Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 153. Semua Berbeda


__ADS_3

Shinta menatap dirinya di cermin. Gadis itu tampak cantik dengan terusan berwarna coklat. Hari ini merupakan hari libur, yang tentunya ia akan menghabiskan hari tersebut di luar rumah.


Dulu, saat dirinya masih baik-baik saja dengan Juni, Shinta menghabiskan waktunya di tempat pria tersebut. Bermain game atau pun memasak bersama. Tak ada kecanggungan antara mereka sebelum kabar burung menerpanya dan membuat gempar isi kantor.


Kini, Shinta harus melewati semuanya seorang diri. Terkadang ingin rasanya ia pindah tempat tinggal, lebih menjauh lagi dengan Juni, mengingat tujuannya pindah ke tempat ini hanyalah untuk menemani pria itu agar tak merasa kesepian. Akan tetapi, hatinya berkata lain. Seolah menolak keras Shinta melakukan hal tersebut dan tetap berada di sisi Juni apapun yang terjadi.


Namun, sekarang sudah berbeda. Meskipun bertetangga, mereka terasa bagai orang asing yang tak saling mengenal. Terkadang Shinta merasa tidak nyaman dengan keadaan seperti ini. Tetapi gadis itu tahu, pasti semua ini akan ada akhirnya suatu saat nanti. Entah itu perasaan yang terbalas atau memang harus benar-benar melepas.


Shinta keluar dari huniannya. Ia melirik sejenak ke arah unit tetangganya. Lalu kemudian menghela napasnya dengan kasar.


"Kira-kira apa yang dilakukannya saat hari libur seperti ini?" gumam Shinta pelan. Gadis itu pun melangkahkan kakinya, masuk ke dalam lift yang mengantarkan dirinya ke lantai dasar.


Saat Shinta hendak masuk ke dalam lift, Juni keluar dari unitnya. Sekilas ia melihat Shinta yang sudah berpakaian rapi. Sementara Juni, masih menggunakan pakaian santainya, kaos tanpa lengan serta jeans pendeknya.


"Sepertinya ia hendak pergi bersama dengan pria itu," batin Juni yang bermaksud mengatakan Daren.


Pria tersebut membiarkan Shinta berjalan terlebih dahulu. Selang lima belas menit kemudian, barulah ia masuk ke dalam lift. Sudah dipastikan jika tak ada lagi tetangganya itu di depan. Juni hanya ingin menghindari rasa sakit hatinya saat melihat Shinta pergi dengan pria lain.


Namun, ia juga tak dapat mencegah Shinta karena statusnya yang memang bukan siapa-siapa. Lagi pula, Shinta patut mendapatkan pria lajang ketimbang dirinya yang telah menyandang status seorang duda.


Saat ini Shinta tengah di perjalanan dengan menaiki taksi. Gadis itu menatap ke arah luar jendela, membuka jendela tersebut dan membiarkan angin dengan lembut menerpa wajah cantiknya.

__ADS_1


"Pak, stop sebentar di toko bunga yang ada di depan," ujar Shinta berucap pada supir taksi tersebut.


"Baik, Nona." supir taksi tersebut menimpali ucapan Shinta. Setelah sampai di depan toko bunga, ia pun langsung memberhentikan kendaraannya.


"Tunggu sebentar ya, Pak." ujar Shinta bersiap turun dari mobil tersebut. Supir pun menjawabnya dengan sebuah anggukan.


Shinta melangkah masuk ke dalam toko bunga itu. Memesan sebuket bunga mawar kepada si penjual bunga. Tak lama kemudian, pesanan Shinta pun telah selesai dirangkai. Gadis itu memberikan uang cash, lalu kemudian kembali masuk ke dalam taksi yang sedari tadi menunggunya.


"Duh, maaf ya Pak agak lama," ujar Shinta sembari mengembangkan senyumnya. Merasa tak enak karena si supir taksi telah lama menunggunya.


Namun, jika dipikir-pikir, hal tersebut tidak akan merugikan si supir taksi. Toh, argometer juga tetap akan berjalan sebagaimana mestinya.


