Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 198. Dipindahkan


__ADS_3

Pagi ini, Juni sudah tampak rapi, berdiri di depan unit kekasihnya yang masih tertutup rapat. Gara-gara kejadian kemarin, Shinta masih marah padanya. Dan bahkan sampai saat ini, pesan singkat maupun telepon dari Juni pun selalu saja diabaikan oleh gadis tersebut.


Tokkk ... Tokkk ....


"Shin, kamu masih marah ya sama aku? Buka pintunya Shin! Apakah mau tidak berencana untuk berangkat bekerja?" tanya Juni yang masih mengetuk pintu tersebut.


Tak ada sahutan dari dalam unit itu. Membuat Juni semakin gusar. Kemarahan Shinta membuat Juni kelimpungan. Niat hanya bercanda, akan tetapi Shinta menanggapi hal tersebut dengan serius.


Juni melirik jam tangannya, ia menghela napasnya dengan kasar. "Jika kamu tidak keluar, aku akan berangkat lebih dulu. Mungkin setelah pulang dari kantor, aku akan kembali menemuimu," ujar Juni.


Ia sengaja berucap demikian, berharap jika Shinta akan keluar dan membukakan pintu untuknya. Namun, setelah Juni tunggu, pintu itu pun tak kunjung terbuka.


"Apakah dia tidak akan berangkat bekerja hari ini?" gumam Juni.


"Arghhhh sudahlah! Wanita itu sangat rumit untuk dimengerti!" keluh Juni yang memutuskan untuk pergi dari unit tersebut.


Juni keluar dari gedung tersebut. Ia masuk ke dalam mobilnya, mengendarai roda empat tersebut menuju ke jalanan.


Di perjalanan, ia terpikirkan dengan Shinta. Bagaimana jika gadis itu tidak masuk bekerja hanya gara-gara kemarin? Apa yang bisa ia lakukan agar membuat Shinta tak lagi marah padanya.


Namun, Juni mencoba menepis semua pemikiran itu. Tidak mungkin baginya jika harus kembali menemui Shinta yang belum keluar juga dari unitnya.


"Tidak ... ini bukanlah jalan keluar dari semua permasalahan. Jika aku juga mengabaikan pekerjaanku hanya karena Shinta, bisa-bisa aku dan Shinta menjadi pengangguran. Lalu, bagaimana dengan kehidupan kami selanjutnya? Bagaimana aku bisa meminang Shinta jika aku sendiri adalah seorang pengangguran? Bisa-bisa baru datang langsung ditolak mentah-mentah oleh kedua orang tuanya," gumam Juni.


Juni menambah kecepatan laju kendaraannya, agar cepat tiba di kantor. Ia tidak ingin dipecat, ia juga tidak ingin menjadi pengangguran nantinya. Bagi Juni, Alvaro sudah cukup banyak memberikan toleransi padanya, sebisa mungkin Juni juga tak boleh mengecewakan atasannya itu.


Mobil yang dikendarai oleh Juni pun tiba di kantor. Pria itu bergegas keluar dari mobilnya. Tak lama kemudian, mobil Alvaro pun tiba. Juni menghela napasnya dengan lega, karena dirinya datang lebih dulu dari pada Alvaro.


Juni bergegas menuju ke arah Alvaro, membukakan mobil untuk atasannya itu. Ia sebisa mungkin menormalkan wajahnya, agar tak mudah terbaca oleh Alvaro bahwa dirinya tengah dilanda hati yang sedang gundah gulana.

__ADS_1


"Selamat pagi, Pak." Juni sengaja memberikan sapaan hangat pada bosnya itu. Anggap saja agar Alvaro tak membaca ekspresi wajahnya saat ini.


"Ada apa denganmu? Ramah sekali pagi ini. Apakah kamu sedang memiliki masalah?" celetuk Alvaro.


Juni memejamkan matanya. Senormal mungkin ia mengubah ekspresinya, masih tetap terbaca oleh pria yang ada di hadapannya itu.


"Terkadang aku berpikir, bahwa atasanku ini layaknya seorang dukun. Entah bagaimana ia selalu saja menebak hal yang tak pernah meleset sama sekali," batin Juni.


"Masalah? Tentu saja tidak, Pak. Saya baik-baik saja," kilah Juni yang tak ingin mengakuinya. Jika ia mau pun pria itu akan merasa sangat malu.


"Syukurlah kalau memang begitu. Ku harap kehidupan percintaanmu baik-baik saja," ujar Alvaro melangkahkan kakinya berlalu dari hadapan sang asisten.


