Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 74. Merajuk


__ADS_3

Setelah melewati drama omelette yang estetik tadi, akhirnya Rania pun memutuskan untuk pergi ke unit calon suaminya tanpa membawa apapun. Karena masakannya tadi tidak bisa di telan oleh lidah manusia.


Gadis itu berjalan dengan gontai sembari mengikuti langkah Alvaro yang berada di depannya. Alvaro berbalik badan, membuat Rania pun menabrak dada bidang pria itu.


"Ishhh ... kenapa kamu tiba-tiba berbalik?!" geram Rania seraya mengerucutkan bibirnya.


"Kenapa kamu murung?" tanya Alvaro seraya menaikkan alisnya sebelah.


"Entahlah!"


Fix! Kali ini gadis itu benar-benar merajuk. Telur yang gosong atas ulahnya, lantas mengapa ia menjadi badmood dan seakan menyalahkan Alvaro yang saat ini tengah bersamanya? Bukankah sedari tadi dia yang menggedor pintu dan meminta Alvaro untuk membantunya mematikan kompor.


"Kamu kesal?"


"Entahlah!"


"Kenapa kamu marah?"


"Entahlah!"


Alvaro cukup bingung dengan keadaannya kali ini. Kata 'entahlah' mungkin akan menjadi jawaban meskipun seribu pertanyaan yang Alvaro ajukan nantinya.


"Kalau masalah omelette tadi, tidak perlu dipikirkan. Aku bahkan menyalahkan kompornya yang memang tidak bisa diajak bekerja sama," celetuk Alvaro mencoba untuk menenangkan calon istrinya.


"Kalau begitu, besok aku akan mengganti kompornya karena tidak bisa dipakai memasak."


Alvaro ingin menenggelamkan dirinya saat itu juga. Lantas bagaimana jika suatu hari nanti istrinya yang tidak bisa memasak? Apakah Alvaro perlu menerapkan teori ini juga? Mengganti istrinya dengan istri yang baru lagi?


Cukup! Pembahasan tentang omelette yang estetik itu tidak perlu diungkit lagi. Alvaro langsung menarik tangan Rania, membawa gadis itu duduk di salah satu kursi yang ada di meja makan. Di sana, Alvaro telah menyajikan hidangan yang lezat. Tak dipungkiri, perut Rania sudah keroncongan dan minta diisi.


"Makanlah!" ujar Alvaro mempersilakan calon istrinya untuk menikmati hidangan tersebut.


"Kompor tadi, ...."


"Makanlah tanpa harus membahas masalah kompor. Tidak perlu diganti karena masih bisa digunakan untuk merebus air," ucap Alvaro yang langsung menyela pembicaraan Rania. Semoga saja gadis yang ada di depannya tak lagi membahas masalah itu.


Rania langsung mencicipi hidangan tersebut. Seperti biasa, masakan Alvaro memang selalu nikmat. Gadis itu pun menyantap makanan tersebut dengan lahap.

__ADS_1


"Kamu juga makanlah, Boy." Pandangan Alvaro beralih ke Bima yang sedari tadi melihat kedua orang dewasa yang ada di depannya secara bergantian.


Bima mengangguk, ia pun mulai menikmati sarapannya. Ketiga orang itu pun sarapan dengan tenang.


Setelah menyelesaikan sarapan, Alvaro dan Bima langsung menuju ke mobil. Alvaro tertegun melihat Rania yang memilih untuk menggunakan mobilnya sendiri.


"Kamu kenapa tidak ikut dengan kami?" tanya Alvaro dengan memperlihatkan ekspresi sedikit keheranan.


"Aku sudah lama tidak naik mobil ini. Aku merindukannya. Maka dari itu, untuk hari ini, aku akan pergi menggunakan mobilku. Lagi pula aku akan singgah ke suatu tempat sebelum ke klinik," timpal Rania seraya mengulas senyum manisnya.


"Bima mau ikut sama mama?" tanya Rania mengarahkan pandangannya pada Bima.


Bima mendongak, menatap ayahnya seakan meminta persetujuan dari pria itu. Alvaro menghela napasnya, lalu kemudian menganggukkan kepala. Bima pun dengan cepat berlari ke arah Rania.


"Jika kamu mau berangkat menggunakan mobilku, ayo!" ajak Rania.


Alvaro melirik jam tangannya. "Mungkin aku tidak bisa. Pagi ini aku ada meeting. Lain kali saja," ucap Alvaro seraya menekuk bibir bagian bawahnya ke dalam.


"Baiklah. Ayo Bima, kita berangkat!" ajak Rania yang mulai masuk ke dalam mobilnya. Dan Alvaro yang juga memasuki kendaraannya.


