Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 79. Ketukan Pintu Yang Mengganggu


__ADS_3

Arjuna juga datang ke pesta pernikahan Alvaro bersama dengan ayahnya, Samuel. Pandangan Arjuna tertuju pada wanita yang tengah duduk di kursi tepi sembari menggendong bayinya.


Kebetulan kursi yang ada di sebelah wanita tersebut kosong tak berpenghuni, membuat Arjuna pun memberanikan dirinya untuk mendekati wanita yang sudah lama ia cintai itu.


"Hai, ..." Arjuna menyapa, membuat Alvira pun langsung mengarahkan pandangannya ke sumber suara.


Alvira cukup terkejut dengan keberadaan Arjuna yang ada di sampingnya itu. Ia menjadi bimbang, membiarkan Arjuna tetap di sana, atau harus pergi meninggalkan pria tersebut karena tak ingin Arjuna kembali menanyakan tentang surat yang dikirimkan olehnya beberapa waktu yang lalu.


"Jika kamu takut akan keberadaanku ... tenang saja, aku tidak akan menggigitmu," ucap Arjuna yang langsung mengarahkan pandangannya pada sosok wanita yang ada di sebelahnya.


Alvira hanya menanggapi ucapan Arjuna dengan menyunggingkan senyumnya. Ternyata pria tersebut sedikit mengerti akan kegundahan hatinya.


"Siapa namanya?" tanya Arjuna mulai membuka topik pembicaraan.


"Abian," timpal Alvira singkat.


"Nama yang bagus," ucap Arjuna.


Keduanya kembali memperhatikan rangkaian acara yang disuguhkan di depan. Melihat Alvaro dan Rania yang masih berada di sana.


"Maukah kamu mengambil beberapa gambar bersamaku?" tanya Arjuna sesaat kemudian.


Alvira tertegun, akan tetapi melihat Arjuna yang sudah berdiri terlebih dahulu, membuat wanita itu pun mau tak mau beranjak dari tempat duduknya.


"Tak ada salahnya, hanya berfoto saja, bukan hal yang aneh-aneh." Alvira mencoba untuk menenangkan dirinya dan bersikap seolah baik-baik saja.


Arjuna menyalami kedua pengantin yang ada di atas panggung. Memberikan ucapan selamat untuk Alvaro dan juga Rania.


Arjuna juga memanggil salah satu fotografer yang ada di sana, meminta untuk mengambil gambar dirinya dan juga Alvira.


Arjuna berdiri di samping Alvaro, sementara Alvira menggendong bayinya berdiri di samping Rania. Ke empat orang tersebut memperlihatkan senyum terbaiknya saat kamera berhasil mengambil beberapa gambar mereka.


Alvaro melihat Arjuna yang tampak senang mengabadikan foto bersama saudara kembarnya itu. Alvaro pun tidak mempermasalahkan jika Arjuna mendekati Alvira. Toh, Alvira juga sudah menyandang status janda, bukan wanita bersuami. Lagi pula, Arjuna berkali-kali lipat jauh lebih baik dibandingkan dengan Andre. Hanya saja, kemarin Alvira terlalu buta akan cintanya terhadap Andre, sehingga ia tidak bisa melihat ketulusan dari seorang Arjuna.


"Terima kasih," ucap Arjuna kepada tukang foto tersebut.


Arjuna pun mendekat kepada Alvaro, membisikkan sesuatu kepada pria tersebut. "Bolehkah aku mengejar saudara kembarmu lagi?" bisik Arjuna, meminta izin kepada Alvaro.


Alvaro menanggapinya dengan tersenyum, lalu kemudian mengacungkan ibu jarinya, pertanda bahwa Alvaro tidak akan mempermasalahkan hal tersebut.


Arjuna bisa menghela napasnya dengan lega saat mendapatkan persetujuan dari Alvaro. Tak lupa, pria itu mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Alvaro karena telah diizinkan untuk mendekati saudara kembarnya itu.


"Ayo!" ajak Arjuna kepada Alvira untuk turun dari atas panggung tersebut.


"Apakah dia kekasihnya Alvira?" tanya Rania.


