
Hari ini, Rania memutuskan untuk pergi ke gym bersama dengan sang suami. Hal ini bukanlah ide dari Rania, melainkan ide dari Alvaro yang ingin mencari keringat dengan berolahraga, serta membentuk otot-otot yang tercetak jelas di tubuhnya, agar tak terbenam oleh lemak.
Setidaknya cara ini ia lakukan untuk tetap menjaga keseimbangan tanpa mengurangi asupan makannya.
Alvaro tengah berolahraga menggunakan bench abdominal, yang berfungsi untuk membentuk otot-otot perutnya.
Sementara Rania, duduk di salah satu alat fitness yang berada tak jauh dari Alvaro. Sibuk memperhatikan suaminya yang tengah berolahraga sedari tadi.
"Kenapa kamu tidak berolahraga?" tanya Alvaro yang melihat istrinya sibuk melihatnya sedari tadi.
"Jika aku mencoba olahraga sepertimu, bisa-bisa aku jatuh tersungkur ke bawah," timpal Rania sembari mengerucutkan bibirnya.
"Biasanya kamu berolahraga dengan apa?" tanya Alvaro yang masih sibuk menggerakkan tubuhnya untuk membentuk otot-otot perut yang digemari oleh istrinya itu.
"Biasanya pakai itu ...." Rania menunjuk ke arah treadmill sembari memajukan bibirnya sedikit.
"Ya sudah, kalau begitu berolahraga saja menggunakan itu," ujar Alvaro.
"Entahlah, aku lagi benar-benar malas. Tujuanku kesini hanya untuk menemanimu saja," ucap wanita itu.
"Melihatku tidak akan bisa menghancurkan lemak yang ada di dalam tubuhmu," ujar Alvaro sembari terkekeh.
Rania mendengkus kesal, "Andai saja lemak bisa ditransfer, sudah aku transfer semuanya padamu saja," ucapnya sembari beranjak dari tempat duduknya.
"Mau kemana?" tanya Alvaro.
"Berlari di atas treadmill," timpal Rania.
"Jika kamu ingin olahraga yang tidak terlalu membuang tenaga ... aku memiliki saran," ujar Alvaro sembari menaik turunkan alisnya.
Rania langsung mencubit lengan suaminya hingga pria itu meringis kesakitan. "Coba sehari saja kamu tidak berpikiran mesum, Mas."
Alvaro terkekeh geli sembari menatap istrinya yang pergi meninggalkannya menuju ke alat fitness yang lainnya.
Rania menghidupkan alat tersebut, mengatur kecepatannya. Gadis itu mulai berlari kecil di atas alat itu sembari menanggalkan ear phone pada kedua telinganya.
Saat merasa sudah lelah, Rania pun turun dari alat tersebut. Ia mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan sang suami. Wanita itu menangkap Alvaro tengah berbicara dengan seorang gadis cantik.
Mata Rania pun langsung membelalak. Wanita itu melepaskan earphone yang melekat di kedua telinganya. Ia pun melangkah mendekati suaminya, sayup-sayup ia bisa mendengar ucapan keduanya saat itu.
"Mas, boleh kenalan?" tanya gadis itu sembari mengulurkan tangannya dengan berniat mengajak pria tampan yang ada di hadapannya untuk berkenalan
"Maaf," ucap Alvaro mengabaikan gadis tersebut, akan tetapi gadis itu sama sekali tak menarik kembali tangannya, berharap jika Alvaro menjabat tangannya.
Namun, tak lama kemudian, bukanlah Alvaro yang menjabat tangan gadis itu melainkan Rania.
Alvaro terkejut dengan kedatangan Rania tiba-tiba. Kedua wanita itu saling bersitatap, akan tetapi tatapan Rania penuh dengan rasa dongkol terhadap gadis yang sedari tadi menggoda suaminya.
