Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 205. Jangan Berubah


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Arumi dan juga Fahri pun langsung berpamitan pulang. Meskipun berada di rumah Alvaro berbincang-bincang, akan tetapi pikirannya tertuju pada Alvira yang sedang didatangi oleh pria. Meskipun Arjuna adalah anak yang baik, tidak menutup kemungkinan jika orang tersebut menjadi gelap mata dan mereka berdua akhirnya melakukan hal yang tidak-tidak.


"Bu Arumi kenapa buru-buru sekali pulangnya?" tanya Bu Isna yang masih merasa ingin mengobrol bersama besannya itu.


"Dilanjut besok saja ya, Bu. Soalnya saya sudah lumayan mengantuk," timpal Arumi yang hanya beralasan saja. Sebenarnya ia khawatir meninggalkan Alvira sendirian di rumah.


"Ya sudah, kalau begitu kami pulang dulu ya." Arumi dan Fahri berpamitan pada semua orang.


"Iya. Hati-hati di jalan."


Keduanya pun masuk ke dalam mobil. Sementara Abian , bayi itu tertidur di gendongan Arumi dengan sangat lelap. Bibirnya sedikit terbuka, membuat siapa saja sangat gemas melihat bayi tersebut.


Mobil mulai melaju meninggalkan pekarangan rumah Alvaro. Fahri melirik sang istri yang sudah mulai menguap. "Tidurlah jika lelah. Berikan Abian padaku," ujar Fahri menadahkan tangan untuk meminta cucunya agar ia saja yang menggendongnya.


"Tidak apa-apa, Mas. Biar aku saja yang menggendong Abian," ucap Arumi.


"Nanti kamu ketiduran. Berikan padaku saja! Lagi pula aku juga ingin menggendong cucuku," balas Fahri.


Arumi tersenyum simpul, "Baiklah." Wanita itu pun langsung memberikan cucunya pada sang suami.


Dengan sangat berhati-hati, Alvaro menggendong Abian. Ia sangat senang melihat Abian yang tengah tertidur pulas.


Setelah memberikan Abian, Arumi pun langsung kembali menyenderkan kepalanya. Sebenarnya ia beralasan saja pada Bu Isna bahwa dirinya sudah mengantuk.


Namun, tampaknya kali ini rasa kantuk itu memang benar-benar menyerangnya. Mata Arumi pun terasa sangat berat. Wanita itu langsung memejamkan mata dan larut ke dalam alam mimpinya.


Fahri menggendong Abian, sedikit membenarkan baju Abian yang sempat tersingkap. Matanya beralih ke wanita yang ada di sebelahnya. Wanita yang dengan setia memberikan hidupnya hingga mereka menua.


Jika mengingat kembali kehidupannya saat pertama kali kenal Arumi, mungkin ia tidak akan menyangka bisa mendapatkan wanita luar biasa ini. Arumi mengambil dirinya yang kotor dan penuh debu, membawa dirinya bangkit kembali dan menjadikan Fahri layaknya berlian yang berharga, karena dulu pernah disia-siakan oleh mantan istrinya.


Dan kini, Fahri pun menjalani hidup bahagia bersama Arumi. Menatap Arumi seperti ini, membuat air mata Fahri jatuh menetes begitu saja. Mereka telah menjalani suka dan duka dengan begitu lama. Dan hingga kini, akhirnya mereka pun mampu melewati semuanya.


"Rasanya tak menyangka melihat anak dan cucu kita tumbuh bahagia. Rambut kita sudah memutih, hanya saja kamu berbuat curang! Mengecat rambutmu berwarna coklat. Akan tetapi, tetap saja keriput di wajah cantikmu itu tetap tak bisa kamu sembunyikan," gumam Fahri seraya tersenyum menatap wajah cantik istrinya.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, mobil itu pun tiba di rumah. Supir pribadi Fahri langsung membantu Fahri membukakan pintu. Pria itu melihat ke arah samping, mendapati Arumi yang tertidur dengan suara dengkuran halus.


"Ma ... Ma ...," panggil Fahri.


"Nenek lincah! Bangun!" Fahri berucap tepat di telinga sang istri, membuat wanita tersebut membuka matanya.


"Dipanggil nenek lincah baru bangun," ujar Fahri yang memilih lebih dulu turun dari mobil, karena pria tersebut menggendong Abian.


Arumi menggeliat, mengusap-usap matanya, lalu kemudian ikut turun dari mobil. Tak lupa, pesanan Alvira yang menjadi tangkapan terbesarnya nanti.


Arumi masuk ke dalam rumah seraya membawa box Tupperware yang tentunya berisi pempek serta kuah cukonya. Ia meletakkan makanan tersebut ke dapur.


