
"Jadi ... kalian sekarang sudah resmi berpacaran?" tanya Juni yang seakan tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Iya," ucap Shinta.
Juni mengusap-usap hidungnya, mengalihkan perhatian dari rasa sedihnya. Pria itu sesekali menunduk, lalu tersenyum menatap kedua orang yang ada di hadapannya secara bergantian.
"Selamat untuk kalian berdua, hahaha ... ternyata aku terlambat mendapatkan kabar ini. Aku tidak tahu jika kalian akan menjalin hubungan," ujar Juni seraya mengembangkan senyumnya. Ia menutupi semua rasa sakit itu. Mendengar bahwa wanita yang ia sukai telah menjalin hubungan dengan rivalnya, membuat hati Juni bak diperas.
"Sekarang giliranmu. Apa yang ingin kamu katakan padaku?" tanya Shinta .
Juni melirik genggaman tangan Shinta yang semakin mengerat, ia juga menatap kedua orang yang ada di hadapannya secara bergantian. Pria tersebut membasahi bibir tipisnya yang terasa kering, lalu kemudian mengulas senyum.
"Aku hanya ingin menyampaikan padamu, pesan Pak Alvaro jangan lupa besok untuk segera menyelesaikan berkas yang ia minta kemarin," ujar Juni beralasan. Sekarang, sudah tak perlu baginya menjelaskan semuanya, menjelaskan tentang bagaimana jantungnya yang selalu berdebar menatap mata indah milik sang sekretaris. Bagaimana saat ia bersemangat jika Daren satu detik saja tak berada di samping Shinta.
"Oh, yang itu. Sudah aku selesaikan dan besok akan aku serahkan," timpal Shinta.
Juni menganggukkan kepalanya,"Sudah, itu saja yang ingin aku sampaikan. Kalau begitu ... silakan nikmati waktu kalian," ujar Juni yang kemudian berbalik meninggalkan kedua orang tersebut.
Juni mendongakkan wajahnya, menghela napasnya dalam-dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan. "Aku tidak tahu, kecewa karena cinta akan seperti ini," gumamnya pelan. Pria itu pun melangkah pergi meninggalkan kedua orang tersebut.
Shinta memandangi punggung Juni yang semakin lama semakin menjauh. Genggaman tangannya pada Daren pun tiba-tiba terlepas begitu saja. Melihat Juni pergi, ia merasa benar-benar kehilangan. Gadis itu pun menghadap pada pria yang baru saja menjadi kekasihnya beberapa jam yang lalu.
"Maaf, aku harus beristirahat sekarang. Aku benar-benar sangat lelah," ucap Shinta berucap pada Daren.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita masuk!" ajak Daren yang berusaha mengembangkan senyumnya.
Daren melihat jelas bagaimana ekspresi wajah kekasihnya saat Juni meninggalkan mereka. Seolah gadis tersebut kehilangan akan sesuatu yang berharga. Kebahagiaan yang ia rasakan beberapa saat yang lalu seakan hilang begitu saja. Yang diinginkan oleh Shinta bukanlah dirinya, melainkan Juni.
"Aku merasa sangat berat akan hal ini. Namun, bagaimana dengan hatiku yang selalu mendambamu? Akankah nantinya hati yang beku itu luluh kepadaku? Atau kamu akan tetap mencintainya dalam diammu?" batin Daren menatap punggung Shinta yang berjalan lebih dulu.
Setibanya mereka di unit masing-masing, Shinta pun melirik ke arah pintu Juni yang telah tertutup rapat . Tentu saja hal tersebut tak luput dari pandangan Daren.
"Selamat malam dan selamat beristirahat," ucap Daren yang mencoba mengalihkan pandangan Shinta dari pintu itu.
"Iya, kamu juga." Shinta mengulas senyumnya, lalu kemudian segera masuk ke dalam unit tersebut.
Tinggal lah Daren sendirian yang belum masuk ke dalam huniannya. Pria tersebut menekuk bibirnya ke dalam. Lalu kemudian tertawa, seakan meratapi nasibnya yang harus bertepuk sebelah tangan. Ia menghela napasnya, membuka kunci pintu dan kemudian masuk ke dalam untinya.
Di dalam kamar, ketiga orang tersebut merebahkan dirinya, menatap ke langit-langit. Yang pertama dimulai dari Juni.
Pria tersebut berbaring di atas sofa. Tangannya diletakkan di atas kening, mengingat bagaimana saat Shinta memperkenalkan Daren sebagai kekasihnya, di saat pria tersebut sudah siap untuk mengatakan semuanya.
