
Juni merasakan sepi yang menghinggapi dirinya kala malam. Pria itu duduk terdiam sembari menatap potret sang istri yang telah pulang ke pangkuan Sang Pencipta.
Dalam keheningan, ia menitikkan air mata tatkala rindu itu menyerang, menusuk ke dalam sanubarinya. Membiarkan dirinya hanya bisa berangan-angan dan menatap ke depan seolah bayangan sang istri tengah menatapnya sembari tersenyum simpul.
Sungguh! Ini memilukan bagi Juni. Ia ingin sekali membagi raganya untuk ikut bersama sang istri. Namun, Tuhan berkehendak lain. Membiarkan takdir memisahkan keduanya dengan jarak sejauh mungkin.
"Sayang, kamu sedang apa di sana. Ku harap kamu selalu berbahagia ya," gumam Juni sembari mengusap potret sang istri dengan penuh kasih sayang.
Juni terdiam, membayangkan momen-momen indah bersama dengan Sela. Sungguh! Rasanya begitu menyesakkan dada.
Kini apartemen yang ia huni benar-benar terasa sepi. Biasanya Sela selalu mengulas senyum, saat Juni pulang dari kerja. Hanya saja, beberapa hari terakhir kemarin wanita itu terlihat marah besar dengan Juni, seolah memberikan tanda-tanda bahwa Sela ingin memperlihatkan dirinya yang lain sebelum ajal menjemput.
Setelah cukup lama menatap potret sang istri, Juni pun meletakkan kembali potret tersebut di atas meja nakas. Perutnya terasa lapar, ia mencoba berjalan ke dapur. Pria tersebut melangkah dengan tertatih sembari menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan.
Sudah hampir seminggu lamanya ia libur dari pekerjaannya karena kondisi yang belum stabil. Setibanya di dapur, Juni melihat isi kulkas yang tak memiliki apapun. Ia juga kembali berjalan melihat stok mie instan yang biasa diletakkan di rak penyimpanan, akan tetapi lagi dan lagi Juni tidak menemukan mie instan di dalam sana.
Sudah seminggu kepergian sang istri. Biasanya semua makanan terisi penuh di dalam kulkas ataupun rak penyimpanan. Kali ini, semuanya kosong melompong, sama seperti hati Juni yang hampa karena baru saja kehilangan sang istri tercinta.
"Ternyata pria tidak ada apa-apanya jika tanpa seorang wanita," gumamnya sembari menertawai nasibnya.
Juni kembali berjalan menuju ke ruang tengah. Indera pendengarannya menangkap suara bel apartemennya berbunyi. Juni pun langsung membuka pintunya dan sedikit tercengang saat menemukan wanita yang paling ia kenal berdiri sembari membawa dua kantung plastik yang berisi makanan.
"Shinta? Kenapa kamu di sini?" tanya Juni heran.
"Apakah kamu tidak akan menyambut tetangga barumu?" tanya Shinta sembari mengerucutkan bibirnya.
"Tetangga baru? Apa maksudmu?" Juni tak mengerti dengan ucapan yang baru saja Shinta lontarkan.
"Ck! Aku tinggal bersebelahan denganmu, Juni." Shinta berucap dengan nada yang penuh penekanan.
"Sejak kapan?" tanya Juni.
"Sejak tiga hari yang lalu. Kamu lapar tidak? Ayo kita makan di luar saja!" ajak Shinta, karena tidak mungkin baginya untuk makan hanya berdua saja di dalam apartemen.
"Baiklah." Juni mengunci apartemennya, lalu kemudian memilih tempat makan yang disarankan oleh rekan kerjanya itu.
"Tapi bisa kan turun walaupun pakai tongkat?" tanya Shinta.
"Bisa, kita kan pakai lift bukan tangga," timpal Juni.
"Oh iya," ujar gadis itu menepuk keningnya. Keduanya pun berjalan masuk ke dalam lift. Shinta memperlambat langkahnya agar Juni bisa mengimbangi langkah kakinya.
__ADS_1
Beberapa hari yang lalu, Shinta merasa prihatin pada Juni yang hanya tinggal sendirian. Sedangkan orang tua Sela, tampaknya sedikit acuh pada Juni setelah insiden kecelakaan kemarin.
Setelah berpikir cukup panjang, akhirnya Shinta pun memutuskan untuk diam-diam mendampingi Juni dengan cara menyewa apartemen kosong yang ada di sebelah apartemen milik pria itu.
Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk memakan makanan tersebut di halaman belakang. Juni dan Shinta mendudukkan dirinya di sebuah kursi panjang.
Shinta mulai membuka plastik yang berisikan nasi goreng yang dibelinya tadi.
"Ini nasi goreng ter-enak menurut versi aku. Soalnya abang-abang yang jual sangat tampan," celetuk Shinta.
"Ya ... ya ... ya ... seluruh isi kepalamu itu hanya memikirkan tentang pria saja," ujar Juni yang mulai melahap makanannya.
"Hmmm ... rasanya tidak buruk," lanjutnya menilai makanan tersebut setelah menyentuh indera pengecapnya.
