Alvaro masuk ke dalam ruangannya. Saat berada di perjalanan menuju ke meja kerja, Juni berpapasan dengan Shinta.
Kali ini, Shinta hanya menundukkan kepalanya dengan hormat. Tak berkata apapun, tak juga melontarkan candaan basa-basi seperti biasanya.
Entah mengapa, Juni merasa ada sesuatu yang kurang. Melihat perubahan Shinta membuatnya sedikit merasa dianggap orang asing oleh tetangganya sendiri. Padahal semua itu Juni lah yang memulainya. Andaikan waktu itu Juni tidak menjauhi Shinta. Andaikan dia lebih pandai menyikapi rumor yang beredar dengan bijak tanpa harus menjauh dari tetangganya. Mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.
Saat di siang hari, Juni beranjak dari kursinya, berjalan menuju ke pantry. Sesampainya di sana, ia menemukan Shinta yang berada di pantry tersebut. Tak ada orang lain, hanya gadis itu.
Juni pun memberanikan diri untuk masuk. Mengambil kopi sachet lalu kemudian menyeduhnya. Shinta yang berada di sana tak berucap apapun. Juni juga terlalu gengsi untuk membuka suara terlebih dahulu.
Keduanya saling membelakangi, tanpa menyapa sama sekali. Saat Shinta hendak berbalik, di waktu yang bersamaan Juni juga berbalik. Hingga akhirnya, kopi panas itu pun saling menumpahi tangan mereka.
"Awww ...." Shinta meringis kesakitan sembari mengusap tangannya yang terkena tumpahan kopi.
Begitu pula dengan Juni yang merasakan panas pada tangannya. Namun, karena Juni memakai setelan jas, membuat kopi panas tersebut tak berkontak langsung dengan tangannya. Beda hal dengan Shinta yang mengenakan blouse dengan lengan hanya sampai ke siku.
"Maaf ...." Shinta berucap seraya tertunduk.
__ADS_1
Kulit putih Shinta menjadi memerah. Juni melihat hal tersebut langsung mengambil saputangan di dalam sakunya.
"Ini ...." Baru saja Juni hendak menyodorkan saputangannya, akan tetapi salah satu pegawai juga masuk ke pantry dan menyodorkan saputangan pada Shinta lebih dulu.
Shinta memilih saputangan yang diberikan oleh orang lain ketimbang milik tetangganya sendiri.
"Terima kasih Mas Daren," ucap Shinta.
"Iya, sama-sama." Pria tersebut membawa Shinta pergi dari tempat itu.
Sementara Juni, ia hanya mematung menatap keduanya yang pergi meninggalkannya. Juni mengerjapkan matanya beberapa kali, menatap saputangan yang digenggamnya dengan sendu. Ia pun menyeka lengannya yang sedikit basah. Namun, entahlah melihat Shinta yang lebih memilih mengambil barang milik orang lain dari pada miliknya membuat Juni merasa sangat kecewa.
Juni hanya bisa bisa menarik sudut bibirnya, mencoba menutupi rasa kecewanya dengan sebuah senyuman simpul.
"Ada apa? Seharusnya aku tidak usah merasa kecewa berlebihan seperti ini," gumam Juni yang masih mengelap lengan bajunya.
.....
Alvaro membereskan dokumen yang ada di atas meja, bersiap untuk pulang ke rumah. Pria tersebut meraih ponselnya, hendak menghubungi sang istri. Namun, ia teringat kejadian lagi tadi, dimana Rania merajuk dengannya.
"Aku yakin dia tidak akan mengangkat teleponku, masih marah karena masalah tadi pagi," ucap Alvaro yang memilih menyimpan ponselnya ke dalam saku jasnya.
"Kamu belum pulang?" tanya Alvaro menghampiri Juni. Sang asisten langsung beranjak dari tempat duduknya, lalu kemudian menundukkan kepala.
"Atau karena menunggu saya pulang?" lanjut pria itu.
"Bapak pulang duluan saja. Masih ada yang harus saya kerjakan," ucap Juni.
"Baiklah, kalau begitu." Alvaro melanjutkan langkah kakinya yang sempat tertunda, meninggalkan sang asisten sendirian.
