
Rania mengekor pada Alvaro yang tengah menuju ke kamar. Saat pria tersebut berbalik, Rania pun dengan cepat menghentikan langkahnya.
"Kamu ... kenapa tadi tidak mengangkat teleponku?" tanya Alvaro seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
"Masuk dulu, Mas. Tanggung, di depan pintu. Bicaranya di dalam saja," ucap Rania mencoba membujuk sang suami.
Alvaro kembali melanjutkan langkahnya, pria tersebut membuka pintu kamar, lalu kemudian masuk ke dalam ruangan tersebut. Rania menekuk bibirnya ke dalam. Ia tahu jika suaminya pasti akan marah besar. Rania kembali menutup pintu tersebut, berusaha pelan-pelan agar tak menimbulkan kegaduhan.
Rania menatap punggung suaminya. Ia meletakkan belanjaan yang ada di tangan, dan juga melepaskan sling bag yang dipakainya. Berjalan perlahan menjauh dari Alvaro.
"Mau kemana kamu?" tanya Alvaro berbalik, keningnya berkerut bak pakaian yang belum disetrika.
Rania membalikkan badannya, ibu hamil tersebut memperlihatkan deretan gigi putihnya. "Mau mandi dulu, Mas. Badanku sudah terasa lengket," ucap Rania masih menyunggingkan senyumnya.
Alvaro hendak memarahi sang istri, akan tetapi mengingat bahwa hari sudah mulai malam, membuat Alvaro pun membiarkan istrinya membersihkan tubuh terlebih dahulu.
"Ya sudah, kalau begitu mandilah. Setelah ini aku ingin berbicara padamu," tegas Alvaro.
"Baik, Mas."
Tanpa berlama-lama, Rania pun segera masuk ke dalam kamar mandi. Setelah menutup pintu kamar mandinya, ibu hamil itu langsung menghela napasnya dengan lega.
Alvaro menunggu sang istri dengan menjatuhkan bokongnya di atas kasur. Namun, tak lama kemudian ia mendapatkan telepon dari rekan bisnisnya, membuat Alvaro pun keluar dari kamar, mengangkat telepon tersebut.
Setelah menghabiskan waktu selama 10 menit berada di dalam kamar mandi, Rania pun keluar dengan wajah yang lebih segar dari sebelumnya. Wanita tersebut mengedarkan pandangan, tak melihat keberadaan sang suami di dalam kamar tersebut.
Rania berjalan menuju ke lemari pakaian. Tampaknya malam ini mereka akan menginap di rumah utama. Melihat Alvaro yang tak mengajak dirinya untuk pulang.
Wanita tersebut bersenandung kecil, mengenakan piyama yang tertinggal di rumah utama tersebut. Seusai mengenakan pakaiannya, Rania berjalan ke arah jendela, melihat suaminya yang tengah berada di luar, berbincang dengan Fahri seusai menerima telepon tadi.
"Sepertinya Mas Varo akan lupa untuk memarahiku," ujar Rania sembari terkekeh geli.
__ADS_1
Rania memilih untuk membaringkan dirinya di atas kasur, sembari menunggu sang suami yang masih berada di luar.
"Ternyata hari ini cukup melelahkan juga," gumam Rania yang merasa badannya pegal-pegal.
Di waktu yang bersamaan, Alvaro tengah berbincang di luar bersama dengan Fahri. Kedua pria berbeda generasi tersebut ditemani oleh secangkir kopi untuk menghangatkan suasana malam itu.
"Tidak usah memarahi istrimu terlalu berlebihan," tegur Fahri yang tidak ingin jika Alvaro menyakiti hati menantunya.
"Jangankan mau memarahi, Pa. Saat masuk kamar saja dia mengendap-endap ke kamar mandi," balas Alvaro.
Fahri yang baru saja hendak menyesap kopinya menjadi terhenti. Pria tua itu menertawakan kelakuan Rania yang tak jauh beda dengan Arumi.
"Sepertinya menantuku hampir mirip dengan ibumu," ucap Fahri.
"Bisa dikatakan sama persis, Pa."
"Oh iya, Alvira sudah siap untuk kembali ke kantor. Apakah menurutmu tidak apa-apa?" tanya Fahri yang meminta pendapat putranya.
"Dia bicara pada papa?"
"Kalau menurut Varo, lebih baik Vira urus saja Abian. Umur Abian baru menginjak satu tahun, tentunya masih sangat butuh Vira. Kecuali kalau Vira hendak menikah, maka akan ku serahkan perusahaan cabang dan meminta agar suaminya mengelola dengan benar. Jangan seperti Andre kemarin," tutur Alvaro.
