
Drrrttt ...
Shinta tengah membersihkan wajahnya. Tiba-tiba ponselnya bergetar, menandakan bahwa ada pesan singkat yang masuk. Shinta pun meraih ponselnya. Keningnya berkerut saat melihat si pengirim pesan adalah Juni.
"Juni? Dia mengirimiku pesan?" gumam Shinta. Tangan gadis itu menyentuh layar ponselnya, mencoba membuka pesan yang dikirimkan oleh tetangganya itu.
Have a nice dream, Honey.
Sesaat kemudian, ponsel Shinta pun langsung terlepas dari tangannya. Ia benar-benar terkejut membaca pesan singkat yang dikirimkan oleh Juni.
"Apa itu? Apakah dia salah kirim pesan? Honey? Siapa yang ia panggil honey? Aku?" Shinta bergumam dengan serentetan pertanyaan.
"Bagaimana jika dia benar-benar salah kirim? Haruskah aku merasa berbunga-bunga seperti ini?"
Meskipun pesan singkat itu tidak tertuju padanya, akan tetapi tak bisa dipungkiri, rasa bahagia Shinta begitu meletup-letup melihat pesan yang dikirimkan oleh Juni.
"Haruskah aku membalasnya? Atau aku biarkan saja hingga esok hari?"
Shinta membuang kapas yang ada di tangannya. Gadis tersebut tengah mengetikkan balasan atas pesan yang dikirimkan oleh Juni tadi. Namun, sesaat kemudian ia kembali menghapus pesan tersebut.
"Biarkan saja dulu," ujar Shinta.
Gadis tersebut kembali membaca pesan yang dikirimkan oleh Juni. Ia mengusap matanya berkali-kali, takut jika apa yang dilihatnya hanyalah sekedar ilusi semata.
"Tidak berubah," gumamnya sembari tersenyum.
Saat bersama Daren tadi, Shinta seolah kehilangan gairah hidupnya. Namun, ketika ia mendapatkan pesan dari Juni yang belum tahu ditujukan untuknya atau bukan, justru gadis tersebut merasa sangat gembira dan bahkan berjingkrak-jingkrak kegirangan.
Di lain tempat, Juni menatap ponselnya. Pesannya tak kunjung dibalas oleh Shinta, padahal sudah terlihat dia centang biru di bawah pesan tersebut.
"Apa dia masih tercengang dengan pesanku? Atau dia sengaja sok jual mahal setelah mendapatkan pesan dariku? Baiklah, aku suka tantangan ini," ujar Juni yang merasa tertantang dengan sikap yang ditunjukkan oleh Shinta, yang sengaja sok jual mahal kepada Juni.
"Mulai besok, aku akan mulai mengejarmu lagi, Shinta." Juni kembali meletakkan ponselnya. Pria itu mengembangkan senyumnya, menatap langit-langit kamarnya.
__ADS_1
...****************...
Keesokan harinya, Juni bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Pria tersebut mengenakan setelan kantornya berwarna hitam, merapikan rambutnya dengan pomade. Bahkan jika ada lalat yang hinggap di rambutnya, bisa dipastikan lalat tersebut akan terpeleset karena saking licinnya rambut asisten tersebut.
Juni menyemprotkan minyak wangi ke beberapa titik tubuhnya. Kembali memeriksa penampilannya di depan cermin.
"Mungkin sudah cukup untuk menambah nilai ketampanan ku di depan Shinta," gumam Juni yang mulai narsis.
Setelah memastikan penampilannya cukup, pria itu pun langsung bersiap untuk berangkat ke kantor. Penampilan Juni hari ini memang sedikit memukau. Bahkan ia menata gaya rambutnya yang sedikit berbeda dari sebelumnya. Memperlihatkan keningnya yang mulus, untuk memikat Shinta, tetangga sekaligus rekan kerjanya.
Saat Juni keluar dari unitnya, ia melihat Shinta dan Daren yang sedang berbincang-bincang di depan pintu. Kedua orang itu pun mengarahkan pandangannya pada Juni yang baru saja menutup pintunya.
Mata Daren langsung terbelalak, seakan hendak keluar dari tempatnya. Ia terkejut melihat Juni yang tiba-tiba berpenampilan semenarik mungkin . Tak bisa dipungkiri, bahwa Daren takut jika Shinta akan semakin tertarik pada rivalnya itu.
Sementara Shinta, ia tak mengerjap sedikit pun menatap Juni. Wajah Juni yang terlihat begitu bersinar dan sangat menyilaukan. Tentu saja membuat Shinta semakin jatuh hati pada pria tersebut berkali-kali.
Juni dengan sengaja menyugar rambutnya di depan kedua sejoli tersebut. Tentu saja hal itu membuat Shinta semakin terpesona melihat ketampanan Juni. Mengabaikan Daren yang saat ini tengah bersamanya. Apalagi mengingat pesan singkat yang dikirimkan oleh Juni semalam, membuat harapan Shinta kembali tumbuh setelah sempat pupus kemarin.
