
Keesokan harinya, Juni baru saja bangun dari tidurnya. Ia bangkit dari pembaringannya, meraih ponselnya yang ada di atas nakas. Pria tersebut mengetuk satu kali ponsel itu, sehingga layar benda pipih itu pun menyala.
"Jam enam," gumam Juni.
Pria itu dengan cepat beranjak dari tempat tidurnya. Ia segera bergegas keluar dari unitnya. Dan langsung menuju ke unit sebelah, dimana tempat sang kekasih berada.
Juni menekan bel unit tersebut. Ia bahkan menggedor-gedor pintunya beberapa kali. Namun, wanita yang berada di dalam sana tak kunjung juga membukakan pintunya. Pertanda bahwa Shinta sudah berangkat bekerja pagi-pagi sekali karena lokasinya yang memang cukup jauh.
"Sepertinya dia sudah berangkat," gumam Juni sembari terkekeh, menertawai kebodohannya yang sudah berlari dengan cepat menuju kemari. Usahanya sia-sia karena tak menemukan Shinta di unitnya.
Dengan langkah gontai, Juni kembali masuk ke dalam huniannya. Guratan kekecewaan terpatri jelas di wajahnya. Bagi Juni, Shinta berperan layaknya sebuah vitamin. Namun, kali ini ia tak mendapatkan vitaminnya di pagi hari.
"Masih ada waktu malam hari untuk bertemu, Jun. Sebaiknya bersabar saja," ujar Juni mencoba untuk mensugesti dirinya.
Juni memilih untuk mandi dan bersiap. Ia juga harus pergi ke kantor hari ini dan melaksanakan aktivitas seperti biasanya.
Jam setengah tujuh, pria itu sudah siap hendak pergi ke kantor. Ia melewatkan sarapannya, entah mengapa dirinya merasa tidak bersemangat kali ini. Mungkin karena tidak adanya Shinta, membuat hari Juni agak sedikit suram.
Ya ... anggap saja dia tengah menjalani pubertas kedua, dimana yang sedikit mendramatisir dengan keadaaan yang ada. Padahal, itu semua hanya sepele. Jika dari inti masalahnya ia tidak bisa bertemu di kantor, Juni masih bisa menemui kekasihnya itu di rumah.
Pagi ini langit begitu cerah, akan tetapi perasaan Juni sedikit kalut. Pria itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil, melajukan kendaraan roda empat tersebut menuju ke jalanan.
Jika perasaan Juni tengah kalut, beda halnya dengan pasangan yang baru saja dikaruniai dua anak kembar sekaligus. Alvaro, pria ini tak henti-hentinya tersenyum sembari menggendong salah satu buah hatinya. Rasa syukur yang tiada tara menyelimuti dirinya, tatkala mendengar suara tangisan bayi dan mampu menggendong si mungil yang sedikit kemerah-merahan itu.
Bu Arumi dan juga Bu Isna tampak sibuk mengemasi beberapa barang yang ada di rumah sakit. Pagi ini, dokter telah mengizinkan Rania untuk kembali ke rumah.
Hal itu, tentu saja membuat Rania senang. Dirinya merasa bosan terlalu lama berada di rumah sakit. Seolah tak bisa menghirup udara segar di sana karena aroma obat-obatan yang terlalu menyengat. Meskipun dirinya juga pernah berkecimpung di bidang ini, akan tetapi hal tersebut terasa seperti kembali baru. Karena Rania hampir setahun berhenti bekerja.
"Sudah siap?" tanya Alvaro masih menggendong Dilan, si mungil tampan.
"Iya, sudah. Sini biar mama saja yang gendong Dilan. Kamu tuntun Rania untuk masuk ke dalam mobil," ujar Bu Arumi.
__ADS_1
Alvaro mengangguk patuh, ia memberikan Dilan pada ibunya. Sementara Delani, berada dalam gendongan Bu Isna.
Alvaro membantu Rania berdiri. Melihat sang istri yang masih gemetaran, ia pun langsung menggendong istrinya itu ala bridal style. Tentu saja hal tersebut membuat Rania langsung membulatkan matanya.
"Mas, ...."
