Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 170. Kesempatan


__ADS_3

Shinta tengah tertidur di atas sofa. Gadis tersebut perlahan membuka matanya, melihat sekelilingnya seraya mengusap-usap mata. Ia meraih ponsel yang ada di atas meja, lalu kemudian menatap layar ponsel tersebut dengan mata yang terbelalak.


"Jam 8 malam? Astaga aku ketiduran," gumam Shinta panik. Ia melihat beberapa panggilan tak terjawab dari Daren. Rasa bersalah pun mulai menyelimuti dirinya. Shinta langsung menelepon Daren, berniat untuk meminta maaf pada pria itu karena tak menepati janjinya.


"Halo ...." Terdengar suara berat dari seberang telepon.


"Daren, maafkan aku. Aku tak sengaja ketiduran dan baru saja bangun," ucap Shinta dengan satu kali tarikan napas.


Terdengar suara tawa renyah Daren dari seberang telepon. "Tidak apa-apa. Lagi pula kamu kelelahan karena beres-beres rumah tadi," ujar Daren.


"Sekali lagi aku minta maaf, aku benar-benar tidak sengaja ketiduran," ucap Shinta lagi.


"Iya iya, tidak apa-apa. Apakah kamu sudah makan?" tanya Daren.


"Belum," timpal gadis tersebut.


"Kalau begitu, ayo kita keluar cari makan di dekat sini," ajak Daren pada kekasihnya itu.


"Baiklah, kalau begitu tunggu aku di depan," ucap Shinta.


"Siap," timpal Daren yang kemudian memutuskan sambungan teleponnya.


Pria itu tersenyum, melihat Shinta yang menghubungi dirinya karena melupakan janji yang ia buat sebelumnya.


"Semoga saja, ada kemajuan setelah ini," gumam Daren penuh harap. Ia menatap wallpaper ponselnya, terlihat foto Shinta yang dijadikan layar depan oleh pria tersebut. Foto yang ia ambil secara diam-diam saat bersama dengan gadis tersebut.


Di lain tempat, Shinta membasuh wajahnya. Setelah selesai, ia pun langsung memakai menuju ke lemari pakaian. Memakai baggy pants dan dipadu padankan dengan sweater berwarna hitam.


Setelah semuanya selesai, ia langsung keluar dari unitnya. Melihat Daren yang sudah menunggunya di depan pintu.


Daren tampak rapi mengenakan kemeja serta celana jeans, beda halnya dengan tampilan Shinta yang terlihat biasa-biasa saja.


"Apakah aku salah kostum?" tanya gadis tersebut saat memperhatikan kekasihnya dari atas hingga bawah.


"Tidak, kamu tidak perlu berganti pakaian. Aku baru saja pergi ke suatu tempat, dan sekalian mengajakmu keluar," ujar Daren berbohong.


"Oh ...." Shinta menganggukkan kepalanya. Lalu kemudian menutup pintunya.


"Terus ... kenapa sudut bibirmu terluka?" tanya Shinta seraya menunjuk pada sudut bibir Daren yang terluka.


"Tidak apa-apa, ada kecelakaan sedikit tadi. Ayo kita pergi!" ajak Daren yang mencoba mengalihkan topik pembicaraan tersebut.


"Ayo!" ucap Shinta.


Keduanya berjalan menuju pintu lift. Saat pintu lift terbuka, di waktu yang bersamaan mereka bertemu dengan Juni yang berada di dalam lift tersebut. Shinta dan Juni saling menatap sepersekian detik, sementara hanya bisa memperhatikan keduanya.


Daren menggenggam tangan Shinta secara tiba-tiba. Membuat Shinta mengalihkan pandangannya dari Juni , menatap tangan yang digenggam oleh kekasihnya.


Perlakuan Daren, seakan menyadarkan Shinta bahwa saat ini dirinya adalah kekasih Daren. Jadi, tak seharusnya Shinta terus menerus memandang Juni, apalagi tatapan yang diperlihatkan oleh wanita itu adalah tatapan mendamba.


"Tolong keluarlah!" ujar Daren dingin, kalimat yang ditujukan untuk Juni.


Mendengar hal tersebut, Juni pun langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan sempit itu. Ia berlalu dari hadapan kedua sejoli yang tampaknya hendak pergi.


Setelah Juni keluar, Daren pun mengajak Shinta masuk ke dalam lift tanpa melepaskan genggaman tangannya dari sang kekasih. Shinta merasa tak nyaman dengan sikap Daren yang terus menggenggam tangannya seperti ini.

__ADS_1


"Maafkan aku, tetapi sepertinya tanganku berkeringat," ucap gadis tersebut, berucap hati-hati karena takut jika kekasihnya merasa tersinggung.


"Baiklah," ujar pria itu langsung melepaskan genggaman tangannya.


Pintu lift kembali terbuka, mereka pun keluar dari ruangan sempit itu, berjalan menuju ke mobil untuk pergi keluar, mencari lokasi tempat makan yang ia inginkan.


