Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 158. Karena Kamu


__ADS_3

Shinta bersiap hendak keluar. Gadis itu akan pergi ke minimarket yang tak jauh dari apartemen tersebut. Berjalan kaki sembari menikmati udara di malam hari.


Shinta baru saja keluar dari unitnya. Gadis itu kini tengah menunggu pintu lift tersebut terbuka.


Tinggg ...


Pintu baja itu terbuka. Indera penglihatannya menangkap sosok Juni yang berada di dalam lift tersebut. Shinta langsung membelalakkan matanya. Memalingkan wajahnya, ia masih malu karena perkara maskara yang dikatakan oleh Juni kemarin.


Terlalu mengharapkan Juni akan menembaknya, dan ternyata tak disangka-sangka, Juni justru membuat Shinta malu bukan kepalang. Bahkan Shinta rasanya tak ingin memperlihatkan wajahnya beberapa hari ke depan dengan tetangganya itu.


Juni melihat gelagat aneh Shinta. Ia mengernyitkan kening, memperhatikan sikap Shinta yang sedikit aneh.


Shinta sangat berharap jika pria tersebut pergi secepatnya. Namun, harapan Shinta lagi-lagi tak tepat. Juni justru berangsur mendekat ke arahnya.


"Ada apa?" tanya Juni tepat di depan telinga Shinta, membuat gadis tersebut terlonjak kaget.


"Ti-tidak apa-apa," timpal Shinta terbata-bata.


Wusshhh ...


Gadis tersebut bagaikan angin, berlalu dengan cepat dari hadapan Juni. Ia tidak ingin, pria tersebut kembali mengomentari penampilannya yang akhirnya membuat Shinta malu.


Shinta tampak terburu-buru menekan tombol untuk menutup pintu lift. Dan hingga akhirnya, pintu baja itu pun tertutup, membuat gadis tersebut menghela napasnya dengan lega.


"Huffttt ... kenapa dia selalu saja membuatku terkejut," gumam Shinta seraya mengusap dadanya, merasa lega karena dapat lolos dari Juni.


Sementara Juni, pria tersebut tertegun menatap pintu lift yang sudah tertutup rapat. Benaknya bertanya-tanya, apa yang membuat Shinta tiba-tiba bersikap seperti ini, bukankah kemarin mereka sudah mulai kembali akrab.


"Seharusnya kemarin sudah berbaikan, tetapi kenapa dia kembali menghindari ku lagi? Apakah aku melakukan kesalahan?" gumam Juni bermonolog.


Saat pria tersebut hendak pergi dari tempat itu, tanpa sengaja kakinya menendang sesuatu. Juni menunduk, melihat dompet mungil berwarna merah muda.


"Apakah ini milik Shinta?" gumamnya sembari menatap ke arah pintu lift.


....


Shinta berjalan menuju ke minimarket terdekat. Gadis itu memasangkan kupluk hoodienya, lalu kemudian mengerutkan kedua tali hoodie tersebut.


"Dingin sekali," gumamnya sembari menggosokkan kedua tangannya, lalu kemudian memasukkan kedua tangan itu ke dalam saku.


"Dia bertanya, ada apa? Pria itu benar-benar tidak peka. Hanya bisa mengomentari penampilan ku saja! Apakah dia tidak tahu? Setelah ia berucap seperti itu kemarin, aku hanya bermuka tebal untuk menutupi rasa malu ku." Shinta terus saja menggerutu, membicarakan Juni yang membuatnya malu.


Shinta terus saja mengingat kejadian itu setiap kali ia berpapasan dengan Juni. Walaupun pria yang mengomentari penampilannya kemarin bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa.


Setelah menghabiskan waktu, berjalan selama 10 menit, gadis itu pun tiba di minimarket. Ia langsung membeli beberapa makanan ringan serta minuman kaleng.

__ADS_1


Matanya menatap ke rak yang tersusun pembalut wanita. Ia pun mengambil salah satu yang ada di rak tersebut dan langsung membawanya menuju ke meja kasir.


Kasir tersebut men-scan belanjaan Shinta satu persatu. Setelah selesai, ia pun menyebutkan nominal harga dari barang yang belanjakan oleh gadis itu.


"Totalnya seratus dua puluh dua ribu rupiah," ucap kasir itu.


Shinta pun mulai memasukkan tangannya ke dalam saku. Sesaat kemudian, gadis tersebut membelalakkan mata. "Loh, kemana dompetku tadi?" batin Shinta.


"Tunggu sebentar ya, Mbak." Shinta berucap pada kasir tersebut, masih mencari keberadaan dompetnya di dalam saku. Tangannya meraba saku Hoodie dan juga celana jogger yang ia kenakan.


"Perasaan ku tadi, aku sudah membawa dompet dan memasukkannya ke dalam saku. Apakah dompetku jatuh?" batin Shinta dengan wajah paniknya.


"Pakai ini saja, Mbak."


Shinta tertegun, mendengar suara bariton yang ada di sampingnya. Suara itu, Shinta amat mengenal pemiliknya. Dengan rasa malu yang tertahankan, ia mencoba menoleh ke arah si pemilik suara seksi tersebut.


"Hehehe ...." Shinta tertawa cengengesan melihat ke arah Juni.


"Akan ku ganti nanti setelah di rumah," lanjut Shinta yang kali ini tak menolak pertolongan dari Juni.


