
Malam itu, Alvaro pergi ke kamar Bima. Pria tersebut membuka sedikit pintu kamar putranya itu. Ia melihat Bima yang sudah tertidur pulas dengan posisi yang tidak nyaman.
Alvaro mendekati ranjang Bima, ia membetulkan posisi tidur anaknya itu. Lalu kemudian menyelimuti tubuh putranya, dan mengecup kening Bima.
"Have a nice dream, Boy." Alvaro berbisik. Lalu kemudian ia pun memilih untuk mematikan lampu kamar Bima, menyisakan lampu tidur saja. Alvaro melangkah pergi dari kamar tersebut. Kembali menutup pintu kamar itu dengan rapat.
Alvaro menyeduh secangkir kopi untuk menemani rasa suntuknya malam ini. Pria tersebut memilih untuk duduk di balkon, melihat pemandangan di luar dari atas.
Terlihat suasana di luar sana masih terlihat ramai. Gemerlap lampu menghiasi pemandangan malam itu. Terlintas dalam pikiran Alvaro tentang ucapan ayahnya semalam, ditambah lagi dengan komentar ibunya tentang dirinya yang harus mengejar tetangga sebelah demi buah hatinya.
Setelah mendengar beberapa masukan, Alvaro pun memutuskan untuk mengejar tetangganya.
"Tapi ... apakah dia akan cepat tertarik padaku?" gumam Alvaro yang mulai meragu.
Pria tersebut merogoh ponsel yang ada di dalam saku celananya. Ia mencoba untuk mencari di internet, cara pendekatan pada orang yang sudah terlanjur membenci.
Alvaro mengetikkan kata kunci tersebut. Entah mengapa, ia bahkan bingung melakukan hal yang sangat sepele ini.
Alvaro membaca seksama, petunjuk yang ada di internet tersebut. Seketika, keningnya pun langsung mengernyit.
"Ada apa denganku? Kenapa berlebihan sekali. Untuk apa aku mencari hal seperti ini di internet," gumam Alvaro.
"Aku bahkan dulu pernah mengencani banyak gadis. Kenapa aku harus bingung menghadapi satu gadis saja?" lanjutnya.
Pria itu kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku. Ia pun meraih kopinya, menyeruputnya begitu saja, seolah tak sadar bahwa kopi tersebut masih dalam keadaan panas.
"Awww panas ...," ringis Alvaro sembari menyentuh bibirnya.
...****************...
Keesokan harinya, Alvaro dan Bima baru saja menyelesaikan sarapannya. Kedua pria tersebut berjalan menuju ke arah pintu. Saat Alvaro membuka pintu, di waktu yang bersamaan Rania baru saja keluar dari rumahnya.
Melihat hal tersebut, Bima langsung mengembangkan senyumnya. Pria itu melepaskan gandengan tangan dari ayahnya, dan berlari mendekati Rania. Alvaro tercengang, saat anaknya melepaskan genggaman tangannya.
"Hah? Yang benar saja, Nak. Kamu jangan terlalu memperlihatkan bahwa kamu amat menyukainya, jujur saja papa yang merasa malu akan hal itu," gumam Alvaro pelan.
__ADS_1
"Bu Dokter, gigi Bima sudah tidak sakit lagi," ujar Bima dengan mata yang berbinar.
"Benarkah? Syukurlah kalau begitu." Sembari tersenyum Rania menanggapi ucapan pria kecil yang ada di hadapannya.
Bima menggandeng tangan Rania, membuat wanita tersebut sedikit terkejut dan menatap ke arah Alvaro sejenak.
"Bu Dokter mau berangkat bekerja ya?" tanya Bima.
"I-iya," timpal Rania yang sedikit terbata-bata. Bagaimana tidak? Pria kecil itu dengan santainya mengajak Rania untuk masuk ke dalam lift. Sementara Alvaro, pria itu hanya tercengang menatap tingkah anaknya.
"Kenapa aku merasa anakku terlihat lebih keren dibandingkan diriku," gumam Alvaro yang mengekor kedua orang yang ada di depannya itu.
Ketiga orang tersebut berada di dalam satu lift. Kali ini, Bima juga menggandeng tangan ayahnya, dengan posisi pria tersebut berada di tengah-tengah kedua orang dewasa itu. Seolah-olah ketiga orang tersebut merupakan anggota keluarga yang bahagia.
