Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 76. Kebohongan


__ADS_3

Rania, aku sudah bercerai dari istriku.


Membaca serentetan pesan tersebut membuat Rania langsung bangkit dari pembaringannya. Pesan singkat yang ia kira dari calon suaminya, ternyata pesan tersebut tak lain dari mantan kekasihnya.


"Apakah dia sudah gila? Ku rasa dia benar-benar gila. Dasar Dion gila!" cerca Rania saat kembali diusik oleh pria tersebut.


Rania langsung menekan opsi pada nomor tersebut, lalu kemudian memasukkan nomor Dion ke daftar hitam, agar pria itu tak lagi mengganggunya.


"Apa urusannya denganku jika dia bercerai dengan istrinya? Apakah berniat ingin kembali padaku, hah?! Yang benar saja!"


"Bersyukur Tuhan tidak menjodohkan aku dengannya. Ternyata rasa sakit kemarin, membawaku berjodoh dengan Alvaro, pria yang jauh lebih baik dari pada Dion!"


"Sepertinya kewarasan Dion memang perlu dipertanyakan."


Ocehan panjang Rania itu pun terhenti saat melihat panggilan masuk yang tak lain adalah dari calon suaminya. Gadis itu berdeham sejenak, mencoba untuk menormalkan suaranya yang serak akibat ocehan panjang tentang Dion tadi. Setelah itu, ia pun langsung mengusap layar ponselnya.


"Halo, Ayang." ( bucin mode on )


"Halo, aku kira kamu sudah tidur," ucap Alvaro dari seberang telepon.


"Belum, aku tidak bisa tidur," ujar Rania.


"Kenapa?" tanya Alvaro.


"Ada satu hal yang membuatku pusing," ucap gadis itu.


"Apa?" tanya Alvaro lagi, ia merasa belum puas dan belum mengerti akan jawaban dari Rania barusan..


Rania langsung menggigit bibir bawahnya karena merasa khawatir. Jika ia bercerita tentang Dion, Rania takut Alvaro menjadi emosi dan akan menghajar Dion saat itu juga. Dan Rania pun takut jika Dion akan menaruh dendam, lalu menghancurkan pernikahannya yang sebentar lagi akan digelar.


Rania tidak ingin pernikahannya batal karena ulah pria yang sama sekali tidak ada gunanya di mata Rania. Dion bukanlah siapa-siapa. Dion hanyalah sebatas masa lalu bagi Rania, tidak lebih.


"Sayang, ..." Panggilan Alvaro langsung membuyarkan lamunan Rania.


"Iya," timpal Rania.


"Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku tadi?" tanya Alvaro.


"Ah, maaf. Aku baru saja selesai membersihkan wajahku," timpal Rania berbohong. Saat ia melihat ke arah meja rias, terlintas dipikirannya akan alasan itu.


"Untuk pertanyaanmu tadi, sebenarnya itu tidak terlalu penting. Tiba-tiba perutku merasa lapar dan itu membuatku kesal."


Baiklah, kali ini kebohongan kedua yang dilontarkan oleh Rania pada calon suaminya itu. Semoga tidak ada kebohongan ketiga dan kebohongan yang lainnya.


"Mau aku masakan sesuatu?" tawar Alvaro.


"Tidak perlu. Lagi pula aku harus diet, takutnya saat di hari H nanti, gaunku tidak muat."


Terdengar kekehan kecil dari seberang telepon. Calon suaminya itu tengah menertawakannya.


"Tidak usah dipaksakan. Jika memang tidak muat, kamu bisa memakai gaun yang lainnya," ucap Alvaro.


"Aku tidak mau! Gaun itu sangat cantik. Aku ingin memakai gaun itu," ujar Rania.


"Mungkin dengan tidur, aku bisa menghilangkan rasa laparku," lanjut Rania.


"Ya sudah, kalau begitu tidurlah. Jangan lupa mimpikan aku," ucap Alvaro.


"Baiklah, aku tutup teleponnya."


Sesaat kemudian, Rania pun menutup panggilan teleponnya. Tiba-tiba perutnya merasa lapar, padahal dirinya hanya ingin berbohong kepada calon suaminya.


"Duh, perutku benar-benar lapar. Ini tidak bisa di ajak kompromi." Rania langsung bangkit dari pembaringannya. Gadis itu berjalan menuju dapur, mengambil simpanan mie instannya.

__ADS_1


"Besok saja dietnya," gumamnya.


