
Mobil yang dikendarai oleh Alvaro pun tiba di rumah utama. Mereka turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam bangunan dua tingkat tersebut.
Bima menggandeng tangan ibu sambungnya, sementara Alvaro tak ingin kalah dengan putranya Ia juga menggandeng tangan Rania yang satunya lagi. Jadilah kini Rania diapit oleh dua laki-laki berbeda generasi.
"Eh, ada menantuku. Ayo Nak, silakan masuk!" ujar Arumi menyambut hangat kedatangan sang menantu serta putra dan cucunya.
Rania langsung mencium punggung tangan kedua mertuanya yang tengah duduk di teras tersebut. Tak lama kemudian, Arumi dan Fahri pun beranjak dari tempat duduknya. Mereka menuju ke dalam rumah, mempersilakan untuk Rania duduk.
"Sekarang, Rania sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Jadi, anggaplah ini rumah sendiri, keluarga sendiri, tidak perlu sungkan ya, Nak."
"Iya, Ma." Rania menimpali ucapan mertuanya dengan tersenyum hangat.
"Alviranya mana, Ma?" tanya Rania yang tidak melihat keberadaan saudara kembar dari suaminya itu.
"Vira ada di kamar. Ayo kita ke sana!" ajak Arumi.
Arumi, Rania, dan juga Bima berjalan menuju ke kamar. Sementara Alvaro, menemani sang ayah yang berada di ruang tengah.
"Bagaimana keadaan kantor cabang? Apakah tidak ada lagi keluhan?" tanya Fahri.
"Sejauh ini tidak ada, Pa. Keuangan juga sudah cukup stabil, gaji para karyawan pun telah terpenuhi," timpal Alvaro.
Fahri tersenyum mendengar ucapan anaknya. "Papa dulunya tahan mati-matian membangun kantor cabang yang merupakan jerih payah papa sendiri. Kantor pusat itu milik mama mu. Papa tidak ingin hanya duduk diam tanpa berkembang,.maka dari itu papa membuka kantor cabang. Papa mempercayakannya pada Andre. Papa tidak menyangka, Andre akan mengkhianati keluarga kita," papar Fahri panjang lebar. Ia seolah membuka kembali sejarah berdirinya kantor cabang tersebut.
Alvaro merangkul ayahnya, " Papa tenang saja, Andre sudah menerima hukuman yang setimpal atas perbuatannya. Mulai sekarang, aku akan mengawasi kantor cabang sementara Alvira belum bisa aktif di kantor," ujar Alvaro menenangkan ayahnya.
Fahri tersenyum, lalu kemudian menganggukkan kepalanya secara perlahan.
.Di waktu yang bersamaan, Rania tengah menggendong si kecil Abian. Wanita itu tampak gemas dengan bayi mungil tersebut.
"Mama, nanti kita punya adik juga kan?" tanya Bima blak-blakan di depan Arumi dan juga Alvira.
Rania hanya bisa menunduk malu, lalu kemudian mengiyakan ucapan anak laki-laki tersebut.
"Bima memang begitu, dia serba ingin tahu. Kamu harus sedikit sabar menghadapinya ya, Nak." Arumi mengusap belakang Rania.
"Tidak apa-apa, Ma. Lagi pula anak seumuran Bima memang lebih banyak belajar dari apa yang ia lihat dan apa yang ia dengar," timpal Rania dengan bijak, tak lupa sudut bibirnya terangkat ke atas, membentuk sebuah senyuman yang begitu manis.
"Abian sepertinya nyaman sekali ya, di gendong sama Tante Rania ya, Nak." Alvira bersuara, melihat Rania yang begitu lihai menggendong anaknya. Abian pun tak menangis di gendong oleh istri dari saudara kembarnya itu.
"Iya, Nih. Tante mau bawa pulang saja Abian," celetuk Rania bergurau.
"Bawa saja, Ma. Nanti Bima main sama Bian sepuasnya," ujar Bima yang tampak antusias saat Rania mengatakan akan membawa bayi tersebut.
"Bima saja yang main ke sini, tidur sama Tante dan adek Bian." Arumi membuka suara, membujuk anak laki-laki dengan rambut ikal tersebut.
__ADS_1
"Bima mau pulang dulu, Nek. Bima mau tidur sama mama dulu," timpal Bima.
"Kalau Bima tidur sama mama, nanti kasihan papa dong, Sayang." Kini Alvira lah yang membujuk anak laki-laki itu.
"Tidak apa-apa, Ma. Lagi pula Mas Varo juga sudah sangat rindu dengan Bima. Hari ini Bima pulang ya ...," ucap Rania menanyai anak laki-laki tersebut.
"Iya, Ma." Bima menimpali sembari menganggukkan kepalanya.
Setelah selesai berkutat di kamar Alvira, Rania memilih untuk mengembalikan bayi tersebut kepada ibunya.
Dan kini, wanita tersebut bersama dengan sang mertua, tengah berada di dapur. Keduanya telah memakai apron berwarna abu-abu.
Setelah berbicara di kamar Alvira, mereka pun merasa lapar dan berencana untuk menyiapkan makan siang tanpa minta para pelayan untuk membantu mereka.
"Kita pasti bisa," ujar Arumi menatap menantunya dengan semangat.
"Iya, Ma. Tidak ada salahnya mencoba. Siapa tahu setelah ini kita bisa memasak," ucap Rania mengepalkan tangannya dengan penuh tekad.
"Baiklah, kalau begitu, ayo kita siapkan semua bahan-bahannya!" Arumi mengambil bahan-bahan yang ada di kulkas. Rania turut serta membantu mertuanya.
