Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 180. Kucing-Kucingan


__ADS_3

Siang ini, Shinta dan Juni seolah tengah bermain kucing-kucingan. Setelah menerima pesan singkat yang dikirimkan oleh sang kekasih, Shinta langsung beranjak pergi dari kursinya, dengan dalih hendak memfotokopi beberapa dokumen yang ada di tangannya.


Gadis itu melewati meja kerja kekasihnya yang telah kosong, ia pun tersenyum, dengan begitu Jun sudah menunggunya di tempat biasa..


Rania tetap membawa dokumen yang ada di tangannya, masuk ke dalam salah satu pintu yang terhubung langsung dengan tangga darurat.


Dengan berhati-hati, ia turun satu lantai menggunakan tangga darurat tersebut hanya untuk menemui pria idamannya yang sedari tadi telah menunggu kedatangannya.


Benar saja, Juni tengah mendudukkan dirinya di salah satu anak tangga yang ada di sana. Mendengar suara hak sepatu yang datang menghampirinya, membuat pria tersebut langsung mendongakkan wajahnya, tersenyum menatap sang pujaan hati yang baru saja tiba di tempat yang telah dijanjikan sebelumnya.


"Sudah lama menungguku?" tanya Shinta.


"Tidak, aku baru saja ke sini setelah mengirimkan pesan singkat padamu tadi," timpal Juni.


"Apa ini? Kenapa kamu membawa berkas-berkas tersebut ke sini?" tanya Juni sembari mengernyitkan keningnya.


"Tidak apa-apa. Hanya untuk alasan jika ada yang tanpa sengaja melihat kita nanti," jawab Shinta.


"Cerdas!" puji Juni seraya mengacungkan ibu jarinya untuk kekasihnya itu.


Mendapat pujian itu, Shinta tertunduk dengan wajah memerah karena tersipu malu. Setidak penting apapun kata cerdas yang diucapkan oleh Juni, tetap saja amat berharga untuk Shinta yang tengah dilanda asmara.


"Kenapa kamu menunduk seperti itu? Apakah kamu baru saja tersipu malu?" tanya Juni dengan suara yang sedikit menggoda Shinta.


Shinta mengangkat map yang ada di tangannya, hingga menutupi separuh wajahnya. Sesaat kemudian, gadis tersebut menganggukkan kepala, pertanda membenarkan ucapan sang kekasih barusan.


"Aaaa ... Lucunya pacarku." Juni mencubit pipi Shinta yang sedikit berisi dengan gemas. Entah mengapa sikap manja Shinta terlihat sangat jelas setelah mereka meresmikan hubungan sebagai sepasang kekasih.


"Sayang, ihhh ... Sakit tahu! Sini aku cubit juga pipi kamu." Kini giliran Shinta yang mencubit pipi Juni.


Namun, cubitan itu terasa sedikit berbeda. Jika Juni rasa cubitan yang ia lakukan tadi hanyalah cubitan kecil, akan tetapi yang dilakukan Shinta sedikit bertenaga, hingga menarik separuh pipi Juni, membuat pria tersebut sedikit mengerucutkan bibirnya layaknya ikan lele.


"Sepertinya kamu sudah makan ya? Cubitanmu sedikit bertenaga," celetuk Juni yang sengaja menyindir Shinta.


"Aku belum makan. Lagi pula ini kan belum jam makan siang. Nanti setelah aku makan, aku cubit lagi, supaya kamu bisa membedakannya nanti," timpal Shinta.

__ADS_1


"Ah, tidak perlu repot-repot. Cukup sekali saja, aku tidak akan memintanya lagi," balas Juni.


Shinta terkekeh, hingga beberapa saat kemudian keduanya pun terdiam.


"Sampai kapan kita kucing-kucingan seperti ini?" tanya Shinta yang kembali membuka suara.


"Mungkin dalam kurun waktu yang cukup lama, kita seperti ini saja dulu. Masalahnya, aku malu sendiri jika memperlihatkan hubungan kita secara gamblang pada banyak orang. Lagi pula, kemarin aku sempat memarahi beberapa rekan kerja yang menggosipkan aku denganmu kemarin. Aku belum siap jika mereka nantinya akan menghujatku kembali, dengan mengatakan menjilat ludah sendiri," jelas Juni.


"Dan aku juga malu, karena sebelumnya aku sempat berucap padamu dengan mengatakan berpacaran satu kantor akan mengganggu pekerjaan. Dan nyatanya sekarang, aku telah termakan dengan ucapanku sendiri," lanjut Juni.


