
Ceklekk ...
Alvaro baru saja masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat sang istri yang sudah berbaring terlebih dahulu di atas kasur.
Alvaro menghela napasnya, sembari mengusap wajah dengan kasar. Sementara Rania, menertawakan sang suami dari balik selimutnya. Ia sengaja masuk ke dalam kamar dengan beralasan mengantuk, karena ia membiarkan sang suami menjelaskan semuanya pada Bima. Alvaro harus bertanggung jawab karena tak bisa menjaga lisannya di depan Bima.
"Aku tahu saat ini dirimu sedang menertawai ku, Istriku." Alvaro menjatuhkan bokongnya di sisi ranjang.
"Bagaimana, Mas? Masih belum jera juga berbicara hal-hal yang aneh di depan anak kita?" tanya Rania membuka selimutnya. Ibu hamil tersebut mengubah posisinya dari berbaring menjadi duduk.
"Aku sangat jera," ucap Alvaro mengusap wajahnya dengan kasar.
Rania kembali terkekeh geli, menertawai suaminya yang memperlihatkan wajah kusutnya.
"Memangnya Mas jawab apa?" tanya Rania yang merasa penasaran.
"Saat dia bertanya hendak bermain apa, aku hanya menjawab bermain kucing-kucingan. Namun, pertanyaan yang ia lontarkan tidak sampai disitu saja. Pertanyaan yang ia ajukan semakin dalam dan cukup membuat aku sakit kepala untuk menjawabnya," jelas Alvaro. Pria tersebut merebahkan tubuhnya tepat di samping sang istri.
"Makanya Mas, lain kali jangan asal berbicara saja di depan anak kecil. Mereka masih polos dan lebih banyak bertanya. Apalagi anak seusia Bima, pasti rasa keingintahuan mereka itu sangat tinggi. Jadi, kita sebagai orang tua, harus lebih sabar dalam menanggapi setiap pertanyaan yang di ajukan. Dan Mas Varo juga harus lebih hati-hati menjaga lisan. Apalagi berbicara mesum di depan anak-anak itu tidak dibenarkan meskipun Mas memakai bahasa perumpamaan sekalipun," papar Rania memberikan nasihat pada suaminya panjang lebar.
"Baiklah, Mas tidak akan mengulangi hal itu. Tetapi ... apakah malam ini Mas akan diservis?" tanya Alvaro seraya menaik turunkan alisnya, memberikan kode pada sang istri sembari tersenyum penuh arti.
"Jangan terlalu sering, Mas. Lagi pula kemarin kan sudah dapat servis. Lebih baik Mas tidur saja, dan hilangkan semua pikiran yang mengarah ke sana. Aku juga sudah mengantuk, Mas." Rania kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ibu hamil tersebut memiringkan tubuhnya ke arah sang suami.
"Perutku semakin membesar, berbaring pun terkadang aku merasa tidak nyaman. Menghadap ke kiri salah, menghadap ke kanan juga salah," ucap Rania.
__ADS_1
Mendengar keluhan sang istri, membuat Alvaro tidak tega jika harus memaksakan kehendaknya. Tangan pria itu mengusap puncak kepala Rania, lalu kemudian turun membelai wajah sang istri.
"Maafkan Mas ya," ujar Alvaro.
"Iya, Mas. Tidak apa-apa, aku juga mengerti," timpal Rania sembari mengusap perutnya yang sudah membuncit.
"Tidak terasa ya, Mas. Dari sekecil ini sekarang sudah sebesar ini," lanjut Rania membahas tentang perutnya.
"Nanti, jika kamu melahirkan, Mas berjanji akan berada di sampingmu," ucap Alvaro menatap sang istri.
"Bagaimana jika Mas sedang sibuk, ada urusan penting di kantor yang tidak mungkin bisa ditinggalkan?" tanya Rania. Ia berucap demikian karena mustahil jika Alvaro menungguinya melahirkan sementara pria itu juga harus menjalankan usahanya. Apalagi Alvaro adalah seorang pemimpin yang menentukan bagaimana jalannya perusahaan untuk kedepannya.
