Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 203. Dasar Kamu!


__ADS_3

Alvira sedikit memoles dirinya, ia tidak ingin terlihat jelek di depan pria yang sampai saat ini menjadi kekasihnya. Alvira sedikit memoleskan lipstik di bibir tipisnya, dan merapatkan kedua bibirnya itu untuk merapikan lipstik.


"Sudah cukup," ujar Alvira sembari menatap dirinya dari pantulan cermin.


Alvira meraih ponsel yang ada di atas meja riasnya. Mengecek barang kali ada pesan singkat yang dikirimkan oleh kekasihnya itu. Dan ternyata tak ada satu pun pesan singkat yan ia terima, pertanda bahwa Arjuna mungkin saat ini sedang dalam perjalanan menuju ke rumahnya.


Alvira keluar dari kamarnya. Memilih menunggu Arjuna di teras rumah. Sesekali ia menepuk lengannya dan beralih menggaruk kakinya.


"Apa karena musim penghujan jadi banyak nyamuk," gumam Alvira.


Namun, meskipun beberapa kali ia merasa gatal di kaki dan bagian tubuh lainnya, tetap saja Alvira tetap menunggu kekasihnya di teras. Rasa gatal tersebut ia tahan hanya karena demi menunggu pria pujaan hatinya.


Hampir 30 menit ia menunggu kedatangan Arjuna yang tak kunjung tiba. ALvira pun mulai merasa bosan. Wanita tersebut kembali menyentuh layar ponsel, yang memperlihatkan wajah Abian yang tengah tertawa dijadikan walpaper oleh ibu anak satu itu.


Wanita tersebut membuka daftar kontak, mencari nama kekasihnya, lalu kemudian mencoba menghubungi pria itu.


"Halo," ucap seorang pria dari seberang telepon.


"Yang, kamu di mana?" tanya Alvira yang merasa geram pada kekasihnya itu, karena sedari tadi tak kunjung datang.


"Aku baru saja bangun tidur, Yang."


Mendengar hal itu, membuat Alvira semakin kesal. Bagaimana tidak? Sedari tadi ia menunggu kedatangan Arjuna, bahkan sampai rela mendonorkan darahnya pada nyamuk-nyamuk yang ada di teras, demi menunggu kedatangan kekasih tercinta. Dan ternyata yang ditunggu-tunggu baru saja bangun tidur.


"Apa kamu melupakan janjimu untuk datang kemari?" tanya alvira yang sudah kelewat kesal pada kekasihnya itu.


"Iya, Yang. Aku akan ke sana, ini mau mandi dulu," timpal Arjuna.


Alvira menghela napasnya dengan kasar lalu kemudian berkata, "TIDAK USAH KE SINI SEKALIAN!"


Setelah mengucapkan kalimat tersebut dengan lantang, Alvira pun langsung memutuskan panggilan teleponnya secara sepihak.


"Jika aku tah kalau akan jadi seperti ini, lebih baik aku ikut bersama mama saja ke rumah Alvaro. Argghh ... Arjuna benar-benar menyebalkan!" ketus Alvira.


Alvira beranjak dari tempat duduknya. Kali ini rasa gatal bekas gigitan nyamuk tak mampu lagi ia tahan setelah mendengar ucapan Arjuna saat di telepon tadi.


Baru saja beberapa langkah ia meninggalkan tempat duduknya, tiba-tiba indera pendengarannya menangkap suara klakson mobil dari arah gerbang. Pelayan pun segera membuka gerbang tersebut.


Mobil fortuner berwarna hitam memasuki pekarangan rumahnya. Seketika wajah suram Alvira menjadi cerah seketika saat melihat siapa yang baru aja tiba di rumahnya.


"Ckckck! Dia memang hobi sekali mengerjaiku. Awas saja kamu, Yang!" gumam Alvira yang langsung menghampiri mobil yang baru saja berhenti tepat di depan pekarangan rumahnya itu.


Arjuna keluar dari mobilnya, menatap wanita yang tengah berjalan ke arahnya sembari mengembangkan senyuman.


"Katanya baru bangun tidur, katanya mau mandi dulu, sudah dibuat kesal tiba-tiba langsung muncul begitu saja. Dasar Kamu!" ucap Alvira memukul lengan kekasihnya dengan pelan.


"Sekarang masih kesal?" tanya Arjuna sembari terkekeh geli.


"iya, masih!" ketus Alvira.


"Ya sudah, kalau kamu masih kesal, aku pulang saja," ucap Arjuna.


