Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 121. Gundah


__ADS_3

Pagi ini, Rania kembali merasakan mual yang hebat. Wanita itu terkulai lemas setelah memuntahkan semua yang ia makan pagi ini.


"Ternyata hamil itu tidaklah mudah," gumam Rania sembari membersihkan mulutnya.


Alvaro datang menghampiri Rania. Ia menuntun sang istri untuk berjalan menuju ke tempat tidur. Membantu Rania membaringkan tubuhnya dengan sangat hati-hati.


Alvaro meraih minyak kayu putih yang ia letakkan di atas nakas, lalu mengoleskan ke bagian perut serta kening Rania. Ia memijat kening Rania dengan minyak kayu putih tersebut. Aroma dari minyak kayu putih itu sedikit membantu menghilangkan rasa mualnya dan juga rasa pusingnya.


"Kepalanya masih pusing, Sayang?" tanya Alvaro dengan lembut.


"Sudah agak mendingan, Mas. Maaf ya, aku merepotkan. Seharusnya aku lah yang merawat Mas," ujar Rania yang merasa tidak enak pada sang suami.


"Tidak apa-apa, Istriku. Lagi pula luka-luka Mas tidak terlalu parah. Sekarang kamu lebih baik istirahat ya. Tunggu di sini sebentar." Alvaro beranjak dari tempat duduknya.


"Mas Varo mau kemana?" tanya Rania.


"Ke dapur, meminta bibi untuk membuatkan wedang jahe, supaya menghilangkan rasa mualmu," timpal Alvaro.


"Jangan lama-lama ya, Mas. Nanti ke sini lagi, temani aku di sini," ucap Rania dengan suara yang begitu manja.


Alvaro terkekeh, tingkah Rania membuat pria itu merasa gemas karena istrinya. Jika saja Alvaro mengingat bahwa Rania saat ini tengah mengandung, sudah pasti Alvaro akan melahap Rania pagi ini.


Alvaro melangkahkan kakinya keluar kamar. Pria tersebut berjalan menuju ke dapur, meminta pelayan membuatkan wedang jahe untuk sang istri.


"Bi, buatkan wedang jahe ya untuk Rania!" titah Alvaro.


"Baik, Tuan." pelayan itu pun langsung membuatkan minuman yang diminta oleh Alvaro.


Alvaro berjalan ke depan, melihat Pak Darman baru saja memarkirkan mobilnya sehabis mengantar Bima berangkat ke sekolah.


"Pak Darman sudah sarapan? Ngopi dulu, Pak!" Seru Alvaro saat melihat Pak Darman yang baru saja turun dari kendaraan tersebut.


"Sudah, Tuan. Sebelum mengantarkan Den Bima pergi ke sekolah, bapak sudah sarapan," timpalnya sembari mengulas senyum.


Tak lama kemudian, Alvaro melihat salah satu pelayan membawa minuman untuk Rania. Alvaro pun langsung bergegas menghampiri pelayan tersebut.


"Sini Bi, biar saya saja," ujar Alvaro meminta gelas yang ada di tangan pelayan tersebut.


Pelayan itu pun menyerahkan minuman yang ada di tangannya kepada Alvaro. Pria itu langsung menaiki tangga, berjalan menuju ke kamar.


"Loh, kok Mas Varo yang bawa. Kenapa tidak suruh Bibi saja," protes Rania saat melihat sang suami membawa nampan yang berisi segelas wedang jahe.


"Bibi banyak kerjaan," timpal Alvaro sembari meletakkan nampan tersebut di atas meja nakas.


"Tapi kan luka di tangan Mas masih belum sembuh. Kalau Mas kenapa-kenapa gimana?" ujar Rania.

__ADS_1


"Sayang, segelas wedang jahe ini beratnya tidak sampai 5 kilo," balas Alvaro.


" Ya ... mau bagaimana lagi, Mas. Aku kan khawatir, kalau Mas tetap kekeuh seperti itu ya terserah Mas Varo saja," ucap Rania yang sedikit sinis.


Alvaro tersenyum, mendengar ocehan Rania di pagi hari, seakan merupakan kesenangan tersendiri bagi Alvaro. Ia menyukai Rania yang mengomeli dirinya dari pada wanita itu mendiaminya.


"Kamu marah?" tanya Alvaro.


"Tidak, siapa juga yang marah," timpal Rania sembari membuang muka. Bibirnya berkata tidak, akan tetapi tindakannya sangat jelas terlihat.


