
Mendengar kabar dari Bima, membuat Alvaro pun langsung bergegas keluar dari ruangannya, lalu kemudian masuk ke dalam pintu lift. Shinta yang hendak bertanya pun tak dihiraukan oleh pria itu.
Beberapa orang melihat Alvaro berlarian seperti itu, membuat mereka menjadi bertanya-tanya. Mengapa atasannya tampak tergesa-gesa.
Alvaro sudah tiba di lantai dasar. Ia pun bergegas keluar dari gedung pencakar langit tersebut, lalu kemudian berjalan menuju ke mobilnya.
Alvaro tak tahu, rumah sakit mana yang hendak ia tuju. Membuat pria itu pun menelepon kembali Bima, akan tetapi Bima tak mengangkat panggilannya. Ia juga menelepon kedua mertuanya, dan mereka juga tidak mengangkat telepon dari Alvaro.
Alvaro mengerti dengan keadaan seperti ini, mungkin mereka dilanda kepanikan hingga tak ada satu pun yang mengangkat panggilan dari Alvaro. Pria itu menghidupkan kendaraannya, mengemudikan mobilnya menuju ke jalanan.
"Sebaiknya aku menuju ke rumah dulu, untuk memastikan dan sekaligus bertanya pada orang-orang yang ada di rumah," gumam Alvaro sembari mengendalikan setirnya.
Saat di perjalanan, Alvaro miliknya yang sering dibawa oleh Pak Darman. Pria itu pun langsung membelokkan kendaraannya, lalu kemudian mengikuti mobil tersebut dari belakang. Dan benar saja, nomor plat kendaraan tersebut memanglah milik Alvaro.
"Rania, kamu yang kuat ya sayang. Aku bersamamu saat ini walau kita berbeda mobil," gumam Alvaro merasa panik.
Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai oleh Pak Darman pun memasuki area rumah sakit. Alvaro langsung menghentikan mobilnya. Bergegas dari kendaraannya itu untuk melihat sang istri yang masih dipapah oleh ayah mertuanya.
"Biarkan Varo saja, Pa." Alvaro langsung menggendong Rania ala bridal style.
__ADS_1
Beberapa tenaga medis mendorong brankar untuk Rania. Alvaro langsung merebahkan sang istri di atas ranjang tersebut.
"Mas, ...." Rania mengernyitkan keningnya sembari menahan sakit yang amat luar biasa.
"Iya, Sayang. Mas di sini, akan selalu menemanimu," ujar Alvaro yang tak melepaskan genggaman tangannya. Ia tak ingin berpisah dari istrinya barang sedetik saja. Maka dari itu, sembari mendorong brankar tersebut, Alvaro berdoa agar istrinya diberikan kemudahan dalam melahirkan.
Mereka pun tiba di ruang persalinan. Alvaro meminta pada dokter yang menangani Rania, untuk ikut masuk ke dalam menemani sang istri yang tengah berjuang membawa anaknya lahir ke dunia, mengorbankan hidup dan matinya.
Setelah mendapatkan persetujuan dari dokter, Alvaro langsung masuk ke dalam ruangan tersebut. Tercium aroma obat-obatan yang begitu menyengat di ruangan itu.
"Mas, ...." Rania kembali memanggil suaminya dengan napas yang tersengal serta peluh yang bercucuran.
"Iya, Sayang. Kamu pasti bisa," ujar Alvaro menyemangati sembari menyeka peluh sang istri.
"Tarik napas, hembuskan. Tarik lagi, lalu dorong," ujar dokter tersebut.
Rania sampai menjerit kesakitan. Benar kata ibunya terdahulu, bahwa melahirkan anak sama rasanya dengan mematahkan dua puluh tulang secara bersamaan.
Dan kini, Rania benar-benar merasakan hal itu. Bagaimana luar biasa perjuangan seorang ibu dalam melahirkan anak.
__ADS_1
"Apakah tidak apa-apa dok, melahirkan secara normal. Bayi kami adalah bayi kembar," ujar Alvaro yang merasa khawatir jika akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tangan pria itu mulai bergetar, ketakutannya kembali muncul.
"Tidak masalah, Pak. Karena kepala bayinya sudah mulai keluar," timpal dokter tersebut.
Bukan hanya peluh di kening Rania saja yang bercucuran. Peluh di kening Alvaro juga sama. Peluh ketakutan keluar sebesar biji jagung itu, membasahi area wajah pria tampan tersebut. Wajahnya pucat pasi, akan tetapi ia sebisa mungkin memberikan semangat pada sang istri, meskipun dirinya dilanda sebuah ketakutan yang amat besar.
Tak lama kemudian, terdengar suara tangisan bayi memenuhi ruangan. Rania menghela napasnya, merasa lega karena salah satu anak mereka berhasil dilahirkan.
"Yang ini jenis kel*minnya laki-laki," ujar dokter tersebut memberikan bayi itu kepada perawat untuk segera dibersihkan.
Rania tersenyum, menatap suaminya yang sedari tadi menggenggam erat tangannya. "Mas, anak kita sudah lahir, Mas."
"Iya, Sayang. Terima kasih banyak," ujar Alvaro mencium kening sang istri dengan penuh cinta.
Berselang lima menit, Rania kembali merasakan sakit lagi. Kali ini, ia akan melahirkan satu anak lagi yang tersisa. Dokter kembali memberikan instruksi pada Rania, dan Rania pun mengikutinya. Hingga akhirnya, suara tangisan bayi kembali terdengar memenuhi ruangan tersebut.
Rania terkulai lemas, ia kehabisan tenaga hanya untuk membawa kedua anaknya melihat dunia yang indah ini. Sementara Alvaro, pria itu tak kuasa menahan air matanya. Ia benar-benar terharu akan momen ini. Bagaimana perjuangan sang istri, membuat Alvaro tak ingin menyakiti wanita yang telah mengorbankan dirinya untuk mengandung dan juga melahirkan anaknya.
"Kalo yang satu ini bayinya berjenis kel*min ....."
__ADS_1
Bersambung ...
Hayo!! Kira-kira yang satu lagi mau cewek apa cowok?😌