"Tidak apa-apa. Sesekali memperlihatkan keromantisan kita di depan umum," celetuk Alvaro sembari terkekeh geli.
"Tapi aku malu, Mas!" protes Rania.
"Dan aku merasa bangga," balas Alvaro yang membawa Rania keluar dari ruangan tersebut.
Rania hanya bisa menunduk malu, matanya menangkap beberapa pasang mata menatap ke arahnya. Membuat gadis itu benar-benar merasa malu. Namun, Alvaro bersikap biasa saja. Tak menghiraukan bagaimana pandangan orang lain terhadapnya.
Entahlah, Rania harus merasa terpukau pada sosok suaminya ini, atau justru malu karena orang-orang yang banyak menatap ke arah mereka.
Setibanya di mobil, Alvaro pun langsung mendudukkan sang istri di kursi depan. Pria itu sangat berhati-hati, tak ingin sang istri merasa tersakiti.
"Halo ...."
"Apakah kamu ingin menjerumuskan aku!" tukas seorang wanita dari seberang telepon, yang tak lain adalah saudara kembarnya.
"Menjerumuskan bagaimana?" tanya Alvaro mengernyitkan keningnya.
"Kamu menyuruh wanita itu menjadi sekretaris ku?" tanya Alvira dengan nada yang sedikit geram.
"Kenapa? Shinta bukan lah selingkuhan mantan suamimu," ucap Alvaro.
"Tetap saja, Varo!"
"Saranku, sebaiknya kamu lupakan saja apa yang telah terjadi. Lagi pula, dia tidak bersalah, suamimu lah yang menggatal," tukas Alvaro yang juga sedikit tersulut emosi.
__ADS_1
"Mantan suami, Varo!" Ralat Alvira yang tak ingin Alvaro menyebutkan sosok Andre itu sebagai suaminya.
"Iya. Aku salah. Sebaiknya kamu bekerja samalah dengan Shinta. Aku tutup teleponnya, aku sibuk!"
Alvaro pun langsung menutup panggilan telepon tersebut. Ia menghela napasnya, memijat pelipisnya karena Alvira yang terlalu banyak protes dengan apa yang sudah ia atur.
Alvaro bukan tak memiliki alasan memindahkan Shinta ke kantor cabang. Karena Shinta lebjh berpengalaman, dan Alvaro pun bisa mengawasi kinerja Alvira dari jauh tentunya melalui Shinta.
Alvaro menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku. Pria itu masuk ke dalam mobil. Mendapati sang istri yang sedari tadi menatapnya.
"Ada apa Mas?" tanya Rania melihat ekspresi wajah Alvaro yang sedikit muram.
"Tidak apa-apa, hanya masalah di kantor," timpal Alvaro seadanya. Ia pun menghidupkan mesin mobilnya, lalu kemudian melajukan kendaraan roda empat tersebut menuju ke jalanan.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, mobil yang dikendarai oleh Alvaro pun tiba di rumah. Alvaro memberhentikan mobilnya di halaman rumah.
"Kita sudah sampai," ujar Bu Arumi sembari mencium pipi gembul cucunya. Aroma minyak telon serta bedak bayi pun tercium begitu kuat.
Alvaro kembali menggendong Rania. Wanita itu beberapa kali menolak, akan tetapi pria tersebut bersikeras untuk tetap membawa sang istri dengan menggendongnya ala bridal style.
"Mas, nanti mas mau ke kantor?" tanya Rania.
Alvaro meniti tangga, pria tersebut menatap wajah cantik sang istri yang sedikit sayu. "Belum. Hari ini aku akan libur terlebih dahulu," ucap Alvaro.
"Kalau Mas mau ke kantor, tidak apa-apa. Pergi saja ke kantor. Lagi pula di sini sudah ada mama yang menjaga kami," ujar Rania.
"Untuk urusan kantor, itu sudah menjadi urusan aku, Sayang. Untuk hari ini, aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu dan anak kita. Jadi, jangan melarangku," ucap Alvaro yang tak ingin dibantah.
"Baiklah, Suamiku." Rania tersenyum menatap sang suaminya penuh cinta.
Bersambung ....
__ADS_1