"Aku dan Daren sudah resmi berpacaran."
Kalimat itu selalu saja terngiang-ngiang diingatannya. Juni kesal, Juni marah, akan tetapi mau bagaimana lagi, semuanya sudah terlambat. Nasi sudah menjadi bubur, dan bubur itu sebentar lagi akan basi. Begitulah perumpamaan yang tepat untuk Juni.
__ADS_1
Sementara Shinta, setibanya di dalam kamar, gadis tersebut merebahkan dirinya di atas kasur empuk miliknya. Pandangannya menatap ke langit-langit, mengingat bagaimana kejadian saat di depan tadi.
Entah mengapa, ia menatap lekat mata Juni, melihat ada gurat kekecewaan di mata pria tersebut. Apa itu alasan karena sudah mendengar bahwa Daren dan dirinya berpacaran, atau memang ada hal lain yang membuatnya kecewa.
Shinta ingin sekali meneriakkan pada Juni, bahwa dirinya menyukai pria itu sudah sejak lama. Namun, mengingat kembali sikap Juni serta ucapannya yang sering menekankan bahwa mereka adalah teman, membuat Shinta mengurungkan niatnya. Memilih untuk memendam rasa itu sendirian.
"Andaikan saja yang ingin ia ungkapkan tadi adalah perasannya terhadapku, mungkin aku akan membicarakan hubungan yang kami jalin beberapa jam yang lalu pada Daren, mengatakan bahwa aku mencintainya. Namun, diriku terlalu berharap pada sesuatu yang mustahil terjadi. Dan akhirnya, aku pun merasakan kekecewaan itu berkali-kali," gumam Shinta. Air mata menetes begitu saja dari sudut matanya. Gadis itu langsung berbalik menyamping, memeluk bantal guling dengan erat. Sementara air matanya semakin keluar deras.
Di waktu yang bersamaan, Daren membuka lemari, tempat pria tersebut menyimpan wine nya. Ia membuka wine tersebut, menenggaknya dari botol secara langsung.
Daren menjatuhkan bokongnya ke kursi. Mengingat bagaimana cara kekasihnya itu menatap pria lain dengan begitu dalam. Sementara saat kekasihnya itu menatap dirinya tak seperti ia menatap Juni.
Daren kembali menenggak wine yang ada di tangannya. Mencoba melupakan kejadian di depan tadi. Namun, itu terasa sangat sulit. Seakan hal tersebut terus mengusiknya dan membuat kepalanya serasa pecah.
"Apakah ini adalah awal dari semuanya? Atau menjadi akhir dari segalanya," ujar Daren menertawai alir percintaannya yang benar-benar rumit.
"Aku menatapnya, akan tetapi dia menatap orang lain," lanjut pria itu.
"Haruskah aku membanggakan diriku karena telah berhasil merebutnya. Sementara si pemilik hati, sepertinya tak menerimaku sama sekali. Hanya bibir yang berucap untuk menjalaninya denganku, sementara hatinya masih memilih pria lain," ujar Daren bermonolog.
...****************...
Matahari mulai merangkak ke atas, memperlihatkan sinarnya. Suara kicauan burung terdengar bersahutan. Alvaro mengusap matanya, melihat istri cantiknya yang masih tertidur pulas dalam keadaan terlentang.
Rasa kantuk yang ia rasakan tak sebanding dengan rasa sakit Rania. Demi mengandung buah hati mereka, waktu tidur Rania berkurang. Apalagi saat wanita itu selalu salah memposisikan dirinya. Menghadap ke kanan serasa tidak nyaman, menghadap ke kiri juga seakan ada yang mengganjal, membuat wanita itu pun terpaksa tidur terlentang dengan perut buncitnya. Tak heran jika ia mendengkur setiap malamnya.
Alvaro mengusap puncak kepala sang istri dengan penuh kasih sayang. Ia mengecup kening Rania, seakan memberitahukan pada wanitanya bahwa pria itu memiliki rasa cinta yang besar terhadap wanita itu.
Rania menyamping menghadap Alvaro. Wanita tersebut hendak memeluk sang suami. Mencari kehangatan di pagi buta itu.
"Mas belum mandi? Apa Mas Varo tidak kerja?" tanyanya dengan mata yang tertutup dan suara khas orang baru bangun tidur.
"Ini kan hari libur, Sayang." Alvaro menimpali sang istri yang masih enggan membuka matanya.