Setelah melakukan transaksi pembayaran, Shinta pun membawa kantong belanjaannya. Berjalan mengekor Juni untuk keluar dari minimarket tersebut.


"Nanti akan ku bayar setelah sampai." Shinta kembali berucap, membuat Juni langsung menghentikan langkahnya, berbalik menghadap gadis yang ada di sebelahnya.


"Maksudmu?" Shinta kembali bertanya. Berhubung ia memiliki daya tangkap yang agak lambat, tentunya mengharuskan kepada orang yang bertanya untuk lebih memperjelas pertanyaannya.


"Maksudku ... Aku perhatikan kamu selalu menghindariku. Apakah kamu merasa tidak nyaman? Atau aku telah membuat kesalahan yang fatal?" tanya Juni lagi.


Shinta terdiam sejenak. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa dia marah karena keinginannya belum terwujud. Ia tidak mungkin juga mengatakan bahwa dirinya marah karena Juni mengoreksi penampilannya kemarin.


"Sepertinya aku tidak harus bersikap egois. Lagi pula pria ini memang tidak peka, bukan berarti dia jahat. Apalagi aku yang sudah banyak berhutang budi padanya, ditambah lagi dengan hutang uang karena belanjaan ini," batinnya menatap plastik belanjaan yang ada di tangannya.


"Aku tidak marah, aku juga tidak merasa terganggu," ujar Shinta seraya mengembangkan senyumnya.


"Tetapi kenapa kamu tiba-tiba menghindar dariku?" tanya Juni lagi.


"Oh yang itu ... tidak usah dibahas lagi. Aku sedang badmood saja tadi," ujar Shinta.


"Badmood karena apa?" tanya Juni lagi.


Shinta tercengang, entah mengapa menurutnya Juni agak sedikit cerewet dan menyebalkan. Ingin sekali ia berteriak dan meminta pria tersebut berhenti bertanya. Namun, kembali mengingat bahwa dirinya baru saja memakai uang Juni untuk membayar belanjaan ini, Shinta tentu saja mengurungkan niatnya.


"Sepertinya kamu tidak perlu mengetahui detailnya," ujar Shinta. Juni langsung meninpalinya dengan sebuah anggukan pelan.


Juni berjalan sedikit melambat, mensejajarkan langkahnya dengan Shinta. Pria tersebut memasukkan tangannya ke dalam saku, lalu kemudian memberikan dompet berwarna merah muda milik Shinta yang sempat terjatuh tadi.

__ADS_1


"Ini milikmu kan?" tanya Juni memberikan dompet tersebut.


"Iya, benar. Di mana kamu menemukannya? Aku kira dompetku tadi tertinggal di rumah," ucap Shinta mengambil dompet tersebut dari tangan Juni.


"Di depan lift," balas Juni singkat.


Shinta memberhentikan langkahnya, ia mengambil uang yang ada di dalam dompet tersebut dan menyerahkan uang itu pada Juni.


"Ini ... aku mengembalikan uangmu tadi," ujar Shinta menyodorkan uang tersebut kepada Juni.


Juni mengernyitkan keningnya, menatap uang yang ada di tangan Shinta. "Ambil saja, anggap aku sedang mentraktir mu," ucap Juni menolak uang pemberian Shinta.


"Tapi ...."


"Apa kamu sedang menghargai pertemanan kita dengan sejumlah uang?" tanya Juni.


"Apa?"


"Kamu sedang menghargai pertemanan kita dengan nominal angka." Juni kembali menjelaskan hal tersebut, agar Shinta mengerti.


Tanpa di sadari, raut wajah Shinta tiba-tiba berubah menjadi kecewa. Bukan tersinggung karena Juni yang menolak uangnya begitu saja. Namun, ia kecewa dengan apa yang baru saja diucapkan oleh pria tersebut. Seolah menekankan kepada Shinta bahwa mereka hanyalah sebatas teman, tidak lebih.


"Haha ... iya, kita teman." Shinta tertawa renyah, mencoba menetralkan kekecewaan yang menghinggapi dirinya.


Ia menyimpan kembali uang tersebut ke dalam dompet. Lalu kemudian memasukkan dompet itu ke sakunya.


"Kalau begitu, aku mengucapkan terima kasih atas traktiranmu dan juga karena kamu telah menemukan dompetku," ucap Shinta.


"Iya, sama-sama." Juni menimpali ucapan Shinta sembari mengembangkan senyum. Ia senang, karena Shinta tak lagi menghindarinya seperti tadi.


Keduanya berjalan beriringan. Hanya terdengar suara langkah kaki saja, tanpa berucap apapun. Setibanya di apartemen, mereka pun langsung masuk ke dalam gedung tersebut, masuk ke dalam lift dan sesekali melempar senyum.


"Kenapa aku merasa akhir-akhir ini kamu lebih pendiam dari sebelumnya?" tanya Juni yang mulai membuka suara.


"Benarkah? Mungkin itu perasaanmu saja," ucap Shinta.


"Kamu lah yang membuat senyumku memudar. Apakah kamu tidak menyadarinya?" batin Shinta.


Tinggg ...


Pintu lift pun terbuka. Shinta dan Juni keluar dari ruangan sempit itu. Keduanya melihat seseorang yang tengah bersandar di depan unit Shinta, sembari membawa bunga yang ada di tangannya.


"Daren," gumam Shinta.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2