Kini keduanya pun berada di salah satu rumah makan Padang yang tak jauh dari apartemen. Hal tersebut tentu saja atas keputusan Daren, yang mengetahui bahwa Shinta menyukai masakan Padang.


"Kali ini ... kamu menebaknya juga?" tanya Shinta saat mobil tersebut terhenti di depan rumah makan tersebut.


"Anggaplah begitu. Kebetulan aku juga menyukai masakan Padang, maka dari itu, aku mengajakmu kemari," jelas Daren berbohong.


Shinta mengulas senyumnya, ia turun dari mobil sang kekasih. Memang Shinta amat menyukai masakan Padang, akan tetapi hari ini ia seperti tak terlalu bersemangat untuk datang ke tempat tersebut. Namun, karena Daren sudah bersusah payah mencari tempat, dan kekasihnya itu juga berucap bahwa dirinya juga menyukai masakan Padang, membuat Shinta pun hanya bisa menuruti kehendak Daren.


Keduanya masuk ke dalam rumah makan tersebut, menuju salah satu meja yang ada di sana. Pelayan membawa banyak hidangan menu yang disajikan di atas meja. Masakan yang dihidangkan dibalut dengan plastik khusus, dan yang akan dihitung nantinya adalah makanan yang telah dibuka bungkus plastiknya.


"Selamat makan," ujar Daren mengulas senyum.


Shinta pun membalas senyuman itu. Ia langsung menyantap hidangan yang ada di atas meja.


Suasana seperti ini, mengingatkan dirinya akan kejadian yang lalu. Dimana ia sering makan di rumah makan Padang bersama dengan Juni. Apalagi beberapa hari yang lalu, ia juga sempat datang kemari tepatnya sebelum menjadi kekasih Daren.


Shinta mengaduk-aduk nasi yang ada di piringnya. Sementara pikiran gadis itu melalang buana, mengingat momen saat ia bersama dengan Juni dulu.


Tanpa disadari, air mata Shinta jatuh begitu saja. Daren melihat hal tersebut langsung menyodorkan saputangannya pada sang kekasih.


"Apakah sambal ijo nya sangat pedas?" tanya Daren. Pria itu tahu, apa yang ada di pikiran Shinta. Meskipun raganya berada di sini, akan tetapi pikiran Shinta tertuju pada pria lain. Daren yang ada di hadapannya, akan tetapi gadis tersebut memikirkan Juni yang tidak berada di tempat itu.


Daren sengaja, melontarkan pertanyaan tentang sambal ijo yang ada di hadapan Shinta. Dengan menanyakan sambal tersebut pedas atau tidaknya. Padahal, Shinta bahkan belum menyentuh sambal ijo yang ada di piringnya sama sekali.


"Jika kamu tidak kuat dengan rasa pedas sambalnya, jangan dipaksakan. Sekalipun rasa sambal itu lebih nikmat dari pada hidangan lainnya," ujar Daren memiliki makna yang begitu dalam.


"Namun, bisakah kamu melihat yang ini ...." tunjuk Daren pada daging rendang yang ada di hadapan mereka.


"Rasa rendang yang ada di hadapanmu saat ini lebih nikmat dibandingkan dengan sambal ijo yang sedari tadi kamu pikirkan," jelas Daren pada kekasihnya itu.


Shinta terdiam mendengar penuturan Daren. Tentu saja ia mengerti arah ucapan pria yang ada di hadapannya. Yang mengumpamakan dirinya sebagai daging rendang, sementara Juni hanya berperan sebagai sambal ijo saja.


"Maaf," ucap Shinta pelan.


"Tidak apa-apa, silakan lanjutkan makannya," ujar Daren yang berusaha sekuat tenaga untuk mengulas senyumnya meskipun hatinya terasa bak diperas.


Setelah menikmati makan malam, mereka berdua pun memutuskan untuk kembali ke apartemen. Sejak tadi, Daren tak banyak bicara lagi seusai kejadian di tempat makan tadi.


Shinta sebenarnya merasa bersalah. Ia menerima Daren, akan tetapi di dalam hati kecilnya ia tak menginginkan pria itu. Pria yang ia inginkan adalah Juni. Namun, karena Juni yang tak kunjung mengutarakan perasaannya, dan Shinta yang selalu beranggapan bahwa Juni hanya menganggapnya sebagai teman saja, membuat gadis itu pun menerima Daren.


Setelah cukup lama berada di perjalanan dengan suasana yang sedikit canggung, akhirnya mereka pun tiba di apartemen. Daren dan Shinta turun dari kendaraannya, berjalan masuk ke dalam lift yang mengantarkannya ke unitnya.


Tinggg ...


Pintu lift terbuka, keduanya pun langsung keluar dari ruangan sempit itu. Shinta dan juga Daren berjalan menuju ke hunian mereka, sesampainya di depan pintu, mereka pun berbalik dan saling menatap.


"Terima kasih karena telah menemaniku malam ini," ucap Daren tersenyum simpul.


"Ah, tidak! Harusnya aku lah yang berterima kasih karena sudah ditraktir makan malam," t

__ADS_1


balas Shinta diiringi dengan gerakan tangannya .


