Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 107. Mencoba Membuka Hati


__ADS_3

Bima sedang asyik bermain bersama dengan Abian. Anak laki-laki itu mengasuh adiknya dengan sangat baik. Saat Abian menangis, dengan segera Bima membuat wajah lucu yang mampu membuat Abian tertawa. Tak lupa juga Bima memberikan susu pada adiknya dengan sangat berhati-hati.


Sementara Alvira, wanita tersebut sibuk membereskan beberapa barang yang berserakan di kamarnya. Di sana ia tidak sendirian, ditemani oleh ibunya yang juga ikut serta membantu sang anak.


"Yakin, Abian tidak apa-apa ditinggalkan begitu saja dengan Bima?" tanya Arumi yang mengkhawatirkan cucunya. Bagaimana pun juga, Bima masih kecil. Wajar saja jika Arumi menjadi sedikit cemas saat Alvira mempercayakan anaknya begitu saja pada Bima.


"Tidak apa-apa, Ma. Lagi pula ada bibi yang menjaga mereka. Aku tidak mempercayakan sepenuhnya dengan Bima. Aku menyuruh bibi untuk mengawasi keduanya," ujar Alvira.


"Hufftt ... mama kira kamu membiarkan Abian bersama dengan Bima saja. Walaupun Bima senang mengasuh adiknya, tetapi Bima masih kecil. Jika terjadi apa-apa, pastinya kamu juga yang repot nanti," jelas Arumi.


"Tidak, Ma." Alvira mengulas senyumnya. Wanita itu kembali membersihkan tempat tidur dan merapikannya.


Arumi tertegun dengan beberapa kotak yang ada di atas meja. Wanita itu mendekat pada meja tersebut, menyentuh kotak tersebut satu persatu.


"Ini apa?" tanya Arumi mengangkat salah satu kotak yang ada di atas meja.


"Itu ... pemberian dari Arjuna," timpal Alvira dengan sedikit menjeda kalimatnya.


"Arjuna?" Kening Arumi berkerut sembari memperhatikan kotak tersebut satu persatu.


Sesaat kemudian, wanita itu menutup mulutnya dengan mata yang sedikit membelalak," Maksudmu Juna anaknya Om Samuel?" tanya Arumi lagi yang baru saja sadar dengan sosok yang dimaksudkan oleh putrinya itu.


Alvira menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan yang terlontar dari mulut ibunya.


"Arjuna ... kenapa dia memberikan barang-barang sebanyak ini padamu, seperti memberi hadiah pada gadis yang ia suka saja," celetuk Arumi yang masih belum menyadari bahwa putra dari Samuel menyukai putrinya.


Salah satu surat yang ada di atas box tersebut lupa dibuang oleh Alvira. Diam-diam, Arumi pun mengambil surat tersebut dan membaca setiap tinta yang tertoreh di atas kertas polos berwarna biru itu. Sesaat kemudian, Arumi membelalakkan matanya. Wanita tersebut menutup mulutnya tak percaya.


"Juna menyukaimu?" tanya Arumi seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia baca.


Alvira yang baru saja menyusun bantal di atas kasur pun langsung mengalihkan perhatiannya pada Arumi. Ia cukup terkejut karena ada salah satu surat yang tertinggal dan ditemukan oleh ibunya.


Namun, mau bagaimana lagi. Nasi sudah menjadi bubur. Arumi sudah membaca isi surat tersebut, terlihat dari raut wajah yang diperlihatkan oleh wanita tersebut.


Alvira hanya bisa menimpali ucapan ibunya dengan sebuah anggukan pelan. Membenarkan apa yang ada di pikiran Arumi.


"Sejak kapan?" tanya Arumi lagi.


"Sudah cukup lama, Ma. Sedari kuliah dulu. Karena aku wanita yang bodoh, aku lebih memilih Andre ketimbang dirinya," ucap Alvira.


"Jadi, bagaimana? Apakah kamu akan menolak dia untuk yang kedua kalinya?" tanya Arumi menatap serius putrinya.