Kedua pria tersebut tampak terdiam sejenak. Suara jangkrik pun terdengar sedikit memekakan telinga.
"Papa sangat setuju jika dia bersama Arjuna," celetuk Fahri yang tiba-tiba berucap demikian.
"Sebagai suami Vira?" tanya Alvaro menatap ayahnya dengan seksama.
Fahri menganggukkan kepala, menimpali ucapan putranya. "Bagaimana pun juga, hanya Arjuna yang lebih mengenal Vira. Bagaimana denganmu? Apakah kamu juga sependapat dengan papa?" tanya Fahri.
"Varo juga sependapat dengan papa. Jauh sebelum Vira mengenal Andre, ia mengenal Arjuna terlebih dahulu, begitu pula denganku." Alvaro yang juga setuju dengan pendapat sang ayah.
__ADS_1
"Papa ingin kalian berdua bahagia dengan pilihan masing-masing. Kita tunggu saja, kapan saudara kembarmu itu akan meminta restu setelah ini." Fahri menyunggingkan senyumnya, begitu pula dengan Alvaro.
"Iya, Pa. Biarkan Alvira yang memintanya sendiri tanpa harus dimintai. Ketika ia sudah siap untuk melangkah maju dan melupakan masa lalunya, dia pasti akan membawa pria pilihannya, menghadap papa dan mama untuk meminta restu," timpal Alvaro.
Setelah cukup lama berbincang-bincang, keduanya pun memutuskan untuk masuk ke dalam. Alvaro membawa dua cangkir yang telah kosong menuju ke dapur.
"Biar bibi saja, Tuan." pelayan tersebut melihat Alvaro yang membawa cangkir kosong tersebut, langsung mengambil alih benda itu dari tangan Alvaro.
"Tidak apa-apa, Bi. Dua gelas kopi saja tidak akan membuat lenganku patah," ucap Alvaro tersenyum.
"Iya juga sih, tetapi ini kan tugas Bibi. Bibi terlalu bersantai nantinya jika sering dibantu," ujar pelayan tersebut membalas ucapan Alvaro sembari terkekeh.
"Cuma sesekali saja, Bi." Alvaro menimpali, lalu kemudian melangkahkan kakinya dari dapur. Pria tersebut menuju ke kamar, karena lupa hendak berbicara pada sang istri tadi.
Setibanya di kamar, Alvaro melihat Rania yang tengah tertidur dengan suara dengkuran halusnya. Alvaro mendekati sang istri dan duduk di sisi ranjang. Pria itu melihat istrinya yang tampak pulas, mengusap puncak kepala wanitanya itu.
"Kamu memang benar-benar pintar ya. Tadi alasan ingin mandi terlebih dahulu. Dan sekarang, kamu malah tertidur," gumam Alvaro yang tak henti menatap wajah cantik sang istri.
"Satu sendok lagi, kurang pedas." Rania mengubah posisi tidurnya menghadap Alvaro sembari berucap kalimat itu.
Alvaro sempat terkejut melihat Rania yang mengigau. "Apakah kamu tengah bermimpi makan mie ayam?" tanya Alvaro seraya terkekeh geli. Wajah Rania saat tertidur amat begitu lucu, hingga membuat Alvaro pun gemas dan menggigit pipi istrinya dengan pelan.
Wanita tersebut hanya sedikit bergeser sembari mengusap pipinya yang digigit oleh Alvaro. Ia tak terbangun meskipun suaminya melakukan hal tersebut.
"Sepertinya kamu benar-benar kelelahan. Tidurlah! Seharian ini pasti kamu diajak berkeliling oleh mama," ujar Alvaro sembari menyelimuti istrinya.
Namun, aktivitasnya sempat terhenti. Ia lupa mengucapkan selamat malam pada kedua bayi kembar yang masih bersemayam di dalam rahim sang istri.
"Nak, hari ini kalian jalan-jalan ya? Apakah menyenangkan? Nanti setelah kalian lahir, papa akan mengajak kalian bepergian bersama ya. Jangan membuat mama terlalu kelelahan ya, Nak. Selamat malam, kami selalu menantikan kehadiran kalian," ujar Alvaro mengecup perut sang istri dengan lembut.
Pria tersebut kembali melakukan aktivitas yang tertunda, menutupi tubuh Rania dengan selimut. Alvaro juga mengecup kening sang istri, lalu kemudian membaringkan tubuhnya di samping wanita tercinta.
__ADS_1
Pria itu mematikan lampu, menyisakan lampu tidur yang masih tetap menyala. Ia pun perlahan memejamkan matanya, ikut larut dalam mimpi indahnya.
Bersambung ....