Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 39. Dokter VS Sekretaris


__ADS_3

"Duduklah!" ujar Rania mempersilakan Shinta untuk duduk di sofa. Gadis itu pun menjatuhkan bokongnya di atas benda tersebut, sementara Rania berjalan ke dapur.


Rania kembali menemui Shinta dengan wajah yang telah bebas dari masker. Tangannya membawa sekaleng minuman untuk tamunya itu.


Shinta melihat wajah asli Rania tanpa masker. Ia cukup kagum dengan Rania yang memiliki wajah yang manis dan tak terlihat membosankan jika dilihat berkali-kali.


"Ada apa?" tanya Rania sadar akan tatapan Shinta.


"Aku mengagumi wajahmu, manis dan tak bosan di pandang," ujar Shinta memberikan pujian pada Rania .


Mendengar hal tersebut, Rania pun langsung tersenyum. Ia merasa sedikit meninggi dengan pujian yang baru saja dilontarkan oleh Shinta.


"Kamu juga cantik," ucap Rania sembari tersipu malu, membuat Shinta pun terkekeh melihat ekspresi dari wanita itu.


"Sekarang aku tahu, wanita mana yang Alvaro minta untuk menggodanya. Dan bisa dipastikan bahwa tebakanku tidak akan salah," gumam Shinta pelan.


"Apakah kamu mengatakan sesuatu?" tanya Rania yang sempat mendengar suara Shinta, akan tetapi gadis tersebut tidak mengetahui apa yang dibicarakan oleh wanita yang ada di hadapannya itu.


"Tidak apa-apa," timpal Shinta singkat.


"Ah iya, perkenalkan namaku Shinta," lanjut Shinta sembari mengulurkan tangannya.


"Aku Rania." Rania menjabat tangan Shinta.


Setelah cukup lama berbincang, Rania pun mengajak Shinta, memperlihatkan kamar untuk gadis tersebut. Rania membawa Shinta menuju ke kamar tamu.


"Kamu akan menempati kamar ini. Anggaplah seperti rumah sendiri," ujar Rania.


"Terima kasih," ucap Shinta.


"Sama-sama. Kalau begitu, beristirahatlah!" ujar Rania.


Shinta menimpalinya dengan sebuah anggukan pelan. Rania pun keluar dari kamar tersebut, membiarkan tamunya untuk beristirahat.


Rania melakukan semua ini bukan tanpa alasan. Ia mencoba membuat Shinta senyaman mungkin, karena takut jika esok harinya gadis tersebut memilih untuk tidur di hotel, dan mencoba untuk menggoda Alvaro, membuat duda anak satu tersebut tak dapat menahan hasratnya. Rania tak suka jika seperti itu. Membayangkannya saja membuat Rania cemburu, apalagi jika hal itu memang terjadi.


Di lain tempat, Alvaro tengah dalam perjalanan menuju ke rumah utama. Pria tersebut sesekali menggosok keningnya gara-gara benturan yang diakibatkan oleh tetangganya tadi.


"Gadis itu benar-benar tidak sopan. Keningku sedikit bengkak akibat ulahnya," gerutu Alvaro.


Tak lama kemudian, Alvaro tiba di tempat tujuannya. Pria tersebut langsung turun dari mobil, melangkah masuk ke dalam rumah orang tuanya itu.


Alvaro melihat Bima dan Alvira tengah menonton televisi di temani dengan semangkuk es krim berukuran besar.

__ADS_1


"Kamu baru pulang?" tanya Alvira yang menyadari keberadaan saudara kembarnya itu.


"Hmmm ...," timpal Alvaro sekenanya. Pria tersebut menjatuhkan bokongnya tepat di samping putranya.


"Papa mau es krim?" tanya Bima.


Alvaro menggeleng kepalanya. "Jangan banyak-banyak makan es krim, Nak." Alvaro memperingati anaknya itu.


"Kenapa? Nanti gendut ya Pa? Seperti Tante Vira," celetuk Bima sembari menunjuk perut Alvira yang membuncit karena kehamilannya.


Alvira langsung terkekeh mendengar ucapan Bima. Begitu pula dengan Alvaro. "Bima makan es krim malam-malam nanti sakit perut, giginya juga nanti sakit lagi," tutur Alvaro.


"Baik, Pa. Tapi sedikit lagi ya Pa," ucap Bima yang mencoba bernegosiasi pada putranya itu.


"Anakmu lucu sekali, aku tidak sabar ingin melihat anakku sebesar Bima nantinya," ujar Alvira seraya mengelus perutnya.


Alvaro tersenyum perih, ia sangat prihatin akan kondisi saudara kembarnya itu. Alvaro mencoba menutupi insiden di rumah Shinta tadi, agar Alvira tak terbebani hanya karena memikirkan pria rendahan seperti Andre.


"Sudah Nak, ayo kita pulang!" ajak Alvaro.


Bima pun langsung beranjak dari tempat duduknya. Ia mengembalikan sendok yang ada di tangannya ke dapur, lalu kemudian mengambil tas yang ditinggalkannya di kamar. Selang beberapa saat kemudian, Bima pun kembali menghampiri ayahnya.


