Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 239. Menikahlah!


__ADS_3

Keesokan harinya, Alvaro dengan langkah tergesa-gesa memasuki kantor cabang. Pria tersebut mendapatkan laporan dari Shinta, bahwa istri dari Andre datang ke kantor cabang.


Hal tersebut tentu saja membuat Alvaro naik pitam. Apalagi mengingat bahwa Andre pernah melukai saudara kembarnya, membuat Alvaro tak tinggal diam.


Tanpa mengetuk pintu lagi, Alvaro pun langsung masuk ke dalam ruangan Alvira. Janda anak satu yang tengah berada di meja kerjanya itu sempat terkejut karena melihat keberadaan Alvaro ke sini tanpa pemberitahuan sama sekali.


"Ada apa?" tanya Alvira dengan ekspresi wajah heran.


"Apakah istri dari mantan suamimu ke sini kemarin? Apa yang dia minta darimu? Apakah dia melontarkan kata-kata kasar padamu? Apa dia menyakitimu?" tanya Alvaro dengan raut wajah gusar. Pria itu memperlihatkan kekhawatirannya dengan jelas.


"Dari siapa kamu mengetahuinya?" Alvira berbalik melontarkan pertanyaan.


"Tidak penting aku mendapatkan kabar dari siapa. Yang terpenting adalah dirimu. Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Alvaro.


"Iya, aku baik-baik saja. Wanita itu ke sini hanya memintaku untuk menemui Andre di penjara, karena dia ingin melihat Abian," jelas Alvira.


Alvaro terdiam memperhatikan setiap kalimat yang terlontar dari mulut saudara kembarnya itu.


"Kamu yakin baik-baik saja?" tanya Alvaro.


"Iya, Varo. Aku baik-baik saja." Alvira menganggukkan kepalanya, berusaha meyakinkan pria yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Syukurlah jika kamu merasa tidak terganggu. Aku takut, kamu akan kembali terluka olehnya. Sebaiknya lupakan dia dan menikah sajalah dengan Arjuna," ujar Alvaro yang mengucapkan kalimat tersebut tanpa sadar.


"Sepertinya kamu sangat merestui hubungan kami," goda Alvira menyunggingkan senyumnya.


"Ya, setidaknya aku tahu kalau Arjuna tidak akan sebrengsek Andre," balas Alvaro.


Alvira terkekeh geli mendengar ucapan Alvaro yang tampaknya sangat ingin jika dirinya menikah lagi.


"Kenapa kamu tertawa?" tanya Alvaro melirik saudara kembarnya yang sedari tadi tak berhenti tertawa.


"Tidak apa-apa." Alvira masih mengulum senyumnya.


"Iya ... iya ...."


Setelah mendengar jawaban dari Alvira, Alvaro pun langsung melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu. Alvira mengantarkan kepergian Alvaro hingga ke depan pintu. Pandangannya tertuju pada Shinta yang tengah berada di meja kerjanya. Gadis itu melihat ke arah atasannya, dan sesaat kemudian menundukkan pandangannya.


"Shinta, kemarilah!" Alvira menggunakan gerakan tangannya, meminta Shinta intim datang ke ruangannya.


Shinta mengangguk. Gadis tersebut langsung berjalan masuk menuju ke ruangan Alvira. Atasannya itu mempersilakan Shinta untuk duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan tersebut.


"Ada apa, Bu?" tanya Shinta.

__ADS_1


"Kamu kan yang memberitahukan masalah kemarin pada Alvaro?" tanya Alvira dengan tatapan yang menelisik.


Shinta awalnya terdiam, akan tetapi sesaat kemudian ia pun menganggukkan kepala.


"Maafkan saya, Bu. Pak Alvaro meminta saya untuk mengawasi Bu Alvira. Saya takut, jika masalah kemarin akan membuat Bu Alvira sedih. Maka dari itu, saya mengadukan hal ini pada Pak Alvaro," papar Shinta.


"Terima kasih atas perhatian kamu sebelumnya. Namun, tidak semua hal harus kamu laporkan pada Alvaro. Seperti tadi, kamu lihat sendiri kan bagaimana Alvaro tergesa-gesa menghampiri ku. Aku takut saat ia tengah mengendarai mobil, ia akan kepikiran dan berujung membahayakan nyawanya," tutur Alvira memberikan teguran dengan bahasa yang lembut.


"Maafkan saya, Bu."


"Untuk lain kali, sebelum kamu laporan dengan Alvaro. Ada baiknya untuk menanyakan hal yang kamu ingin katakan itu padaku terlebih dahulu. Anggaplah meminta izin dariku," ujar Alvira.


"Baik, Bu."


"Ya sudah, kalau begitu lanjutkan pekerjaanmu. Dan jangan lupa untuk mempersiapkan bahan untuk rapat nanti."


"Baik, Bu."


Setelah mengucapkan hal tersebut, Shinta pun pamit undur diri dari hadapan Alvira. Sementara janda anak satu itu, ia kembali ke kursi kebesarannya untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2