"Bu Dokter, bagaimana kalau pergi ke tempat kerjanya diantar oleh papa," celetuk Bima.
Rania dan Alvaro langsung membelalakkan mata. Keduanya menggelengkan kepala secara bersamaan.
"Bu dokter akan berangkat bekerja dengan memakai mobilnya sendiri," ujar Alvaro dengan cepat.
"Tapi kata papa ban mobil Bu Dokter kempes," celetuk pria kecil tersebut.
Alvaro memejamkan matanya. Ingin sekali dirinya mengantukkan kepalanya di dinding besi ini. Kebodohan yang ia lakukan adalah, menceritakan sesuatu hal yang bersifat rahasia pada anaknya yang amat sangat polos itu.
"Kempes? Kenapa bisa kempes?" Kening Rania langsung berkerut. Wanita itu menatap curiga pada Alvaro.
Tinggg ....
Lift terbuka, Rania memilih keluar lebih dulu dari dalam ruangan sempit itu. Gadis tersebut berjalan menuju ke parkiran. Dan benar saja, ia melihat bahwa ban mobilnya benar-benar kempes.
Rania mulai kesal, ia pun berbalik sembari menatap Alvaro dengan nyalang. "Kamu kan pelakunya?!" tanya Rania meninggikan suaranya.
Alvaro berusaha menulikan telinganya meskipun teriakan dari Rania cukup membuat indera pendengarannya sakit.
"Kamu diam, berarti kamu lah pelakunya!" tekan Rania.
__ADS_1
Alvaro memilih diam, karena memang dirinyalah pelaku atas kempisnya ban mobil milik tetangganya itu.
Setelah menikmati kopinya semalam, Alvaro pun kembali terpikirkan bagaimana cara mulai mendekati Rania. Setidaknya membuat gadis itu lebih akrab dengannya, tidak harus bertengkar terus-menerus setiap kali bertemu.
Alvaro mendapatkan sebuah ide. Pria tersebut langsung keluar dari kamarnya, berjalan menuju ke parkiran.
Ia melangkahkan kakinya menuju mobil milik Rania yang letaknya berada di sebelah mobilnya. Alvaro pun melancarkan aksi jahilnya. Dan pria itu berpikir, setelah ini Rania akan menganggapnya pria yang baik karena selalu ada di saat Rania membutuhkan sebuah tumpangan.
Seusai melancarkan aksinya, Alvaro pun kembali ke rumah. Saat membuka pintu, Alvaro dikejutkan dengan keberadaan Bima yang ada di ruang tengah.
Alvaro menanyai sang anak, kenapa bangun lebih awal. Dan Bima pun menjawab dengan merajuk, kalau dirinya marah karena tak menemukan ayahnya di dalam rumah.
Alvaro menceritakan semuanya, dari awal rencana hingga akhir. Bima yang mendengar hal tersebut langsung senang, karena ayahnya yang mulai ingin menuruti kehendaknya.
Namun, rencana yang disusun sedemikian rupa dirobohkan begitu saja oleh putra semata wayangnya itu. Yang diharapkan jika Rania lebih mendekatkan diri, ternyata saat ini gadis itu semakin menjauh.
Alvaro hanya terdiam mendengar ocehan Rania yang marah karena pria tersebut mengempiskan ban mobilnya.
"Sekarang kamu puas? Kamu senang?!" ketus Rania.
"Bu dokter, maafkan papa. Papa ingin mengajak Bu Dokter untuk berangkat bekerja bersama," ujar Bima.
Rania hanya diam dengan memperlihatkan wajah kesalnya. Ia pun memilih untuk pergi dari tempat tersebut dan memilih untuk naik taksi.
Alvaro mengusap wajahnya dengan kasar. Pria tersebut tersenyum, lalu kemudian berjongkok di hadapan jagoan kecilnya.
"Kenapa Bima ceritakan masalah tadi? Bu dokter sepertinya tambah membenci Papa,"ujar Alvaro mencoba untuk berkata lembut.
"Kata Papa, kita harus jujur dan tidak boleh berbohong," ucap Bima dengan polos.
Alvaro menghela napasnya dengan berat. "Tidak apa-apa berbohong jika itu dalam hal yang lain," ujar Alvaro.
Bima mengangguk paham. Kedua pria tersebut langsung masuk ke dalam mobil. Lalu kemudian Alvaro pun melajukan mobilnya menuju ke jalanan.
Bersambung ....
__ADS_1