Alvaro langsung mengusap puncak kepala istrinya, seolah menjinakkan seekor kucing. "Jangan marah ya, nanti cantiknya luntur," goda Alvaro.


"Iya, aku memang tidak cantik," tukas Rania sembari memajukan bibirnya dua centi.


"Siapa yang berkata seperti itu? Sini bilang ke Mas biar Mas buka matanya lebar-lebar. Enak saja mengatai istriku ini tidak cantik. Kecantikan paripurna seperti dibilang jelek," ujar Alvaro yang mencoba membujuk Rania seakan wanita tersebut adalah anak kecil.


"Tadi mas baru saja bilang aku jelek," ucap Rania.


Alvaro langsung terkekeh geli melihat Rania merajuk seperti ini. Pria itu pun mengecup kening sang istri, lalu kemudian turun ke bawah dan mengecup singkat bibir ranum milik istrinya.


"Kenapa kamu selalu saja terlihat menggemaskan seperti ini." Alvaro menggeram ingin sekali melahap sang istri, akan tetapi kali ini ia harus menahannya.


"Kenapa? Ada apa dengan tatapan Mas yang seperti itu? Jangan dulu Mas! Mas Varo harus puasa dulu, kasihan sama si dedek," ujar Rania yang sadar akan tatapan lapar suaminya itu.


"Dek, sehat-sehat ya, Nak. Jangan nakal, jangan buat mama kelelahan dan sakit," ujar Alvaro berbicara pada bayi yang masih berbentuk segumpal darah tersebut.


Melihat perlakuan manis dari sang suami, membuat Rania mengulas senyum. Ia benar-benar bersyukur atas kehadiran bayi yang saat ini masih bersemayam di dalam rahimnya, ikut meramaikan anggota keluarga mereka. Belum lagi Bima, yang selalu antusias menyambut kehadiran adiknya. Bahkan sebelum tidur, Bima pasti mengucapkan selamat malam terlebih dahulu pada adik yang masih berada di dalam perut ibu sambungnya.


....


Di sekolah, Bima memamerkan bahwa ia akan segera mendapatkan adik pada teman-temannya. Beberapa di antara mereka mengucapkan selamat pada Bima. Dan salah satu dari teman Bima justru membuka suara.


"Kalau Bima mempunyai adik, apakah mama Bima masih akan tetap sayang pada Bima?" pertanyaan salah satu dari temannya itu membuat Bima berpikir. Memang benar, jika ibunya kembali mengandung, apakah kasih sayangnya akan tetap sama, atau justru melupakan Bima dan lebih menyayangi adiknya.


Seusai mendapatkan pertanyaan tersebut, Bima seakan kehilangan semangat dalam hidupnya. Jika menang benar demikian, akankah ia tetap tersenyum menyambut lahirnya adik kecil. Ucapan temannya itu ada benarnya, mengingat saat ini Bima bukanlah anak kandung Rania melainkan anak sambungnya.


Hal tersebut terus mengganggu pikiran Bima. Rasanya ia ingin sekali langsung pulang dan menanyakannya langsung pada ibunya mengenai hal ini.


Setelah melewati beberapa pelajaran yang ada di sekolah, membuat pria itu tak bisa berkonsentrasi karena teringat akan ucapan tersebut, hingga akhirnya jam pulang sekolah pun tiba.


Bima menunggu jemputannya dengan rasa yang tidak sabaran. Kakinya menendang-nendang tanah, seakan menghitung setiap detik yang sudah terlewatkan.


Tak lama kemudian, jemputannya datang. Bima segera berlari dan masuk ke dalam mobil. Ia sungguh ingin segera pulang dan menanyakan pada ibunya tentang hal yang mengganggu pikirannya. Benar atau tidaknya, Bima ingin memastikan sendiri, tanpa ingin mengira-ngira yang pada akhirnya membuat hatinya bertambah sakit.


Di perjalanan, Bima memainkan kuku-kuku jemarinya dengan gusar. Dia seperti orang dewasa yang saat itu tengah merasakan sebuah kegundahan di dalam hatinya.

__ADS_1


Setibanya di rumah, Bima langsung turun dan berlari kecil menuju ke kamar ibunya. Mencari keberadaan Rania untuk menanyakan hal tersebut.


Di dalam kamar, ia mendapati Rania tengah berbaring bersama dengan Alvaro. Pandangannya teralihkan pada pintu yang baru saja diketuk. Melihat jagoan kecilnya yang baru saja menampakkan diri dari pintu itu dengan masih mengenakan seragam sekolahnya.


