Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 41. Tertangkap


__ADS_3

Di perjalanan, kedua wanita yang ada di belakang hanya diam. Sementara Bima, pria tersebut sibuk bernyanyi sembari menatap lurus ke depan.


"Sungguh senang ... amat senang ... bangun pagi-pagi, sungguh senang," ujarnya yang sudah berada di bait lagi terakhir.


"Pa, besok hari Sabtu. Papa tidak lupa kan untuk datang ke sekolah?" tanya Bima.


Alvaro melirik ke arah Bima selikas, lalu mengulas senyumnya. "Tentu tidak, Boy. Papa pastikan akan hadir tepat waktu," ucap Alvaro.


"Di sekolah ada acara apa, Bim?" tanya Shinta yang mulai membuka pembicaraan.


"Acara pentas seni, Tante. Semua orang tua diharapkan untuk datang ke sekolah," timpal Bima.


Tak lama kemudian, mobil Alvaro terhenti di depan gerbang sekolah. Pria kecil itu turun dari mobilnya bersama dengan sang ayah.


"Salim dulu dengan Tante dan Bu Dokter," ucap Alvaro yang membuka pintu bagian belakang. Di mana tempat Rania dan Shinta duduk.Bima menganggukkan kepalanya. Ia pun langsung menyalami Rania dan Shinta bergantian.


"Belajarnya yang rajin ya," ucap Rania mengusap puncak kepala Bima. Bima tersenyum dan mengangguk patuh.


Kedua pria itu pun saling bergandengan masuk ke area sekolahan. Sementara Rania dan Shinta menunggu di dalam mobil.


"Lihatlah! Pak Alvaro benar-benar suami idaman bukan? Meskipun di luar ia terlihat dingin, akan tetapi jika benar-benar diselami dia adalah pria yang hangat," celetuk Shinta.


"Apa itu? Kenapa dia harus mengatakan hal itu? Apakah dia berniat untuk terus mengejarnya?" batin Rania yang masih salah sangka dan sibuk dengan pemikirannya sendiri.


"Namanya juga orang tua dengan anaknya. Tentu saja ia akan bersikap hangat. Sikap dingin yang ditunjukkan olehnya memperlihatkan bahwa dia berwibawa," jelas Rania.


"Apakah kamu menyukai Alvaro?" tanya Shinta dengan tatapan yang menyelidik.


Seketika raut wajah Rania berubah. Semburat kemerahan pun muncul di kedua pipinya, bak kepiting panggang.


"A-aku? Hahaha ... a-aku tidak menyukainya!" bantah Rania dengan terbata-bata. Gadis itu terlalu malu untuk mengakui semua itu, meskipun wajahnya dan ucapannya menunjukkan kedua hal yang berbeda.


"Benarkah?" goda Shinta.


"I-iya. Lagi pula pria itu bukanlah tipeku," ucap Rania yang masih saja mengelak.


"Syukurlah. Kalau kamu tidak menyukainya, sainganku berkurang. Aku menyukai Pak Alvaro," ujar Shinta.


"Dasar menyebalkan!" umpat Rania dalam hati.


Rania baru saja hendak membuka mulutnya, akan tetapi Alvaro datang membuat gadis itu kembali bungkam. Pria tersebut langsung kembali melajukan mobilnya menuju ke jalanan.

__ADS_1


Saat di perjalanan, Shinta lebih banyak berucap pada Alvaro. Sementara Rania hanya terdiam sembari memperlihatkan wajah masamnya.


Ia cemburu jika Shinta terlihat akrab dengan Alvaro. Namun, di samping itu juga, ia malu untuk mengakuinya bahwa dia sudah jatuh hati pada tetangganya itu.


"Rania, kenapa kamu diam saja? Apakah kamu sariawan?" celetuk Alvaro, melirik gadis tersebut dari kaca mobil.


Rania mendengkus kesal, " Tidak. Aku tidak sariawan. Lagi pula, banyak berbicara pada orang yang sedang menyetir akan menggangu konsentrasi si pengemudi nantinya," ujar Rania yang menyindir Shinta karena terlalu banyak berbicara pada Alvaro.


Alvaro tersenyum samar, akan tetapi dia kembali pada ekspresi semulanya yang tetap datar.


"Pak Alvaro yang merasa terganggu atau kamu yang merasa terganggu?" celetuk Shinta yang sedikit memojokkan Rania. Gadis itu hanya ingin sedikit menggoda Rania saja. Ia tahu jika Alvaro dan Rania memiliki perasaan yang sama, hanya saja terlalu gengsi untuk mengungkapkannya yang sebenarnya.


Rania hanya memilih diam, gadis itu terlalu malas untuk menimpali ucapan Shinta yang memojokkannya itu, walaupun ucapan gadis yang ada di sampingnya itu memang benar adanya.


Selang beberapa saat kemudian, mobil yang dikendarai oleh Alvaro pun tiba di klinik. Rania bersiap turun, tak lupa ia mengatakan ucapan terima kasih karena tumpangan Alvaro.


"Terima kasih atas tumpangannya," ucap Rania.


"Iya, sama-sama."


