Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 111. Sebuah Pilihan


__ADS_3

Saat ini klinik sedang sepi. Di dalam ruangannya, Rania tengah melamun memikirkan obrolan kemarin bersama dengan suaminya. Jika dipikir-pikir, mungkin perkataan Alvaro memang ada benarnya. Rania terlalu lelah, dan hal itu bisa menjadi salah satu faktor dirinya hingga saat ini belum menerima tanda-tanda kehamilan.


Namun, sulit bagi Rania melepaskan pekerjaannya saat ini. Meskipun suaminya lebih besar membayar bulanan untuknya dibandingkan gaji hasil dari klinik, akan tetapi tetap saja, Rania lebih memilih untuk mencari uang sendiri.


Di satu sisi, ia sempat memikirkan hal tersebut. Ingin tetap teguh pada pendiriannya dan bersikap egois. Namun, di sisi lain, ia juga memikirkan keinginannya untuk memiliki sang buah hati. Siapa tahu dengan begitu, ia mendapatkan kabar baik setelahnya.


"Argghh ...." Rania mengusap wajahnya dengan kasar. Sungguh! Ini merupakan pilihan sulit bagi dirinya.


Pandangan Rania teralihkan pada pintu yang baru saja dibuka. Terlihat kepala Hilda menyembul dari balik pintu tersebut.


"Ada apa, Bu Dokter? Teriakanmu terdengar sampai di pintu depan. Apakah ada yang membuatmu sedikit terganggu?" tanya Hilda.


"Aku tidak apa-apa," jawab Rania dengan nada yang sedikit putus asa.

__ADS_1


"Benar tidak apa-apa?" tanya Hilda memastikan.


Rania menatap Hilda. Bibirnya sedikit mengerucut, lalu kemudian kepalanya menggeleng pelan. "Aku tidak baik-baik saja. Ada sesuatu yang menggangguku," keluh Rania.


Hilda membuka pintu tersebut lebar-lebar. Ia masuk ke dalam ruangan Rania dan membiarkan pintu itu terbuka. Hilda mendudukkan dirinya di hadapan Rania.


"Jika kamu ingin berbagi cerita, aku siap mendengarkan dan jika ingin meminta saran dariku, aku juga siap memberikan saran padamu ... sebagai seorang teman," ucap Hilda yang sedikit menjeda kalimatnya.


Rania menghembuskan napasnya dengan kasar. Ia pun mulai menceritakan hal yang mengganggunya.


"Kalau aku sih tergantung. Kalau misalkan suamiku itu orang kaya, tentunya aku akan memilih untuk berhenti bekerja dan menikmati kekayaan suamiku," ujar Hilda sembari tertawa terbahak-bahak.


"Maka dari itu, cita-cita ku adalah menikah dengan pria kaya. Meskipun saat ini tunanganku hanyalah pegawai kantoran biasa, tidak ada salahnya berkhayal setinggi langit," lanjut Hilda sembari terkekeh geli. Rania hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Hilda.

__ADS_1


"Oh iya, kamu bertanya seperti ini, apakah karena Alvaro melarangmu untuk bekerja lagi?" tanya Hilda yang merasa penasaran.


"Sebenarnya suamiku tidak melarangku sama sekali. Dia lebih banyak membebaskan aku. Namun, dia sempat memberikan saran padaku untuk beristirahat sejenak, mengingat aku yang terlalu sibuk bekerja dan dia pikir aku terlalu kelelahan sehingga belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan sedikit pun," jelas Rania panjang lebar.


"Menurutku yang dikatakan oleh suamimu memang benar. Lagi pula, bukankah Alvaro kaya? Kenapa Bu Dokter tidak istirahat saja sejenak dan fokus pada program kehamilan dulu," ujar Hilda.


"Aku mau-mau saja menuruti ucapannya, tetapi aku merasa sangat sayang sekali jika harus meninggalkan pekerjaanku," ucap Rania memperlihatkan deretan gigi putihnya.


Melihat Rania berkata seperti itu, membuat Hilda langsung menggeleng-gelengkan kepalanya. "Bu dokter, hidup itu tidak luput dari sebuah pilihan. Jika Bu Dokter menginginkan keduanya, itu namanya serakah, Bu Dokter." Hilda mencoba menasihati Rania sembari bersedekap.


"Maaf jika ucapanku sedikit kasar. Akan tetapi, itu lah kenyataannya. Pilihan itu diciptakan untuk memilih salah satu dari beberapa opsi," jelas Hilda.


Setelah mencerna ucapan Hilda, kini Rania pun menemukan titik terang akan pilihannya. "Terima kasih atas sarannya. Kamu memang teman terbaikku," ujar Rania.

__ADS_1


Bersambung ...


Update dikit dulu ya, soalnya di rumah lagi ada acara hehehe. Kalau ada waktu, nanti malam aku update lagi, tapi nggak bisa janji😘


__ADS_2