"Kalau begitu habiskanlah!" titah Shinta disertai dengan kekehan kecil. Juni hanya menganggukkan kepalanya, seraya melahap nasi goreng yang dibeli oleh Shinta. Sementara Shinta, ia memperhatikan Juni secara diam-diam. Wanita itu pun tersenyum samar, lalu kemudian ikut menyantap makanan yang ada di hadapannya.
Makanan itu pun langsung habis tak tersisa. Shinta beranjak sejenak dari tempat duduknya untuk membersihkan sampah bekas mereka makan. Setelah selesai membuangnya, gadis itu kembali duduk di sebelah Juni.
"Nanti jika kamu ada apa-apa, langsung saja ketuk apartemenku tanpa malu-malu. Bukankah kita berteman? Seharusnya tidak perlu sungkan dengan hal itu," ujar Shinta.
"Terima kasih," ucap Juni.
Juni hanya bisa mengulas senyumnya. Ia mendongakkan wajahnya, menatap langit malam dengan taburan bintang menjadi penghias hamparan yang luas itu.
"Lihatlah bintang yang paling terang itu," tunjuk Juni.
Shinta pun mengarahkan pandangannya pada langit dan mengikuti arah yang ditunjuk oleh Juni.
"Iya, yang satu itu terlihat lebih terang dari pada yang lainnya." Shinta mengangguk membenarkan ucapan Juni.
"Seperti itu lah Sela di mataku," ucap Juni sesaat kemudian.
Kini pandangan Shinta mengarah pada Juni yang menatap bintang di langit dengan seksama.
"Bagiku Sela yang paling terbaik. Istriku yang telah tenang dipangkuan Sang Maha Pencipta," lanjut Juni.
Shinta menatap Juni secara seksama, sementara Juni terlihat bahagia menatap bintang yang paling terang itu. Dan ... entahlah ada sesuatu yang membuat Shinta merasa sedikit aneh, perasaan yang tak wajar menghinggapi dirinya.
....
Di lain tempat, Rania dan Alvaro tengah berbaring di atas ranjang. Keduanya saling menatap, serta saling melemparkan senyum.
__ADS_1
"Mas, mama kemarin meneleponku. Si Bima bilang, dia ingin mempunyai dua adik," ucap Rania menceritakan hal tersebut kepada ibunya.
"Bima ada-ada saja. Mau minta dua, yang satu saja belum lahir," ujar Alvaro sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bukan seperti itu, Mas." Rania memprotes ucapan sang suami.
"Lalu bagaimana?" tanya Alvaro.
"Mama mengira bahwa aku memiliki anak kembar nantinya. Mas sama Alvira kan saudara kembar," ujar Rania.
"Iya juga sih. Tetapi nanti kita USG saja dulu, biar tahu bayinya kembar atau tidaknya." Alvaro menyentuh puncak kepala sang istri dengan lembut.
"Iya, Mas. Kapan kamu punya waktu untuk pergi ke dokter?" tanya Rania.
"Kapan pun kamu memintanya, Mas pasti akan selalu ada. Urusan kantor itu mudah, bisa ditinggal. Yang utama adalah kalian," ujar Alvaro.
Rania tersenyum mendengar ucapan sang suami. Alvaro sedikit menunduk, mendekatkan wajahnya pada perut sang istri, untuk mengucapkan selamat malam pada bayi yang ada di dalam kandungan istrinya.
"Halo, Sayang. Papa dan Mama sudah tak sabar menantikan kamu untuk lahir ke dunia ini. Sehat-sehat ya, Sayang. Jangan buat mama mual terus, kasihan nanti mama tiba-tiba kehilangan napsu makan terus pesan mie ayam tiga porsi," ujar Alvaro terkekeh geli.
Rania mendengar kalimat yang baru saja di lontarkan oleh Alvaro, langsung mencubit pelan lengan suaminya.
"Mas, jangan begitu. Aku kan makannya bagi-bagi sama si dedek," protes Rania sembari mengerucutkan bibirnya.
Melihat Rania mengeluarkan ekspresi lucunya, membuat Alvaro mencubit pangkal hidung milik sang istri.
"Kenapa kamu menggemaskan sekali," ujar Alvaro.
"Ya sudah, ayo kita tidur!" ajak Alvaro.
Pria itu membetulkan posisi selimut agar menutup kedua tubuh mereka. Rania langsung menghadap ke arah suaminya dan memeluk tubuh pria itu dengan erat.
"Kalau memang mereka kembar, mas maunya gender apa. Perempuan semua atau laki-laki semua?" tanya Rania.
"Kalau bisa, mintanya seperti Mas dan Vira. Satu laki-laki dan satu perempuan. Namun, semua itu mas kembalikan lagi pada Tuhan. Apapun yang diberikan oleh-Nya, Mas tetap akan menerimanya," tutur Alvaro seraya mencium kening sang istri.
"Semoga saja satu laki-laki dan satu perempuan, supaya rumah terasa lebih ramai," ujar Rania mengulas senyum.
Bersambung ...
Gengs, maaf ya jarang update karena lagi badmood sama entun di awal bulan dan awal tahun ini. Harap maklum ya, nanti bakalan di gas lagi di akhir bulan kalau belum sampai targetnyaš¤
__ADS_1