
"Arjuna, ...." Andre terkejut, memperlihatkan ekspresi wajah herannya.
Sebelumnya pria itu berharap, jika yang akan berkunjung adalah mantan istrinya. Namun, saat melihat Arjuna yang datang, harapan yang telah menggunung itu langsung hancur seketika.
"Hai," ucap Arjuna sembari mengembangkan senyumnya. Seolah tak ada raut kebencian yang diperlihatkan pada sosok pria yang pernah merebut wanitanya.
Ya, benar! Sebutlah Andre adalah seorang perebut. Dulunya ia pernah mati-matian mengejar cinta Alvira. Namun, sayangnya pria itu memilih untuk memendamnya dan berjuang secara diam-diam, akan tetapi Andre tiba-tiba saja mengaku bahwa semua hal romantis yang dilakukan oleh Arjuna adalah perjuangannya, dan itu cukup membuat Arjuna benar-benar kecewa atas sikap temannya itu.
Andre menjatuhkan bokongnya di hadapan Arjuna. Pria itu tertunduk, mungkin malu atau merasa bersalah karena kejadian silam.
"Apakah hubunganmu dan Alvira baik-baik saja?" tanya Andre.
Entah mengapa, kalimat pertanyaan itu terlontar begitu saja di bibir pria tersebut. Kalimat yang seharusnya tidak dikatakan oleh pria yang telah menjadi mantan suami di hadapan kekasih mantan istrinya. Anggap saja hal ini sedikit rumit, tetapi berharap kalian dapat menafsirkan maksudnya ðŸ¤.
Arjuna memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Andre. Justru pria tersebut melemparkan pertanyaan yang lainnya.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Arjuna.
__ADS_1
Andre tersenyum, " Seperti yang kamu lihat. Aku baik-baik saja," timpal pria itu.
Andre tertunduk, dan kembali menatap Arjuna yang ada di hadapannya. "Aku berharap bahwa aku baik-baik saja. Namun, nyatanya aku tidak baik-baik saja."
Arjuna menghela napasnya, ia melipat kedua tangannya di depan. "Alasannya?" tanya Arjuna dengan mengangkat alisnya sebelah.
"Aku menyesal." Satu kata yang terlontar disertai dengan sebuah isak tangis.
"Aku menyesal karena telah menelantarkan Alvira. Aku juga ingin sekali melihat wajah anakku. Aku tahu Alvira akan marah jika aku meminta untuk menjengukku. Alasanku seperti hanya karena aku ingin melihat putraku," papar Andre penuh sesal. Nasi sudah menjadi bubur, rasa kebencian yang dirasakan oleh Alvira tampaknya sudah sangat besar, hingga ia tak ingin menjenguk Andre sama sekali.
"Bolehkah aku minta satu hal padamu?" tanya Arjuna sembari mengusap wajahnya. Pria itu terlihat gusar, tampak sedang menahan amarah yang saat ini ia rasakan.
"Apa?"
"Bisakah untuk berhenti meminta istrimu itu mendatangi Alvira?" tanya Arjuna dengan tatapan tajamnya. Kali ini pria tersebut dalam mode serius.
"Aku berhak bertemu anakku."
__ADS_1
"Aku tahu, Abian adalah darah dagingmu. Aku tahu hal itu. Namun, apakah kamu pernah memberikan perhatian yang lebih saat Alvira membutuhkan kamu? Apakah kamu memperhatikannya?" tanya Arjuna.
"Memang benar, ikatan ayah dan anak tidak bisa diputus. Namun, yang aku pertanyakan disini adalah sebuah rasa tanggung jawab seorang pria yang menyandang status sebagai suami." Arjuna berucap dengan penuh penekanan. Sementara lawan bicaranya, tak bisa berkata-kata.
"Jika kamu merasa bahwa dirimu bersikap adil, itu hal yang salah! Karena nyatanya satu payung tidak bisa berisi tiga orang. Tentu salah satu diantaranya pasti akan basah karena air hujan itu," tutur Arjuna.
Andre hanya bisa tertunduk. Mencerna semua ucapan Arjuna dengan rasa penyesalan yang mendalam.
"Untuk kali ini, tidak ada kesempatan kedua kalinya. Cukup kemarin saja aku mengalah mengejar Alvira, akan tetapi kali ini aku tidak akan mundur lagi."
Tak lama kemudian, Arjuna pun beranjak dari tempat duduknya. Dan pandangannya kembali ke arah Andre.
"Kamu tenang saja, aku akan berusaha memperkenalkan dirimu sebagai ayahnya. Namun, aku akan marah jika kamu memintanya dengan cara memaksa. Cukup sulit menyembuhkan luka Alvira, ku harap jangan membuat luka itu ternganga lagi!"
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Arjuna pun pergi meninggalkan Andre. Sementara Andre, kembali menangis, menyesali semua perbuatannya.
Bersambung ....
__ADS_1