"Aku bosnya, jadi aku berhak memutuskan hal itu. Apalagi jika urusannya adalah kamu, pastinya apapun itu akan ku tinggalkan. Bagiku, kalian adalah tersegalanya. Aku bisa menomor duakan pekerjaanku, tetapi tidak dengan keluargaku," tegas Alvaro. Ia tak ingin mengabaikan keluarganya hanya karena sibuk mengejar karir. Baginya, yang paling utama adalah keluarga.
"Terima kasih ya, Mas." Rania memperlihatkan senyum manisnya untuk pria yang rela mengorbankan segalanya untuk Rania.
Alvaro menanggapi ucapan Rania dengan sebuah anggukan pelan. "Kamu telah mengorbankan hidupmu, pekerjaanmu hanya untuk aku. Rela mengandung buah hati kita, fokus mengurusku dan mengurus Bima. Tidak mungkin aku tidak bisa mengorbankan waktuku dan urusan karirku hanya untuk kamu," ucap Alvaro dengan serius.
"Bukankah itu sudah menjadi kewajiban ku, Mas. Mengurus anak-anak kita dan juga kamu. Aku tidak ingin suatu saat nanti kamu terlantar begitu saja. Mengurus diri masing-masing. Sementara aku harus kembali mengejar karirku. Mungkin ada beberapa wanita yang hebat, mampu melakukannya. Namun, sulit untukku. Karena aku tidak bisa mengerjakan dua pekerjaan sekaligus. Maka dari itu, kamu tidan perlu menyesalinya," ujar Rania yang membicarakan masalah dirinya yang berhenti bekerja hanya karena fokus menjadi ibu rumah tangga.
"Aku pun juga begitu. Untuk mencari nafkah, itu tugasku bukan tugasmu. Maka dari itu, kamu tidak usah memikirkan bagaimana nantinya perusahaan jika aku terlalu mengutamakan kalian. Aku yang mengatur semuanya dan kamu ... cukup mencintaiku saja," ucap Alvaro sembari mengembangkan senyumnya.
"Iya Mas, iya. Semoga saja nanti, aku melahirkan di saat semua orang tidak terlalu sibuk. Hingga kalian tidak perlu mengorbankan waktu hanya untuk menungguiku di rumah sakit," ujar Rania.
"Nanti aku akan mengajak anak kita berkompromi. Kalau bisa, jangan membuat ibunya terlalu kesakitan. Langsung keluar saja," ucap Alvaro seraya terkekeh geli.
__ADS_1
"Mana bisa seperti itu, Mas! Kamu ini ada-ada saja! Tapi mungkin si dedek akan mendengarkan permintaanmu," balas Rania seraya mengusap perutnya dengan lembut.
Alvaro mendekat ke arah sang istri, menghadap tepat di depan perut istrinya yang buncit."Nak, Sayangnya papa. Kalian nanti saat lahir, jangan terlalu menyakiti mama ya. Nanti papa janji, papa akan membantu mama, merawat kalian dengan baik." Alvaro berbicara di depan perut istrinya, seakan tengah melakukan tawar menawar pada bayi kembar yang masih bersemayam di rahim sang istri.
Mendengar ucapan Alvaro, tentu saja membuat Rania langsung terkekeh geli. Alvaro seolah berbicara pada anak seusia Bima.
"Memangnya dia bisa mengerti, Mas?" tanya Rania.
"Siapa tahu, kan nanti si dedek bisa mendengar ucapan papanya. Iya kan sayang?" Alvaro kembali menatap perut sang istri, lalu kemudian mengecupnya dengan lembut.
"Sekarang giliran papa yang tawar menawar dengan mama," ujar Alvaro tersenyum penuh arti menatap Rania.
"Bukankah baru saja ku jelaskan tadi, Mas. Mas masih menagih juga?" tanya Rania
Alvaro mengusap tengkuknya, ia pun memilih untuk mengurungkan niatnya meminta jatah kepada sang istri.
"Kalau begitu, tidurlah! Kamu tidak boleh kelelahan," ujar Alvaro beranjak dari tempat duduknya.
"Mas mau kemana?" tanya Rania heran menatap sang suami yang beranjak dari kasurnya.
"Mas mau menidurkan adik kecil yang sudah terbangun," timpal Alvaro berjalan menuju ke kamar mandi.
Rania langsung terkekeh mendengar ucapan Alvaro, menatap suaminya yang berjalan untuk menidurkan adik kecilnya itu.
Bersambung ....
__ADS_1