
Hari libur pun telah tiba. Ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh Alvaro, mengajak kekasihnya keluar bersama dengan putra tercintanya. Alvaro mengenakan pakaian santainya, kaos berwarna putih yang dibalut dengan jaket denim berwarna hitam, serta celana jeans yang senada dengan warna jaketnya.
Sementara Bima, anak kecil tersebut tak kalah rapinya dengan sang ayah. Ia mengenakan setelan panjang berwarna hitam, serta bucket hat berwarna cream untuk mempermanis penampilannya.
Setelah Bima selesai, anak laki-laki itu langsung keluar dari kamarnya menuju ke kamar sang ayah. Ia melihat papanya memakai pakaian berwarna senada dengannya.
"Warna jaket papa dan warna baju Bima sama, Pa." Bima menunjuk jaket ayahnya dan baju miliknya secara bergantian.
"Waww, ternyata papa kalah tampan dengan Bima," ujar Alvaro memuji penampilan anaknya.
Pria tersebut menggendong Bima, lalu melihat pantulan dirinya dan sang anak di cermin. "Lihatlah! Putraku sangat tampan," puji Alvaro.
Bima tertawa, memperlihatkan deretan gigi susunya. "Bima anak papa, kalau Bima tampan berarti papanya juga tampan," celetuk bocah tersebut.
Alvaro mencium pipi gembul putranya dengan gemas. Lalu kemudian kembali menurunkan Bima dari gendongannya.
"Kita mau pergi ke mana, Pa?" tanya Bima.
"Entahlah, belum tahu. Nanti kita tanya Bu Dokter," ujar Alvaro.
"Bu Dokter ikut bersama kita juga?" tanya anak laki-laki tersebut.
Alvaro menganggukkan kepalanya sembari memasang jam tangan mahal di pergelangan tangan kirinya.
"Asyik! Bima senang Bu Dokter ikut. Bisa main-main sama Bu Dokter," ucap Bima yang terlihat sangat antusias.
"Sudah siap, Boy?"
"Siap, Pa!" seru Bima dengan bersemangat. Anak laki-laki tersebut langsung menggandeng tangan ayahnya, berjalan beriringan keluar dari tempat tersebut menuju ke unit sebelah.
Alvaro menekan bel beberapa kali. Tak lama kemudian, si penghuni rumah pun muncul dari balik pintu. Rania terlihat sangat cantik dengan ruffle top berwarna hitam, serta midi skirt berwarna beige. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai indah di permanis dengan bando yang menghiasi kepalanya.
Alvaro melihat Rania dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tak bisa dipungkiri, bahwa pria tersebut terpukau dengan kecantikan kekasihnya. Biasanya, ia melihat Rania selalu dikuncir pony tail atau dicepol. Kali ini, gadis tersebut membiarkan rambutnya di gerai sempurna, agar terlihat lebih cantik di mata sang kekasih.
"Bu Dokter, warna baju kita juga sama, punya papa juga," ucap Bima melirik satu persatu pakaian yang dikenakan oleh kedua orang dewasa yang ada di hadapannya.
Mendengar ucapan Bima, lamunan Alvaro buyar. Ia melihat Rania yang melirik ke arahnya. Tentu saja, warna pakaian yang dikenakan oleh Alvaro mengikuti warna pakaian yang akan dikenakan oleh kekasihnya. Alvaro ingin terlihat serasi bersama Rania, dengan warna pakaian yang sama. Bahkan, Alvaro juga memilihkan baju dengan warna yang sama untuk anaknya.
"Ayo kita berangkat!" ajak Alvaro yang mencoba mengubah topik lain. Pria itu takut, jika anaknya akan lebih banyak bertanya-tanya dan ujung-ujungnya mempermalukan ayahnya lagi dan lagi.
"Pa, kita mau kemana?" tanya Bima.
"Coba tanya Bu Dokter maunya kemana?" ujar Alvaro.