"Bima? Sini Nak!" Rania menggunakan gerakan tangannya, menyuruh Bima untuk lebih mendekat ke arahnya.


Bima pun melangkahkan kakinya. Ia langsung berlari menghambur ke pelukan ibunya. "Kenapa Bima belum ganti baju?" tanya Rania lembut sembari mengusap puncak kepala Bima.


"Mama, ...." air mata Bima jatuh begitu saja, membuat Rania dan juga Alvaro saling menatap heran.


"Ada apa, Nak? Apakah terjadi sesuatu? Atau ada yang melukaimu?" tanya Alvaro panik melihat Bima yang tiba-tiba menangis.


Bima menggelengkan kepalanya pelan, menimpali ucapan Alvaro. Rania menyeka air mata yang jatuh di pipi gembul Bima, menangkup wajah kecil itu dan menanyainya dengan lembut.


"Ada apa, Sayang? Kenapa Bima tiba-tiba menangis? Ceritakan dengan kami," ujar Rania menanyai putra sambungnya dengan lembut.


"Ma, apakah nanti setelah adik lahir, mama tidak akan menyayangi Bima lagi? Bima kan bukan anak kandung mama," ungkapnya sembari berurai air mata.


Mendengar hal tersebut membuat Rania sedikit teriris. Entah bagaimana anak seumuran Bima bisa berpikir seperti itu.


"Sayang, bagi mama Bima adalah anak mama, tak ada bedanya anak sambung dengan anak kandung. Mama akan memberikan kasih sayang untuk kalian sama rata. Mama tidak akan membeda-bedakan kasih sayang yang mama berikan untuk Bima atau pun juga untuk adik nanti," jelas Rania, memberikan pengertian pada putranya.


"Jika ada yang berkata bahwa rasa sayang Mama berkurang nantinya, itu kebohongan besar, Nak. Bima bisa merasakan sendiri, bagaimana nanti mama memperlakukan Bima dan juga adik. Mama ingin kita menjadi satu keluarga yang utuh dan saling mencintai satu sama lain," lanjut Rania.


Sementara Alvaro, ia hanya bisa menyimak penjelasan dari Rania. Hal yang takutkan pun juga sama. Takut jika Bima akan cemburu nantinya jika mempunyai adik dan berpikir bahwa Rania lebih mencintai anak yang ia lahirkan dibandingkan anak sambungnya.


Namun, setelah mendengar penjelasan dari Rania, ia cukup puas dengan jawaban sang istri. Alvaro tersenyum lalu melihat ke arah Bima yang juga menghilangkan kekecewaan yang tadi menerpa anak laki-laki tersebut.


Alvaro beringsut, mencoba untuk merentangkan tangannya dan memeluk anak serta istrinya. "Kita adalah satu keluarga utuh yang harus saling mencintai dan menyayangi. Mulai dari sekarang, kita tidak boleh berpikiran macam-macam tentang perkataan orang lain di luar sana. Papa senang dengan sikap Bima yang langsung bertanya tanpa memendamnya. Jadi, kami sebagai orang tua bisa mengerti, apa yang menjadi kegundahan hati Bima," tutur Alvaro.


"Iya, Pa. Bima ingin langsung memastikannya dengan mama. Bima ingin mendengarkan jawabannya langsung dari mama tanpa harus menebak-nebak," ucap Bima.


"Anak pintar!" puji Rania sembari mengusap puncak kepala Bima.


"Nanti, kalau ada apa-apa, bicaralah dengan kami. Jangan dipendam sendiri ya, Nak. Supaya kami tahu, masalah apa yang saat ini dihadapi oleh Bima. Jika Bima diam-diam saja, kami sebagai orang tua tidak akan bisa mengetahuinya, karena kami tidak bisa membaca isi hati kalian," jelas Rania.


"Baik, Ma. Terima kasih karena mama memberikan begitu banyak kasih sayang pada Bima. Maafkan Bima juga karena sempat meragukan mama," ujar Bima.


"Iya, Nak. Mama juga berterima kasih pada Bima karena telah hadir di dalam kehidupan mama dan memberi banyak cinta untuk mama," balas Rania memeluk putranya.


"Kamu tidak berterima kasih juga padaku? Aku juga memberikan hatiku dan seluruh jiwaku padamu," protes Alvaro sembari menunjuk dirinya.


Rania tak berucap apapun, sebelah tangannya langsung memeluk sang suami. "Dua priaku yang hebat," ucapnya membuat Bima dan juga Alvaro mengembangkan senyumnya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2