"Sejauh ini, mereka hanya berteman, akan tetapi aku tidak tahu kedepannya akan bagaimana. Aku tidak bisa menebaknya. Sama seperti kita, yang berawal saling membenci dan berakhir dengan saling mengikat janji suci," ucap Alvaro.


"Iya juga," timpal Rania yang kemudian mengulas senyumnya.

__ADS_1


Acara pun tiba di acara penutupan. Tamu undangan masih terlihat ramai, meskipun ada sebagian dari mereka yang sudah pulang karena kesibukan masing-masing, ada juga yang masih setia hingga sampai di akhir acara.


Setelah pesta berakhir, Alvaro pun diantar bersama dengan mobil pengantin menuju ke apartemen mereka. Bima, anak laki-laki tersebut tentu saja ikut serta dengan mama dan papanya.


Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit lamanya, mereka pun tiba di apartemen. Rania turun dari mobil pengantin itu bersama dengan Alvaro dan juga Bima.


Wanita tersebut mengangkat sedikit dress yang ia kenakan karena memang gaun pengantinnya itu cukup panjang dan menyapu lantai.


"Pa, mama tinggal di rumah kita kan?" tanya Bima.


"Iya, Sayang." Alvaro menimpali.


"Asyik! Kita serumah!" Bima tampak antusias, matanya berbinar meneriakkan ucapan tersebut.


Tingg ...


Pintu lift terbuka, ketiga orang tersebut langsung keluar dari ruangan sempit itu menuju ke apartemen milik Alvaro.


Alvaro membuka pintu, raut wajahnya sudah mengisyaratkan bahwa ia akan mendapatkan sebuah tangkapan ikan yang besar. Menjadi malam pertama, apalagi dengan seorang gadis, serasa membeli mobil yang baru saja buka kertas.


"Nak, tidurlah di kamarmu," ujar Alvaro menyuruh anaknya untuk tidur di kamarnya.


"Baik, Papa. Selamat tidur, Ma, Pa."


"Selamat tidur, Sayang." Alvaro dan Rania menimpali dengan serentak. Bima pun segera berlari menuju ke kamarnya.


"Bagus, Boy. Biarkan papamu menghabiskan malam dulu dengan mama barumu. Tolong kerja samanya, Nak." Alvaro berucap dalam hati.


Rania memperlihatkan ekspresi gugupnya, bagaimana tidak, setelah ini ia akan melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri, yaitu melayani suaminya dengan baik. Kata 'melayani' malam ini sepertinya akan membuat dia sedikit mengantuk dan badan terasa remuk. Membayangkannya saja, membuat Rania sedikit bergidik.


Apalagi melihat potongan-potongan video yang ia tonton semalam. Ya, benar. Rania menonton video tersebut, menyaksikan setiap adegan yang diperagakan oleh pasangan tersebut. Dan itu, cukup membuat bulu kuduk Rania merinding.


Ceklek ...


Pintu kamar terbuka, Alvaro dengan wajah ramah-tamahnya seolah mempersilakan agar istrinya masuk ke dalam arena yang akan menjadi pertempuran mereka malam ini. Rania tersenyum kikuk, lalu masuk ke dalam kamar tersebut.


Pintu kembali tertutup, itu artinya sebentar lagi ia akan menyambut apa yang dinamakan malam pertama. Dari belakang, Rania merasakan tangan Alvaro yang mulai melingkar di pinggangnya, sementara dagunya, ia letakkan di bahu sang istri dengan bergelayut manja.


"Sudah siap?" bisik Alvaro dengan suaranya yang berat, seakan ada hasrat yang sebentar lagi ingin ia tuntaskan.


Rania tak menjawab, di satu sisi ia sedikit takut, di sisi lainnya ia juga tidak mungkin menolaknya karena ini merupakan tugas seorang istri.


"Tidak usah gugup, santai saja." Kalimat itu seakan menjadi sebuah bujukan untuk Alvaro, bak anak kecil yang ingin diberi mainan oleh Om-om.


"Aku akan mandi terlebih dahulu," ujar Alvaro selanjutnya. Ia sedikit mer*mas bahu Rania, ingin membuat gadis tersebut lebih rileks lagi.


Rania hanya menanggapinya dengan sebuah anggukan pelan. Tak lama kemudian, sang suami pun meninggalkannya dan berjalan menuju ke kamar mandi.