"Jangan seperti itu, Yang!" Alvira mencebikkan bibirnya, membuat janda anak satu itu terlihat sangat menggemaskan.

__ADS_1


"Terus mau bagaimana?" tanya Arjuna sembari menaikkan alisnya sebelah.


"Ya kesalnya bentar lagi juga hilang. Tapi kamunya jangan pergi," cicit wanita tersebut.


Spontan, Arjuna pun mencubit pipi Alvira. Ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mencubit pipi yang sedikit chubby itu.


"Kalau begitu, untuk menghilangkan rasa kesal mu padaku karena telah menungguku lama, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu," ucap Arjuna.


"Menunjukkan apa?" tanya Alvira.


Arjuna menggenggam tangan Alvira, laku kemudian membawanya ke belakang mobil. Arjuna membuka pintu belakang mobil, terlihat sebuah boneka besar yang ada di dalam mobil tersebut beserta buket bunga yang langsung diberikan Arjuna pada kekasihnya.


Alvira yang melihat hal tersebut langsung tercengang. Ia benar-benar kagum dengan kejutan kecil dari Arjuna.


"Ini terimalah!" ucap Arjuna memberikan buket bunga mawar tersebut untuk Alvira.


Alvira menerima buket bunga tersebut dengan perasaan bahagia. Ia mencium aroma bunga mawar itu sembari mengembangkan senyumnya.


"Harum sekali," ucap Alvira.


"Terima kasih ya, Sayang. Dan maafkan aku karena sempat merajuk denganmu," ucap Alvira yang merasa bersalah karena sebelumnya marah-marah pada kekasihnya di telepon. Padahal, Arjuna ingin menghadiahinya sebuah kejutan dan sengaja mengatakan bahwa pria tersebut baru bangun tidur.


"Iya, Sayang. Aku juga bisa mengerti alasan kemarahanmu itu. Aku lama sampai di sini karena harus mampir di toko untuk menyiapkan semua ini," jelas Arjuna.


"Iya. Pokonya terima kasih atas hadiahnya. Dan terima kasih juga karena kamu selalu saja mengerti aku," ucap Alvira.


Arjuna menganggukkan kepalanya sembari mengulas senyum. Melihat binar di mata Alvira, membuat Arjuna juga ikut merasa bahagia. Suasana seperti ini, sangat jauh dari bayangannya.


Dulu, Alvira bahkan tidak berani bertatap wajah dengan Arjuna karena wanita itu pernah menolak cinta Arjuna berkali-kali.


Arjuna layak mendampingi Alvira karena ketulusan cintanya yang sampai saat ini rela melajang hanya karena tidak bisa melupakan wanita yang ada di hadapannya itu.


Arjuna mengedarkan pandangannya. Ia baru sadar, sedari tadi pria tersebut tak melihat keberadaan kedua orang tua Alvira atau pun Abian.


"Om dan Tante apakah sudah tidur?" tanya Arjuna mencoba menebak-nebak.


"Mama dan papa tidak ada di rumah. Mereka pergi berkunjung ke rumah Alvaro, soalnya ibu mertua Alvaro ada di sini," jawab Alvira.


"Terus Abian?"


"Ikut juga bersama mama dan papa," timpal Alvira.


"Kamu tidak ikut?" tanya Arjuna lagi.


"Kan kamunya ke sini. Kalau aku pergi ke rumah Alvaro, berarti kita tidak jadi bertemu," ucap Alvira.


"Ya ... aku kira kamu akan mengajak bertemu di rumah Alvaro," ujar Arjuna.


"Tidak ah! Aku malu, soalnya kan ada mertuanya Alvaro," balas Alvira.


"Loh kenapa malu? Kemarin kita juga pernah ke rumahnya Alvaro saat mertuanya ada di sana," ujar Arjuna.


Seketika Alvira pun langsung mengernyitkan keningnya. Ia merasa tidak pernah mengajak Arjuna ke tempat itu saat ada mertua Alvaro.

__ADS_1


"Benarkah? Sepertinya aku tidak pernah mengajakmu ke sana disaat Alvaro memiliki tamu," ucap Alvira.


"Coba ingat-ingat lagi. Saat pertama kali aku melakukan pendekatan denganmu. Memang saat itu bukan kamu yang mengajakku, melainkan Alvaro." Arjuna mencoba menjelaskan semuanya pada kekasihnya itu.


