Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 58. Satu Selera


__ADS_3

Malam harinya, Alvaro mengajak Bima untuk makan malam di luar. Anak kecil itu tampak heran, karena Alvaro bersikap tidak seperti biasanya. Bahkan aroma parfum pria itu tercium menguar, membuat Bima menutup hidungnya.


"Ada apa?" tanya Alvaro sedikit menjengit, melihat sang anak yang menutup hidungnya.


"Apakah papa pakai parfum satu botol?" tanya Bima yang melepaskan tangannya dari hidungnya.


"Wanginya terlalu menyengat?" Alvaro bertanya balik.


"Sedikit," ucap bocah itu sembari menjentikkan jari kelingkingnya.


"Ya sudah, kalau begitu papa ganti baju dulu." Alvaro kembali masuk ke dalam kamarnya untuk mengganti pakaian yang sempat diprotes oleh jagoan kecilnya itu.


Berselang beberapa saat kemudian, pria tersebut kembali keluar. Namun, kali ini Alvaro menyemprotkan parfum ke tubuhnya seperti biasanya, tidak terlalu berlebihan.


"Ayo kita berangkat!" ajak Alvaro. Mereka pun berjalan keluar dari rumah secara bersamaan.


Alvaro menutup pintunya, melirik ke arah pintu Rania. Bima melihat ayahnya, ia pun menawarkan pada ayahnya untuk mengajak Rania.


"Kalau papa mau mengajak Bu Dokter, ajak saja Pa!" celetuk Bima yang seakan tahu isi hati dari ayahnya itu.


Wajah Alvaro langsung cerah, seolah ia tidak perlu membuat alasan lagi untuk mengajak tetangganya itu . Alvaro sengaja, memilih untuk makan di luar, berniat mengajak Rania bergabung dengan mereka. Namun, pria tersebut tidak mempunyai alasan yang tepat untuk mengajak gadis itu. Dan sekarang, Bima lah yang menjadi jalan ninja bagi Alvaro.


Alvaro menekan bel pintu milik Rania. Tak lama kemudian, Rania muncul dari balik pintu. Gadis itu terlihat menggunakan piyama, akan tetapi ia menorehkan pewarna di bibir tipisnya.


"Ada apa?" tanya Rania sedikit tersenyum.


"Kami berencana ingin makan di luar. Apakah kamu ingin bergabung? Bima memintaku untuk mengajakmu," ucap Alvaro.


Bima yang tertuduh pun langsung melirik ke arah ayahnya dengan heran. "Pa, bukankah tadi ...."


Baru saja Bima membuka suara, Alvaro langsung menyela ucapan putranya. Ia tak ingin kembali dipermalukan oleh Bima kesekian kalinya.


"Iya, Nak. Papa sudah mengajak Bu Dokter seperti permintaanmu," ucap Alvaro yang langsung menyerobot ucapan Bima.


Bima hanya bisa pasrah. Ia rela dikambing hitamkan oleh ayahnya, demi kebahagiaan pria dewasa itu.


Rania tampak berpikir dengan ajakan dari Alvaro. Jika ditolak, ia seolah menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Dan jika diterima, gadis itu baru saja menghabiskan satu porsi mie instan sekitar sepuluh menit yang lalu.


"Apakah kamu sudah makan?" tanya Alvaro lagi. Ia masih menunggu jawaban atas ajakan makan malam itu.

__ADS_1


"A-aku belum makan," timpal Rania berbohong.


"Tidak apa-apa, tidak masalah. Setelah ini aku harus berusaha kembali menurunkan berat badanku. Lagi pula mie-nya sudah mengendap sepuluh menit yang lalu di dalam perutku. Bisa jadi saat ini sedang berproses menjadi kotoran," batin Rania.


"Kalau begitu, tunggu sebentar. Aku ingin ganti baju terlebih dahulu," ujar Rania.


Gadis itu membuka pintunya dengan lebar. "Masuklah! Tunggu di dalam saja!"


"Tidak perlu, lagi pula kamu tidak akan lama. Kami menunggu di sini saja," ucap Alvaro.


Rania hanya menanggapinya dengan sebuah anggukan pelan. Gadis itu pun langsung melangkah meninggalkan Alvaro dan Bima menuju ke kamarnya untuk mengganti pakaian.


Sepuluh menit lamanya Alvaro dan Bima menunggu Rania. Gadis itu pun menampakkan dirinya. Rania tampak cantik dengan polesan make up yang ringan. Alvaro tersenyum samar menatap Rania.


"Ayo kita berangkat!" ujar Alvaro.


