
Grepp ... Greppp ...
Derap langkah kaki begitu terdengar jelas di indera pendengaran Dion. Penglihatannya selalu gelap karena memang matanya yang selalu tertutup. Bulu kuduk Dion merinding disko, saat mendengar beberapa orang yang tengah mendekat ke arahnya. Terdengar dari suara langkah yang tidak hanya satu, tapi ada beberapa.
"Mau apa lagi kalian? Lepaskan saya!" tukas Dion yang mencoba untuk melepaskan diri akan tetapi ikatan pada tangan dan kakinya terlalu kuat hingga Dion pun tak bisa bergerak.
Ketiga pria bertubuh gempal itu saling melemparkan pandangan satu sama lain, memberikan kode untuk melakukan tugas selanjutnya. Tak lama kemudian, salah satu dari mereka membekap mulut dan hidung Dion menggunakan saputangan yang sudah dibubuhi obat bius. Hingga pria itu pun terkulai lemas dan tak sadarkan diri akibat obat bius itu.
Ketiga pria tersebut mulai melepaskan ikatan tangan Dion. Setelah semua ikatan terlepas, salah satu dari mereka pun membawa tubuh Dion menuju ke mobil. Sementara yang lainnya, juga ikut masuk ke dalam mobil.
Mobil Jeep berwarna merah itu pun langsung melaju, membelah jalanan sepi di malam hari.
Dion di keluarkan dari mobil tepatnya di tempat saat mereka menangkap Dion kemarin. Kedua pria bertubuh gempal tersebut langsung melemparkan Dion ke arah semak-semak. Setelah memastikan Dion diturunkan, pria gempal yang satunya lagi pun langsung menginjak pedal gas mobilnya, mempercepat laju kendaraannya agar tak ada yang melihat.
Mobil Jeep tersebut terhenti tak jauh dari sungai yang tampak sepi. Ia melihat seseorang yang ada di dalam mobil sedan yang ada di depannya. Salah satu dari pria bertubuh gempal itu pun menghampiri, dan mengetuk pintu kaca mobil tersebut.
Pria memakai topi hitam membuka kaca mobilnya, lalu memberikan amplop berisi uang tanpa menoleh atau pun memperlihatkan wajahnya.
"Apakah kalian sudah membereskan semuanya dengan baik?" tanya pria tersebut.
"Sudah Bos. Kami bisa memastikan semuanya rapi tanpa tersisa," jawab pria bertubuh gempal tersebut.
Terlihat pria itu menarik sudut bibirnya, tersenyum dengan licik. Ia pun kembali menutup pintu kaca tersebut, lalu kemudian memilih untuk pergi dari tempat tersebut, meninggalkan pria yang telah ia bayar tadi.
Ia menepikan mobilnya sejenak, merogoh ponsel yang ada di dalam sakunya, lalu kemudian mengirimkan sebuah pesan singkat kepada seseorang.
Di waktu yang bersamaan, Alvaro tengah tertidur lelap. Tak lama kemudian, terdengar notifikasi pesan singkat dari ponselnya. Alvaro yang mendengarnya pun langsung membuka mata, meraih benda pipih yang ada di atas nakas.
Arjuna
Target sudah dibebaskan dan dilepas ke tempat semula seperti permintaanmu.
Membaca deretan pesan singkat itu pun, membuat Alvaro menarik segaris senyum licik di wajahnya.
__ADS_1
"Sekarang, masih mau mengejar wanita yang sudah menjadi istriku? Langkahi dulu mayatku, Dion." pria itu berucap dalam hati.
Alvaro kembali meletakkan ponselnya. Ia memandangi wajah istrinya sejenak, menyibak anak rambut yang menutupi wajah sang istri, lalu kemudian beralih ke putranya, mengusap rambutnya anak laki-laki itu dengan penuh kasih sayang.
.....
Dion perlahan membuka mata. Kepalanya masih sedikit pusing. Pria tersebut terduduk, lalu mengedarkan pandangannya. Ia dikejutkan dengan ular kecil yang ada di sampingnya, sontak membuat Dion pun langsung berdiri dan sedikit meloncat-loncat.
"Ular sialan! Pergi kamu!" tukas Dion meraih ranting kecil yang tak jauh darinya untuk senjata mengusir ular tersebut. Sesaat kemudian, ular itu pun pergi dari tempat itu.
Dion mengedarkan pandangan. Ia teringat, terakhir kali dirinya di sekap di gudang, dan sekarang ia berada sama persis seperti awal dirinya di culik.
"Siapa yang berani mempermainkan aku!" geram Dion.
Pria itu menundukkan kepalanya, melihat bajunya yang kotor serta ada beberapa daun kering yang menempel.
"Lihat saja, aku akan membuat perhitungan pada mereka yang berani menyekapku kemarin," lanjut pria tersebut yang hanya berani dari jauh saja. Saat berhadapan langsung dengan para preman kemarin, dirinya bak kerupuk yang lupa dimasukkan ke dalam kaleng Khong Guan.