Daren kembali menggenggam tangan Shinta. Ketakutannya semakin bertambah saat melihat Juni semakin tampan. Pria itu bahkan dengan sengaja membuat Shinta tertarik, tebar pesona di hadapan kekasihnya.
"Menarik," ucap Juni dengan pelan. Pria itu pun menyusul kedua sejoli tersebut.
Saat pintu baja itu hampir tertutup, Juni langsung menghadang pintu itu dengan tangannya, hingga lift pun kembali terbuka.
"Ku rasa, aku akan terlambat sekian menit jika menunggu lift selanjutnya. Bagaimana jika kita masuk bersama? Kalian tidak keberatan kan?" tanya Juni.
"Ti ...." Daren baru saja hendak menolak Juni. Akan tetapi, Shinta pun langsung menyela ucapannya.
"Silakan saja, lagi pula lift ini diperuntukkan untuk umum," timpal Shinta yang memotong perkataan Daren.
Shinta sedikit memundurkan langkahnya, begitu pula dengan Daren. Pria berkumis tipis itu benar-benar kesal dengan sikap yang ditunjukkan oleh Daren. Apalagi Juni yang seakan-akan sengaja menggoda Shinta dengan berbagai intrik. Cara liciknya itu bisa saja berhasil, karena Shinta yang sampai saat ini masih belum bisa melupakan Juni sama sekali.
Tinggg ....
__ADS_1
Pintu lift pun terbuka, mengantarkan mereka sampai ke lantai bawah. Juni keluar dari lift, aroma parfum pria tersebut tampak semerbak, bahkan Juni yang sudah melangkah pergi cukup jauh, masih meninggalkan aroma parfum yang ia pakai tadi.
Shinta dan Daren masuk ke dalam mobil Daren. Sesekali Shinta mencuri pandang ke arah mobil Juni. Menatap pria tampan yang ada di dalam kendaraan tersebut.
"Sayang ...." Daren tersenyum menatap Shinta yang sedari tadi melihat ke arah Juni, sampai-sampai kekasihnya itu lupa memasangkan sabuk pengamannya.
"Iya," timpal Shinta yang langsung mengarahkan pandangannya pada sang kekasih.
"Apakah kaki tidak akan memakai sabuk pengamanmu?" tanya Daren.
"Ah iya, aku lupa." Shinta pun dengan segera memasangkan sabuk pengaman tersebut ke tubuhnya.
Daren menghidupkan mesin mobilnya. Rahang pria tersebut mengeras, saat melihat Shinta yang sedari tadi menatap Juni. Ia pun melajukan mobilnya menuju ke jalanan. Sengaja menginjak pedal gas mobil tersebut untuk melupakan amarah yang ada dalam dirinya.
Mata pria itu memerah, mencengkram kuat setirnya. Tampaknya kesabaran Daren sudah menipis. Selama ini ia berusaha untuk terus menyimpan emosinya di depan Shinta. Tapi kali ini, tampaknya hal tersebut mustahil untuk ia lakukan.
"Daren, kamu membawa mobil terlalu ngebut," tegur Shinta berpegangan pada gagang yang ada di pintu mobil tersebut. Gadis itu benar-benar merasa ketakutan, Daren seakan langsung membawa dirinya ke gerbang neraka.
"Daren!" tegur Shinta lagi. Namun, tetap diacuhkan oleh pria yang tengah duduk di belakang kemudi tersebut.
"Daren sadarlah!" teriak Shinta.
"Diammm!!!" Daren pun membalas ucapan gadis tersebut dengan kembali meneriakkinya.
Mendapat perlakuan kasar dari Daren, membuat Shinta terkejut. Matanya berkaca-kaca menatap Daren yang seakan ingin membunuhnya.
"Sedari tadi ... argghh tidak! Sedari kemarin aku berusaha untuk bersabar. Membiarkanmu seperti ini dan berusaha menegurmu dengan cara sehalus mungkin. Akan tetapi, kamu sepertinya tidak mengindahkan ucapanku. Kamu selalu saja memikirkan Juni ... Juni ... dan Juni ...." ketus Daren. Kali ini, pria itu pun menunjukkan sifat aslinya yang selama ini ia tutupi.
"Jadi seperti ini sifat aslimu. Hentikan mobilnya sekarang juga!!" seru Shinta yang juga berteriak.
"Aku tidak mau!"
"Turunkan aku!!!"
__ADS_1
Bersambung ....
Sebenarnya target masih sekitar 8rb kata, tapi aku udah mual duluan karena beberapa hari ini terlalu mengejar dan waktu tidurku pun tidak cukup karena harus kejar target bulanan. Mungkin sisanya akan aku update di tanggal 1 ya gengs. Udah mumet duluan aku😵🥴