Alvira mencoba mengingat-ingat kejadian itu. Dan ia pun kembali teringat, dimana saat itu hanya ada ibu mertua dari Alvaro saja yang berkunjung, tidak dengan ayah mertuanya.


"Ah iya iya, aku baru ingat. Astaga! Tapi ya sudahlah, kita di sini saja," ujar Alvira.


"Sebaiknya aku pulang saja, tidak enak jika bertamu dengan seorang gadis tetapi tidak ada orang tuanya di rumah," tutur Arjuna.


"Tapi aku tidak sendirian, Yang. Ada orang-orang yang bekerja di rumah. Jadi, kamu tidak perlu merasa takut. Lagi pula kedua orang tuaku juga sudah tahu kalau kamu akan berkunjung kemari," jelas Alvira.


"Tapi aku ...."


"Ayolah!" Alvira menarik tangan Arjuna.


"Sebentar! Bonekanya ...." Arjuna pun mengambil boneka tersebut dari dalam mobil, lalu kemudian menutup kembali pintu mobilnya.


Alvira mempersilakan Arjuna untuk duduk di salah satu kursi yang ada di teras. "Kita di sini saja ya, tidak apa-apa kan?" tanya Alvira.


"Iya, tidak apa-apa. Sebaiknya di sini saja untuk menghindari hal yang tidak-tidak," ujar Arjuna yang berucap setengah berbisik saat diakhir kalimat.


Alvira yang tidak bisa mendengarnya dengan jelas, meminta kepada sang kekasih untuk mengulangi ucapannya.


"Tadi kamu bilang apa?" tanya Alvira.


"Ah, tidak apa-apa." Arjuna memilih untuk tidak mengatakannya. Ia tidak ingin Alvira merasa tidak nyaman dengan ucapannya nanti.


Tak lama kemudian, salah satu pelayan datang membawa nampan yang berisi minuman serta camilan. Pelayan tersebut meletakkan minuman itu di atas meja.


"Silakan di minum, Tuan." Pelayan itu berucap dengan sangat ramah.


"Iya, terima kasih, Bik." Arjuna pun mengulas senyumnya.


Setelah meletakkan minuman tadi, si pelayan itu pun langsung pamit undur diri dari hadapan kedua orang tersebut. Kini tinggal lah Arjuna dan Alvira yang terlihat saling melempar senyum.


"Ada apa?" tanya Arjuna melihat kekasihnya tersenyum sedari tadi.


Alvira menggelengkan kepalanya, " Tidak apa-apa. Aku hanya penasaran akan satu hal. Kenapa kamu bisa sejauh ini denganku. Kenapa kamu bahkan sampai mengorbankan waktumu untuk menungguku. Bagaimana jika sewaktu itu aku tidak berpisah dari Andre? Apakah kamu akan terus seperti ini?" tanya Alvira yang benar-benar merasa penasaran.


"Ini semua karena kamu, Alvira. Karena aku cinta mati sama kamu," timpal Arjuna. Pria itu menatap wanita yang ada di hadapannya dengan serius. Ucapan yang ia lontarkan tadi merupakan suatu kesungguhan tanpa dibuat-buat sama sekali.


"Cinta mati apanya? Aku agak sedikit kurang yakin dengan orang-orang yang mengatakan bahwa mereka benar-benar cinta mati pada pasangannya. Aku ingat betul, saat Andre berucap padaku, bahwa dia tidak akan mengkhianati aku. Dia tidak akan meninggalkan aku apapun yang terjadi. Karena aku adalah separuh napasnya." Tampaknya Alvira kurang percaya dengan ucapan Arjuna, membuat pria itu tentunya merasakan kecewa.


"Namun, kenyataannya dia malah mempunyai anak dengan wanita yang tak lain adalah temanku sendiri," ujar Alvira panjang lebar, mengingat bagaimana tingkah seorang b*jingan yang pernah menyakitinya dulu.


Mendengar hal itu, Arjuna hanya diam. Ia tersenyum miring, memilih mengambil cangkir kopi yang ada di hadapannya, laku kemudian menyeruput kopi panas tersebut dengan pelan.


"Tidak bisakah kamu melihat perbedaan ku dengan Andre? Separuh napas? Apakah kamu membaca kiriman surat darinya yang diletakkan di dalam loker itu?" Arjuna balik bertanya.


"Iya. Tapi kenapa kamu ...." Alvira membelalakkan mata, entah bagaimana Arjuna mengetahui hal tersebut.


"Karena akulah orang yang menulis surat itu untukmu, bukan pria yang pernah menikahimu."

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2