Taksi tersebut kembali melaju. Shinta tersenyum memandangi sebuket bunga yang ada di tangannya. Berencana menemui seseorang yang sudah seharusnya ia mintai maaf.


Tiba saatnya ia menghentikan langkah kaki, tepat di depan pusara dengan nisan yang bertuliskan nama Sela Andini. Gadis itu duduk di samping pusara Sela yang merupakan mantan istri dari Juni.


"Aku datang lagi, Mbak." Ia mengulas senyum, meletakkan bunga di atas pusara tersebut.


"Aku tidak akan bosan datang kemari untuk melihat Mbak Sela, serta ... menutupi rasa bersalahku karena telah memiliki perasaan terhadap Juni," lanjut Shinta mengusap nisan Sela.


"Mbak, maafkan aku karena telah lancang mencintai Juni. Seharusnya aku tidak seperti ini. Seharusnya aku jatuh cinta pada pria lain bukan dengan suami mbak. Namun, entahlah! Aku juga merasa tersiksa dengan perasaanku sendiri."

__ADS_1


"Ada kalanya kami saling beradu argumen, dan ada kalanya kaki juga kembali berbaikan. Namun, kali ini mengapa aku merasa bahwa kami tak lagi seperti yang dulu, Mbak. Aku dan Juni semakin menjauh," ucap Shinta panjang lebar. Matanya mulai berkaca-kaca, melimpahkan semua keluh kesah yang ia rasakan di depan orang yang sudah tiada.


"Aku seharusnya tidak membicarakan hal ini di dengan Mbak, akan tetapi aku tidak mempunyai teman bercerita lagi. Tempat bersandarku hanya Mbak Sela dan Juni. Kini Juni telah menjaga jarak dariku, dan Mbak Sela pun telah tiada. Aku hanya bisa menumpahkan keluh kesah ku di depan pusara Mbak Sela," gumamnya seraya menyeka air mata yang sempat menetes di pipinya.


"Sekali lagi aku minta maaf, Mbak. Dulu aku adalah orang yang paling munafik, berkata pada Mbak Sela bahwa aku tidak menyukai Juni sama sekali. Dan sekarang, aku justru menjilat ludahku sendiri." Shinta tertawa, mengingat dimana saat Sela pernah mengatakan bahwa ia dan Juni terlihat cocok.


Sedari awal, Shinta memang menyukai Juni. Namun, ia mencoba menepisnya mengigat pria tersebut telah memiliki seorang istri.


Cukup lama Shintia berada di pusara Sela, mengatakan semua yang ada di dalam uneg-unegnya, memberitahukan semua itu pada wanita yang pernah menjadi sandarannya dulu.


Mungkin, jika ada yang melihat Shinta seperti ini, mereka akan mengira bahwa gadis tersebut telah hilang kewarasannya. Namun, taraf kebahagiaan seseorang itu berbeda. Dan kini, Shinta merasa beban yang ada di pundaknya sedikit terangkat setelah mengatakan semuanya pada Sela. Meskipun berbagi cerita dengan orang yang telah tiada.


Shinta pun beranjak dari tempat duduknya, tak lama kemudian ia mengernyitkan kening sembari memegangi kakinya.


"Sepertinya aku terlalu lama di sini, Mbak. Sampai-sampai kakiku kram," ujar Shinta seraya terkekeh.


"Aku akan datang lagi ke sini, Mbak. Ku harap Mbak tidak bosan ya mendengarkan ceritaku. Mbak Sela hanya perlu mendengarkan ceritaku saja, tidak perlu menimpalinya karena itu akan membuatku berhenti datang kemari," lanjut Shinta kembali tertawa.


"Aku pamit dulu ya, Mbak. Di lain waktu aku akan kembali ke sini."


Shinta perlahan membawa langkah kakinya untuk pergi meninggalkan pusara Sela. Saat dirinya hendak berbalik, ia terkejut melihat sosok pria yang baru saja tiba sembari membawa buket bunga yang ada di tangannya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2