Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 35. Sarapan Bersama


__ADS_3

Pagi ini Rania masih bergelung di dalam selimut. Dengkuran kecil tampak terdengar dari gadis yang masih terlelap dalam tidurnya.


Suara alarm memekakkan telinganya, membuat gadis tersebut mengubah posisi tidurnya, lalu kemudian mendecak kesal karena suara yang membuat dirinya terbangun dari tidurnya.


"Kenapa alarmku cepat sekali berbunyi!" keluh Rania yang merasa masih mengantuk. Padahal, alarm yang ia pasang sama seperti hari biasanya. Karena gadis itu tak dapat tidur semalam akibat guyonan yang dilontarkan oleh Alvaro kemarin, membuat Rania teringat dan tak tidur semalaman. Ucapan pria tersebut menari indah di otak cantiknya.


Rania mematikan alarmnya. Dengan malas, ia pun turun dari ranjang, memulai aktivitas pagi harinya. Gadis tersebut berjalan menuju ke kamar mandi, membersihkan diri.


Setelah melakukan ritual mandinya, Rania keluar dari kamar mandi. Gadis itu sudah tampak lebih segar dengan keadaan rambut yang basah. Ia langsung berjalan mendekati lemari, memakai setelan yang akan ia kenakan pagi ini.


Tak membutuhkan waktu yang lama, pakaian tersebut sudah melekat sempurna di tubuhnya. Ia berjalan menuju meja rias, mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambutnya yang masih sedikit basah.


"Ini semua gara-gara duda itu. Kenapa dia harus melontarkan guyonan yang seperti itu. Membuat waktu tidurku berkurang akibat teringat selalu kalimat itu," keluh Rania sembari mengeringkan rambutnya.


Sesuai mengeringkan rambut, ia pun langsung memoleskan make up di wajahnya. Setelah semuanya selesai, Rania membawa tas yang selalu di pakainya itu meninggalkan kamarnya.


Rania berjalan menuju ke dapur, ia mengambil selembar roti, lalu kemudian mengoleskan selai coklat di atasnya. Baru saja mulutnya menganga hendak memakan coklat yang ada di tangannya, tiba-tiba bel rumahnya berbunyi. Rania pun meletakkan kembali roti tersebut di atas piring, lalu berjalan menuju pintu, membukakan tamunya di pagi buta ini.


Saat dirinya membuka pintu, Rania terkejut melihat siapa yang bertamu. Tetangga sebelahnya itu membawa mangkuk berukuran besar sembari tersenyum ke arah gadis tersebut.


"Apa ini? Kenapa kam...." belum juga ia menyelesaikan kalimatnya, duda satu anak tersebut menerobos masuk begitu saja, mengabaikan ucapan sang pemilik rumah yang menanyainya.


Rania mundur beberapa langkah saat Alvaro menerobos masuk, gadis tersebut tercengang melihat kelakuan tetangganya itu. Dan sekarang, di susul oleh pria kecil yang tersenyum menatap ke arahnya, lalu kemudian menyusul langkah ayahnya.


"Ada apa dengan mereka? Menerobos masuk begitu saja ke dalam rumah orang lain," gerutu Rania seraya menutup kembali pintunya. Gadis tersebut menyusul langkah Alvaro yang sudah lebih dulu berjalan menuju ke meja makan.


Saat Rania menghampiri keduanya, kedua pria tersebut tampak menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sarapan Rania yang terbilang sangat mudah. Hanya mengoleskan selai di atas roti semuanya menjadi beres.


"Calon mamamu benar-benar sangat malas," cecar Alvaro.


"Sarapan kita tidak pernah seperti ini ya, Pa. Paling tidak papa selalu membuatkan sandwich ataupun roti bakar saat papa malas memasak," celetuk Bima yang juga menambahi ucapan ayahnya.

__ADS_1


Kedua pria tersebut mengalihkan pandangannya pada Rania, membuat Rania mengerjapkan matanya beberapa kali.


"Benar-benar malas," ucap kedua pria tersebut serentak.


Rania mengernyitkan keningnya, lalu kemudian melipat kedua tangannya di depan. "Kenapa kalian menerobos masuk ke rumahku. Apakah tidak tahu caranya bertamu dengan baik?" ketus Rania yang merasa kesal karena tetangganya itu menerobos masuk begitu saja, ditambah lagi mereka yang baru saja mencela Rania dengan mengatakannya pemalas.


"Bukankah sudah ku katakan kemarin, kita sarapan. Ayo duduklah!" ujar Alvaro yang menarik kursi untuk Rania, seolah gadis tersebut merupakan tamu di rumahnya sendiri.


"Ada apa dengannya? Apakah dia tuan rumah?" gerutu Rania. Gadis itu pun menduduki tempat yang telah disediakan oleh Alvaro.


Pandangan gadis tersebut tertuju pada mangkuk besar yang ada di hadapannya. Berisi nasi goreng yang ditaburi dengan sosis serta bakso goreng. Tak lupa pula dengan tiga telur mata sapi yang ada di atasnya.