"Maaf ya, Mba. Ini suami saya," ujar Rania dengan penuh penekanan. Rania menarik tangannya dari tangan gadis yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Ayo Mas, kita pulang! Sebelum kamu digoda sama yang genit-genit lagi," tukas Rania sembari menatap gadis tersebut dengan tatapan tajam.
Alvaro tersenyum samar sembari mengikuti langkah sang istri. Rania menarik tangan Alvaro agar segera pergi dari tempat itu. Sungguh! Alvaro sangat menyukai bagian ini. Bagian dimana Rania terlihat cemburu berat dan memperlihatkan wajah yang emosi yang justru menambah rasa gemas pada sang istri.
Keduanya memutuskan untuk pulang setelah kejadian tadi. Apalagi saat ini Rania telah memperlihatkan tatapan tajamnya yang seolah dapat mencabik-cabik Alvaro saat itu juga.
"Besok-besok kalau mau olahraga tidak usah ke sana, nanti Mas Varo genit sama gadis-gadis yang ada di sana," gerutu Rania.
Alvaro langsung terkekeh mendengar ocehan istrinya yang sedari tadi tai berhenti. "Iya, Sayang, iya. Lagi pula, kita kan sudah pulang, jadi yang masalah tadi tidak usah dibahas lagi. Mas juga tidak meladeninya," jelas Alvaro.
"Ya ... tetap saja, Mas. Siapa tahu nanti Mas tergoda sama mereka," tukas Rania.
"Makanya sering-sering goda Mas, biar Mas tidak tergoda sama wanita yang ada di luar sana," ujar Alvaro yang menambah kekesalan Rania.
"Silakan saja kalau mau coba-coba main wanita lain," ketus Rania.
"Ya sudah, kalau begitu Mas main pria saja."
"Eh?! Mas mau belok?" Rania memperlihatkan wajah keterkejutannya.
"Haha ... tidak, Istriku. Mas hanya bercanda." Alvaro mengembangkan senyumnya, menatap Rania sejenak, lalu kemudian kembali mengarahkan pandangannya ke depan.
.....
Malam harinya, Rania tengah mengajari Bima membaca. Anak laki-laki itu sudah mengenal huruf, dan membaca pun masih mengeja huruf tersebut satu persatu.
"Mama, ... Biasanya Bima belajar sendirian, sekarang Bima belajar diajari oleh mama. Bima sangat senang, Ma." Bima berucap dengan mata yang berbinar.
"Papa juga mengajari Bima, tapi Bima tidak mau mengganggu waktu papa kalau papa sedang sibuk di ruang kerja," ungkap Bima.
Mendengar ucapan anak laki-laki itu, Rania cukup terenyuh. Bima memang selalu mengerti keadaan orang tuanya. Satu hal permintaannya pada Alvaro yang bersifat sedikit memaksa, yaitu saat dirinya minta dicarikan sosok ibu oleh ayahnya.
Tangan Rania terulur mengusap rambut ikal Bima. "Mama bangga pada Bima. Bima selalu mengerti kondisi orang tua, tapi jika dengan mama, Bima jangan merasa tidak enakan. Mama ingin, Bima terus terang sama mama, apa mau Bima, pasti mama akan wujudkan selagi mama bisa mewujudkannya," tutur Rania dengan lembut.
"Benarkah? Mama mau menuruti permintaan Bima?" tanyanya memastikan.
"Iya, Sayang. Apakah Bima ada permintaan?" tanya Rania.
"Iya, Ma. Bima minta satu hal."
"Apa itu, Nak? Katakanlah!" ujar Rania yang telah memasang telinganya, siap untuk mendengarkan permintaan dari putra sambungnya itu.
"Emmm ... Bima mau adik ma." Kalimat itu lolos begitu saja dari mulut Bima.
"Hah?!" Rania tertegun, terkejut, dan hampir terjungkal.
"Iya, Ma. Bima cuma minta adik bayi dari mama. Bima mau adik yang lucu, biar Bima tidak main sendirian kalau di rumah," jelas Bima yang mengulangi permintaannya.