Arumi mulai memotong-motong sayuran, sementara Rania, dia mendapat bagian memotong bawang. Sesekali ia menarik air hidungnya, sementara matanya sudah memerah akibat memotong bawang tersebut. Tidak banyak, hanya saja gerakan Rania memotongnya dengan sangat lambat.
"Aku melihat Mas Varo memotong bawang, terlihat lincah dan sangat mudah. Tapi kenapa saat aku mencobanya, sangat sulit sekali," ujar Rania.
"Memang seperti itu lah, teori tidak semudah prakteknya. Sini biar mama saja yang mengiris bawang. Kamu potong-potong seledrinya saja," ucap Arumi yang baru saja hendak menggantikan posisi menantunya.
"Iya, kenapa?"
"Tidak apa-apa, Ma. Aku tidak menyukai daun seledri," jawab Rania sembari tersenyum malu.
"Kalau begitu, kita tidak usah pakai seledri. Mama akan menyingkirkan ini." Arumi menjauhkan daun seledri tersebut.
Sayur-sayuran telah dipotong, semua bahan telah lengkap. Arumi mengeluarkan ikan yang sudah dibaluri bumbu praktis. Kali ini, hal pertama yang akan ia masak adalah ikan goreng. Tentu saja mengingatkannya akan insiden sewaktu muda dulu, bersama ayahnya Alvaro.
"Tunggu sebentar!"
Arumi keluar sebentar dari dapur, tak lama kemudian, ia membawa jas hujan, serta helm. Rania tertegun, entah mengapa mertuanya ini membawa benda-benda itu ke dapur.
"Pakailah ini, lebih baik mencegah dari pada mengobati," ujar Arumi sesaat kemudian.
Rania yang masih bingung pun menuruti kata mertuanya. Ia mengenakan jas hujan terus lengkap dengan helm yang menutupi kepalanya.
"Sudah?" tanya Arumi yang juga memakai benda tadi.
Rania mengangguk. Arumi pun mulai menghidupkan kompor, lalu kemudian menumpahkan minyak secukupnya. Setelah minyak panas, Arumi mulai memasukkan ikan tersebut. Cipratan minyak panas pun mengenai mereka. Namun, tidak terasa menyakitkan karena mereka telah mengenakan perlengkapan tersebut.
__ADS_1
Dan kini, Rania jadi tahu fungsi jas hujan dan helm. Selain digunakan saat hujan oleh kendaraan bermotor, ternyata benda tersebut juga berfungsi untuk menggoreng ikan. Ibarat berperang, jas hujan adalah baju besinya.
Di waktu yang bersamaan, Alvaro dan Fahri yang tengah berbincang di teras pun masuk ke dalam. Menyusul istri-istri mereka yang awalnya berada di kamar Alvira.
TOKKK ... TOKKK ...
Alvaro mengetuk pintu, sebelum masuk ke dalam kamar saudara kembarnya itu. "Masuk!" seru Alvira dari dalam.
Alvaro dan Fahri pun masuk. Ia mengedarkan pandangannya pada kamar Alvira. "Ada apa?" tanya Alvira bangkit dari tempat tidur.
"Mama sama Rania di mana?" tanya Alvaro yang hanya menemukan Bima sedang tertidur di samping bayi Alvira.
"Mama dan Mbak Rania kan ke dapur," timpal Alvira.
"Ke dapur?" Alvaro dan Fahri berucap serentak. Keduanya saling berpandangan, dan sesaat kemudian langsung keluar dari kamar Alvira.
"Kamu tahu, mama mu sampai setua ini tidak papa anjurkan memasak?" tanya Fahri sembari menuruni anak tangga.
"Iya, Pa. Rania juga tidak bisa masak. Terakhir membuat omelette saja, ia ingin membuang kompornya, karena di sangka kompornya yang bersalah," timpal Alvaro yang juga tergesa-gesa.
"Berarti ... bahaya jika keduanya di dapur, bisa saja menyebabkan kebakaran," ujar Fajri yang sudah merasa was-was.
Tercium bau gorengan ikan dari dapur. Para pelayan yang bekerja di dapur pun terlihat berdiri di depan pintu dengan raut wajah yang sedikit khawatir.
"Kenapa kalian di sini? Tidak menolong mereka di dalam?" tanya Fahri heran.
"Nyonya besar tidak mengizinkan kami masuk, Tuan. Jika kami maju selangkah, maka gaji kami akan di potong sepuluh persennya," jelas salah satu dari mereka.
Fahri dan Alvaro saling melemparkan pandangan, lalu kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya dengan perlahan.
"Mamamu masih sama keras kepalanya. Hanya umurnya saja yang tua, tetapi tingkahnya masih kekanak-kanakan," gerutu Fahri.
"Sudah, Pa. Ayo kita lihat!" ucap Alvaro.
Keduanya pun langsung masuk ke dalam dapur. Kondisi dapur benar-benar seperti kapal pecah. Sayur-sayuran yang sedikit berserakan, dan dua orang yang sibuk memegang spatula di tangan kanan mereka.
"Astaga ...." kata pertama yang keluar dari mulut Fahri saat melihat kekacauan di dapur tersebut.
"Kalian sedang apa?" tanya Alvaro.
Keduanya pun menoleh, mereka membuka kaca helm serentak sembari mengembangkan senyum,
"Sedang menggoreng ikan," ucapnya bersamaan.
Bersambung ....
__ADS_1
Sekarang jadi ngerti, fungsi lain dari jas hujan. Terima kasih mama Arumi, sudah memberikan solusi😊