Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 125. Bayaran Dari Sebuah Penantian Yang Panjang


__ADS_3

"Bwa ... Bwa ... Bwa ...." ucap Abian berceloteh saat disekitarnya terdapat banyak mainan. Bima pun memperlihatkan semua mainan yang ia punya untuk Bima. Ia sangat senang, kali ini memiliki teman bermain walaupun terkadang Abian tak mengerti maksud ucapan dari Bima.


Sementara Rania, Arumi, serta Bu Isna tengah berbincang-bincang. Sesekali ia melirik ke arah Alvira dan juga Arjuna yang tengah membicarakan hal serius. Mereka bisa menilai, bahwa Arjuna begitu sangat mencintai Rania. Hal tersebut jelas terlihat bagaimana cara Arjuna menatap ke arah wanita yang ada di sebelahnya.


"Nak Arjuna kelihatannya sangat mencintai Nak Alvira. Lihatlah dari caranya menatapnya, begitu tulus dan dalam," celetuk Bu Isna memperhatikan interaksi mereka dari kejauhan.


"Iya, aku juga mengiranya seperti begitu. Maka dari itulah aku sangat setuju Rania bersama dengan Arjuna, dia adalah pria yang baik," balas Arumi.


"Aku setuju dengan mama. Arjuna sangat baik dan begitu mencintai Alvira. Sorot matanya menatap Alvira dengan penuh cinta. Semoga saja mereka berjodoh dan setelah ini Alvira bisa hidup berbahagia," gumam Rania.


"Semoga saja," ujar Arumi dan Bu Isna serentak.


"Bagaimana dengan kandunganmu? Apakah kamu masih merasa mual-mual?" tanya Arumi yang mengalihkan topik pembicaraan.


"Masih, Ma. Tetapi setelah itu, siang harinya aku pasti makan dengan porsi yang banyak. Terkadang aku baru saja menghabiskan sepiring nasi, akan tetapi rasanya masih kurang. Seperti ingin memakan sesuatu yang lainnya lagi," jelas Rania.


"Memakan sesuatu yang lain?" tanya Bu Isna mengernyitkan keningnya.


Bu Isna dan Arumi pun saling menatap, mencoba mencerna kalimat ambigu yang diucapkan oleh Rania dengan makna yang berbeda.


"Kamu bisa menjelaskan hal itu lebih detail, Sayang. Maklumlah, kami ibu-ibu yang sudah sangat berpengalaman dalam hal itu terkadang salah memaknai ucapanmu barusan," ujar Arumi sembari mengembangkan senyumnya. Sementara Bu Isna terkikik geli menertawakan ucapan Rania tadi.


"Oh, itu ... maksudnya aku ingin memakan makanan yang banyak. Hanya sepiring nasi saja rasanya tidak cukup," ucap Rania yang memperjelas kalimat sebelumnya.


"Nah, seperti itu kan baru jelas," celetuk Bu Isna.


Kedua wanita yang hampir memasuki usia lanjut itu pun langsung terkekeh. Sementara Rania, wanita tersebut hanya bisa mengusap tengkuknya. Sedikit kikuk setelah bergabung masuk dalam obrolan para emak-emak.


Fahri dan Alvaro saling melemparkan pandangannya saat melihat Bu Isna dan juga Arumi tertawa sedari tadi.


"Apa yang mereka bicarakan hingga membuat mereka tertawa terbahak-bahak seperti itu," ujar Fahri sembari menyeruput teh yang ada di hadapannya.


"Biasalah, Pa. Para wanita memang seperti itu. Kalau ada sesuatu yang menarik, pasti mereka akan membicarakannya dengan pelan. Semakin pelan suaranya, maka semakin tajam infonya," ucap Alvaro menyunggingkan senyumnya.


"Kamu pernah gabung dengan mereka? Sepertinya kamu benar-benar paham akan hal itu," ujar Fahri sembari menggelengkan-gelengkan kepalanya mendengar ucapan putranya.


"Ya ... aku hanya mengetahuinya saja, Pa. Bukan berarti aku juga ikut bergabung bersama para wanita," sanggah Alvaro meraih kopi yang ada di hadapannya, lalu kemudian menyeruputnya dengan perlahan.


Kini pandangan keduanya beralih pada Arjuna dan Alvira yang sedang berbincang-bincang yang posisinya berada cukup jauh dari mereka.

