Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 168. Mengenang Masa Lalu


__ADS_3

Keesokan harinya, Shinta tampak sibuk beres-beres rumah. Ia merapikan tempat tidurnya, mengelap meja, serta membersihkan kamar mandinya. Biasanya, Shinta terlalu malas melakukan hal tersebut. Namun, ia berusaha menyibukkan diri agar tak terlalu memikirkan urusan percintaan yang rumit.


Shinta menyeka keringat yang ada di wajahnya. Gadis itu meregangkan otot-ototnya yang terasa pegal. Tak lama kemudian, ia mendengar ponsel yang ia letakkan di atas meja berbunyi. Shinta pun langsung mengangkat panggilan tersebut.


"Halo," ujar Shinta.


"Apakah kamu tidak ada kegiatan hari ini?" tanya Daren.


"Aku masih sibuk membersihkan rumah. Ada apa?" tanya gadis tersebut.


"Oh, tidak apa-apa. Aku berencana ingin mengajakmu keluar," ujar Daren.


Shinta tampak menimbang-nimbang. Jika menolak ajakan Daren, Shinta merasa tak enak hati. Apalagi mereka baru saja berpacaran kemarin, dan Shinta lebih banyak mengacuhkan Daren sebelumnya.


"Baiklah, nanti sore saja. Setelah pekerjaanku selesai," ucap Shinta menyetujui ajakan Daren.


"Tetapi kamu tidak apa-apa kan? Jika memang pekerjaanmu belum selesai, kita pergi di lain hari saja," ujar pria tersebut.


"Tidak apa-apa, hari ini saja. Lagi pula tidak banyak yang aku kerjakan," timpal Shinta.


"Baiklah, kalau begitu sampai jumpa di sore hari," ujar Daren.


"Hmmmm ...."


Tak lama kemudian, sambung telepon pun terputus. Shinta cukup lama menatap layar ponselnya. Gadis itu pun kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda.


Di waktu yang bersamaan, Daren beranjak dari kursi panjang. Pria tersebut menelepon kekasihnya saat tengah beristirahat. Dan kini, kembali melakukan lari pagi seusai mendengar suara Shinta.


Saat tengah melakukan lari pagi, Daren melihat Juni yang juga berada di tempat tersebut dan melakukan aktifitas yang sama. Daren pun mencoba untuk menghampiri tetangganya itu.


"Aku tidak tahu jika kamu akan melakukan lari pagi. Setidaknya aku tidak melakukan aktivitas ini sendirian," ucap Daren.


Sementara Juni, pria tersebut hanya melirik Daren sekilas. Ia mengabaikan tetangganya itu, menganggap bahwa Daren adalah sosok tak kasat mata.


"Semalam ... apakah kamu ingin menyatakan cinta pada Shinta?" tanya Daren.


Hal tersebut tentu saja membuat Juni berhenti sejenak. Ia menatap rivalnya itu, dengan tatapan tajamnya.


"Iya, memang benar." Juni menjawab pertanyaan dari Daren dengan cukup lantang.


Daren mendecih, pria itu menatap Juni dengan remeh. "Sayang sekali, dia lebih dulu bersamaku," ucapnya yang terkesan mengejek.


"Lalu ... kamu merasa puas akan hal itu? Apakah kamu senang karena dia sudah menjadi milikmu?" tanya Juni.


"Tentu saja. Setidaknya aku bisa berhasil mengalahkan mu," balas Daren dengan angkuh.


Bughhhh ...


Satu pukulan mendarat di wajah Daren. Hingga membuat sudut bibir Daren mengeluarkan darah. Pria itu tak diam saja, ia pun juga memukul wajah Juni, hingga tulang pipi Juni terlihat memar akibat pukulan tersebut.


"Apa kamu gila hah?! Kenapa kamu tiba-tiba memukulku? Dasar pria sinting!" cecar Daren seraya menyeka sudut bibirnya yang berdarah.


"Tidak kah kamu berkaca? Apa yang baru saja kamu lakukan. Dan pukulan itu ... pantas untuk kamu dapatkan!" tukas Juni.

__ADS_1


Daren berdecih, menatap Juni seraya tersenyum miring. "Ku rasa kamu marah padaku karena cintamu yang tak terbalas bukan?"


