
"Sadarlah Rania, kamu hanya tetangganya bukan siapa-siapa," lirih Rania. Awalnya Rania memperlihatkan ekspresi murungnya, akan tetapi sesaat kemudian gadis itu kembali ceria.
"Tunggu sebentar! Bukankah Bima sangat mendukungku untuk menjadi mamanya? Setidaknya aku bisa mengambil hati anaknya terlebih dahulu. Memupuk dan merawatnya dengan baik. Dan setelah itu, baru lah aku bisa memanen cinta ayahnya," batin Rania sembari tersenyum membayangkan hal tersebut terjadi.
Gadis itu terkejut saat tiba-tiba Alvaro melambaikan tangannya di depan wajahnya. Bahkan ia tak menyadari keberadaan Alvaro karena sibuk dengan pemikirannya sedari tadi.
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri? Apakah kamu memikirkan hal yang aneh-aneh?" tanya Alvaro melemparkan tatapan yang menyelidik.
"Hahaha aneh-aneh apanya. Aku tidak memikirkan apapun," kilah Rania.
"Kalau begitu, bersiaplah ke rumahku setelah ini. Aku sudah menyiapkan sarapan untuk kalian," ujar Alvaro yang kemudian berlalu dari hadapan kedua gadis tersebut.
"Wah, ternyata Pak Alvaro perhatian juga. Rasanya aku ingin menjadi tetangga Pak Alvaro saja, supaya bisa menumpang sarapan setiap pagi," celetuk Shinta.
Rania mengernyitkan keningnya, lalu berjalan lebih dulu keluar dari rumahnya. "Apakah dia sedang menyindirku?" gumam Rania pelan.
Sesampainya di rumah Alvaro, kedatangan Rania disambut hangat oleh pria kecil berambut ikal tersebut. Ekspresinya sedikit bingung, saat melihat Shinta yang juga masuk ke rumah mereka. Pria kecil tersebut langsung menghampiri ayahnya.
"Pa, apakah Bima akan mempunyai dua mama?" tanya Bima sedikit berbisik kepada ayahnya.
"Dua mama?"
Bima menganggukkan kepalanya, lalu kemudian menunjuk ke arah Rania dan Shinta bergantian. "Bukankah tadi papa bilang ingin menjemput calon mama?" tanya Bima lagi.
Alvaro tersenyum mengusap puncak kepala putranya . "Bima menginginkan mama yang mana?" tanya Alvaro.
"Tetap Bu Dokter, Pa."
Jawaban dari Bima membuat Alvaro mengacungkan jempolnya. "Sudah, kalau begitu duduklah di meja makan bergabung dengan mereka. Papa akan membawakan makanan ini ke sana," ucap Alvaro.
"Ada yang perlu Bima bantu, Pa?" tanya pria kecil tersebut.
"Tidak ada, Boy. Semuanya sudah siap," ucap Alvaro.
Bima pun langsung menuruti ucapan ayahnya, bergabung bersama Rania dan Shinta yang sudah terlebih dahulu berada di meja makan.
Aroma makanan begitu lezat menusuk indera penciuman kedua gadis tersebut.Alvaro datang membawa mangkuk besar yang berisikan sup kepiting jagung. Mata Rania pun langsung berbinar. Bagaimana tidak? Makanan tersebut merupakan makanan kesukaan Rania.
Semalaman, pria tersebut membuka sosial medianya, mencari akun Rania hingga membuat dirinya tidur jam 2 dini hari. Setelah cukup banyak menembak nama akun sosial media gadis tersebut, pencarian Alvaro pun membuahkan hasil. Ia menemukan akun sosial media milik tetangganya itu.
__ADS_1
Alvaro menggulir layar ponselnya, melihat satu persatu foto unggahan tetangganya itu. Hingga ia menemukan salah satu foto dengan yang dibawahnya tertulis makanan kesukaan, membuat Alvaro pun tersenyum dan berencana menyuguhkan makanan tersebut untuk sarapan.
"Silakan!" ucap Alvaro mempersilakan.
Rania dan Shinta mengambil sup tersebut, lalu menikmatinya. Mata Alvaro tertuju pada Rania yang tampak sangat senang dimasakkan menu kesukaannya.
"Asal kamu tahu, ini adalah menu kesukaan ku, dan ini rasanya benar-benar enak," celetuk Rania dengan wajah yang begitu antusias.
Shinta tersenyum penuh arti, lalu kemudian melirik Alvaro dan Rania secara bergantian. "Kebetulan yang tak terduga, bukan?"
Mendengar ucapan sekretarisnya, membuat Alvaro menatap Shinta dengan mendelik tajam. Sementara Rania tak menghiraukan hal tersebut. Ia memilih untuk menikmati makanan yang ada di hadapannya saja.