__ADS_1


"Mama sudah memberikan lampu hijaunya pada Arjuna untuk lebih dekat dengan Alvira. Apakah papa juga sepemikiran dengan mama?" tanya Alvaro menatap saudara kembarnya itu.


Fahri menghela napasnya sejenak, sebelum mengutarakan apa yang hendak ia bicarakan. "Sebenarnya papa agak berat untuk mengizinkan Alvira dekat dengan pria lain. Bukan berarti papa tidak setuju dengan Arjuna, hanya saja papa masih takut, jika saudaramu itu akan kembali tersakiti untuk yang kedua kalinya," ungkap Fahri.


"Arjuna juga sudah membicarakannya pada papa. Dan papa memberikan pencerahan, bahwa banyak gadis di luaran sana yang mengejar dirinya. Sementara Alvira hanya seorang janda beranak satu. Namun, Arjuna meyakinkan papa, dengan membandingkannya padamu," lanjut Fahri.


"Membandingkannya padaku?" tanya Alvaro dengan kening yang berkerut.


"Hmmm .... Dia berkata jika Alvaro bisa mendapatkan seorang gadis, mengapa tidak dengan Alvira yang mendapatkan pria perjaka sepertiku," papar Fahri.


Alvaro langsung terkekeh mendengar hal tersebut. Ia tidak menyangka jika Arjuna, yang terkenal pendiam sangat berani berucap demikian di depan ayah dari wanita yang ia cintai.


"Mendengar ucapan yang seperti itu, ya papa mau jawab apa? Yang dikatakan dia memang benar. Lagi pula papa juga tidak bisa melarang karena cinta itu bisa jatuh pada siapapun dan wanita manapun," sambung Fahri.


"Ya ... sebaiknya berikan saja restu papa untuk mereka. Aku yakin, Arjuna bisa dipercaya. Aku mengenalnya, dia lebih baik dari pada Andre," ujar Alvaro.


"Papa juga harap seperti itu. Sedari awal, papa agak ragu dengan Andre. Namun, karena saudaramu itu yang terlalu menginginkannya, papa juga tidak bisa melarangnya," ujar Fahri.


"Untuk yang pria satu ini, apakah papa masih meragukannya sama seperti papa meragukan Andre?" tanya Alvaro yang merasa penasaran dengan pendapat ayahnya.


"Kalau Arjuna, papa tidak meragukannya seperti meragukan Andre. Ada satu hal yang membuat papa yakin pada anak itu," ucap Fahri.


"Dia sangat gigih untuk mendapatkan Alvira. Berbeda halnya dengan Andre," jelas pria tersebut.


Alvaro menanggapi ucapan ayahnya dengan anggukan kepala. Bagiamana pun juga, ia sependapat dengan ayahnya. Arjuna memang terlalu menunjukkan rasa cintanya pada Alvira sedari dulu, sedari mereka masih kuliah. Hanya saja , karena cinta buta Alvira terhadap Andre, membuat perjuangan Arjuna tak terlihat sama sekali oleh wanita itu.


Di waktu yang bersamaan, Alvira menatap lurus ke depan. Ia bingung hendak berkata apa pada pria yang ada di sebelahnya. Entah mengapa, tiba-tiba ia merasa sedikit malu. Sedari tadi Arjuna lah yang selalu membuka bahan pembicaraan.


"Sepertinya saat dewasa nanti, Abian akan menjadi anak yang pintar, sama seperti mamanya," celetuk Arjuna sembari menatap putra dari wanita yang ia cintai tengah bermain bersama Bima.


Alvira mengikuti arah pandang Arjuna, lalu ia pun mengembangkan senyumnya menatap putranya yang tampak sangat senang diajak bermain oleh Bima.


"Dia pintar karena hidup di lingkungan orang-orang yang menyayanginya," ucap Alvira seraya mengangkat kedua sudut bibirnya membentuk sebuah lengkungan yang indah.


Arjuna terpana saat melihat Alvira tersenyum menatap putra semata wayangnya. Pria itu seakan kembali jatuh cinta lagi dan lagi setelah melihat senyuman dari wanita yang ada di sampingnya.


Alvira menoleh, ia mendapati Arjuna yang tengah menatapnya dengan seksama, membuat wanita tersebut menjadi salah tingkah.


"Alvira, ..."

__ADS_1


"Iya." Alvira menimpali ucapan Arjuna tanpa menoleh ke arah pria yang ada di sebelahnya. Ia terlalu malu, dan tatapan mata Arjuna seakan menangkapnya dan membawanya masuk ke dalam telaga bening tersebut.