"Apakah terlihat sangat lezat?" celetuk Alvaro memperhatikan ekspresi wajah Rania saat gadis itu melihat nasi goreng yang ada di hadapannya.


"Tidak. Biasa saja," ucap Rania berbohong.


"Benarkah? Tapi air liurmu hampir saja menetes," goda Alvaro.


"Bisakah kita mulai sarapan?" tanya Bima menatap kedua orang dewasa yang ada di depannya.


Alvaro pun mengangguk, ia mempersilakan kepada Rania mengambil nasi goreng tersebut terlebih dahulu. Gadis itu pun meletakkan satu centong nasi goreng beserta telur mata sapinya. Ia melupakan selembar roti yang tadinya hendak ia santap sebagai sarapannya.


Seusai Rania mengambil nasi goreng tersebut, Alvaro pun mengambil piring putranya, mengisi nasi goreng untuk putra semata wayangnya itu. Setelah itu ia baru mengisi piring miliknya.


"Bagaimana? Apakah rasanya enak?" tanya Alvaro melihat Rania yang sedari tadi menyuap nasi gorengnya dengan lahap.


"Tidak buruk," timpal Rania.


Alvaro tersenyum, mereka pun menyantap sarapannya dengan tenang. Bahkan sesekali terpikir oleh pria tersebut, apakah nantinya Rania akan menuruti permintaannya setelah semua yang ia lakukan pada gadis tersebut. Berusaha merebut hati gadis yang ada di hadapannya demi memenuhi keinginan Bima yang ingin memiliki ibu pengganti.


Sarapan telah selesai, ketiga orang tersebut saat ini tengah berada di parkiran, menuju ke mobil masing-masing.

__ADS_1


"Jika kamu malas menyetir, naiklah! Aku akan mengantarmu ke klinik. Kebetulan juga klinikmu dan kantor searah," tawar Alvaro pada Rania.


"Tidak perlu! Aku bukanlah gadis yang malas menyetir. Dan terima kasih untuk makanannya hari ini. Besok, kamu tidak perlu datang untuk membawakan ku sarapan karena aku akan sarapan dengan porsiku sendiri," ujar Rania yang langsung masuk ke dalam mobilnya.


Gadis itu pun melajukan kendaraannya menuju ke jalanan. Ia masih menyempatkan diri, menatap Alvaro dan Bima dari kaca spion saat mobil tersebut mulai menjauh dari kedua pria itu.


"Selain tampan, ternyata dia sangat pandai memasak. Benar-benar pria idaman," ucap Rania mengulas senyumnya. Ia tak sadar dengan bibirnya yang baru saja melontarkan pujian pada tetangganya itu.


Melihat mobil yang dikendarai oleh Rania semakin menjauh, Alvaro dan Bima pun masuk ke dalam mobil. Pria itu membantu memasangkan sabuk pengaman untuk putranya.


"Papa, ..."


"Hmmm ... ada apa, Boy?" tanya Alvaro yang baru saja selesai memasangkan sabuk pengaman itu ke tubuh anaknya. Alvaro masih menunggu ucapan Bima, entah mengapa pria kecil itu tampak ragu mengutarakan sesuatu yang ingin ia bicarakan.


"Katakanlah apapun itu Papa akan mencoba untuk memahaminya," ucap Alvaro yang masih menunggu Bima.


"Apakah papa benar-benar ingin menjadikan Bu Dokter sebagai mama Bima? Apakah papa serius dengan ucapan papa?" tanya Bima, terdengar sedikit nada keraguan dari ucapan pria kecil itu.


"Tentu saja, papa akan berusaha semampu papa untuk membuat Bima bahagia, termasuk menjadikan Bu Dokter sebagai mama Bima," tutur Alvaro dengan lembut.


"Pa, Bima tidak mau memaksa papa dengan keinginan Bima lagi. Bima juga tidak mau melihat papa menderita karena Bima. Jika papa memang melakukannya dengan terpaksa, sebaiknya papa tidak usah melanjutkannya. Bima akan mencoba mengerti papa, Bima juga tidak akan merajuk lagi karena permintaan Bima yang tidak terpenuhi," papar pria kecil tersebut.


Alvaro mengulas senyumnya, ia tersentuh dengan ucapan Bima. Di umurnya yang sekarang, Bima bahkan bisa berpikir lebih dewasa dibandingkan anak-anak lain seusianya.


"Jika papa melakukannya dengan terpaksa, kasihan juga dengan Bu Dokter," tambah Bima.


Mendengar kalimat selanjutnya dari pria kecil tersebut membuat Alvaro membeku.


"Benarkah aku mendekatinya hanya karena terpaksa? Atau ada hal lain yang tak ku sadari," batin Alvaro.


Bersambung ....

__ADS_1


Dengerin tuh pak duda, udah diceramahin sama bocah TK. Kalau nggak serius mending nggak usah dilanjut aja😌


__ADS_2