"Kalau begitu, istirahat lah! Selamat malam," ujar Daren.


Shinta menganggukkan kepalanya, ia pun langsung masuk ke dalam unitnya setelah tersenyum menatap Daren.


Daren melihat pintu yang tertutup rapat itu dengan perasaan yang bercampur aduk. Ia pun masuk ke dalam unitnya. Setelah menutup pintu, Daren meninju tembok, melepaskan kekesalan yang sedari tadi ia tahan.


"Kenapa harus Juni terus menerus? Apakah aku tak semenarik pria itu? Seharusnya aku yang kamu pikirkan bukan pria itu!" geram Daren yang benar-benar marah.


Melihat Shinta yang selalu memikirkan Juni, membuat Daren benar-benar terganggu. Ia pun memutuskan untuk keluar dari unitnya, lalu kemudian langsung berjalan dan menekan bel unit Juni.


Daren menekan bel tersebut dengan terus menerus hingga membuat orang yang ada di dalam unit tersebut langsung keluar.


"Mau apa lagi?" tanya Juni mengerutkan keningnya melihat rivalnya yang ada di depan pintu.


"Kamu ...." Daren melirik ke arah pintu unit Shinta yang tertutup. Ia pun langsung masuk ke dalam unit Juni tanpa meminta persetujuan dari pemiliknya terlebih dahulu.


"Bisakah aku berbicara padamu dengan serius?" tanya Daren.


"Bukankah saat ini kamu sedang berbicara padaku? Dan kenapa ekspresi wajahmu tampak memelas seperti itu? Tidak biasanya kamu begini," sindir Juni sembari menyandarkan tubuhnya di dinding.


"Tolong menjauh dari Shinta!" tekan Daren.


Mendengar hal tersebut, membuat Juni kembali terkekeh geli. Entah kenapa pria yang ada di hadapannya ini seolah tak ada hal yang lain di bahas. Terus menerus tentang Shinta ... Shinta ... dan Shinta ....


"Kenapa aku harus menjauh? Aku tidak mengganggu kalian," balas Juni dengan santai.


Apa yang dikatakan pria tersebut memang benar. Juni tak pernah sekalipun mengganggu hubungan antara Daren dan Shinta. Namun, entah mengapa setiap kali bertemu, Daren selalu saja kebakaran jenggot.


"Kamu selalu mengganggu Shinta. Dia adalah kekasihku dan tak seharusnya kamu yang ada di pikiran Shinta," ujar Daren yang keceplosan.


Deggg ...


Juni tertegun dengan apa yang baru saja ia dengar. "Tadi kamu bilang apa? Shinta memikirkanku?" tanya Juni yang seolah meminta penjelasan lebih pada Daren .


"Lupakan! Intinya aku ingin kamu menjauh dari Shinta. Jika nanti kamu kembali muncul di hadapan Shinta, aku akan membuat perhitungan padamu!" ancam Daren yang kemudian melangkah pergi dari unit Juni.


"Apakah dia gila? Aku tidak mengusik hubungannya, lalu kenapa dia memintaku agar tak muncul di hadapan Shinta. Sedangkan Shinta dan aku bertetangga. Lagi pula kami satu kantor, mustahil untuk menghindari gadis itu. Sepertinya memang pria tengil itu tidak waras!" cecar Juni sembari menutup pintunya.


Saat hendak menjauh dari pintu, langkahnya terhenti, mengingat apa yang dikatakan Daren beberapa saat yang lalu.


"Kamu selalu mengganggu Shinta. Dia adalah kekasihku dan tak seharusnya kamu yang ada di pikiran Shinta."


"Berarti ... selama ini saat bersama Daren Shinta memikirkan aku? Berarti sia-sia pria itu menyandang status sebagai kekasihnya jika hanya aku yang ada di pikiran gadis itu," gumam Juni.


"Itu artinya, aku memiliki kesempatan. Aku akan terus mendekati Shinta meskipun Daren mengancamku. Bukankah sebelumnya ia juga begitu? Diperingatkan menjauh justru semakin mendekat. Dan sekarang, aku akan menerapkannya padamu. Rasakan saja karmamu, Daren." Juni terkekeh geli, melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.


Juni menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya. Pria itu pun tersenyum, mengetahui kenyataan bahwa kemungkinan besar Shinta juga merasakan hal yang sama dengan dirinya.


"Seharusnya aku berterus terang saja kemarin. Tidak peduli dengan pengakuan Shinta yang mengatakan bahwa Daren adalah kekasihnya. Bodohnya aku!!" rutuk Juni sembari memukul kepalanya dengan pelan.


"Baiklah, untuk kali ini, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Kamu lihat saja, Daren! Aku tidak akan menghindari Shinta, justru semakin mendekati kekasihmu itu. Lagi pula janur kuning belum melengkung, jadi ... halal bagiku untuk menikung," lanjutnya.


Juni meraih ponselnya, ia pun mengetikkan pesan singkat dan mengirimkan pesan tersebut kepada Shinta.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2