
Dion perlahan mengerjapkan matanya, ia melihat sekelilingnya begitu menggelap, tak ada pencahayaan sama sekali.
"Gelap? Di mana aku? Apakah aku sudah mati?" batin pria tersebut bertanya-tanya.
Perlahan, ia mengingat bagaimana kepala bagian belakangnya dihantam dengan sesuatu yang keras, hingga ia pun langsung jatuh pingsan. Dan sekarang, apakah dia sudah benar-benar mati oleh hantaman itu?
Tak lama kemudian, ada sebuah cahaya yang masuk, membuat Dion langsung mengarahkan pandangannya pada cahaya tersebut. "Apakah itu malaikat yang akan mengajukan pertanyaan padaku?" batin Dion.
"Beri dia makan supaya tidak mati."
Suara itu tertangkap oleh indera pendengaran Dion. "Apa? tadi bilang apa? Beri aku makan supaya tidak mati? Berarti ... aku belum mati," batinnya lagi.
Dion mengedarkan pandangan yang masih sedikit samar-samar. Ternyata dirinya masih melihat beberapa titik cahaya dari luar.
Ia mencoba menggerakkan tubuhnya, mendapati tangan dan kakinya yang tengah terikat dan mulutnya yang disumpal agar tidak berisik.
"Hei! Lepaskan aku!" pria itu meneriakkan kalimat demikian, akan tetapi karena mulutnya yang disumpal, kalimat itu pun terdengar tidak jelas dan hanya seperti suara teriakan biasa.
Salah seorang menghampiri Dion. Ia pun menendang bekas kaleng minuman, yang hampir mengenai wajah Dion. Pria itu takut, sekujur tubuhnya gemetar.
"Diam! Jangan berisik atau aku lempar kamu ke empang biar di kerumunin sama lele jumbo, mau?" ketus pria kekar tersebut.
Dengan cepat Dion pun menggeleng-gelengkan kepalanya. Ancaman yang ia buat melalui pesan singkat kepada Alvaro, seakan hanya omong kosong belaka. Bahkan, dengan ikan lele pun Dion takut.
Pria kekar itu berjalan menjauhi Dion. Sementara Dion, harus pasrah menerima nasibnya di sekap. Ia tidak lagi bersuara, takut jika pria kekar itu benar-benar akan melemparkannya ke empang dan menjadi santapan ikan lele.
....
"Tante, ... Nenek, ... Abian pipis!" seru Bima yang langsung memanggil Alvira dan Arumi.
Anak laki-laki itu sudah menghabiskan dua hari di rumah utama, bahkan ia seakan lupa dengan keberadaan ayahnya di rumah karena sibuk mengurusi adik kecilnya itu.
"Sini biar Nenek yang ganti, Tante lagi di kamar mandi," ucap Arumi mengganti popok si kecil Abian.
Setelah selesai menggantinya, Arumi pun membawa Abian dan menggendongnya. Bima terlihat sangat antusias ketika Abian di gendong oleh neneknya.
"Nek, Bima mau cium, Nek." Bima sedikit melompat-lompat.
"Cium Adek Bian atau cium nenek?" tanya Arumi.
"Cium dua-duanya," timpal Bima.
Arumi terkekeh, ia pun langsung menurunkan sedikit badannya, hingga tergapai oleh Bima. Anak laki-laki itu langsung mendaratkan kecupan di pipi Abian dengan singkat.
"Cium Nenek juga, Nenek cemburu nanti kalau yang di cium hanya Bian," ujar Arumi sedikit mengerucutkan bibirnya.
Bima tersenyum, lalu kemudian mencium pipi Arumi yang mulai mengeriput.
"Sebelahnya," ucap Arumi.
"Abian ciumnya hanya di sebelah, Nenek. Kalau nenek mau dua-duanya, nanti Abian cemburu," ujar Bima.
"Ya sudah, cium pipi Abian yang sebelah lagi, lalu cium pipi Nenek," ucap Arumi yang sedikit memaksa.
