Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 221. Menyerah!


__ADS_3

Malam itu, Juni menunggu Shinta di taman kota. Pria itu tampak necis penampilannya pun memikat para wanita yang melihatnya. Ia menggenggam sebuket mawar, untuk dihadiahkan kepada sang kekasih.


Juni memang sengaja, lebih dulu datang kemari, karena menurutnya bukan suatu pertemuan di taman kota jika ia menjemput Shinta lebih dulu di rumah.


Meskipun tetangga, setidaknya Juni ingin rindunya sampai meledak-ledak, dan pertemuan mereka di taman kota pun seolah menjadi sesuatu yang menyenangkan. Juni membayangkan hal tersebut seperti film yang ia tonton di televisi.


Juni menunggu kedatangan Shinta sembari menendang-nendang bebatuan kecil di hadapannya dengan pelan. Ia benar-benar tak sabar, ingin bertemu sang pujaan hatinya.


Semenjak Shinta dipindahkan di kantor cabang, mereka jarang sekali memiliki waktu walau hanya sekedar bertatap-tatapan saja. Hal itu tentunya membuat rindu mereka terasa sangat menumpuk.


Di lain tempat, Shinta sedang bersiap untuk pulang. Namun, tiba-tiba beberapa rekan kantornya langsung menghampiri. Diikuti oleh Alvira yang juga ada di antara mereka.


"A-ada apa ini?" Shinta bertanya sembari melihat ke arah orang yang ada di sana satu persatu.


Semua orang tak menjawab apapun, membuat Shinta semakin ketakutan. Ekspresi Alvira juga tampaknya tak bersahabat.


"Apakah aku melakukan kesalahan, Bu?" tanya Shinta berbicara pada Alvira.


"Apakah kamu merasa bahwa kamu melakukan kesalahan?" Alvira balik bertanya pada sekretarisnya itu.


"Aku tidak tahu, Bu. Tetapi aku merasa, bahwa semua yang aku kerjakan sudah sesuai dan tak ada kesalahan apapun," timpal Shinta.


"Ya sudah jika kamu tidak melakukan kesalahan apapun," ujar Alvira seraya melipat kedua tangannya ke depan.


Semua orang pun langsung tergelak menertawakan ekspresi yang ditunjukkan oleh Shinta. Salah satu dari mereka pun akhirnya buka suara.


"Kami ke sini hanya ingin mengadakan pesta penyambutan kamu di sini, Shin. Maka dari itu, Bu Alvira mengajak kami untuk makan-makan," jelas salah satu dari mereka.


"Iya. Kamu terlalu tegang menghadapi pekerjaanmu. Jangan terlalu serius seperti itu. Ayo kita adakan pesta penyambutan!" ajak Alvira dengan begitu bersemangat. Ekspresi yang ditunjukkannya kini, berbanding terbalik dengan ekspresi sebelumnya. Menandakan bahwa Shinta tengah dikerjai oleh janda anak satu itu.

__ADS_1


Shinta bingung, di satu sisi ia sudah memiliki janji dengan sang kekasih dan akan datang jam 8 ini. Dan di sisi lainnya, Shinta juga tak mungkin menolak, karena semua karyawan tampaknya telah mempersiapkan semuanya. Apalagi ini adalah usulan dari atasannya sendiri. Sungguh merasa tak tahu diri jika Shinta menolaknya.


"Ayolah! Tunggu apa lagi. Sebaiknya ikut bersama kami!" seru salah satu rekan kerjanya yang langsung menarik tangan Shinta.


Shinta pun dengan pasrah ikut bersama mereka. Ia berencana akan memberitahukan hal ini nantinya kepada Juni, dan semoga saja pria tersebut bisa mengerti kondisinya saat ini.


Shinta langsung di bawa dan dimasukkan ke dalam mobil. Tak ada lagi penolakan dari gadis itu. Hanya bisa pasrah dan menurut saja.


Ada sekitar 5 orang yang ikut ke dalam mobil yang dikendarai oleh Alvira. Sisanya, mereka memilih untuk naik taksi menuju ke lokasi.


Setelah cukup lama menempuh perjalanan, mobil yang dikendarai oleh Alvira pun berhenti di sebuah restoran yang mewah. Semua orang turun dari kendaraan tersebut dan langsung masuk ke dalam.


