
Malam ini, Alvaro dan keluarga kecilnya tengah menikmati makan malam. Alvaro sesekali melirik ke arah putranya. Anak laki-laki itu terlihat lebih bersemangat dari sebelumnya.
Alvaro menyenggol lengan Rania, bertanya pada sang istri melalui tatapan mata, dan kemudian melemparkan pandangannya pada Bima.
"Oh itu ... lusa mama dan papa akan datang ke sini," timpal Rania seraya mengembangkan senyumnya.
"Iya, Papa. Nenek dan kakek akan berkunjung ke rumah kita. Mereka bilang hendak menjenguk Bima," ucap Bima yang tampak sangat antusias.
"Ohh ...." Alvaro menganggukkan kepalanya, memasukkan kembali makanan ke dalam mulutnya.
"Ma, nenek tidak akan berbohong kan. Nenek dan kakek akan ke sini kan? Nanti Bima.tunggu-tunggu, tidak tahunya kakek dan nenek tidak jadi ke sini," ujar anak laki-laki tersebut.
"Iya, Sayang. Nenek kan sudah bilang ke Bima untuk menengok Bima di sini. Tenang saja, nenek tidak akan mengingkari janjinya," jelas Rania.
"Kalau mau nenek ke sini, Bima harus cepat sembuh. Makannya yang banyak dan obatnya harus diminum," sambung Alvaro menambahi ucapan sang istri.
Bima mengerucutkan bibirnya, lalu kemudian menggelengkan kepala.
"Loh, kenapa?" tanya Alvaro yang merasa heran dengan sikap putranya itu.
"Nenek kan ke sini untuk menengok Bima yang sedang sakit. Kalau Bima cepat-cepat sembuh, nanti nenek tidak jadi ke sini, Pa." Anak laki-laki itu meletakkan sendoknya dan meraih air minum yang tak jauh dari jangkauannya.
"Ku rasa memang aku yang salah dalam menjelaskannya," gumam Alvaro, sementara Rania hanya bisa terkikik geli.
Berbicara dengan Bima harus lebih jelas dan teliti. Bukan karena anak tersebut sudah mencerna ucapan orang dewasa, akan tetapi karena ia terlalu kritis berpikir dan bahkan ayahnya selalu saja terjebak diantara kalimat yang ia lontarkan.
"Nak, maksud papa bukan seperti itu, Sayang. Papa ingin Bima segera pulih. Meskipun Bima sudah sehat, nenek akan tetap berkunjung kemari untuk menemui Bima. Nenek akan sangat sedih jika melihat Bima yang masih belum sembuh. Dan nenek akan sangat senang jika Bima sudah sembuh. Dengan begitu, nenek pasti akan lebih leluasa mengajak Bima bermain," jelas Rania panjang lebar. Sesekali ia melirik sang suami yang mengacungkan kedua ibu jarinya.
"Oh, begitu ... baiklah, Bima akan makan banyak dan setelah ini minum obat," ucap Bima yang mulai patuh setelah mendengar penjelasan dari ibunya.
Rania tersenyum menatap Bima yang mulai kembali memakan makanan yang ada di hadapannya dengan sangat lahap.
"Bersyukur ada kamu yang menjadi juru bicaraku," ujar Alvaro seraya terkekeh.
__ADS_1
"Ngomong dengan anak kecil saja harus pakai juru bicara." Rania menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Anak seumuran Bima terlalu kritis dalam berpikir. Terkadang aku sering terkecoh sendiri dengan kalimatku," ucap Alvaro.
"Lalu ... bagaimana kamu menjelaskan hal semacam ini sebelum ada aku?" tanya Rania yang merasa penasaran.
Alvaro menyudahi makannya. Pria tersebut menyeka mulutnya dengan menggunakan tisu, lalu kemudian menatap sang istri.
"Jika aku sendiri, aku hanya menjelaskan ala kadarnya saja. Namun, jika ada mama bersama kami, aku minta bantuan mama untuk menjelaskan hal tersebut pada Bima. Maka dari itu, saat banyak orang memujiku karena telah berhasil mendidik Bima, aku sedikit keberatan. Bima seperti ini karena didikan orang-orang yang ada di sekitarnya," papar Alvaro panjang lebar.
"Bersyukur ada kamu di sampingku. Setidaknya jika hal ini terjadi, kamu saja yang menjelaskan pada anak kita," lanjut Alvaro tersenyum lebar.
"Ck! Dasar kamu, Mas! Mulai saat ini aku jadi tahu fungsiku dinikahi olehmu itu untuk apa," gerutu Rania.