Bima pun segera beralih ke sisi kiri, lalu kemudian mendaratkan bibirnya di pipi gembul Abian. Ia juga mencium neneknya yang sedari tadi sudah menyerahkan pipinya itu.
Alvira baru saja keluar dari kamar mandi. Ia tersenyum melihat Bima yang sangat menyayangi putranya itu.
"Bima mau punya adik lagi?" tanya Alvira.
__ADS_1
"Iya, Tante." Bima menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, suruh papa membuatkan adik untuk Bima," celetuk Arumi.
"Membuat adik? Bagaimana caranya, Nek?" tanya Bima dengan wajah polosnya.
Alvira dan Arumi pun langsung terkekeh mendengar pertanyaan dari anak laki-laki tersebut.
"Dari tepung terigu, Sayang." Alvira menimpali ucapan Bima.
"Nanti langsung bilang saja ke papa, biar papa yang buat ya," bujuk Arumi.
"Baik, Nenek. Nanti Bima langsung minta ke papa," ujar Bima dengan polosnya yang membuat Arumi dan Alvira terkekeh geli.
Tak lama kemudian, Bima langsung pergi ke kamarnya. Ia mengambil ponsel yang tergeletak di atas kasurnya itu, lalu kemudian mencari kontak ayahnya dan langsung menelepon Alvaro melalui panggilan video.
Sesaat kemudian, Alvaro pun mengangkat panggilan video dari putranya itu. Terlihat dari layar ponsel Bima, Alvaro tengah berada di kantor.
"Ada apa, Boy?" tanya Alvaro.
"Papa ... Papa ... Bima mau dibuatkan adik," ujar Bima yang tanpa berbasa-basi lagi.
Di waktu yang bersamaan, Alvaro tengah mengobrol dengan putranya itu langsung mengusap wajahnya dengan kasar. Pasalnya, Bima berucap demikian saat di ruangannya ada Juni dan Shinta.
"Pa, janji ya buatkan Bima adik," ucap anak laki-laki itu masih membujuk ayahnya untuk mengabulkan permintaannya.
Alvaro melirik ke arah Shinta dan Juni yang sudah menahan tawa sedari tadi mendengar permintaan Bima.
"Iya, Nak. Nanti ya," ujar Alvaro.
"Bima sudah makan?" tanyanya yang mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Sudah, Pa. Tapi papa jangan lupa ya nanti buatkan adik untuk Bima." Lagi dan lagi Bima menagih hal tersebut.
Tak lama kemudian, panggilan pun terputus. Alvaro menatap asisten dan sekretarisnya dengan tatapan tajam.
"Berhenti menertawaimu!" titah Alvaro geram. Kedua orang tersebut langsung membekap mulutnya sendiri dan berusaha untuk menyembunyikan tawanya.
"Atur semua jadwal saya, untuk satu minggu, setelah pernikahan, saya ingin menghabiskan waktu saya bersama istri saya terlebih dahulu," ujar Alvaro.
"Untuk sementara waktu, kalian saling bekerja sama. Jika ada sesuatu yang ingin ditanyakan, hubungi saya saja. Tetapi, saya tidak akan menerima panggilan lebih dari tiga kali!" titah Alvaro.
"Baik, Pak." Keduanya menjawab dengan serentak.
"Kalau begitu, kalian boleh pergi."
Shinta dan Juni pun pergi dari ruangan sang atasan. Mereka kembali melanjutkan tawa yang sempat tertunda tadi.
"Lihatlah, Pak Bos sepertinya sangat malu karena permintaan anaknya di depan kita tadi," ucap Shinta.
"Tentu saja. Jika aku berada di posisinya, mungkin aku akan kehilangan muka," balas Juni.
"Sepertinya anak Pak Bos sudah tidak sabar ingin seorang adik laki-laki."