"Adakah kesempatan untukku bisa mencintaimu secara nyata? Aku merasa lelah mencintaimu hanya dalam angan ku saja. Aku ingin mewujudkannya, aku ingin membiarkan hal itu terjadi. Aku ingin menggenggam tanganmu, memberikan seluruh hatiku dan memperlihatkan padamu betapa aku terlalu dalam untuk mencintaimu," tutur Juna menatap Alvira dengan serius.


Alvira mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia sedikit canggung dengan suasana ini. Wanita tersebut melihat ke sekitar, tampak orang lain tengah sibuk masing-masing dengan perbincangan mereka.


"Jun, aku ...."


"Kenapa? Apakah kamu akan menolakku untuk yang kedua kalinya? Jika kemarin aku hanya bisa mengutarakan isi hatiku melalui sebuah tulisan. Saat ini aku memberanikan diriku mengutarakannya melalui sebuah ucapan serta tindakan," ujar Juna.


"Jika kamu menolakku hanya karena dirimu seorang janda beranak satu, aku tidak mempermasalahkan hal itu sama sekali. Aku sanggup mencintaimu sekaligus mencintai putramu. Akan ku besarkan dia layaknya putraku. Jika kamu takut, jika kelak rasa cintaku akan berubah padanya setelah aku memiliki keturunan darimu. Aku rela membiarkan kita hanya memiliki Abian saja. Apakah kamu masih meragukanku?" tanya Juna bersungguh-sungguh.


Alvira bingung hendak menjawab apa. Bibirnya terasa berat untuk berucap. Sesekali ia menatap putra kecilnya yang ada di sana, tengah tertawa gembira bermain bersama Bima.


"Apakah kamu yakin bisa menerima kekurangan dan juga kelebihan ku?" tanya Alvira memastikan.


"Aku benar-benar yakin, Vira. Bukankah itu adalah definisi dari sebuah cinta? Dapat menerima kekurangan atau pun kelebihan dari pasangan kita," tutur Arjuna dengan segala kesungguhannya.


"Baiklah, aku akan mencobanya, Juna." Alvira pun menjawab ucapan Juna disertai dengan anggukan pelan.


Arjuna langsung merasa di dadanya seperti ada kembang api, serasa meletup-letup saat itu juga. Ia benar-benar merasa bahagia tiada tara. Bagaimana tidak? Penantian selama enam tahun untuk menunggu Alvira menerima cintanya, bahkan membuat Arjuna menutup hati untuk wanita lain yang berlomba-lomba mengejarnya.


Dan akhirnya, segala impian itu pun terwujud sudah. Alvira membukakan pintu hatinya untuk Arjuna, mempersilahkan Arjuna untuk masuk ke dalamnya.


Meskipun begitu, Arjuna tidak berniat hanya sekedar singgah saja. Ia ingin membuktikan bahwa pria itu pantas menjadi tuan rumah di hari Alvira. Sampai Alvira menyuruhnya untuk tetap menetap di dalam ruang hampa itu. Memenuhi ruang tersebut dengan sejuta cinta yang ia miliki.


"Terima kasih, Vira. Terima kasih karena telah memberikan kesempatan itu untukku. Aku berjanji tidak akan mengecewakanmu. Aku juga berjanji tak akan menyakiti hatimu sedikit pun," ucap Arjuna bersungguh-sungguh.


Alvira tersenyum, lalu kemudian menganggukkan kepalanya. "Buktikan padaku," ujar Alvira.


"Tentu saja," balas Arjuna yang juga ikut tersenyum.


Dari kejauhan, Arumi melihat interaksi keduanya. Wanita itu pun juga ikut mengembangkan senyum saat melihat Alvira yang juga tersenyum bersama dengan Arjuna.


"Sepertinya mereka sudah berbicara dari hati ke hati. Lihatlah senyum mereka itu seolah mengisyaratkan bahwa ada sesuatu yang baru saja terjadi diantara mereka," ucap Rania mengarahkan pandangannya pada Alvira dan juga Arjuna.


"Sepertinya memang begitu. Semoga saja, setelah ini Alvira benar-benar lepas dari bayang-bayang Andre. Anakku yang malang telah menanggung beban yang sangat berat selama ini. Ku harap, setelah ini putriku akan berbahagia dan tidak salah pilih lagi," ujar Arumi yang merasa senang.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2