
Perlahan Rania membuka matanya. Ia menatap ke sekelilingnya, mendapati bahwa dirinya tertidur di dalam kamar.
Wanita itu bangkit dari pembaringannya, perut yang mulai membuncit membuat dirinya sedikit kesusahan untuk bangun.
"Astaga sudah jam 3 sore, pasti Bima mencariku tadi," gumam Rania yang langsung beranjak dari tempat tidurnya.
Sambil memegangi perutnya, Rania berjalan menuju ke kamar Bima. Saat masuk ke dalam ruangan tersebut, ia tak mendapati Bima di dalam kamarnya. Namun, indera penglihatannya menangkap tas yang Bima pakai tadi pagi, pertanda bahwa putranya berada di rumah, bukan tinggal bersama Arumi.
"Di mana dia?" gumam Rania mengedarkan pandangannya, memilih untuk kembali menutup pintu kamar Bima.
Ibu hamil itu menuruni anak tangga dengan sangat hati-hati. Melihat salah satu pelayan yang baru saja lewat, membuat Rania pun memanggil pelayan tersebut.
"Bik, apakah Bibi melihat Bima?" tanya Rania.
"Den Bima tadi sedang menonton televisi di ruang keluarga," timpal pelayan tersebut.
"Dia sudah makan, Bi?" tanya Rania lagi.
" Kata Den Bima, dia ingin makan bersama Nyonya saja," jawab pelayan tersebut.
Hati Rania langsung tersentuh mendengar perkataan dari pelayan tersebut. Seharusnya putranya sudah mengisi perut sedari tadi tanpa harus menunggunya. Namun, Bima dan Alvaro memiliki watak yang sama.
Rania langsung bergegas menuju ke ruang keluarga. Setibanya di sana, ia mendapati Bima yang tengah tertidur pulas dengan televisi yang masih menyala.
"Ya ampun, Nak. Pasti kamu sangat lapar karena menunggu mama. Maafkan mama, Nak." Rania duduk di samping Bima, mengusap puncak kepala sang putra dengan lembut.
Usapan Rania membangunkan Bima. Ia langsung duduk saat melihat ibunya yang berada di samping. "Mama sudah bangun?" tanya Bima.
"Iya, Nak. Mama sudah bangun. Kamu sudah makan, Sayang?" tanya Rania.
"Belum, Ma. Bima ingin makan bersama mama," timpalnya sembari menggelengkan kepala.
"Ya sudah, kalau begitu ayo kita makan dulu!" ajak Rania.
Bima menganggukkan kepalanya dengan antusias, beranjak dari tempat duduknya lalu kemudian menggenggam tangan Rania, berjalan menuju ke dapur.
"Kita ini makan siang ya, Ma? Tapi hari sudah sore," ucap Bima seraya menarik kursinya dan menjatuhkan bokongnya di sana.
"Ya ... anggaplah kita makan siang menjelang sore," ujar Rania.
Keduanya pun terkekeh. Lalu kemudian menikmati hidangan yang ada di atas meja. Bima tampak makan dengan lahap, terlihat jika anak laki-laki itu kelaparan.
"Bima menunda makan menunggu mama bangun karena disuruh papa ya?" tanya Rania yang mencoba menebak-nebak. Ia takut Alvaro menyuruh putra sambungnya melakukan hal demikian.
"Tidak, Ma. Ini semua keinginan Bima, Ma. Papa hanya berpesan untuk tidak merepotkan mama, hanya itu saja," ucap Bima sembari memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Syukurlah kalau begitu. Mama tidak ingin Bima merasa terkekang hanya karena aturan yang dibuat papa," ujar Rania.
__ADS_1
Mereka kembali menikmati makanan yang tersaji di atas meja. Rania teringat, hanya Bima yang belum diberitahu bahwa saat ini dirinya hamil anak kembar.
"Bima, mama ingin tanya satu hal sama Bima," ucap Rania kembali membuka topik pembicaraan.
"Apa Ma?"
"Bima ingin punya adik berapa?" tanya Rania.
"Punya adik dua Ma, tapi kalau mama hanya ada satu adik, Bima juga merasa senang," ucap Bima.
"Kalau dia adik, Bima mau laki-laki atau perempuan?" tanya Rania lagi.
"Laki-laki atau perempuan sama saja, Ma."
"Kalau misalkan adik Bima kembar, Bima berharap adik Bima laki-laki atau perempuan?"
"Apakah adik Bima kembar, Ma?" kini anak laki-laki itu yang berbalik melontarkan pertanyaan.
Rania tersenyum, lalu kemudian menganggukkan kepalanya. Bima pun langsung bersorak gembira. Raut kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya.
"Yeyyy ... akhirnya Bima punya dua adik. Bima sangat senang ... Bima sangat senang," ucapnya dengan bersemangat.
"Kalau adiknya kembar, Bima berharap adik Bima laki-laki dan perempuan, Ma. Tetapi jika harapan Bima yang satu ini tidak terwujud, tidak apa-apa. Karena Bima akan menyayangi adik-adik Bima nantinya," lanjutnya.
"Iya, Nak. Habiskanlah makanan Bima. Nanti malam nenek akan berkunjung ke sini," ujar Rania.
"Iya, Sayang." Rania menimpali disertai dengan anggukan kecil.
Bima dan Rania kembali menikmati makanannya dengan tenang. Senyum terus terpatri di wajah Bima, anak laki-laki itu sangat bahagia mendengar kabar baik yang baru ia dengar.
