Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 133. Alvaro Puitis


__ADS_3

"Mama!" seru Bima yang baru saja turun dari mobil, berlari lalu kemudian menghambur ke pelukan ibunya.


"Eh, Sayangnya mama sudah pulang. Tadi dijemput sama Pak Darman ya?" tanya Rania.


"Iya, Ma." Bima mengangguk pelan.


"Ya sudah, kalau begitu ayo kita ganti pakaian dulu setelah itu makan siang," ajak Rania yang beranjak dari tempat duduknya.


"Siap, Ma."


Rania menggandeng Bima berjalan menaiki anak tangga. Keduanya masuk ke dalam kamar, Rania mengambilkan baju ganti untuk putra sambungnya.


Bima langsung melepas seragam sekolahnya dan menggantinya dengan pakaian santai yang dipilihkan oleh Rania.


Setelah berganti pakaian, Rania mengajak putra sambungnya ke meja makan. Menyiapkan makan siang untuk Bima.


"Makan siang dulu ya, Nak. Baru setelah itu bermain," ucap Rania.


"Iya, Ma. Mama juga makan ya," ujar Bima.


"Iya, Sayang."


Keduanya pun menikmati makan siang tersebut. Rania tampak senang dengan adanya Bima. Rasa bosannya menjadi hilang setelah mendengar celotehan Bima.


Seusai menikmati makan siang, mereka berdua kini berada di ruang tengah. Rania dan Bima tengah menonton televisi, memperhatikan layar menyala tersebut dengan seksama.


Tak lama kemudian, tangan Bima tanpa sengaja menyentuh perut ibunya. Anak laki-laki itu menoleh, menyadari bahwa perut sang ibunda yang masih sama seperti kemarin.


"Ma, kenapa perut mama tidak besar? Padahal mama makannya banyak, ada dedek bayi juga di dalam sini," ucap Bima sembari menunjuk perut ibunya.


"Kalau Tante Vira kemarin, perutnya besar, makannya banyak. Kenapa mama tidak seperti itu?" tanya Bima yang tampak keheranan sembari menatap perut Rania.


"Sayang, dedek bayi yang ada di dalam sini ukurannya masih kecil, belum besar. Nanti setelah besar, perut mama pasti ikut membesar juga," jelas Rania.


"Oh begitu. Bima kira mama makannya kurang banyak, makanya perut mama tidak besar-besar," ujar Bima memasang wajah polosnya.


Mendengar ucapan Bima, membuat Rania langsung terkekeh geli. Sungguh! Bima benar-benar menggemaskan. Ia merasa bersyukur dengan adanya Bima, hari-harinya menjadi sedikit terhibur.

__ADS_1


"Ma, tapi bolehkah Bima minta adik dua," ucap anak laki-laki tersebut sembari memperlihatkan kedua jarinya.


"Bima mau langsung dua?" tanya Rania lagi yang dijawab anggukan oleh Bima.


"Kalau begitu do'a kan saja, yang ada di dalam perut mama nanti ada dua adik," Rania mengusap perutnya.


"Langsung dua, Ma? Apa bisa? Dua adik apakah muat di dalam perut mama?" tanyanya lagi.


"Bisa, Sayang. Makanya Bima do'akan saja supaya adik Bima kembar," ujar Rania.


"Kembar itu apa, Ma?"


"Kembar itu berarti adik bayi yang ada di dalam perut mama lebih dari satu," tutur Rania memberikan pengertian pada anak sambungnya.


"Oh, begitu." Bima mengangguk paham. Ia mendekatkan wajahnya ke perut Rania, melakukan seperti apa yang biasanya dilakukan oleh Alvaro.


"Dedek bayinya tidak menangis kan ma?" tanya Bima lagi.


"Tidak, Sayang. Nanti setelah lahir baru dia akan menangis," jawab Rania. Bima menganggukkan kepalanya. Ia kembali menatap layar televisi sembari mengusap pelan perut ibunya. Anak laki-laki itu tampak benar-benar menyayangi adik yang ada di dalam kandungan ibunya.


Perlahan, Rania mendapati kepala Bima yang terjatuh mengenai lengannya. Ia menatap ke samping, mendapati anak laki-laki berambut ikal tersebut sudah terlelap.


Ia memangku putranya, meletakkan kepala Bima di atas pangkuannya. Rania tersenyum sembari mengusap kepala Bima. Sementara Bima, ia tambah meringkuk, seolah merasa nyaman dengan sentuhan di kepalanya.


"Jika dilihat-lihat secara seksama, Bima sangat mirip dengan Mas Varo. Dari segi wajah, mungkin Bima banyak mewarisi dari Mbak Diara. Namun, sikapnya lebih mirip Mas Varo," gumam Rania menatap putranya.


Rania kembali menatap layar televisi. Matanya terasa berat, hingga ia pun juga tertidur dalam posisi tengah memangku Bima.