"Tahu dari siapa cintaku tak terbalas? Apakah kamu sudah melihatnya, aku mengutarakan perasaanku pada Shinta?" ujar Juni.


Mendengar hal tersebut membuat Daren langsung bungkam. Apalagi mengingat hal semalam, dimana Shinta yang terus menatap Juni dengan penuh harap, membuat pria itu merasa sangat kesal.


"Jika kamu terus memancingku seperti ini, berarti kamu mengajakku bersaing. Dan aku takut, jika nanti kamu lah yang tersingkirkan dari pertandingan yang kamu buat sendiri," ujar Juni.


"Melihat sikap yang kamu tunjukkan, aku menjadi ragu, jika kamu benar-benar mencintainya," lanjut pria tersebut yang kemudian berlalu dari hadapan Daren.


Sebenarnya, Juni tidak ingin seperti ini karena seorang wanita. Apalagi jika wanita tersebut telah dimiliki oleh orang lain. Namun, melihat tingkah Daren yang menyebalkan, tentu saja membuat emosi siapapun pasti ikut terpancing untuk mengajar pria tersebut.


Daren menatap Juni yang berjalan menjauh darinya. Pria itu mendengkus kesal, seraya meringis menyentuh sudut bibirnya yang terasa perih.


Namun, setelah memikirkan apa yang dikatakan oleh Juni barusan. Hak tersebut memang benar. Seandainya semalam Juni langsung mengutarakan perasaannya, mungkin Shinta akan lebih memilih pria itu ketimbang dirinya.


.....


Di lain tempat, Arjuna membawa sebuket bunga yang ada di tangannya. Hari ini ia berencana untuk pergi ke rumah kekasihnya, Alvira.


Setelah sekian lama tak bertemu, membuat Arjuna merindukan janda anak satu itu. Pria tersebut membayar buket bunga yang ada di tangannya. Keluar dari toko bunga tersebut dengan perasaan yang senang.


Ponsel Arjuna bergetar, ia merogoh sakunya. Sudut bibirnya terangkat, saat melihat panggilan dari sang pujaan hati.


"Kamu di mana? Jadi kan mau ke sini?" tanya Alvira.


"Iya. Ini aku sedang dalam perjalanan menuju ke rumahmu," ucap Arjuna.


Arjuna tersenyum, ia tidak pernah menyangka jika Alvira akan seperti ini dengannya. Memperlihatkan sikap manja dan bahkan selalu mengabarinya dan menceritakan banyak hal pada pria itu.


Sebelumnya, perjuangan cinta seorang Arjuna juga cukup sulit. Meyakinkan Alvira membutuhkan waktu bertahun-tahun lamanya. Dan kini, pada akhirnya mereka pun bisa menjalin hubungan berpacaran.


Arjuna sudah mempersiapkan diri, ingin mengajak sang kekasih untuk menuju ke jenjang yang lebih serius lagi. Ia tak peduli dengan status Alvira. Ia juga dengan senang hati, menerima Abian dan akan menganggapnya sebagai anak sendiri.


Namun, Alvira menginginkan untuk menunda niat baik dari Arjuna. Dan mengatakan bahwa wanita itu akan kembali memikirkannya lagi.


Tetapi, bagi Arjuna tidak masalah. Seberapa lama pun Alvira meminta waktu darinya, dengan senang hati Arjuna akan menurutinya. Ia akan menunggu Alvira hingga ia benar-benar siap untuk menuju ke jenjang yang lebih serius lagi pada Arjuna.


.....


Mendengar Alvira yang nekat menelepon Arjuna, karena tak sabar hendak bertemu dengan sang pujaan hati, membuat Rania dan yang lainnya terkekeh geli.


"Kenapa kalian tidak menikah saja? Supaya bisa bertemu setiap hari," celetuk Alvaro.


"Apaan sih." Alvira merasa risi dengan ucapan yang dilontarkan oleh saudara kembarnya.


"Ya, setidaknya kalian tidak terus menerus saling bucin melalui telepon," ujar Alvaro sembari mengunyah cemilan yang ada di atas meja.