....
Matahari pun mulai menyembunyikan sinarnya, berganti dengan sang rembulan yang memancarkan sinar dalam kegelapan malam.
Malam ini, suasana di kediaman Alvaro tampak sangat ramai. Kehadiran kedua orang tuanya, serta saudara kembarnya menciptakan suasana yang sedikit berisik.
Bima tak henti-hentinya memamerkan pada kakek, nenek, dan juga tantenya bahwa ia akan mendapatkan adik kembar. Bahkan anak laki-laki itu menceritakannya pada Abian yang belum mengerti apa-apa tentang ucapan yang dilontarkan oleh abangnya.
"Kalau adiknya lahir, Bima tidak akan main sama Abian lagi?" tanya Alvira sembari memegangi putranya.
"Bima akan main bersama semua adik-adik Bima. Bima kan Abang mereka, Tante. Bima tidak ingin membeda-bedakannya," ujar Bima menimpali ucapan Alvira.
Semua orang yang ada di sana merasa Bima lebih bersikap dewasa. Tentu saja karena didikan dari orang tuanya Bima bisa bersikap seperti itu.
"Kalian mendidik Bima dengan sangat baik," celetuk Arumi yang ditujukan pada Alvaro dan Rania.
"Lebih tepatnya didikan Mas Varo, Ma. Aku menemui Bima sudah sebesar ini, tentunya Mas Alvaro lah yang lebih banyak mendidik Bima dibandingkan aku," jawab Rania.
__ADS_1
"Bima seperti itu karena didikan orang-orang di sekitarnya, Ma. Didikan dari Rania, dari mama dan papa maupun Alvira, dan juga di lingkungan sekolahnya. Aku sibuk bekerja, jadi salah besar jika dia bersikap seperti itu hanya karena didikan ku saja," balas Alvaro sembari mengusap puncak kepala istrinya.
Pandangan Arumi teralihkan pada perut menantunya yang sudah membuncit. Ia pun tersenyum, lalu kemudian mengusap perut Rania.
"Ternyata kalian double ya. Kalau triple sepertinya tambah seru," celetuk Arumi.
"Sayang, jangan tawar-menawar terus," tegur Fahri yang membuat semua orang tertawa mendengarnya.
"Iya, Ma. Kasihan istriku. Mengingat saat Diara melahirkan Bima saja, aku gemetaran. Itu hanya satu bayi. Apalagi Rania yang harus melahirkan dua bayi. Dan sekarang, mama minta triple?" sambung Alvaro.
"Mama hanya bercanda, Sayang. Jangan berbicara seperti itu," ucap Rania sedikit menepuk lengan Alvaro.
"Iya nih, papa dan Alvaro terlalu serius. Bahkan candaan mama saja dianggap sungguhan," tukas Arumi.
Tak lama kemudian, pembicaraan mereka teralihkan dengan ponsel milik Alvira yang tiba-tiba saja berdering. Alvira tersenyum menatap layar ponselnya, lalu kemudian mengangkat panggilan video tersebut.
"Aku sedang di rumah Varo," ucap Alvira berbicara pada seseorang dari seberang telepon.
Arumi sedikit meninggikan lehernya, mencoba untuk mengintip dan ternyata si penelepon itu tak lain adalah Arjuna.
"Menantuku, ayo ke sini! Kita lagi kumpul-kumpul," celetuK Arumi.
Sontak Alvira pun mengarahkan pandangannya ke belakang, melihat ibunya yang sudah ikut nimbrung. Sementara pria yang ada di seberang sana, terlihat tengah tersenyum. Saat ia tertawa, mata Arjuna tampak tak terlihat karena memang pria tersebut memiliki mata yang sipit.
"Aku sedang di kantor, Ma." Arjuna menimpali wanita itu, memanggil Arumi dengan sebutan 'mama'.
Sontak semua orang yang ada di sana langsung heboh. Terdengar sorak Alvaro yang terdengar paling nyaring saat mendengar Arjuna berucap demikian.
"Papanya Abian kenapa di kantor? Lembur ya?" celetuk Alvaro dengan nada yang sedikit mengejek, membuat Arjuna menutupi wajahnya menahan rasa malu.
Bima mendengar orang-orang dewasa tampak terlihat heboh, membuat anak laki-laki berambut ikal itu pun langsung ikut bergabung
"Om Juna papanya Abian ya, Pa?" tanya Bima pada Alvaro.
Alvaro pun langsung mengiyakan ucapan anaknya, supaya tidak terlalu banyak bertanya. Namun, tampaknya perkiraan Alvaro salah besar, karena Bima kembali mengajukan pertanyaan kedua.
"Bukankah Tante Alvira dan Om Juna berteman? Kenapa bisa menjadi papa Abian?" tanyanya lagi.
"Ya, bisa saja. Nanti Bima akan mengetahuinya setelah dewasa," timpal Alvaro.
Bima hanya menganggukkan kepalanya, dan anak laki-laki itu kembali mengajukan pertanyaan yang ketiga.
"Kalau Om Juna dan Tante Vira menjadi papanya Abian, apakah Om Juni juga bisa Bima panggil papa? Papa dan Om Juni kan berteman?"
"Hah?!" Alvaro langsung tercengang mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Bima, begitu pula dengan yang lainnya juga memasang ekspresi yang sama.
Bersambung ....
__ADS_1