Juni kembali mengerjakan tugasnya. Ia sengaja menyibukkan diri, untuk menepis rasa kesepian yang selalu datang menyelimutinya. Tidak ada alasan baginya untuk pulang cepat. Di rumah, dirinya hanya sendirian setelah kepergian sang istri. Sementara tetangga sekaligus rekan kerjanya, tampaknya kini mulai menjauh darinya. Bukan salah Shinta, Juni lah yang memilih jalan seperti ini.
Di lain tempat, Alvaro berhenti di sebuah kedai mie ayam kesukaan sang istri. Pria itu berniat membujuk Rania agar tidak marah lagi padanya dengan mie ayam kesukaan Rania.
Alvaro mengetuk-ngetuk meja, menunggu mie ayam tersebut dibuat oleh si penjual. Matanya menangkap seorang wanita cantik yang sedari tadi menatapnya dengan seksama.
Beberapa kali Alvaro mendapati wanita itu memperhatikannya. Namun, Alvaro selalu mengabaikannya dan berusaha untuk memalingkan wajah.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya. Wanita tersebut duduk tepat di depan Alvaro, membuat pria itu sedikit terkejut.
__ADS_1
"Tidak apa-apa kan jika aku duduk di sini?" tanya wanita tersebut.
Alvaro menatap ke sekelilingnya, melihat banyak kursi yang masih belum terisi, akan tetapi wanita itu nekat untuk duduk di depannya.
"Ada apa dengan wanita ini? Banyak kursi yang masih kosong, kenapa harus duduk di sini," batin Alvaro.
"Boleh, silakan!" Alvaro mencoba bersikap ramah dengan membiarkan wanita tersebut duduk di depannya.
Tak lama kemudian, pria itu beranjak dari tempat duduknya dan memilih untuk duduk di kursi yang lain. Terlihat jika Alvaro sedang menghindari wanita tersebut, akan tetapi si wanita terlihat menertawakannya.
"Apakah kamu takut? Aku tidak akan menggigitmu," ucapnya terkekeh. Ia ikut beranjak dari tempat duduknya dan kembali menduduki kursi kosong yang ada di hadapan Alvaro.
"Aku Dita." Wanita itu mengulurkan tangannya, mencoba untuk mengajak pria yang ada di hadapannya berkenalan.
"Maaf, saya sudah memiliki istri," ujar Alvaro memberikan penolakan.
"Oh." Wanita itu hanya meresponnya sembari menganggukkan kepala. Ia menekuk bibir bawahnya ke dalam, mungkin merasa malu karena mendapatkan penolakan yang spontan dari pria yang ada di hadapannya.
Si penjual pun memberikan pesanan Alvaro, membawanya dengan kantong plastik. Alvaro langsung mengeluarkan uang cash yang ada di dompetnya. Lalu kemudian beranjak pergi dari tempat duduknya.
Sementara wanita tersebut hanya bisa mengerucutkan bibirnya. Mungkin kesal bercampur malu karena tak berhasil mendekati pria tampan yang sempat menarik perhatiannya. Pria yang secara langsung memberikan penolakan padanya.
"Ini kembaliannya," ucap penjual tersebut saat Alvaro hendak berlalu darinya.
"Tidak usah, Pak. Kembaliannya buat bapak saja," ujar Alvaro.
"Tapi ... ini kebanyakan," ucap penjual tersebut yang masih kekeuh menyodorkan uang kembaliannya pada Alvaro.
"Tidak apa-apa, Pak. Buat bapak saja." Alvaro masih menolaknya. Membuat si penjual itu pun terpaksa untuk menerima pemberian dari salah satu langganannya.
"Terima kasih banyak, Nak."
"Iya, sama-sama, Pak. Mie ayamnya enak, anak dan istri saya sangat menyukainya. Kalau begitu saya permisi dulu ya, Pak." ujar Alvaro.
"Iya, Nak. Sekali lagi terima kasih," ucap penjual tersebut.
Alvaro meresponnya dengan sebuah anggukan pelan, ia pun kembali masuk ke dalam mobilnya, menatap mie ayam tersebut sembari mengembangkan senyum.
"Ku rasa, ini adalah senjata yang ampuh untuk membujuk istriku," ujar Alvaro yang kembali melajukan kendaraannya menuju ke rumah.
__ADS_1
Bersambung .....