Di kantor, Alvaro menatap interaksi antara Shinta dan sang asisten. Tak memperlihatkan sebuah kedekatan yang istimewa. Namun, ada beberapa perubahan dari keduanya. Juni yang tampaknya lebih menjaga jarak dari Shinta.


"Apakah karena ucapanku menyinggung Juni hingga dia bersikap seperti itu pada Shinta?" batin Alvaro.


Setelah keluar dari ruang rapat, Alvaro dan sang asisten serta sekretarisnya masuk ke dalam lift. Tak ada pembicaraan apapun antara keduanya. Biasanya, seusai rapat mereka saling berbagi cerita dengan berbagai kejanggalan-kejanggalan yang ada di ruang rapat. Entah itu yang ia lihat dari orang lain ataupun mereka yang juga saling melemparkan kritikan satu sama lain.


Pintu lift terbuka, ketiga orang tersebut langsung keluar dari ruangan sempit itu menuju ke meja kerja masing-masing.


"Juni, kamu ikut ke ruangan saya sebentar!" titah Alvaro.

__ADS_1


"Baik, Pak." Juni mengekor di belakang Alvaro lalu kemudian keduanya masuk ke dalam ruangan CEO.


Setibanya di sana, Alvaro lebih dulu menjatuhkan bokongnya di sofa. Ia melirik Juni yang terlihat sedikit kaku dan masih tetap berdiri.


"Silakan duduk!" ujar Alvaro menelengkan kepalanya.


"Apa yang ingin bapak bicarakan kepada saya?" tanya Juni yang benar-benar penasaran.


"Apakah kamu merasa tersinggung dengan ucapan saya sebelumnya?" tanya Alvaro.


Juni meresponnya dengan memperlihatkan senyum. Tak menjawab apa yang diucapkan oleh atasannya.


Melihat situasi yang seperti ini, Alvaro mengerti bahwa sang asisten sedikit mengambil hati dari ucapan pria itu sebelumnya.


"Maaf, jika kamu merasa tersinggung dengan ucapanku. Aku hanya berpikir, mustahil kamu secepat itu bisa melupakan istrimu," lirih Alvaro.


"Sama halnya seperti Pak Alvaro kemarin, begitu pula kondisi saya saat ini. Apakah bapak mengungkit masalah ini hanya karena sikap saya terhadap Shinta tadi?" tanya Juni.


Alvaro mengangguk, mengiyakan ucapan Juni. "Aku sempat berpikir seperti itu," ujarnya.


"Banyak rumor yang beredar di lingkungan kantor, tentang gosip antara aku dan Shinta. Maka dari itu, aku memilih untuk menjaga jarak, menghindari gosip yang ada agar tidak semakin di besar-besarkan," seloroh Juni.


"Terdengar sampai ke telinga saya, bahwa saya telah melupakan sosok Sela dan menggantinya dengan Shinta. Itu tidak benar, bagiku Shinta hanyalah teman sekaligus adik," papar Juni.


"Ya, aku bisa mengerti bagaimana posisimu. Sela mengetahui dengan jelas, usaha kamu selama ini serta bagaimana cara kamu mencintainya. Dahulu aku dan Diara juga seperti itu. Sebelum kepergiannya, Diara selalu memperlihatkan beberapa kejanggalan yang mungkin sulit dicerna oleh akal sehat. Namun, itu lah adanya, mereka meninggalkan sesuatu yang merupakan sebuah pertanda bahwa ia akan meninggalkan kita untuk selama-lamanya," papar Alvaro yang mencoba menguatkan Juni.


Mata Juni memerah, ucapan Alvaro kembali mengingatkan tentang kenangan manis bersama dengan istrinya.


"Kalau begitu, kamu kembali ke meja kerjamu. Jika ada orang lain yang membicarakan keburukan mu, kamu berhak menulikan telingamu untuk tidak mendengarkan ucapan mereka," ucap Alvaro.


"Iya, Pak. Terima kasih karena sudah menjadi Mario Teguh untuk siang ini," celetuk Juni yang sengaja mencairkan sedikit suasana dengan guyonan.


"Apakah ucapanku sepuitis itu?" tanya Alvaro terkekeh.


"Tentu saja, bahkan saya sedikit geli mendengarnya," jawab Juni yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari atasannya.


"Namun, apapun yang dikatakan oleh Pak Alvaro tadi memang benar. Terima kasih atas masukannya. Kalau begitu saya permisi dulu, Pak. Jangan dipotong gaji saya ya," ujar Juni yang kemudian langsung beranjak pergi dari ruangan itu.

__ADS_1


"Lihat saja. Aku akan memotong gajimu jika kamu terus meledekku seperti tadi," tukas Alvaro yang tak didengarkan oleh Juni, karena pria itu sudah menghilang dari balik pintu tersebut.


Bersambung ....


__ADS_2