Dan ini, menjadi kebohongan terbarunya. Kebohongan kecil yang lama-lama akan timbul kebohongan lainnya.


Sementara di waktu yang bersamaan, Alvaro kembali memandangi layar ponselnya. Terlihat sebuah pesan dari nomor yang tak dikenal baru saja masuk ke ponselnya.


Jauhi Rania, dia tetap milikku dan kamu tidak bisa merebutnya.


Melihat rentetan pesan tersebut, membuat Alvaro dapat menebak siapa yang saat itu tengah mengiriminya pesan.


"Apakah aku harus membasmi tikus curut yang satu ini? Sungguh mengganggu ketenangan ku saja," ujar Alvaro sembari menyesap kopinya.


...****************...


Keesokan harinya, Rania bangun lebih awal. Gadis itu menyematkan ear phone di kedua telinganya, berlari kecil mengitari jalanan di pagi hari.


"Seharusnya lemak karena mie instan kemarin sedikit berkurang," ujar Rania.


Ia melihat beberapa orang juga melakukan joging. Ada yang sendirian, dan ada juga yang berpasangan. "Coba ajak Alvaro ikut bergabung tadi, bukankah Bima sedang tidak ada di rumah," gumamnya sembari mengelap keringat yang ada di wajahnya.


Tak lama kemudian, Rania menghentikan larinya. Ia tertegun saat melihat seseorang yang sangat ia kenal tengah melambaikan tangan kepadanya.


"Alvaro, ..."Rania menghampiri calon suaminya itu.


"Kamu lari pagi juga?" tanyanya.


"Iya, numpung Bima sedang di rumah mama, jadi aku bisa lari pagi dan sedikit bersantai," timpal Alvaro.


"Kenapa kamu tidak membangunkan ku untuk ikut lari pagi bersamamu?" tanya Alvaro menatap calon istrinya dengan lekat.


"Aku takut mengganggumu. Lagi pula ... semalam aku tidak jadi diet, makannya aku memilih membakar lemak di pagi buta ini," ujar gadis tersebut yang memilih jujur pada calon suaminya.


"Ayo lanjut lari!" ajak Alvaro.


"Semalam ada yang mengirimiku pesan singkat," ucap Alvaro.


"Siapa?" tanya Rania.


"Si tikus curut, mantan kekasih mu yang belum bisa move on itu," timpal Alvaro.


Deggg ....


Rania cukup terkejut. Bahkan, wanita itu mengehentikan larinya saat mendengar perkataan Alvaro barusan.


"Ada apa?" tanya Alvaro penuh selidik.


"Apa katanya? Maksudku apa yang dikatakan olehnya melalui pesan singkat itu?" tanya Rania yang mulai panik.


Alvaro mulai curiga dengan ekspresi yang diperlihatkan oleh calon istrinya. Ia pun memberikan ponselnya pada Rania.


"Kamu bisa memeriksanya sendiri," ujar pria itu.


"Sandinya adalah tanggal lahirmu," imbuhnya yang kemudian memilih untuk beristirahat sejenak sembari meluruskan kakinya.


Rania terkejut Alvaro langsung memberikan ponselnya. Seolah pria itu mengikis jarak diantara mereka, seakan tak ada lagi yang namanya privasi, memberikan kepercayaan sepenuhnya pada Rania. Lantas, dapatkah Rania bersikap seperti ini juga?


Rania mulai memeriksa pesan singkat dengan nomor yang tak di kenal itu. Gadis itu menggeram kesal saat membaca pesan dari orang yang sangat menyebalkan tersebut.


Ia menjatuhkan bokongnya di samping Alvaro, sembari memperlihatkan wajah kesalnya.


"Sebenarnya aku ...."


"Tunggu di sini sebentar," ujar Alvaro.

__ADS_1


Pria tersebut berlari ke sebuah warung yang tak jauh dari tempat itu untuk membeli dua botol air mineral.


"Ini, minumlah dulu," ucap Alvaro menyodorkan salah satu botol air mineral tersebut.


"Terima kasih," ujar Rania menerima botol itu.


Rania menenggak minuman tersebut beberapa tegukan, lalu menyeka sedikit air yang membasahi bibir ranumnya.


"Sekarang, cerita kan lah apa yang ingin kamu ceritakan." Alvaro telah memasang kedua telinganya untuk mendengarkan cerita dari Rania.