"Sini Mas, biar aku yang bawa Abian ke kamar," ucap Arumi.


Fahri pun menyerahkan Abian kepada istrinya. Setelah itu, ia berjalan lebih dulu menuju ke kamar. Sementara Arumi, wanita tua itu mengembangkan senyumnya.

__ADS_1


"Ayo sayang, kita menemui mamamu," gumam Arumi sembari membenarkan gendongannya.


Abian masih tertidur pulas, membuat Arumi melihatnya menjadi gemas. Wanita tersebut berjalan menaiki anak tangga, lalu kemudian menuju ke kamar putrinya.


Tokkk... Tokkk ....


Arumi mengetuk pintu sebelum membuka kenop pintu tersebut. Ia melihat Alvira yang baru saja hendak membukakan pintu untuknya. Terlihat raut wajahnya yang begitu ceria seusai bertemu dengan sang pujaan hati.


"Mama sudah pulang?" tanya Alvira yang sepertinya tak menyangka jika hari sudah larut.


"Iya. Kan ini sudah hampir jam setengah sepuluh. Tadi si Arjuna jadi datang ke sini?" tanya Arumi.


Alvira menganggukkan kepalanya. Ia melihat boneka Teddy berukuran besar di atas kasur putrinya. "Apa itu? Pemberian dari Arjuna?" tanya Arumi sembari berjalan menuju ke kasur, membaringkan cucunya.


"Iya, Ma." Alvira mengulas senyumnya sembari memegangi bonekanya itu.


"Vira ... Vira ... kamu itu sudah beranak satu, kelakuan masih seperti anak gadis saja. Lagi pula si Juna, untuk apa menghabiskan uangnya membeli boneka ini. Akan lebih romantis lagi jika memberikan cincin, lalu kemudian langsung dilamar," celetuk Arumi sengaja menyindir.


"Nanti Ma, nanti. Lagi pula Vira belum siap untuk sekarang ini. Oh iya, pesanan Vira mana?" tanya Alvira menagih pesanannya.


"Itu ... ada di bawah. Jangan lupa imbalannya," ujar Arumi menaik turunkan alisnya.


"Baiklah, Nenek. Imbalannya hanya sekedar ucapan terima kasih kan?" ledek Alvira yang ingin mengerjai ibunya.


"Ck! Mana bisa begitu. Ya tas branded lah, kan sesuai janji," ujar Arumi mencebikkan bibirnya.


"Iya ... iya ... Nenekmu sangatlah matre, Nak. Mama hanya minta dibawakan pempek yang bukan buatannya malah minta tas branded," ucap Alvira.


Sementara Alvira, ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan ibunya itu. Matanya kembali menangkap boneka pemberian Arjuna dan lagi-lagi mengulas senyum.


"Tidak harus cincin juga, pemberian seperti ini saja sudah membuatku bahagia. Namun, untuk menuju ke jenjang selanjutnya, aku masih takut. Takut jika nanti kehidupan pernikahanku tak seindah masa berpacaran seperti ini," gumamnya.


Pandangan Alvira mengarah pada putranya yang tengah tertidur pulas. Alvira merebahkan dirinya di samping putranya, laku kemudian menciumi kedua sisi pipi putranya itu dengan penuh kasih sayang.


"Apakah kamu bisa menerimanya kelak, Nak. Jika mama menikah, akankah kamu kesal pada mama? Mama takut, Nak. Yang mama takutkan adalah kamu, ketika dewasa nanti tidak bisa menerima Arjuna dengan baik," gumam Alvira yang masih mempertimbangkan dari beberapa sudut pandang jika harus melangkah lebih serius pada Arjuna.


Namun, Alvira juga merasa kasihan pada Juna jika membuat pria itu kembali menunggu dan terus menunggu.


"Semoga saja, keputusan mama nantinya adalah menjadi keputusan yang baik untuk semua orang," lanjut Alvira.


Abian sedikit menggeliat, memiringkan tubuhnya dengan mata yang masih terpejam. Alvira pun tersenyum, menepuk pelan bokong anaknya, agar putranya itu lebih lelap dalam tidurnya.


.....


Di lain tempat, Alvaro dan juga Rania tengah berada di atas kasur. Rania selalu mengeluh, jika akhir-akhir ini punggungnya terasa pegal. Mungkin karena menanggung berat badannya yang semakin lama semakin bertambah akibat perutnya yang semakin membesar.


Alvaro memijat pelan punggung sang istri. Mencoba membantu meringankan rasa pegal di punggung Rania.


"Mas Varo tidurlah! Besok kan Mas harus bekerja," ujar Rania dengan suara seraknya.

__ADS_1


"Nanti saja, Mas belum mengantuk, Sayang." Alvaro menimpali sembari mengulas senyumnya.