"Bu Dokter, kita ke mall saja ya." Bukan pertanyaan yang dilontarkan oleh anak laki-laki tersebut justru sebuah ajakan yang membuat Rania dan Alvaro terkekeh geli.
"Baiklah, ayo kita ke mall," ucap Rania sembari mencubit pelan pipi gembul Bima.
Setibanya di parkiran, seperti biasa. Bima pasti akan duduk di kursi belakang. Anak laki-laki itu seolah memberi izin pada ayahnya agar berdekatan dengan tetangganya.
__ADS_1
"Kenapa Bima selalu ingin duduk di kursi belakang?" Rania mencoba bertanya pada anak kecil tersebut.
Alvaro melirik Bima dari spion tengah. Putranya itu tampak ingin mengucapkan sesuatu, dan Alvaro hanya bisa menggigit bibir bawahnya saja.
"Dulu, kata papa, kalau Bu Dokter naik mobil kita, Bima duduknya di belakang saja. Lebih nyaman duduk di belakang," celetuk Bima yang mengingat ucapan Alvaro pertama kali memberikan tumpangan pada Rania.
"Oh, ternyata seperti itu." Rania menganggukkan kepalanya paham, dengan senyum yang tersungging di wajahnya. Pandangannya menatap sang kekasih dengan penuh arti.
"Ternyata, bukan aku saja yang licik karena kehilangan kunci mobil, rupanya kamu juga," ucap Rania yang mencoba menggoda Alvaro.
Alvaro mengusap wajahnya dengan kasar. Mungkin yang diucapkan oleh ibunya benar, jika Alvaro harus menitipkan Bima disaat mereka hendak pergi berkencan. Bima terlalu polos dan pengingat. Bahkan, putranya itu bisa melontarkan ucapan yang sama persis seperti yang diucapkan oleh Alvaro beberapa bulan yang lalu.
"Iya, kita sama-sama licik. Kali ini aku mengakuinya," ujar Alvaro yang tak bisa mengelak lagi.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, mobil yang dikendarai oleh Alvaro pun tiba di sebuah mall yang ada di kota tersebut.
Bima terlihat sangat kegirangan setibanya di sana. Anak kecil tersebut bahkan menarik tangan Rania untuk ikut bersamanya, melupakan Alvaro yang masih berada di belakang mereka.
"Bu Dokter, aku mau main," ucap Bima.
"Main apa, Sayang?" tanya Rania.
"Main ice skating, Bu Dokter."
Mendengar jawaban dari Bima, Rania hanya bisa mengembangkan senyumnya. Ia menatap ke arah Alvaro. Alvaro langsung merangkulnya, seolah menyetujui ajakan dari putranya itu.
Kini mereka tengah berada di dalam ruangan yang dipenuhi oleh salju es. Bima tampak lihai berjalan di atas lantai es dengan sepatu seluncur tersebut. Begitu pula dengan Alvaro.
"Bu Dokter, ayo sini!" seru Bima sembari melambaikan tangannya.
Rania hanya bisa menggelengkan kepalanya. Selangkah dia berjalan, maka akan dipastikan gadis itu langsung terpeleset di lantai yang licin tersebut.
"Bu Dokter tidak bisa bermain ice skating, Nak." Alvaro menimpali putranya.
"Ayo Pa, kita bantu Bu Dokternya," ujar Bima.
Alvaro mengangguk setuju. Anak dan ayah tersebut langsung menghampiri Rania. Alvaro memegang tangan kanan Rania, sementara Bima memegang tangan kiri Rania, menuntun gadis tersebut yang berjalan pun benar-benar masih kaku.
Rania hampir terpeleset, begitu pula dengan Bima yang tak mampu menopang berat tubuh gadis itu.
"Biar papa saja yang membantu Bu Dokter, Bima bermainlah!" ujar Alvaro.
Bima pun mengangguk paham. Ia mengucilkan tangan Rania dan berseluncur dengan bebas mengitari tempat tersebut.