"Sebenarnya semalam aku berbohong padamu. Dion kembali menghubungi ku. Ia juga mengirimkan pesan singkat, mengatakan bahwa dia telah bercerai dari istrinya. Tapi aku tidak meladeninya, aku juga tidak membalasnya."


"Aku ingin menceritakannya padamu, tapi aku takut jika nantinya kamu akan menghajar Dion dan Dion pun dendam padamu lalu merusak pernikahan kita nantinya. Aku tidak mau itu terjadi," tutur Rania panjang lebar. Ia menjelaskan semuanya pada calon suaminya tanpa ada yang harus ditutup-tutupi.


Alvaro hanya menanggapi ucapan calon istrinya itu dengan menyunggingkan senyumnya.


"Kamu marah?" tanya Rania.


Alvaro menggelengkan kepala. Pria itu mengusap rambut Rania dengan penuh kasih sayang. "Rania, Sayangku, aku tidak marah sedikit pun padamu. Aku bisa mengerti alasan dari kebohongan itu."


"Namun, tahukah kamu? Sekecil apapun kebohongan itu, maka akan tercipta lagi kebohongan yang lainnya," jelas Alvaro dengan bijak. Ia mencoba menegur calon istrinya akan tetapi dengan cara yang lembut, tidak menyakiti hati Rania.


Rania terenyuh, Alvaro memperlakukannya dengan begitu baik. Sementara dirinya? Ia memperlakukan calon suaminya itu sedikit semena-mena.


"Kamu kenapa?" tanya Alvaro saat melihat Rania yang tiba-tiba mengeluarkan air matanya.


"Sayang, maafkan aku. Apa ucapanku tadi menyakitimu? Sungguh! Maafkan aku," lanjut Alvaro yang benar-benar panik.


Rania menggelengkan kepalanya. Alvaro membingkai wajah calon istrinya, menyeka air mata yang jatuh membasahi wajah cantik sang istri.


"Seharusnya aku yang minta maaf, bukan kamu. Aku yang berbohong, tapi kamu yang minta maaf, hiks."


Alvaro terkekeh, ia pun merengkuh tubuh mungil Rania, akan tetapi gadis itu langsung menyilangkan kedua tangannya, menyuruh agar Alvaro tak memeluknya.


"Kenapa?" tanya Alvaro.


"Jangan peluk aku, aku bau keringat, aku bau asem."


Sontak Alvaro pun langsung tertawa terbahak-bahak dibuatnya. Calon istrinya ini sungguh menggemaskan, membuat Alvaro langsung mencubit pelan puncak hidung Rania.


"Tidak apa-apa, aroma keringatmu itu wangi, layaknya parfum Baccarat," ucap Alvaro.


"Berhenti mengada-ada. Kamu selalu saja begitu," ujar Rania yang mulai menghentikan tangisnya. Entah mengapa, sejak bersama Alvaro, Rania selalu memperlihatkan sikap manjanya.


"Maafkan aku karena membohongimu kemarin," ucap Rania.


"Iya, jangan diulangi lagi ya, Sayang."


Rania pun menimpali ucapan Alvaro dengan sebuah anggukan pelan, membuat pria itu kembali mengusap puncak kepala gadis tersebut.


"Kamu tidak perlu takut, aku yakin mantan kekasih mu itu tidak akan mengganggu acara pernikahan kita nanti," ujar Alvaro.


"Semoga saja," ucap Rania.


Alvaro kembali menenggak air minumnya. Pria itu tersenyum penuh arti dan sangat yakin bahwa Dion tidak akan lagi mengganggunya.


Malam itu, setelah Dion mengirimi pesan singkat kepada Alvaro, pria itu langsung bertindak. Dion seakan memberikan umpan kepada Alvaro untuk mempermudah Alvaro melakukan pencarian dengan cara melacak lokasi tempat Dion mengirimkan pesan tersebut, tentunya atas bantuan seorang hacker.


Setelah menemukannya, Alvaro langsung menelepon suruhannya untuk segera menangkap Dion dan mengurungnya di suatu tempat, berniat untuk menyekap pria itu dan setelah pernikahan tersebut dilangsungkan, barulah Dion di lepas bak peliharaan.


Sementara Alvaro, pria itu hanya duduk manis sembari menikmati kopinya, tanpa harus lelah ikut andil dalam menangani Dion.


"Kamu, salah memilih lawan," ujar Alvaro malam itu, sembari menikmati kopi yang mulai mendingin.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2