"Sejak aku hamil, Mas Varo selalu saja bergadang. Lihatlah kantung mata Mas Varo sudah mulai menghitam," ucap Rania


"Benarkah?" Alvaro menyentuh kantung matanya.


"Tidak masalah kantung mataku hitam. Yang penting istriku tetap mengatakan bahwa suaminya selalu tampan," lanjut Alvaro seraya terkekeh membuat Rania pun juga ikut tertawa.


"Mana ada, Mas? Aku akan lebih sering mencuci mata, membayangkan bahwa wajah Mas Varo adalah wajah dari pemeran utama yang ada di drama Korea," tutur Rania yang mencoba bergurau.


"Berarti ... selama ini kamu membayangkan aku adalah dirinya? Kamu sangat tega, Istriku."


"Lagi pula, Mas aku suruh tidur tidak mau. Kalau Mas Varo ingin tampan, ya jangan ikut bergadang, Mas." Rania tersenyum, ia mengubah posisi tidurnya, memilih menghadap ke arah suaminya.


"Ini ... dan ini ... sudah seperti mata panda," lanjut Rania menyentuh kantung mata Alvaro secara bergantian.


"Sayang, bagaimana aku bisa tertidur jika kamu merasakan sakit. Bagaimana aku bisa memejamkan mataku, kalau kamu sendiri berusaha menahan rasa sakitmu itu. Mas tidak mau menemani kamu di saat kamu senang saja. Mas juga ingin ikut merasakan kesusahan itu. Kalau bisa, Mas ingin sekali membagi dua rasa sakit yang kamu rasakan saat ini. Agar, sakitmu sedikit mereda. Mas ingin melakukan itu semua," tutur Alvaro.


Mendengar ucapan suaminya, membuat mata Rania berkaca-kaca. Perkataan Alvaro, membuat dirinya benar-benar terenyuh. Ia tak bisa membayangkan jika sikap Alvaro berubah dingin padanya, pasti akan sangat menyakitkan bagi Rania karena sudah terlalu nyaman akan sikap hangat dari pria itu.


"Mas," panggil Rania dengan suara lembut dan sedikit serak.


"Iya, Istriku. Ada apa, Sayang?" timpal Alvaro menatap seksama wajah istrinya yang mulai timbul flek hitam di wajahnya akibat hamil.


"Mas jangan pernah berubah ya. Aku tidak bisa membayangkan jika suatu saat nanti sikap Mas berubah dingin kepadaku," ucap Rania yang mulai menitikkan air matanya.


Mendengar ucapan sang istri, membuat Alvaro mengusap puncak kepala wanita itu dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang.


"Aku tidak akan berubah, Sayang. Aku akan tetap seperti ini, tetap mencintaimu dengan sepenuh hati bagaimana pun keadaan dan kondisimu nanti. Namun, jika ada sikapku yang membuat dirimu sakit hati. Tingkahku yang tak sengaja menyakitimu, tolong tegur aku. Supaya aku dapat merubahnya untukmu," ujar Alvaro menyeka air mata Rania. Mencium bibir istrinya dengan begitu lembut.


"Tolong jangan berpikiran yang aneh-aneh ya, Sayang. Tidak apa-apa jika kamu menganggap wajahku ini seperti aktor yang ada di dalam drama yang sering kamu tonton. Asalkan kamu merasa senang, itu sudah cukup bagiku," lanjut Alvaro.


Seketika Rania pun langsung terkekeh, karena Alvaro menganggap serius ucapannya tadi. "Tidak, Mas. Setampan apapun pria lain, bagiku kamu adalah pemenangnya. Tak ada yang menandingi ketampanan mu," ujar Rania membelai wajah suaminya.


"Benarkah?" tanya Alvaro.


"Iya, Mas."


"Ya sudah, sun dulu baru Mas percaya," ucap pria itu sembari tersenyum penuh arti.


"Ish! Tingkahmu seperti anak kecil saja," cecar Rania.


Namun, akhirnya Rania pun mendaratkan kecupan singkat di bibir serta pipi Alvaro. "Sudah, sekarang percaya kan?" tanya Rania. Alvaro pun menganggukkan kepalanya menimpali ucapan sang istri.


"Kalau begitu, tidurlah! Kan tadi sudah mendapatkan bekal sebelum tidur." Rania terkekeh.


"Iya. Sepertinya aku akan mimpi indah setelah ini," balas Alvaro tersenyum.


Pasangan suami istri itu pun saling memeluk satu sama lain. Tubuh Rania tidak bisa terlalu menempel pada Alvaro karena terhalang perutnya yang buncit. Kedua orang itu mulai memejamkan mata, dan kemudian mulai larut ke dalam alam mimpi.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2