"Tidak apa-apa, lagi pula aku juga belum siap jika Daren nantinya melihatku yang langsung menjalin hubungan denganmu, sementara dia ... Mungkin saat ini sedang bersedih karenaku," ujar Shinta.


Juni menganggukkan kepalanya, lalu kemudian keduanya pun beradu pandang dan sesekali melempar senyum.


"Entah mengapa, aku merasa bahwa jantungku lebih banyak bekerja memompa aliran darah saat bersamamu," ucap Juni.


"Dasar gombal!" tukas Shinta sembari mencebikkan bibirnya.


"Sungguh. Hatiku ini seolah meneriakkan dirimu, ingin mengatakan bahwa hari ini, kemarin, dan mungkin seterusnya akan terlihat sangat cantik," goda Juni.


"Tidak. Aku bukanlah buaya rawa-rawa yang terlalu haus akan wanita. Cukup satu saja untuk saat ini, yaitu kamu."


"Lalu bagaimana nanti dan yang kemarin-kemarin, berarti bukan aku." Shinta mulai merajuk dengan bibir yang kembali maju sekitar dua centi.


"Yang kemarin-kemarin kan Sela, yang sekarang adalah kamu. Sudahlah, jangan merajuk. Sayang jika nanti kecantikanmu mendadak luntur," ucap Juni yang kembali menggombal.


"Kalau Mbak Sela, aku tidak masalah. Aku takut saja nanti ada wanita lainnya yang akan datang lagi. Apalagi melihatmu berpenampilan lebih menarik seperti ini. Bahkan beberapa dari mereka, secara gamblang mengatakan akan mengejarmu. Aku takut jika nanti kamu langsung berpindah hati," gerutu Shinta.


"Tidak akan, Sayang." Juni mencubit puncak hidung Shinta.


Drrrttt ....


Ponsel Juni tiba-tiba bergetar. Pria tersebut langsung merogoh benda pipih yang tersimpan di dalam sakunya. Ia menatap layar ponsel tersebut, lalu kemudian menghembuskan napasnya dengan kasar.


"Entah mengapa, dia selalu saja mengganggu momen-momen manis di bawah tangga darurat ini," keluh Juni.

__ADS_1


"Memangnya siapa yang menelepon?" tanya Shinta.


"Bos besar," timpal Juni. Pria itu pun langsung menggeser layar ponselnya, mengangkat panggilan dari atasannya.


"Halo Pak Alvaro, ada apa Pak?" tanya Juni.


"Bisakah kamu ke ruanganku sebentar?" tanya Alvaro.


"Baik, Pak. Saya akan segera menuju ke sana," timpal pria tersebut.


"Saya tunggu ya. Oh iya, ada apa dengan suaramu? Terdengar sedikit keras dan menggema," protes Juni.


"Wajar jika suara saya menggema, Pak. Saat ini saya sedang berada di atas closet," ujar Juni berbohong.


"Oh, ya sudah kalau begitu. Apakah kamu tahu di mana keberadaan Shinta? Sejak tadi dia meninggalkan meja kerjanya hingga saat ini belum juga kembali," tanya Alvaro.


"Shinta?" Juni melirik ke arah sang kekasih yang ada di sampingnya.


"Aku tidak tahu, Pak." Pria itu kembali berbohong. Sementara Shinta, ia menahan tawanya saat pria yang ada di hadapannya berbohong akan keberadaan dirinya di tempat tersebut.


"Oh, ya sudah jika kamu tidak melihatnya. Kau segeralah ke sini," ucap Alvaro.


"Baik, Pak."


Tal lama kemudian, sambungan telepon pun terputus. Juni dan Shinta terkekeh karena berhasil membohongi atasannya tentang keberadaan dirinya.


"Jika Pak Alvaro tahu bahwa kita berpacaran, apakah beliau akan marah nantinya?" tanya Shinta.


"Tentu saja. Bisa-bisa nanti ancamannya ke gaji lagi. Ya sudah, kalau begitu ayo kita kembali ke meja kerja. Keluarlah lebih dulu, setelah kamu keluar, baru aku keluar. Supaya kita tidak ketahuan," ucap Juni yang mencoba menjelaskan semuanya pada sang kekasih.


"Baiklah. Kalau begitu sampai jumpa nanti," ujar Shinta tersenyum malu seraya melambaikan tangannya. Gadis itu pun keluar dari tempat tersebut. Berselang lima menit kemudian, Juni pun ikut pergi dari tempat tersebut.


"Ternyata berpacaran kucing-kucingan seperti ini terasa lebih seru," gumam Juni.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2