Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 47. Dia Wanitaku!


__ADS_3

Acara pentas seni pun telah usai. Semua orang mulai keluar dari aula gedung. Rania menatap Bima dengan lembut, gadis itu mengacungkan kedua ibu jarinya, memuji penampilan Bima saat berada di atas panggung tadi.


"Penampilan Bima paling terbaik," ujar Rania mengulas senyumnya. Pria kecil tersebut tersenyum memperlihatkan gigi susunya, merasa sangat senang karena mendapat pujian dari wanita dewasa yang ada di hadapannya.


"Terima kasih, Bu Dokter."


"Iya, sama-sama." Rania menimpali ucapan Bima seraya mencubit pelan pipi gembul pria kecil tersebut.


Pandangan Rania beralih ke orang-orang yang tengah mengabadikan momen seusai pesta. Ia pun memiliki ide untuk melakukan hal yang sama seperti kebanyakan orang.


Gadis itu mengeluarkan ponsel di dalam sling bagnya, lalu kemudian membuka kamera yang ada di ponselnya tersebut.


"Ayo kita ambil beberapa gambar! Momen seperti ini perlu diabadikan," ujar Rania.


Bima melirik ayahnya, menegang tangan Alvaro, berusaha membujuk sang ayah agar bersedia ikut berfoto bersama.


"Pa, ...." Bima menaikturunkan alisnya, membujuk ayahnya menggunakan wajah ekspresi yang lucu.


Alvaro merasa gemas melihat tingkah putranya itu. Ia pun menyetujui ajakan Bima untuk mengambil foto bersama. Bima tampak senang, mata pria kecil tersebut berbinar-binar.


Rania mengambil beberapa foto menggunakan kamera ponselnya. Ia melihat hasil jepretannya. Alvaro tampak mengulas senyumnya, membuat Rania juga ikut tersenyum samar. Namun, Bima memberikan saran agar foto yang diambil dapat hingga seluruh badan.


Pria kecil itu mengambil alih ponselnya, lalu kemudian berlari kecil menghampiri Nana.


"Bu Guru ... Bu Guru ... Bima boleh minta tolong tidak?" tanya Bima dengan sopan.


"Tolong apa, Sayang?" Nana balik bertanya, mengusap rambut ikal pria tersebut.


"Bisakah Bu Guru mengambil beberapa foto untuk kami?" tanya Bima sembari menunjuk Rania dan Alvaro yang ada di sana.


Rania tampak menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Sementara Alvaro, pria tersebut mengusap wajahnya. Meskipun ia tak memiliki perasaan terhadap Nana, akan tetapi Alvaro masih merasa tak enak hati pada gadis itu. Harus mengambil fotonya bersama dengan wanita lain.


Namun, Bima sudah terlanjur meminta tolong pada gurunya itu. Dan Nana pun mau tak mau menyetujuinya. Ia tak mungkin menolak permintaan Bima. Dalam hal ini, anak kecil tidak bisa disangkut-pautkan dengan masalah orang dewasa.


Nana berjalan mendekat, membawa ponsel Rania yang baru saja diserahkan oleh Bima. Gadis itu pun mulai bersiap mengambil gambar ketiganya.


Empat kali lampu flash dari kamera tersebut menyala beberapa detik. Empat buah gambar hasil jepretan dari Nana. Gadis itu memperlihatkan hasil foto yang diambilnya tadi.


"Terima kasih banyak, Bu Guru." Bima terlihat senang melihat foto-foto yang diambil oleh Nana.


"Iya, sama-sama."

__ADS_1


Rania dan juga Alvaro ikut berterima kasih kepada Nana. Nana pun menimpali ucapan keduanya dengan sebuah senyuman maupun anggukkan pelan.


"Kalau begitu aku permisi dulu karena ada sesuatu yang ingin aku kerjakan," ujar Nana berpamitan.


Setelah mengucapkan kalimat tersebut, gadis itu pun menjauh dari ketiga orang yang terlihat seperti satu keluarga.


"Selera Pak Alvaro memang tidak buruk. Hanya saja, kemarin aku terlalu percaya diri berharap agar dia memilihku," lirih Nana.


Sebenarnya tidak ada hal yang ingin dikerjakan oleh gadis itu. Ucapannya tadi hanya menjadi sebuah alasan agar dapat menghindari Alvaro dan Rania. Menghindari rasa kecewanya karena pria pujaan hatinya telah memilih gadis lain.


Rania membuka laman sosial medianya, tangannya tampak gatal, hendak memposting foto tadi ke laman media sosialnya itu. Namun, sebelumnya Rania meminta izin terlebih dahulu kepada Alvaro.


"Bolehkah aku memposting foto tadi di laman media sosialku?" tanya Rania seraya memilih foto mana yang hendak ia posting.


"Laman media sosial?" Alvaro menjengit.


"Iya."


"Untuk apa?" tanya pria itu lagi.


Rania memutar kedua bola matanya dengan malas. "Ya aku hanya ingin mempostingnya saja. Jika kamu keberatan, aku akan memperlihatkan wajahku dengan wajah Bima saja. Sementara wajahmu, akan aku tutupi menggunakan stiker kotoran manusia," celetuk Rania yang begitu santainya mengucapkan kalimat tersebut.