"Tuh kan, lagi-lagi dia menebaknya dengan benar," ujar Alvaro setengah berbisik.


Kedua pria tampan itu masuk ke dalam gedung pencakar langit. Beberapa orang yang ada di sana menundukkan kepalanya saat berpapasan dengan Alvaro.


Alvaro dan Juni masuk ke dalam lift. Hingga pintu baja itu tertutup, Alvaro kembali membuka suara. "Apakah ada keluhan lagi dari kantor cabang?" tanya Alvaro pada sang asisten.


"Baguslah, jika ada laporan apapun dari sana, segera lapor ke saya. Mungkin dia tahun kedepan, Alvira akan kembali mengambil perusahaan tersebut. Aku tidak ingin menyulitkan adikku, menyerahkan perusahaan dalam kondisi tidak baik-baik saja," tutur Alvaro.


"Baik, Pak." Juni berucap sembari menganggukkan kepala.


Tinggg ...


Pintu baja itu pun kembali terbuka. Kedua orang tersebut keluar dari ruangan sempit itu. Mereka melangkahkan kakinya menuju ke ruangan Alvaro. Namun, saat hampir tiba di sana, Juni tertegun. Pria itu melihat sang kekasih yang sudah berada di balik meja kerjanya. Gadis itu beranjak dari tempat duduk, lalu kemudian menunduk hormat ke arah Alvaro.


"Apakah aku tidak salah lihat? Shinta sudah berada di sini? Perasaan tadi dia belum keluar dari unitnya. Dan aku pun baru saja tiba tak lama sebelum Pak Alvaro," batin Juni yang merasa heran.


"Berarti ... tadi itu memang tidak ada orang. Dan aku sudah berteriak di depan rumahnya bak orang gila hanya ingin meminta maaf padanya." Juni berkata di dalam hatinya.

__ADS_1


"Astaga ... siapapun yang melihatku tadi, pasti menertawakan kebodohanku." Juni menghembuskan napasnya dengan kasar. Ia merasa frustasi sekaligus malu dengan tetangga sebelah unit Rania.


"Ada apa? Kau sedari tadi menghela napas terus-menerus. Apakah kalian bertengkar?" tanya Alvaro yang juga berbicara pada Shinta.


Dengan cepat, Shinta pun menggelengkan kepalanya. Begitu pula dengan Juni yang menyangkal hal tersebut. Sengaja menutupi semua itu dari atasannya yang terlampau kepo (memiliki rasa ingin tahu yang tinggi).


"Shinta, bawa laporan yang aku minta kemarin. Dan Juni, kembalilah ke meja kerjamu!" Titah Alvaro.


"Baik, Pak." Mereka menimpali ucapan Alvaro serentak.


Shinta mengambil dokumen yang ia siapkan sebelumnya. Ia sengaja datang pagi-pagi sekali untuk menghindari Juni, sekaligus membuat laporan yang diminta oleh atasannya itu.


Shinta berlalu begitu saja dari hadapan Juni. Awalnya pria itu ingin sekali menyapa Shinta dengan menyunggingkan senyumnya. Namun, saat melihat ekspresi Shinta yang tak bersahabat, membuat Juni pun mengurungkan niatnya.


"Baiklah, tahan dulu untuk sementara waktu. Ini di kantor! Aku bisa membicarakan hal ini setelah pulang nanti," batin Juni seraya melangkah menuju ke meja kerjanya.


"Ada apa dengannya? Kenapa dia seperti terheran melihatku? Biarkan saja! Biar dia tahu rasa, menganggap aku terlalu mudah. Lagi pula, sesekali memang si Juni ini perlu diberi pelajaran. Supaya dia peka dan juga jera, bermain-main seperti kemarin," batin Shinta.


Shinta mulai masuk ke ruangan Alvaro. Gadis itu menunggu Alvaro menjatuhkan bokongnya di kursi kebesaran miliknya, setelah itu barulah ia memberikan dokumen yang diminta oleh Alvaro.


Alvaro menerima dokumen tersebut, ia membuka satu persatu lembaran yang ada di tangannya.


"Shinta, ...."


"Iya, Pak." Shinta menimpali dengan perasaan yang gugup. Entah mengapa ia sangat takut jika dirinya kembali membuat kesalahan.


"Apakah tidak masalah jika kamu saya pindahkan kembali ke kantor cabang?"


Deggg ....

__ADS_1


Shinta pun seketika langsung terkejut dengan apa yang baru ia dengar dari atasannya itu.


Bersambung ....


__ADS_2