Rania dan Alvaro pun mengemudikan kendaraannya secara beriringan. Namun, ketika saat di persimpangan jalan, mereka pun harus terpisah karena menuju arah yang berbeda.


"Mama Bima maksudnya?" tanya Bima sembari menunjuk dirinya sendiri.


Rania pun menimpali ucapan anak laki-laki berambut ikal tersebut dengan sebuah anggukan pelan.


"Bima tidak tahu, Ma. Bima kan sudah tidak mempunyai mama sejak dulu, sejak Bima kecil. Lagi pula Bima cuma lihat mama melalui foto saja," ucap bocah tersebut menjelaskan.


Kini Rania baru tahu bahwa Bima memang sudah kehilangan ibunya sejak dulu. Rania pun dapat menangkap, sewaktu Bima menyanyikan lagu di saat pentas seni, di mana kala itu Alvaro sampai menitikkan air matanya, berarti itu lagu itu mengisahkan tentang dirinya sendiri. Sungguh! Bima benar-benar anak yang malang.


"Maaf ya, mama membuatmu kembali bersedih," ujar Rania.


"Tidak apa-apa, Ma. Bagi Bima, mengingat sosok mama bukanlah hal yang menyedihkan. Bima senang karena bisa merasakan seakan-akan mama sedang bersama Bima," jelas Bima yang membahas tentang Diara.


Rania melirik ke arah Bima sejenak, menarik kedua sudut bibirnya. Bima memang benar-benar anak yang luar biasa. Ia seolah didewasakan oleh keadaan.


"Anakmu sungguh luar biasa, Mbak Diara." batin Rania.

__ADS_1


Seusai menempuh perjalanan yang cukup lama. Keduanya pun tiba di sekolah. Seperti biasanya, Rania mengantarkan Bima sampai ke kelasnya. Lalu setelah itu, gadis tersebut kembali masuk ke dalam mobil.


Kali ini tujuan Rania bukanlah klinik. Gadis tersebut hendak mengunjungi temannya yang membuka jasa Wedding Organizer.


Sesampainya di sana, Rania di sambut oleh seorang pria yang gemulai. Penampilannya tampak sedikit nyentrik. Pria tersebut merupakan teman sekolahnya semasa putih abu-abu.


"Aduh, Rania ... semakin lama semakin cantik saja!" serunya yang tampak antusias saat melihat Rania yang datang mengunjunginya.


"Kamu juga," ujar Rania.


"Makin cantik, atau makin tampan?" tanyanya seraya meliukkan gerak tangannya.


"Mungkin dua-duanya," ucapnya yang memilih mengambil jalan tengah, karena memang temannya yang satu itu agak setengah-setengah.


"Ah, dirimu bisa saja!" ujar pria yang bernama Jemmy tersebut.


"Mau apa, Cin? Mau married ya?" tanya pria setengah-setengah itu.


"Iya dong. Tidak mungkin ke sini cuma mau minta makan." Keduanya pun terkekeh secara bersamaan.


"Untuk tanggal berapa, Cin?" tanyanya.


"Tanggal 1 bulan depan. Bisa kan?" tanya Rania.


"Tanggal 1 bulan depan berarti sekitar dua minggu lebih. Mau yang mana, Cin? Terus dekorasinya mau bernuansa apa? Cuss, sini! Lihat koleksinya," ajak pria tersebut yang langsung memperlihatkan koleksi gambar lengkap dari dekorasi yang dimilikinya.


"Untuk dekorasinya, aku pakai yang ini saja, karena terlihat lebih soft," tunjuk Rania yang lebih memilih bernuansa putih.


"Oke."


Setelah memilih dekorasi yang hendak ia kenakan nanti. Dari set pelaminan dan lain sebagainya, Rania pun langsung berpamitan.


"Nanti Eike calling calling lagi ya. Jangan lupa, undangan buat Eike. Mentang-mentang jadi jasa WO tapi tidak ada undangan resmi buat Eike," ujar pria tersebut menggerutu.


"Hahaha ... pasti ada. Nanti akan langsung aku kirimkan. Jangan lupa ya, diskonannya!" Rania berucap sembari terkekeh.


"Amsyong, Bu Dokter, lakinya tajir melintir, masih aja minta diskonan," ucapnya yang juga menanggapi gurauan dari Rania.

__ADS_1


Rania terkekeh geli, gadis itu pun perlahan melajukan kendaraannya sembari meneriakkan klakson mobilnya. Rania menjalankan kendaraan roda empat tersebut menuju ke klinik.


__ADS_2