Alvaro tercengang mendengar ucapan Rania. "Apa kamu bilang? Wajahku ditutupi menggunakan stiker kotoran manusia?"


"Sebaiknya kamu tidak usah mempostingnya jika wajahku di tutupi dengan stiker!" protes Alvaro.


"Kamu tenang saja, aku baru selesai mempostingnya!" ujar Rania.


"Wajahku kamu tutupi dengan stiker?" tanya Alvaro.


"Kamu periksa saja sendiri," ujar Rania dengan nada yang sedikit acuh. Gadis itu kembali memasukkan ponsel ke dalam tasnya.


"Aku ke toilet sebentar," ucap Rania yang mulai berjalan meninggalkan Alvaro.


"Awas saja jika kamu menutupi wajahku dengan stiker menjijikan itu!" geram Alvaro.


Setibanya Rania di toilet, gadis itu mencuci tangannya, lalu kemudian memperbaiki riasannya. "Tetap tampil cantik di depannya," gumam Rania yang menatap pantulan dirinya di cermin.


Setelah merasa penampilannya sudah cukup, gadis itu pun berjalan keluar dari toilet tersebut. Namun, baru saja ia tiba di depan, tiba-tiba tangannya ditarik paksa oleh seorang pria.


"Lepaskan!" ujar Rania.

__ADS_1


Pria tersebut membawa Rania menuju ke tempat sepi, lalu kemudian memojokkan gadis itu di dinding.


"Apa yang kamu lakukan!" tukas Rania menatap pria yang ada di hadapannya dengan tatapan nyalang.


"Apa hubunganmu dengan pria itu?" tanya pria tersebut. Pria yang dimaksudkan olehnya tak lain adalah Alvaro.


"Kamu, ... tidak perlu mencampuri urusan pribadiku!" cecar Rania.


"Aku tidak terima, Rania!"


Plakkk ...


Tamparan keras mendarat di pipi pria tersebut. Pria yang pernah menjadi bagian dari masa lalunya.


"Sadarlah, Dion! Kamu adalah pria yang telah beristri!" tukas Rania dengan mata yang berkaca-kaca.


Pria itu tertegun, sembari mengusap pipinya yang tampak panas dan meninggalkan bekas kemerahan akibat tamparan dari Rania.


Dulu dirinya menjalin hubungan yang cukup lama bersama Dion. Awalnya, mereka berdua bekerja di rumah sakit yang sama. Dulunya, Dion adalah salah satu dokter kesayangan kepala rumah sakit.


Rania selalu berharap dan menantikan saat dimana Dion akan melamarnya. Gadis itu memberikan seluruh hatinya, bahkan waktunya selama lima tahun menjalin hubungan dengan Dion. Namun, Dion selalu meminta untuk Rania bersabar menunggu, karena pria tersebut masih sibuk mengejar karirnya itu.


Tiba di mana, saat itu Rania diputuskan secara tiba-tiba oleh Dion, dengan alasan bahwa hubungan mereka terkesan membosankan. Padahal Rania telah bersabar menghadapi sikap Dion. Hingga akhirnya, terdengar kabar bahwa pria itu akan mempersunting seorang janda yang merupakan anak ketua rumah sakit.


Hati Rania hancur seketika. Ia bahkan sempat trauma untuk menjalin hubungan dengan pria lain. dan membuat Rania memilih untuk keluar dari rumah sakit tersebut. Dan setelah pernikahan di gelar, mertua Doni sakit. Hingga akhirnya, posisi ketua di rumah sakit digantikan oleh Dion.


Kembali ke masa kini, Dion menatap gadis yang ada di depannya. "Apakah kamu berpikir bahwa pria itu benar-benar mencintaimu? Kamu sangat bodoh jika menyangkut masalah cinta," cecar Dion.


Rania hanya diam saja. Kembali keraguan menyelimuti dirinya saat Dion berucap demikian. Ia tak ingin membuang-buang waktu lagi untuk pria yang tak mencintainya. Ia juga tak ingin membuang-buang tenaga hanya untuk mempertahankan sebuah hubungan yang lama, akan tetapi akhirnya berpisah juga.


"Tutup mulutmu!" tukas suara seseorang yang juga berada di sana. Suara itu menggema karena berada di sebuah ruangan yang sepi.


"Alvaro, ...." Rania menatap pria tersebut.


Dengan derap langkah yang cepat, Alvaro pun berjalan menuju ke arah dua orang yang ada di hadapannya itu.


Ia sedikit mendorong pria tersebut agar lebih menjaga jarak dengan Rania. Alvaro memegang pergelangan tangan Rania, hendak membawa gadis tersebut untuk pergi dari tempat itu.


Alvaro menatap Dion dengan tatapan berapi-api. Mengisyaratkan bahwa pria tersebut benar-benar sudah marah besar akan sikap Dion.


"Sebaiknya kamu berhenti mengganggu wanitaku, atau kamu akan berurusan langsung denganku!" ancam Alvaro.

__ADS_1


Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Alvaro langsung membawa Rania keluar dari ruangan yang menyesakkan itu,


Bersambung ...


__ADS_2