Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 234. Jomblo Menahun


__ADS_3

Petir menggelegar, di pergantian tahun kali ini tampaknya langit sedang tak bersahabat. Curah hujan sangat tinggi sedari semalam, membuat semua jalanan dan pepohonan pun tampak basah.


Ada beberapa dari sekumpulan orang yang merayakan tahun barunya dengan menghabiskan waktu bersama teman-teman atau keluarga, mengadakan acara makan-makan atau bepergian ke tempat yang diinginkan.


Namun, dikala hujan seperti ini, mungkin banyak dari mereka yang memilih untuk tinggal dan menetap di rumah saja.


Seorang pria tengah mengangkat segelas kopi yang tampak masih terlihat kepulan asap dari dalam cairan berwarna hitam pekat itu.


"Hujan lah deras-deras. Supaya nasib seorang jomblo di awal tahun ini tidak terlalu mengenaskan," ujarnya seraya menyesap kopinya dengan segaris senyum di wajah tampannya.


Pria yang sudah melajang hampir satu tahun lamanya itu, berdoa agar turunnya hujan kali ini membawa berkah baginya yang menyandang status jomblo menahun.


Tringggg ....


Notifikasi pesan singkat pun terdengar dari ponselnya. Pria itu meraih benda pipih tersebut. Ia tersenyum saat membaca pesan dari wanita yang sampai saat ini masih mengisi relung hatinya. Namun, status mereka sudah berbeda, tak seperti yang dulu lagi. Hanya saja, nama dari gadis itu masih terukir di dalam lubuk hati pria duda jomblo menahun ini.


Aku tahu, hujan kali ini pasti karena kamu kan, Jun?! Dasar pria jomblo!

__ADS_1


Juni terkekeh saat membaca panggilan yang berupa sindiran dilontarkan oleh mantan kekasihnya itu. Mungkin agak sedikit heran, jika putus masih bisa berhubungan baik. Namun, tidak dengan Juni dan Shinta. Mereka memilih untuk berdamai, hanya menjalin sebuah pertemanan setelah kandasnya hubungan asmara kedua pasangan sejoli tersebut.


Juni hendak mengetikkan balasan untuk pesan tersebut, akan tetapi tangannya lebih memilih menekan layar yang bergambarkan telepon itu. Menurutnya, lebih baik mendengar suara Shinta secara langsung dari pada harus terlalu repot bertukar pesan. Toh, ia juga sekalian ingin mendengar suara Shinta, meskipun nantinya akan mendapatkan sebuah cacian saja.


"Mau apa telpon-telpon, Mblo?"


Suara yang dirindukan, beserta sindiran yang benar-benar tersampaikan.


"Untuk apa punya pacar tapi tidak bisa jalan-jalan."


Juni menyindir balik Shinta. Benar saja, saat ini Shinta tengah dekat dengan pria satu kantor dengannya. Juni mengetahui hal itu karena pria ini sering kali ditugaskan oleh Alvaro untuk datang ke kantor cabang. Hal itu tentu saja membuat Juni sering bertemu dengan Shinta, hingga akhirnya memutuskan untuk berteman saja.


"Ya ... ya ... ya ... kamu memang selalu menang jika berdebat denganku," ujar Juni.


"Wanita memang harus menang," ucap Shinta tak mau kalah.


Juni menghela napas, akan tetapi pria itu mengulas senyumnya. "Lebih baik kembali saja padaku, kita berpacaran lagi," bujuk Juni.

__ADS_1


"Tidak! Siapa yang memutuskan hubungan terlebih dahulu," ucap Shinta.


Terdengar suara kekehan dari keduanya. Setelah mereka putus, awalnya memang canggung. Namun, mereka lebih memilih untuk kembali menjalin pertemanan saja. Bagaimana bisa saling membenci, meskipun kali ini mereka sudah berjauhan, akan tetapi Juni setiap minggunya selalu ditugaskan untuk datang ke kantor cabang.


"Shin, ...."


"Hentikan Jun, aku tidak mau! Aku tidak mau kembali padamu. Terima saja nasibmu yang sudah jadi jomblo menahun itu, jomblo dalam setahun," cecar Shinta.


"Jangan terlalu percaya diri. Aku memanggilmu bukan untuk meminta kamu kembali padaku," ucap Juni.


"Lantas?"


"Agar silaturahmi tidak terputus, minjam dulu seratus."


"Dasar Juni menyebalkan!!"


Bersambung ....

__ADS_1


Jangan lupa untuk meninggalkan jejaknya di kolom komentar 🤗


__ADS_2