Alvira memberengut kesal, ia pun langsung mengarahkan pandangannya pada Rania. "Mbak, kemarin dia juga bucin kan?" tanya Alvira pada Rania.


Rania terkekeh, lalu kemudian menganggukkan kepalanya. "Kalau tidak bertemu, dia langsung meriang. Lebih bucin dari pada kalian," jawab Rania yang membuat tawa semua orang pecah.


"Tuh kan, lebih parah lagi. Paling bisa membicarakan orang lain sementara dirinya saja seperti itu," ketus Alvira.

__ADS_1


"Seharusnya tadi kamu diam saja, Sayang. Jangan mengatakannya pada Alvira.


"Lagi pula, kamu juga terlalu cerewet Mas jadi seorang laki-laki," balas Rania.


"Kalau mama dulu ... Ehemmm ...." Arumi ikut menimbrung pembicaraan anak-anaknya. Nenek-nenek itu berdeham sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Yang meriang mama, bukan papamu," celetuk Arumi mengarahkan pandangannya pada sang suami.


"Hah?! Yang benar saja, Ma!" Alvaro dan Alvira berucap serentak.


"Sungguh!" Arumi memperlihatkan kedua jarinya membentuk huruf'V'.


"Papa mu adalah pria kulkas. Kulkasnya dua belas pintu. Sangat dingin akan tetapi dibalik sikap dinginnya itu ia selalu memperhatikan mama," papar Arumi yang mencoba mengenang masa lalu.


"Ciyeee ...." Rania dan juga Alvira bersorak. Sementara nenek-nenek itu, menutup wajahnya karena tersipu malu.


"Tidak usah dibahas, Ma. Kita sudah punya cucu hampir 4," celetuk Fahri.


"Tidak apa-apa, Pa. Sesekali mengenang sejarah kita. Sebelum mempunyai banyak kepala seperti ini," balas Arumi terkekeh geli.


"Terus ... siapa yang mengejar lebih dulu, Ma?" tanya Alvira yang tampak antusias ingin mendengarkan cerita selanjutnya.


Arumi tersenyum, lalu kemudian menunjuk dirinya sendiri.


"Berarti yang mengejar papa lebih dulu adalah mama?" tanya Alvaro.


Arumi menganggukkan kepalanya.


"Yang jatuh cinta lebih dulu berarti mama juga?"


"Tidak. Kalau yang lebih dulu jatuh cinta adalah papa," ujar Fahri menatap ke arah sang istri.


Keduanya pun kembali mengingat kejadian puluhan tahun yang silam. Di mana Fahri dipertemukan dengan Arumi saat pria itu telah memiliki istri. Dan Arumi yang juga menolongnya saat dirinya harus membayar hutang-hutang dari mantan istrinya terdahulu.


"Jatuh cinta lebih dulu atau tidaknya itu tidak lah penting. Yang paling penting adalah niat serta perjuanganmu yang hendak mencapai kebersamaan itu sendiri. Tentu jauh lebih penting," ucap Arumi.


"Kalau memang mama yang mengejar papa, berarti dulunya papa tidak mempunyai saingan ya untuk mengejar mama?" tanya Alvaro, mengingat dirinya yang bersaing mengejar Rania dan berusaha memisahkannya dari Dion.


"Siapa bilang, tentu saja papa mempunyai saingan." Fahri tampaknya mulai nyaman membicarakan dirinya semasa muda dulu.


"Siapa pa?" tanya Alvira yang juga merasa penasaran.


"Ayahnya." Fahri berucap sembari menunjuk pria yang baru saja tiba membawa sebuket bunga mawar yang ada di tangannya.


Kedua saudara kembar itu pun mengikuti arah pandang sang ayah, dan menemukan Arjuna yang baru saja tiba di rumah mereka.


"Ayah Arjuna, berarti Om Samuel." Kedua saudara kembar itu pun terkejut dengan penuturan ayahnya. Begitu juga dengan Rania.


Sementara Arjuna, pria itu tampak kebingungan sembari mengusap tengkuknya. Bagaimana tidak? Semua orang yang ada di sana menatapnya dengan ekspresi terkejut.


"A-ada apa?" tanya Arjuna terbata-bata.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2