Alvaro masih sibuk mencuri pandang ke arah tetangganya. Sementara gadis itu tak menyadarinya, ia terlalu sibuk menikmati makanannya.
Setelah menikmati sarapan, Alvaro dan Bima pun bersiap untuk berangkat ke kantor. Begitu pula dengan Rania dan juga Shinta. Ke empat orang tersebut berada di dakan lift, menuju ke lantai dasar.
"Saya ikut mobil Pak Alvaro kan ke kantor?" tanya Shinta.
"Iya, tapi aku akan mengantar anakku terlebih dahulu sebelum menuju ke kantor," timpal Alvaro.
"Baiklah."
"Shinta, kamu sebaiknya ikut denganku saja. Kebetulan kantor Alvaro dengan klinik searah. Jadi, kamu tidak perlu menunggu," ucap Rania yang mencoba menawarkan tumpangan untuk gadis tersebut.
"Tidak apa-apa, aku tidak mau merepotkan mu. Tidak masalah jika aku diajak keliling terlebih dahulu oleh Pak Alvaro. Lagi pula ada sesuatu yang harus kami bahas saat di perjalanan nanti," timpal Shinta.
Rania mengepalkan tangannya. Dalam hati, ia mengumpat gadis tersebut karena terlalu ketara untuk minta diperhatikan oleh Alvaro.
"Sekretaris ku ikut bersama ku saja. Lagi pula kantorku lebih jauh dari pada klinik," ucap Alvaro menambahi yang membuat Rania semakin panas.
" Ya sudah, kalau begitu terserah padamu saja," ujar Rania sembari mengendikkan bahunya.
Pintu lift terbuka, Rania lebih dulu keluar dari ruangan sempit tersebut. Shinta tersenyum penuh arti, lalu kemudian mengarahkan pandangannya pada Alvaro.
"Dia sangat menggemaskan saat cemburu," bisik Shinta.
"Apakah dia sedang cemburu?" tanya Alvaro memastikan.
"Ck, Pak Alvaro sudah punya anak satu masih tidak paham wanita yang cemburu atau tidaknya," geram Shinta.
__ADS_1
"Sudah hampir lima tahun saya lebih sibuk mengurusi urusan kantor dan tidak terlalu memperhatikan wanita," ucap Alvaro yang berjalan menuju ke mobilnya. Ia melihat Rania yang berada di depan mobil milik gadis itu, tampaknya tengah mencari sesuatu.
"Ada apa?" tanya Alvaro.
"Aku tidak melihat keberadaan kunci mobilku, padahal tadi sudah aku masukkan di dalam tas," timpal Rania.
Shinta mendengarkan hal tersebut langsung terkikik geli. Ia tak dapat menahan tawanya lagi karena Rania. Shinta dapat melihat, jika Rania juga tertarik dengan Alvaro. Hanya saja, keduanya terlalu gengsi untuk mengakuinya.
"Coba kamu cek di rumah, mungkin saja tertinggal," ucap Alvaro.
"Tidak perlu. Aku benar-benar mengingatnya, tadi aku sudah memasukkannya ke dalam tas," kekeuh Rania.
"Kalau begitu pakai kunci cadangannya saja," ujar Alvaro.
"Kunci cadangan ... eh itu ... kunci cadangannya ...." Rania tampak berpikir, karena sebenarnya kunci mobil tersebut masih berada di dalam tasnya. Hanya saja, gadis itu tidak rela jika membiarkan Alvaro dan Shinta berbicara berdua. Ia takut, jika nantinya mereka membahas tentang Shinta yang harus menginap di hotel. Di saat dirinya tengah kesusahan mencari jawaban, Shinta pun menyelamatkannya.
"Sudahlah! Ikut bersama kami saja. Lagi pula kliniknya searah, tidak apa-apa kan pak?" celetuk Shinta menengahi. Alvaro memang kurang peka terhadap kode yang diberikan oleh Rania.
"Ya sudah, tidak apa-apa."
Alvaro memasukkan anaknya ke dalam mobil, lalu kemudian dirinya pun menempati kursi kemudi. Sementara Rania dan Shinta menempati kursi belakang. Alvaro pun membawa kendaraan roda empat tersebut menuju ke jalanan.
Bersambung ...
Biar halunya makin tinggi, aku kasih bonus Visual nih. Ingat ya, cuma untuk mempermanis aja. Kalau nggak cocok visualnya bisa menghalu versi kalian sendiri.
👇👇👇
Tutup Panci
Ini pancinya
Yang ini anak panci
__ADS_1
Selamat menghalu di dunia per-pancian 🤣