"Ya, wajar saja. Pak Bos sudah lima tahun menjadi seorang duda. Jika pria lain, kemungkinan sudah memiliki istri lagi. Sudahlah, jangan membahas Pak Bos lagi, aku tidak ingin gajiku di potong hanya karena membicarakannya," ucap Juni.
"Baiklah."
Keduanya pun melangkah menuju ke meja kerja mereka masing-masing, melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
__ADS_1
...****************...
Hari demi hari pun telah berganti, tak terasa besok adalah hari besar untuk Rania dan juga Alvaro, yang akan melangsungkan pernikahan mereka, berucap janji setia, sehidup dan semati.
Malam itu, Rania menatap langit-langit kamarnya. Rasa gugup akan menyambut hari esok pun masih menghantuinya.
Pandangannya teralihkan pada ponselnya yang baru saja berdering, memperlihatkan si penelepon yang tak lain adalah calon suaminya sendiri.
"Lagi apa?" tanya Alvaro.
"Aku gugup, besok adalah hari pernikahan kita," ujar Rania.
"Jangan gugup, rileks saja. Bukankah itu adalah hak yang menyenangkan. Jika menyambut hari pernikahan saja gugup, bagaimana nanti menyambut hal yang lainnya," ucap pria itu dari seberang telepon.
"Hal yang lainnya? Apa maksudmu?" tanya Rania yang memang tidak mengerti akan ucapan Alvaro.
"Nanti kami akan mengetahuinya sendiri," balas pria itu yang sukses membuat Rania berdecak sebal.
"Nanti, nanti, dan nanti, selalu saja kamu berkata seperti itu di saat aku meminta penjelasan yang lebih," gerutu Rania seraya mencebikkan bibirnya.
Alvaro pun langsung tertawa mendengar ocehan wanitanya itu.
"Tidak usah tertawa! Karena tidak ada hal yang lucu," ucap Rania.
"Mama dan papa mana? Apakah mereka sudah tidur?" tanya Alvaro lagi.
"Iya, mereka sedari beberapa hari yang lalu sibuk mempersiapkan semuanya. Mamamu juga begitu kan?"
"Hmmm ....." Alvaro menimpali.
"Ya sudah, tidurlah! Jangan begadang untuk mempersiapkan esok hari," ujar Alvaro.
"Iya ... iya. Kamu juga," balas Rania.
"Selamat tidur, calon istriku. Hmmm ... besok aku sudah bisa menghilangkan kata calon untuk panggilan ini," ucap Alvaro.
"Aku juga tidak menyangka, berjodoh dengan tetanggaku sendiri. Sudah ya, aku tutup teleponnya."
Sambungan telepon pun terputus. Rania menghela napasnya, lalu kemudian meletakkan ponselnya di atas kasur.
"Besok aku akan menikah, sungguh! Aku benar-benar gugup sekaligus bahagia," gumam gadis.
Tak lama kemudian, terdengar suara notifikasi dari ponselnya. Rania kembali meraih benda pipih tersebut. Ia mengernyitkan keningnya saat Alvaro mengirimkan sebuah video padanya.
"Apakah ini video ucapan selamat tidur?" gumam Rania.
Belum sempat Rania membuka pesan tersebut, tiba-tiba Alvaro kembali mengiriminya pesan lagi.
Persiapan untuk besok agar tidak terlalu gugup.
Membaca pesan melalui layar tampilan jendela ponselnya, membuat Rania bertanya-tanya, apa video yang dikirimkan oleh Alvaro.
Tangannya pun tergerak memutar video yang dikirimkan oleh Alvaro. Seketika Rania langsung membelalakkan matanya, sumpah serapah pun ia lontarkan begitu saja pada pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
Lagi-lagi pesan singkat dari Alvaro kembali muncul di tampilan jendela layar ponselnya itu.
Maaf, sengaja. Sekalian belajar untuk persiapan selanjutnya.
"Dasar Alvaro sialan! Pria mesum!" ucapan itu lolos begitu saja dari bibir Rania.
__ADS_1
Bersambung ....
Belajarnya yang rajin ya, Rania 🙈