Alvira terdiam, ia tidak tahu harus menjawabnya apa. Jika kali ini ia menolak lagi cinta Arjuna, maka terjadi penolakan kedua untuk pria tersebut. Namun, Alvira juga tidak mungkin menerima Arjuna. Melihat statusnya yang saat ini sebagai janda beranak satu, sementara Arjuna masih perjaka.


"Bagaimana? Kamu masih ingin menolaknya?" tanya Arumi lagi.

__ADS_1


"Aku tidak tahu, Ma." Alvira menghembuskan napasnya dengan kasar.


"Kalau begitu, berikan kesempatan kedua padanya," celetuk Arumi sembari mengulum senyumnya.


Alvira terperangah menatap ke arah sang ibunda.


"Ada apa? Bukankah itu lebih baik. Tidak mungkin kan kamu menolaknya untuk yang kedua kalinya? Jika dilihat-lihat, Arjuna juga sangat tampan," ucap Arumi.


"Mustahil aku menerimanya, Ma. Arjuna masih perjaka dan aku hanyalah seorang janda. Masih banyak wanita cantik yang lajang diluaran sana yang mengejar Arjuna," ujar Alvira.


"Tapi Arjuna maunya kamu," celetuk Arumi.


Arumi tersenyum, ia menyadari gurat keraguan yang terpatri di wajah putrinya. Wanita yang memasuki usia lanjut itu pun mengusap puncak kepala putrinya dengan lembut.


"Status janda bukanlah sesuatu yang dapat dipermalukan. Janda berarti gagal dalam berumah tangga. Tidak menutup kemungkinan jika seorang janda akan berjodoh dengan pria perjaka. Nak, mama menikah dengan ayahmu dulu status ayahmu adalah seorang duda dan mama adalah seorang gadis," jelas Arumi sembari terkekeh.


"Dan lihatlah sekarang, pernikahan kami awet sampai kami menua dan bahkan dikarunia dua anak yang tampan dan cantik," tambah Arumi lagi.


"Jadi, tidak ada salahnya menerima Arjuna terlebih dahulu. Jalani saja bersamanya, bukankah Arjuna lebih mengetahui semuanya dibandingkan dengan pria lain di luaran sana?" ujar Arumi.


Setelah mencerna semua ucapan ibunya, Alvira mengangguk paham. Yang dikatakan oleh Arumi memang benar adanya. Tidak ada salahnya membuka hati untuk Arjuna. Bukankah pria itu lebih memahami segalanya tentang Alvira dibandingkan pria lain?


"Baiklah, Ma. Aku akan mencobanya," ucap Alvira setelah menimbang keputusan yang hendak ia ambil. Ia pun memilih menyetujui saran ibunya untuk menjalani hubungan bersama dengan Arjuna.


Alvira menggelengkan kepalanya.


"Nah, itu baru anak mama. Tidak ada salahnya untuk melangkah ke depan dan mencoba menata ulang hidupmu. Mama tentunya akan selalu mendukungmu," ujar Arumi sembari mengusap kepala putrinya.


Mereka saling melemparkan senyum, kini Alvira memutuskan untuk membuka pintu hatinya, pada pria yang bernama Arjuna.


Tak lama kemudian, terdengar teriakan Bima dari luar. "Tante ... Nenek ...." Anak kecil itu berseru memanggil Alvira dan juga Arumi.


"Ada apa, Sayang?" tanya keduanya bersamaan.


"Tadi Abang coba memperlihatkan wajah lucu Abang. Terus Abian langsung tertawa terbahak-bahak. Abang lucu melihat adik tertawa seperti itu. Adik Abian benar-benar pintar," ujar Bima yang sangat antusias menceritakan apa yang baru saja ia lihat.


"Terus Abiannya mana?" tanya Arumi.


"Itu, Nek. Di gendong sama Bibi. Abang belum kuat gendong Abian," timpalnya sembari memperagakan dengan menggunakan gestur tubuh.