"Jangan marah, Sayang. Mas hanya bercanda. Ya sudah, sebagai imbalannya, Mas pijitin kakinya sebelum tidur. Kakinya keram kan? Masih sering sakit ataupun kesemutan?" tanya Alvaro yang berusaha membujuk istrinya.
"Benar ya, Mas? Kamu janji loh," ujar Rania tampak antusias.
"Tapi setelah itu servis aku ya." Alvaro menaik-turunkan alisnya, pertanda bahwa ia ingin meminta imbalan dengan bermain bersama sang istri.
"Papa mau main apa, Ma? Boleh tidak Bima ikut?" tanya Bima dengan memperlihatkan wajah polosnya. Ia benar-benar tidak tahu kata 'bermain' yang dimaksudkan oleh kedua orang tuanya itu.
Mendengar hal tersebut, Rania kembali melemparkan tatapan tajamnya pada sang suami. Entah sudah berapa kali Rania memperingatkan pada Alvaro untuk menjaga lisannya di depan Bima, karena anak laki-laki tersebut pasti akan bertanya tanpa henti.
"Sekarang, giliran kamu yang menjelaskannya pada Bima, Mas. Aku menyerah!" tukas Rania beranjak dari tempat duduknya, meletakkan piring kotor miliknya dan juga milik Alvaro.
Melihat sang istri yang meninggalkan dirinya hanya berdua saja dengan putranya, membuat pria itu menggaruk-garuk kepalanya. Ia bingung harus menjelaskan apa pada sang anak, karena kata yang ia ucapkan tadi bersifat mesum.
"Main apa, Pa? Bima ikut ya?" Anak laki-laki itu masih meminta penjelasan pada ayahnya.
"Anu, Nak. Papa dan mama bermain ... bermain ...." Alvaro masih bingung hendak mengatakan apa. Sementara Bima, ia sedikit menelengkan kepalanya, meminta penjelasan pada sang ayah agar dirinya tak lagi merasa penasaran.
"Bermain ...."
__ADS_1
Drrrttt ....
Ponsel Alvaro bergetar, pria itu pun langsung mengusap dadanya dengan lega. Merasa terselamatkan oleh seseorang yang tengah meneleponnya. Pria tersebut melirik layar ponselnya, tertera kontak yang ia namai mama tengah meneleponnya.
"Terima kasih, Ma. Setidaknya aku terselamatkan dari pertanyaan maut Bima," batin Alvaro.
"Papa angkat telepon dulu ya, Nak. Bima lanjutkan saja makannya," ucap Alvaro.
Bima pun mengangguk patuh. Alvaro langsung beranjak dari tempat duduknya, ia mengusap layar datar yang menyala itu, lalu kemudian menempelkan benda pipih tersebut ke salah satu daun telinganya.
"Halo Ma."
"Halo Nak, apakah benar lusa besan akan ke sana?" tanya Arumi.
"Iya, Ma. Tadi Rania menceritakannya padaku," ucap Alvaro.
"Syukurlah kalau begitu. Mama rindu sekali dengan besan. Oh iya, lain kali jika terjadi apa-apa, kabari juga mertuamu. Kemarin dia sempat kecewa saat mama bercerita tentang Bima. Dia bilang, kalian tidak mengabarinya akan hal itu," jelas Arumi.
"Iya, Ma."
"Mama hanya ingin menanyakan hal itu. Tadi mama mau bertanya langsung dengan mertuamu, akan tetapi beliau tidak mengangkat panggilan telepon dari mama. Mungkin lelah karena bekerja di ladang. Ya sudah, kalau begitu mama tutup teleponnya ya," ujar Arumi.
"Hmmm ...."
Panggilan itu pun diakhiri. Alvaro kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku. Pria tersebut melirik ke arah meja makan, melihat putranya sudah tak berada lagi di sana.
"Kemana Bima tadi? Semoga saja dia lupa dengan pertanyaannya," gumam Alvaro tersenyum penuh kemenangan.
Pria tersebut berjalan melenggang, hendak masuk ke dalam kamarnya. Namun, baru beberapa langkah, terdengar suara Bima dari arah belakang.
"Pa, tadi papa belum menjawab pertanyaan Bima!"
Alvaro menghentikan langkahnya, ia menutup matanya dengan bibir bawah yang digigit. "Astaga, baru saja aku berharap agar dia melupakannya," batin Alvaro seraya menghela napasnya dengan kasar.
__ADS_1
Bersambung ....