"Oh, libur. Aku tidak tahu, Mas. Aku kan pengangguran. Tanggal merah pun tak berarti bagiku yang menghabiskan waktunya untuk rebahan," ujar Rania yang membuat Alvaro pun langsung terkekeh mendengar ucapan sang istri.
"Kakinya masih kesemutan?" tanya Alvaro.
"Kadang-kadang, Mas. Tapi kata mama, harusnya setiap pagi aku berjalan keluar tanpa alas kaki. Karena hal tersebut baik untuk ibu hamil," ujar Rania yang mulai membuka matanya.
"Ya sudah, kalau begitu ayo bangun! Mas akan menemanimu berjalan-jalan di halaman depan," ucap Alvaro yang tampak bersemangat mengajak sang istri.
"Ya sudah, Ayo!"
Alvaro membantu sang istri bangkit dari kasurnya. Keduanya masuk ke dalam kamar mandi, membasuh wajah mereka.
__ADS_1
Setelah melakukan hal tersebut, Alvaro langsung membawa sang istri di halaman depan. Berjalan-jalan di atas bebatuan kecil tanpa menggunakan alas kaki. Pria itu juga berjalan di sana tanpa alas kaki, mengikuti sang istri.
"Mas pakai saja sandalnya, lagi pula Mas kan tidak hamil," celetuk Rania.
"Tidak apa-apa, Sayang . Kalau Mas menemanimu tetapi Mas sendiri masih menggunakan alas kaki, serasa tidak adil saja."
Rania tersenyum, ia bahagia bersama dengan Alvaro, pria yang selalu memberikan dirinya perhatian lebih. Mencintainya dengan sepenuh hati.
Tak lama kemudian, datang Bima yang masih mengenakan piyama. Anak laki-laki itu langsung berlarian memeluk ibunya.
"Mama ...." Bima berseru, menghambur ke pelukan Rania.
"Iya, Sayang. " Rania mengusap punggung putranya dengan lembut.
"Mama sedang apa? Mengapa mama berjalan tidak menggunakan sandal?" tanya Bima menatap kaki Rania yang menyentuh tanah.
"Papa juga," lanjutnya melemparkan pandangannya pada sang ayah.
"Tidak apa-apa, Sayang." Shinta menimpali sembari mengulas senyumnya.
Melihat kedua orang tuanya yang berjalan di atas bebatuan tanpa mengenakan alas kaki, membuat Bima pun melepaskan sandal yang ia kenakan. Ikut berjalan bersama dengan kedua orang tuanya.
"Kalau begitu, Bima juga ikutan ya Ma, Pa." Anak laki-laki itu berjalan mengiringi ibu sambungnya.
"Tidak usah, Sayang. Nanti kakimu sakit, Nak." Rania mencoba melarang Bima. Ia tidak ingin kaki Bima sakit akibat menuruti dirinya.
"Tidak sakit, Ma. Bima senang karena bisa berjalan bersama dengan mama dan papa tanpa menggunakan alas kaki. Bima sering sekali melihat orang dengan baju yang lusuh, berjalan kaki di jalanan tanpa merasa sakit sedikit pun. Dari sini, Bima mulai tahu, bahwa mereka hanya menahan rasa sakit itu. Apalagi saat berjalan di aspal dengan cuaca yang terik, mungkin telapak kaki mereka akan terbakar," ucap anak laki-laki itu yang sering melihat orang dengan gangguan jiwa, yang berjalan kaki tanpa menggunakan sandal.
"Terus, kalau Bima melihatnya, apa yang akan Bima lakukan?" tanya Alvaro.
"Bima akan memberikannya alas kaki Pa, supaya orang tersebut tidak merasa kepanasan dan kesakitan," timpalnya.
Rania dan Alvaro mengulas senyumnya mendengar ucapan Bima. Keduanya langsung memeluk Bima dengan erat, karena Bima sudah menjadi anak yang baik.
"Tetaplah berbuat seperti itu hingga dewasa kelak ya, Nak. Papa bangga memiliki Bima."
"Mama juga bangga memiliki Bima," sambung Rania.
"Terima kasih, Ma, Pa. Bima juga sangat bangga memiliki mama dan papa yang hebat," ujar anak laki-laki tersebut mengulas senyumnya.
Mereka pun kembali melanjutkan langkahnya. Ketiga orang tersebut saling beriringan dengan Rania yang berada di depan. Sementara dua pria berbeda generasi itu mengiringinya dari belakang.
Bersambung ....
Jangan lupa like dan komen ya gengs. Sawer vote sama gift juga boleh😆
__ADS_1