Baik Alvira atau pun Arumi mendengarkan Bima berceloteh langsung terkekeh geli. Ekspresi anak laki-laki itu terlihat sangat menggemaskan ketika ia bercerita.


"Ya sudah, kalau begitu suruh Bibi untuk bawa Abian ke sini," ujar Alvira.


"Baik, Tante. Tante sudah beres-beres kamarnya?" tanya Bima sebelum melangkahkan kakinya keluar dari kamar tersebut.

__ADS_1


"Sudah, Sayang." Alvira mengulas senyum.


"Ya sudah, kalau begitu Bima akan minta Bibi untuk membawa Abian ke sini," ujar Bima sembari berlari kecil.


"Jangan lari-larian, Bima. Nanti jatuh!" tegur Arumi.


"Baik, Nenek." Bima pun langsung mematuhi apa kata neneknya.


Sesaat kemudian, Bima kembali ke kamar. Kali ini yang menggendong Abian bukanlah seorang pelayan melainkan Rania yang baru saja datang untuk menjemput anak sambungnya. Melihat Arumi yang ada di sana, Rania langsung menyalami ibu mertuanya.


"Eh, Mba Rania." Alvira langsung menyambut punggung tangan Rania, menyalaminya.


"Mba datang sendirian?" tanya Alvira.


"Tidak. Datang sama Mas Varo. Mas Varo lagi di bawah ngobrol sama papa," timpal Rania seraya meletakkan Abian di atas kasur. Ia menciumi pipi gembul Abian dengan gemas.


"Baru pulang dari kantor?" tanya Arumi.


"Iya, Ma." Rania menimpali mertuanya.


"Varo pasti sangat sibuk harus menghandle dua perusahaan sekaligus. Aku ingin sekali terjun langsung untuk membantu, akan tetapi Abian masih sangat kecil untuk aku tinggalkan," ucap Alvira.


"Kamu fokus saja dulu mengurus anakmu. Lagi pula Alvaro tidak sendirian. Papa juga selalu membantunya. Jadi, tidak usah terlalu memikirkan masalah perusahaan," tukas Arumi.


"Iya, yang dikatakan oleh mama benar. Sebaiknya kamu fokus saja dulu mengurus anakmu," sambung Rania yang membenarkan ucapan mertuanya.


Alvira menganggukkan kepalanya, mengikuti saran dari kedua wanita yang ada di hadapannya.


"Mama ... mama ...." Bima mengguncang lengan ibunya, membuat Rania pun mengalihkan pandangannya pada sang anak.


"Ada apa, Sayang?" tanyanya dengan lembut.


Bima kembali berceloteh, ia menceritakan tentang Abian yang tadi tertawa terbahak-bahak pada ibunya. Ketiga wanita yang ada di sana memperhatikan Bima. Bukan karena cerita dari mulut anak laki-laki itu, melainkan caranya berkespresi, membuat siapa saja gemas melihatnya. Sesekali mereka tertawa melihat ekspresi lucu Bima. Dan kemudian mengangguk membenarkan ucapan Bima.


Setelah cukup lama berada di rumah utama, Alvaro dan Rania pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Sementara Bima, jagoan kecil mereka tengah tertidur pulas di gendongan Alvaro. Lelah karena seharian bermain dengan adiknya.


Rania dan Alvaro berpamitan pulang pada kedua orang tuanya. Ketiganya pun masuk ke dalam mobil. Rania memilih duduk di belakang, memangku Bima yang saat ini tengah tertidur.


"Anak kita sepertinya sangat kelelahan menjaga Abian," ucap Rania sembari mengusap puncak kepala Bima.


"Bima memang senang dengan anak kecil," jawab Alvaro dari balik setirnya.


"Sabar ya, Nak. Do'a kan saja, supaya mama bisa segera memberikanmu seorang adik," batin Rania sembari tersenyum menatap wajah damai putra sambungnya yang tengah tertidur pulas.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2