Rania mengusap tengkuknya, mendengar Bima secara gamblang mengucapkan hal tersebut, tentu saja membuat Rania sedikit malu.
__ADS_1
"I-iya, baiklah. Do'a kan saja, semoga cepat diberikan adik ya," ucap Rania dengan pelan.
"Asik! Kalau ada adik, nanti Bima akan tetap main di rumah, jaga adik, sama seperti Bima menjaga Abian kemarin," jelas anak laki-laki itu dengan mata yang berbinar. Ia benar-benar menginginkan sosok adik berada di tengah-tengah mereka.
"Kalau begitu, kita lanjut ke materi lagi ya, Sayang." Rania kembali membuka halaman selanjutnya, mengajari anaknya untuk membaca supaya lebih lancar dan cepat paham.
Bima pun mulai menunjuk huruf yang ada di buku tersebut satu persatu, sembari mengerjakannya dengan suara yang cukup nyaring.
Setelah selesai belajar, Bima pun langsung menyikat gigi serta mencuci kakinya, bersiap untuk tidur. Rania tersenyum saat melihat Bima yang patuh dengan ucapannya tanpa membantah sedikit pun.
"Selamat malam, Sayang. Semoga mimpi yang indah ya, kesayangan mama," ujar Rania mengecup kening putranya.
"Mama juga ya, semoga mimpi indah," balas Bima sembari mengembangkan senyumnya.
"Sudah, tidurlah Nak. Besok Bima mau sekolah," ujar Rania membetulkan posisi selimut Bima.
Bima mulai memejamkan matanya. Rania pun beranjak dari tempat tidur Bima, mematikan lampu, dan keluar dari kamar anaknya.
Rania berjalan menuju ke kamarnya. Wanita itu menutup pintu kamarnya, mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas, lalu mengetikkan pesan singkat pada suaminya.
Di waktu yang bersamaan, Alvaro baru saja hendak mematikan laptopnya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, Alvaro mengerutkan keningnya saat mengetahui pesan singkat itu tak lain dari sang istri.
"Kenapa dia harus mengirimiku pesan singkat? Bukankah dia bisa menemuiku di sini untuk berbicara secara langsung?" gumam Alvaro.
Pria itu pun mengusap layar ponselnya, lalu kemudian membaca rentetan pesan singkat yang dikirimkan oleh Rania.
Aku tidak melihat dompetku di kamar, bisakah kamu membantu mencarikannya?
"Dompet? Bukankah dia meletakkan dompetnya di lemari?" gumam Alvaro.
Pria itu membereskan dokumen yang ada di atas meja kerjanya. Lalu kemudian beranjak dari tempat duduknya, pergi menuju ke kamar.
Alvaro membuka pintu kamarnya. Satu hal yang membuat matanya terbelalak, melihat wanita cantik tergolek di atas kasur dengan posisi yang sangat menantang.
Rania mengenakan setelan dinasnya yang disiapkan oleh Alvaro kemarin. Wanita itu benar-benar terlihat seksi.
"Do-dompet mana yang harus ku cari?" tanya Alvaro terbata-bata.
"Itu hanya agar kamu segera kemari. Bima ingin meminta adik yang lucu, sepertinya kita harus mewujudkan keinginannya, Mas." Rania mengerlingkan matanya dengan nakal.
"Ya, kita harus lebih bekerja keras lagi untuk mewujudkannya," ucap Alvaro.
Pria itu berbalik, lalu kemudian mengunci pintunya. Pertanda bahwa mereka akan memulainya, untuk mewujudkan keinginan Bima yang satu itu.
Bersambung ....
Pas launching baby-nya nanti, mau cewe apa cowo nih? Tulis di kolom komentar wkwkwk.
Oh iya, aku juga sekalian mau promosi karya temenku, Kak Anggika15 yang judulnya Jovian Alton Ceritanya juga nggak kalah seru kok. Cuss mampir 😘
__ADS_1