Dion memilih pergi dari tempat tersebut. Meraba dompet yang ada di sakunya, akan tetapi dompetnya tak tahu dimana tempatnya.
Dion mengusap wajahnya dengan kasar. Kali ini dia benar-benar dalam kesulitan. "Sebaiknya aku pulang saja, semoga Tika masih mau menerimaku," ujarnya.
Pria itu pun berjalan kaki menuju ke rumahnya. Hal itu terpaksa ia lakukan karena tak ada pilihan lain.
Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu berjam-jam, Dion tiba di rumah megah yang tak lain adalah rumah milik Tika, sang istri. Meskipun seorang dokter, bisa dikatakan Dion menumpang hidup saja dengan Tika. Kesuksesan yang ia raih hingga sampai saat ini, dari wanita tersebut. Maka dari itu, Dion sempat meninggalkan Rania hanya demi mengejar harta.
Satpam yang berjaga di depan rumah langsung membukakan pintu untuk Tuannya. Dion berjalan ke dalam rumah, ia melihat suasana rumah tampak sepi karena memang hari sudah larut malam. Dion menaiki tangga, berjalan menuju ke kamar.
Ceklekkk ....
Pintu tidak terkunci. Dion pun langsung masuk begitu saja, melihat istrinya yang tengah tertidur pulas. Istri? Ralat! Yang benar adalah mantan istri.
Dion berjalan menuju ke lemari pakaian. Ia berencana ingin mandi dan mengganti pakaiannya di kamar mandi. Saat membuka lemari, pria itu cukup tertegun karena tak melihat satu setel pun pakaian di dalam lemari itu.
__ADS_1
"Kamu mencari pakaianmu?"
Dion menoleh, ia melihat Tika yang rupanya tidak benar-benar tidur. Sejak tadi rupanya wanita tersebut memperhatikan gerak-gerik Dion.
"Di mana semua pakaian ku?" tanya Dion.
"Kenapa kamu datang ke sini? Bukankah kita sudah bercerai? Semua barang-barang mu sudah aku bakar karena kamu tidak mengambilnya beberapa hari terakhir, jadi aku pikir memang sudah tidak berguna lagi," tutur Tika.
"Kamu ...." Dion mengepalkan tangannya. Lagi-lagi ia mendapati kesialan berada di sini.
"Sebaiknya kamu pergi saja, sebelum aku meminta satpam untuk menyeretmu!" tukas Tika.
"Tika, kamu tidak bisa melakukan aku seperti ini. Bagaimana pun juga, aku masih menjadi kepala di rumah sakit. Kamu tidak boleh bertindak semaunya seperti ini!" balas Dion yang tak mau kalah.
"Kepala rumah sakit? Ck!" Tika menggelengkan kepalanya, keputusan bercerai dari pria benalu seperti Dion memang keputusan yang tepat.
"Kamu dipecat dari rumah sakit! Jangan harap bisa menginjakkan kakimu di rumah sakit, atau pun di rumah ini!" tukas Tika.
"Kamu tidak boleh seperti itu. Sedikit banyak, aku membantumu, membantu ayahmu untuk menggantikan posisinya, setidaknya aku memiliki persenan atas perjuangan ku selama ini," protes Dion.
Tika langsung tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan mantan suaminya. Dion benar-benar luar biasa. Jika di sinetron, wanita yang sering meminta harta gono-gini. Namun, yang ditemui kali ini adalah seorang pria yang menagih secara langsung.
"Persenan apa yang kamu harapkan? Kamu banyak menikmati fasilitas, duduk santai selama ini. Dan yang membuatmu hancur adalah ulahmu sendiri. Sekarang, nikmatilah kehancuran mu!" tukas Tika.
"Satpam!! Satpam!!! Tolong bawa orang asing ini keluar dari rumah!" seru Tika.
Dua satpam yang berjaga pun langsung menyeret Dion. "Baik, jika ini maumu, Tika. Aku pastikan kamu akan menangis darah karena aku akan mendapatkan wanita lebih baik darimu! Aku akan kembali pada Rania yang merupakan gadis, tidak seperti dirimu yang hanya seorang janda!"cecar Dion.
Mendengar hal tersebut, Tika kembali menertawakan pria menyedihkan yang ada di hadapannya.
"Kamu dari mana saja? Baru keluar dari goa? Mantan kekasihmu itu sudah menikah dengan pria yang kaya raya. Silakan menyombongkan dirimu sebagai pria yang paling menyedihkan! Segera bawa dia keluar dan jangan terima jika dia ingin masuk!" tukas Tika memerintahkan satpam yang bekerja.
Dion pun langsung di seret secara paksa. Jangankan mendapatkan persenan, bahkan pakaian selembar pun sudah tak ia miliki lagi.
__ADS_1
"Rania, ternyata kamu telah menikah? Hah?! Menyesal aku menceraikan wanita itu hanya demi kamu. Dan sekarang, aku menjadi pria yang benar-benar menyedihkan," keluh Dion meratapi nasib sialnya.
Bersambung ...