Kali ini, Rania lah yang beraksi. Ia dengan cepat-cepat mencari piyamanya. dan sialnya, piyama yang ada di sana semuanya piyama memiliki belahan dada yamg begitu terlihat, membuat Rania menelan salivanya sendiri.

__ADS_1


"Ini namanya memancing buaya masuk ke kandang," gumam pelan gadis tersebut.


Ia memberanikan membuka lemari pakaian Alvaro. Terdengar suara air yang berjatuhan dari kamar mandi tersebut. Alvaro tengah membersihkan dirinya menyambut ritual selanjutnya.


Rania pun mengambil salah satu piyama yang ada di sana. Piyama berlengan panjang tersebut dengan cepat ia bawa untuk segera dipakai. Saat hendak melepaskan gaun pengantinnya, ternyata resleting yang ada di belakang tak mampu ia gapai.


"Ayolah! Jangan seperti di drama-drama yang ujung-ujungnya pria membantu membuka semuanya," rutuk Rania.


Gadis itu berusaha keras menggapai resleting tersebut, dan ... berhasil! Rania segera mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih sopan lagi. Ia melakukan semua ini, bukan karena tidak ingin melayani, akan tetapi rasa gugupnya yang berlebihan.


Suara pintu kamar mandi terdengar terbuka. Langkah kaki semakin mendekat ke arah Rania yang saat ini tengah membelakangi suaminya.


"Kamu sudah berganti pakaian?" tanya Alvaro.


Rania menganggukkan kepalanya, mengiyakan ucapan suaminya itu.


"Kenapa memakai bajuku? Bajumu sudah aku siapkan di lemari," ucap Alvaro kemudian.


Ternyata, baju dengan semua belahan dada itu, Alvaro lah yang menyiapkannya? Benar-benar pria mesum!


Rania mencoba mengarahkan pandangannya kepada sang suami,"Tidak apa-apa, aku tidak bia ...." ucapannya terputus saat melihat sesuatu yang ada di hadapannya.


Alvaro hanya mengenakan kain handuk yang melilit di pinggangnya. Terlihat jelas otot bisep pria tersebut, serta otot-otot yang ada di perutnya, yang berbentuk layaknya roti sobek.


Rania sangat susah menelan salivanya. Gadis itu mengakuinya, jika tubuh suaminya itu benar-benar sempurna. Rania akui kebenaran itu.


"Ada apa? Apa kamu menyukai tubuhku tanpa busana?"


Glekkk!


Pertanyaan yang mengundang itu, membuat Rania bungkam dan hanya memperlihatkan deretan gigi rapinya. Alvaro berjalan selangkah demi selangkah dan semakin mendekat, membuat debaran di dada Rania juga semakin tak karuan.


Hingga akhirnya, Alvaro mencondongkan tubuhnya, mengikis jarak diantara mereka. Pria itu mulai menyentuh rahang Rania, membuat Rania sedikit bergidik dan geli.


"Cantiknya istriku," ujar Alvaro dengan suara beratnya. Pria itu semakin mendekat, bahkan hembusan napasnya begitu panas dan terasa menerpa permukaan kulit Rania.


"Bima meminta seorang adik, bisakah kita melakukannya malam ini?" tanya Alvaro.


Glekkk!


Lagi-lagi Rania menelan salivanya. Namun, perlahan ia pun menganggukkan kepalanya. Ia mengingat ucapan Bu Isna kepadanya, bahwa ia harus menuruti ucapan suami dan jangan membantahnya.


Senyum terbit di wajah Alvaro. Seakan ia mendapatkan persetujuan dari sang istri untuk melakukan hal yang lebih lagi.


Alvaro kembali mendekatkan wajahnya, membuat Rania memilih untuk menutup matanya karena merasa benar-benar gugup. Hembusan napas itu semakin lama semakin terasa, dan sesaat kemudian ...


TOKKK ... TOKKK ... TOKKK ....


"Pa, Ma, buka pintunya, Bima mau tidur bersama mama dan papa!"

__ADS_1


Bersambung ....


Bim, pulang yok Bim, jangan ganggu ih😂


__ADS_2