Kini, Alvaro menggenggam kedua tangan Rania. Gadis itu berpegangan dengan erat, takut terjatuh yang berakibat membuatnya malu tujuh turunan.
"Sepertinya kamu memang sengaja menyuruh Bima pergi," celetuk Rania menatap curiga ke arah kekasihnya.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Supaya kamu leluasa memegang tanganku, bukan?" tanya Rania sembari mengangkat sebelah alisnya.
Alvaro terkekeh mendengar ucapan kekasihnya itu. Sedikit banyaknya, memang Alvaro membenarkan ucapan Rania.
"Ya, anggap saja begitu," timpal proa tersebut diselingi dengan tawa kecil.
"Hmmm ... modusnya duda, memang begini," ujar Rania seraya mencubit sedikit lengan Alvaro.
Namun, tiba-tiba Rania hilang keseimbangan. Membuat dirinya hampir terjatuh. Untung dengan sigap Alvaro menangkap pinggang ramping Rania, membuat gadis tersebut jatuh ke dalam pelukannya.
Seolah berada di dalam sebuah drama. Posisi ini, serta suasana yang tiba-tiba tampak sepi. Seolah dunia hanya milik mereka berdua, yang lain berbondong-bondong mengungsi ke planet mars.
Mata mereka beradu pandang, seolah saling menyalurkan sebuah energi yang dinamakan sengatan cinta. Mata nakal Alvaro mulai menatap bibir ranum milik Rani. Namun, tak lama kemudian ....
"Papa ... Bu Dokter ... Awass!!" Bima berseru dari kejauhan saat melihat anak seumuran dengannya meluncur begitu saja ke arah Alvaro dan Rania.
Brakkk ...
Kedua pasangan yang menganggap dunia hanya milik berdua pun langsung terpeleset, bersamaan dengan khayalan indah yang sempat singgah dalam pikiran mereka.
Alvaro meringis kesakitan karena terbentur di lantai es tersebut dan juga menahan bobot berat badan Rania yang saat ini berada di atasnya.
Rania dengan cepat bangkit dari posisinya, menghujani cubitan di lengan duda anak satu tersebut.
"Apakah ini bagian dari modusmu juga? Dasar duda genit!" cecar Rania.
"Awww ... berhentilah mencubitku. Ini bukan bagian dari modus sama sekali. Asal kamu tahu, tulang ekorku serasa ingin patah karena menahan berat tubuhmu," ujar Alvaro yang mengubah posisinya menjadi duduk.
"Aku berat karena salahmu juga yang selalu memberikan aku asupan makan enak setiap paginya," celetuk Rania.
Alvaro cukup tercengang dengan ucapan dari kekasihnya itu. Jika ada pernyataan tentang wanita yang tak pernah salah, maka pernyataan itu benar adanya. Dan Alvaro, baru saja membuktikan hal tersebut.
Bima menghampiri Alvaro dan Rania. Anak laki-laki tersebut membantu ayahnya berdiri, begitu pula dengan Rania. Namun, karena berat mereka yang tak seimbang, alhasil Bima pun juga ikut terjatuh.
Ketiga orang tersebut tertawa karena merasa lucu dengan apa yang terjadi pada mereka. Hingga salah satu orang dewasa menghampiri mereka dan membantu ketiganya untuk berdiri lagi.
"Terima kasih," ujar Alvaro.
"Iya, sama-sama."
Setelah menolong ketiganya, pria itu pun memilih untuk berlalu dari hadapan Alvaro. Sementara Rania, gadis itu sedari tadi hanya terdiam tanpa mengeluarkan suara, bahkan berucap terima kasih pada pria yang menolongnya pun tidak.
"Ada apa?" tanya Alvaro menyadari ekspresi Rania yang tiba-tiba berubah total. Gadis itu seakan membeku layaknya patung es.
"Dia ...."
"Ada apa dengan dia?" tanya Alvaro yang tampak kebingungan dengan ucapan Rania.
"Apakah kamu tidak mengingatnya?"
__ADS_1
Bersambung ....