Alvaro dan Rania berjalan bersamaan, sementara Bima berada di tengah-tengah keduanya. Baru saja Alvaro hendak menggandeng tangan Bima, tiba-tiba bocah tersebut pindah posisi ke sebelah kiri Rania, membuat Alvaro tanpa sengaja menggandeng tangan Rania saat itu juga.


Deggg ...


Keduanya membeku saat tangan mereka saling bersentuhan. Wajah Rania memanas, semburat kemerahan pun muncul di kedua pipinya.


"Ma-maafkan aku," ujar Alvaro terbata-bata. Pria tersebut langsung menarik kembali tangannya.


"I-iya." Rania menunduk, gadis itu juga ikut terbata-bata karena detak jantungnya menjadi tak karuan saat bersentuhan dengan kulit Alvaro. Sama seperti kejadian di lift tadi.


"Papa dan Bu Dokter kenapa? Muka kalian terlihat memerah?" celetuk Bima.


"Tidak apa-apa," ujar Alvaro dan Rania bersamaan.


"Kalau begitu, ayo kita berangkat!" ujar Alvaro mengambil langkah lebih dulu, sementara Bima menggandeng tangan Rania.


Tinggg ...


Lift pun terbuka, mengantarkan mereka ke lantai dasar. Ketiga orang tersebut langsung keluar dari ruangan sempit itu, berjalan menuju ke parkiran.


"Bu Dokter, duduk di depan saja. Nanti kalau Bu Dokter duduk di belakang, papa akan terlihat seperti supir taksi," tutur bocah tersebut.


"Baiklah," ujar Rania sembari terkekeh geli mendengar ucapan Bima.

__ADS_1


"Pintar sekali kamu, Nak. Nanti uang jajanmu akan papa tambahi," batin Alvaro tersenyum samar.


Alvaro membukakan pintu untuk Rania. Pria itu lun mempersilakan untuk Rania menempati bangku depan.


"Terima kasih," ucap Rania yang kemudian masuk ke dalam mobil.


Bima menatap ayahnya, Alvaro diam-diam mengacungkan ibu jari untuk putranya yang sangat pengertian tersebut. Ia pun membantu anaknya masuk ke dalam mobil terlebih dahulu, lalu kemudian dirinya menduduki posisi di belakang kemudi.


Alvaro pun membawa mobil tersebut menuju jalan.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, mobil yang dikendarai oleh Alvaro pun tiba di sebuah restoran. Ketiga orang tersebut turun dari mobil.


Resto tersebut tampak agak ramai dengan letak yang bagus, yaitu tak jauh dari taman. Sehingga selain menikmati makanan, mata mereka akan dimanjakan dengan pemandangan tersebut.


Alvaro berjalan lebih dulu, sementara Bima dan Rania berada di belakang pria itu. Mereka memutuskan untuk menempati meja yang letaknya paling ujung.


Suasana di restoran itu tampak ramai pengunjung. Telinga mereka yang ada di sana dimanjakan oleh suara merdu milik seorang penyanyi yang sidah siap menghibur para pengunjung.


Salah seorang pelayan menghampiri, lalu kemudian memberikan daftar menu yang ada di tangannya. Alvaro membiarkan Rania dan jagoan kecilnya memilih makanannya terlebih dahulu.


"Aku yang ini saja," ujar Bima dengan antusias.


Pelayan tersebut langsung mencatat pesanan bocah itu. Rania pun memperlihatkan menu yang akan dipesannya pada pelayan tersebut.


Saat Rania hendak memberikan buku menu yang dipegangnya, Alvaro pun langsung menggelengkan kepala.


"Aku pesan seperti yang dia pesan saja," ucap Alvaro.


Pelayan tersebut mengangguk, lalu kemudian mencatat pesanan Alvaro. "Baiklah, tunggu sebentar ya, Bapak, Ibu. Kami akan segera menyiapkan pesanan tersebut," ujar pelayan itu dengan sangat ramah.


Alvaro menimpalinya dengan sebuah anggukan pelan. Tak lama kemudian, pelayan itu pun berlalu dari hadapan mereka. Sementara Rania menatap Alvaro dengan seksama.


"Kenapa kamu ingin memilih menu yang sama denganku?" tanya Rania.


"Karena aku ingin kita menjadi satu selera," celetuk Alvaro.


Mendengar hal tersebut, Rania langsung terbatuk-batuk. Kali ini, Alvaro sudah berani menggodanya saat mereka saling berhadapan.


Bersambung ....

__ADS_1


Ehemmm ... si pengen satu selera sama Bu Dokter😌 Belajar merayunya dari mana sih Pak Duda? Pengen dirayu juga gitu🤭


__ADS_2