Gadis itu turun dari mobil, akan tetapi ia mengernyitkan keningnya saat melihat Shinta yang juga ikut turun.


"Oh, ini klinik gigi tempatmu bekerja," ucap Shinta.


"Kenapa kamu turun?" tanya Rania.


"Aku ingin pindah ke kursi depan. Tidak mungkin aku duduk di kursi belakang sendirian," ujar gadis tersebut dengan begitu santainya.


Mendengar hal tersebut, tentunya membuat Rania semakin kesal. Ia mengepalkan tangannya, mencoba untuk menahan rasa yang ingin mengumpat Shinta.


Ia melihat Shinta yang begitu santainya masuk ke mobil, menduduki kursi yang ada di samping Alvaro. Gadis tersebut melambaikan tangannya, semakin memanasi Rania yang masih mematung, memperhatikan kedua orang tersebut.


Mobil Alvaro perlahan meninggalkan Rania. Gadis tersebut menghentakkan kakinya, dengan wajah yang masam. "Dasar! Wanita yang menyebalkan! Aku sangat membencinya!" geram Rania.


"Ada apa, Bu Dokter?" tanya suara dari belakang yang membuat Rania terkejut. Ia pun mengarahkan pandangannya ke sumber suara, melihat Hilda yang sudah berdiri di belakangnya.


"Tidak apa-apa," ucap Rania yang memilih untuk berlalu dari hadapan Hilda. Sementara wanita tersebut hanya memperlihatkan ekspresi bingungnya dengan sikap Rania pagi ini.


Shinta tertawa keras saat melirik Rania dari kaca spion. "Gadis itu sungguh menggemaskan sekali. Dia menyukai Bapak, akan tetapi terlalu bersikap 'sok jual mahal'" ujar Shinta.


"Apakah dia benar menyukai ku?" tanya Alvaro.

__ADS_1


"Tentu saja, Pak. Apakah anda tidak melihatnya? Bagaimana sikap cemburunya yang terlihat dengan sangat jelas itu," papar Shinta.


"Syukurlah," timpal Alvaro singkat.


"Kejar Pak! Dia terlalu menggemaskan. Kurasa banyak pria yang tertarik padanya. Jika Pak Alvaro tidak segera mendapatkannya, aku yakin dia akan jatuh ke pelukan pria lain," ujar Shinta yang mencoba mengompori atasannya itu agar segera bertindak dengan perasaannya.


"Itu tidak boleh terjadi," ucap Alvaro yang memberhentikan mobilnya di parkiran.


Kedua orang tersebut turun dari mobilnya. Alvaro berjalan terlebih dahulu, sementara Shinta berada di belakang pria tersebut.


Tak lama kemudian, Juni pun datang dan menundukkan kepalanya. Pria tersebut membisikkan sesuatu pada atasannya itu. Membuat Alvaro mengerutkan keningnya.


Pria tersebut langsung merogoh sakunya, mengecek ponsel dan kemudian memijat keningnya. "Mereka sempat menghubungiku, tetapi ponselku tak sengaja ku silent," ucap Alvaro.


"Kalau begitu, lanjutkan pekerjaan kalian, aku akan segera ke sana," lanjut Alvaro.


"Baik, Pak."


Alvaro pun meninggalkan kedua pegawainya itu. Shinta tampak kebingungan, gadis itu bertanya kepada Juni.


"Ada apa?" tanya Shinta.


"Mantan atasanmu sudah tertangkap," timpal Juni.


Shinta menghembuskan napasnya dengan lega. Kini ia tak perlu takut lagi untuk pulang ke rumah karena Andre sudah mendekam di balik jeruji besi.


Alvaro mempercepat laju kendaraannya. Ia tak sabar, hendak melihat wajah Andre dan memberikan pria tersebut pelajaran karena telah membuat Alvaro kesal.


Setibanya di kantor polisi, Alvaro langsung memasuki gedung yang ada di depannya. Pria tersebut meminta untuk dipertemukan dengan Andre. Polisi pun mengantar Alvaro untuk bertemu dengan pria tersebut.


Andre yang saat itu tengah meringkuk di ujung, melihat Alvaro yang baru saja datang. Alvaro mencoba memasang wajah bersahabat, lalu kemudian memberikan kode dengan jari telunjuknya agar iparnya itu menghampirinya.


Dengan sedikit ragu, Andre pun berjalan menuju Alvaro. Tanpa ba-bi-bu lagi, Alvaro langsung menarik kerah baju Andre dari luar, lalu kemudian membenturkan kening pria tersebut ke jeruji hingga menimbulkan suara yang cukup nyaring. Melihat Alvaro bersikap demikian, polisi langsung menengahi.


"Itu belum setimpal dengan semua perbuatan kejimu itu. Tapi, setidaknya aku cukup puas karena telah memberikanmu pelajaran dengan tangan ku sendiri," ketus Alvaro, menatap Andre dengan tatapan membunuh.


Bersambung ....



Gemesin bgt si Bu Dokter

__ADS_1



Senyam-senyum ye bang, liat Bu Dokter😂


__ADS_2