"Ayo Pa!" ujar Bima.


Bima meraih punggung tangan Alvira, lalu kemudian mengecupnya. "Bima pulang dulu ya, Tante."


"Iya, Sayang." Alvira mengusap rambut ikal pria kecil tersebut.


"Di mana mama dan papa?" tanya Alvaro yang tak melihat keberadaan kedua orang tuanya itu.


"Papa dan mama sudah tidur."


"Kalau begitu kami pulang dulu, kamu tidurlah dan jangan begadang," ujar Alvaro memperingati saudara kembarnya.


"Iya. Kalian hati-hati di jalan," kata Alvira seraya melambaikan tangannya pada Bima.


Rasa sepi yang mengusik Alvira sedikit terobati karena adanya Bima. Ibu hamil tersebut memilih untuk tidak terlalu memikirkan masalah rumah tangga yang tengah menerpanya, bahkan ia sendirilah yang juga melaporkan suaminya dengan melayangkan tuntutan penggelapan dana perusahaan.


Mustahil jika Alvira tak merasa sedih akan hal tersebut. Namun, ia mencoba untuk tetap kuat. Pria seperti Andre tak perlu ia pertahankan. Kini, dirinya harus menjaga mental dan fisiknya hanya untuk buah sang buah hati yang bersemayam di dalam rahimnya.


...****************...


Pagi ini, Alvaro kembali menekan bel pintu tetangganya itu, membangunkan Rania di pagi buta. "Apakah dia masih tidur?" gumam Alvaro.

__ADS_1


Tangannya kembali hendak menekan bel, akan tetapi tiba-tiba pintu terbuka. Memperlihatkan seorang wanita yang tengah tersenyum tipis ke arahnya, dengan make up yang lebih cetar dari hari-hari biasanya.


"Ada apa?" tanya Rania yang sedikit menaikkan dagunya, akan tetapi terkesan sedikit menggoda.


Alvaro langsung terkekeh melihat Rania yang tidak seperti biasanya. Membuat Rania mengernyitkan keningnya.


"Kenapa kamu menertawakan ku? Apakah ada hal yang lucu?" ketus Rania.


"Tentu saja, kamu tidak seperti biasanya. Penampilanmu hari ini terkesan aneh. Pasien di klinik nanti pasti akan menertawakan mu," cecar Alvaro.


Rania mendengkus kesal. Ingin sekali ia menarik rambut pria yang ada di hadapannya ini. Ia berpenampilan seperti ini untuk menarik perhatian dari Alvaro. Mengubah dirinya dengan sedikit menirukan style Shinta. Ia tak ingin kalah saing dengan Shinta.


Dua jam lamanya ia mencoba menirukan penampilan Shinta yang menurutnya sedikit aneh. Dan bahkan, Rania juga menambahkan busa penyangga br*a nya, supaya dadanya terlihat lebih berisi seperti milik Shinta.


Namun, Alvaro justru menertawakannya. Membuat Rania menghentakkan kaki dan kembali masuk ke dalam kamarnya.


Rania membiarkan pintunya terbuka. Pria tersebut memberanikan diri masuk, lalu kemudian melihat-lihat ruang tengah di tempat Rania.


Alvaro menatap foto yang terpasang di dinding, pria itu pun tersenyum samar melihat foto-foto Rania yang terpajang di ruang tengah.


"Ehemm ...."


Suara dehaman dari arah belakang, mengejutkan Alvaro. Pria itu pun membalikkan badannya, melihat sang sekretaris yang tengah mengulas senyumnya.


"Apakah dia adalah wanita yang berharap untuk menggoda bapak?" tanya Shinta pelan.


Alvaro langsung mendelik, ia menatap ke sekitar tempat tersebut. "Kecilkan suaramu. Bukankah sudah ku katakan, untuk tidak mencampuri urusan pribadiku," ujar Alvaro yang kembali memperingati sekretarisnya itu.


"Saya hanya bertanya, Pak. Apakah bapak tidak sadar dengan penampilannya tadi?" ucap Shinta.


"Apa maksudmu?" tanya Alvaro.


Shinta sedikit mendekat pada Alvaro, lalu kemudian membisikkan sesuatu di depan telinga pria itu.


"Dia baru saja menggoda bapak," ucap Shinta.


"Benarkah?" senyum di wajah Alvaro pun kembali terbit. Shinta menimpali Alvaro dengan sebuah anggukan.


Di depan pintu, Rania melihat Shinta dan Alvaro yang tampak dekat. Bahkan Shinta membisikkan sesuatu yang membuat pria itu tersenyum. Rania cemburu akan hal itu. Ia kesal melihat Alvaro bersama dengan sekretarisnya.


"Sadarlah Rania, kamu hanya tetangganya bukan siapa-siapa," lirih Rania.


Bersambung ....

__ADS_1


Cihuyyy ada yang cemburu nich🤭


__ADS_2