Shinta terlihat mencari ponselnya yang ada di dalam tas. Namun, saat ia menemukan benda pipih tersebut, ternyata ponsel itu kehabisan baterai. Tentu saja hal itu membuat Shinta mendengkus kesal.


"Setiap kali ada urusan mendadak, kenapa ponselku selalu saja kehabisan daya. Kenapa aku lupa terus mengisi ulang baterainya," gerutu Shinta merutuki dirinya sendiri seraya menatap layar ponselnya yang mati.


"Bukan begitu, Bu ...."


"Ayolah! Aku tidak ingin mendengarkan alasan apapun!" tegas Alvira yang langsung membawa Shinta untuk masuk ke dalam restoran tersebut.


Setelah memesan makanan, hidangan mereka pun tiba di depan masing-masing. Shinta dan yang lainnya mulai menyantap makanan tersebut, seraya membicarakan masalah sehari-hari dengan begitu santai.


Kali ini, Alvira menjadi pendengar yang baik. Bahkan atasannya bisa berbaur dengan para bawahannya tanpa mengenal jabatan di kantor.


Shinta juga ikut berbaur. Ia tidak enak mendapatkan teguran dari Alvira saat di pintu masuk tadi. Sebisa mungkin, ia mengontrol semuanya dengan baik, dan berharap jika Juni tak datang ke taman kota malam ini.


"Setidaknya ia mengetuk apartemenku terlebih dahulu sebelum datang ke sana. Iya, aku yakin ia tak akan datang. Semoga saja memang begitu," batin Shinta.


Di tempat yang berbeda, Juni sedari tadi menunggu kedatangan Shinta. Satu jam telah berlalu, akan tetapi Shinta pun tak kunjung terlihat.

__ADS_1


Juni mulai gelisah, akan tetapi ia mencoba untuk tetap tenang. Bagaimana pun juga, ia mengerti jarak kantor dan juga apartemen Shinta lumayan jauh.


"Mungkin dia sedang menuju kemari. Tidak ada salahnya untuk menunggunya," gumam Juni yang mencoba untuk meyakinkan dirinya bahwa sang kekasih tidak akan berkhianat padanya.


Beberapa orang tampak memperhatikan Juni. Apalagi melihat bunga berukuran besar yang dibawa oleh pria itu, membuat semua orang cukup kagum.


Juni menatap ke arah jalanan, memperhatikan kalau saja Shinta akan tiba di tempat itu. Cukup lama ia menunggu, akan tetapi Shinta pun belum menampakkan dirinya.


"Apakah dia sibuk? Apa dia melupakanku?" gumam Juni.


Juni merogoh ponsel di dalam sakunya. Ia sedari tadi menahan diri untuk tidak menghubungi Shinta, agar pertemuannya terlihat seperti di film-film. Namun, kali ini ia tak bisa untuk tidak menghubungi gadis tersebut. Mengingat dirinya sudah cukup lama berada di sini.


Juni mencari kontak Shinta, menempelkan benda pipih tersebut ke telinganya. Sesaat kemudian, keningnya berkerut, mendapati nomor Shinta yang sedang tidak aktif.


"Nomornya tidak aktif," gumam Juni.


Setelah ketiga kalinya ia menghubungi gadis tersebut, Juni menyerah. Ia masih berharap Shinta akan datang dan menemuinya. Meskipun nomornya tidak aktif, setidaknya Shinta tak melupakan janji yang ia buat.


Juni kembali memasukkan ponsel tersebut ke dalam sakunya. Ia masih memiliki batas kesabaran untuk menunggu Shinta datang menemuinya. Walaupun beberapa pikiran negatif berusaha untuk meracuni, akan tetapi Juni mencoba untuk tetap bersikap tenang dan mempercayai kekasihnya itu.


Waktu semakin lama semakin berjalan, Juni kembali melirik arloji yang ada di tangan kirinya. Waktu telah menunjukkan pukul 11 malam, membuat kesabaran Juni pun terkuras habis.


"Dia benar-benar telah melupakanku, dan melupakan janjinya," ujar Juni seraya menyunggingkan senyum perihnya.


Juni memilih untuk menyerah menunggu Shinta. Ia meninggalkan buket bunga berukuran besar tersebut di taman, dan membawa perasaan kecewa bersamanya.


"Aku ... sudah berusaha sesabar mungkin menghadapi kamu, Shinta. Kali ini aku benar-benar menyerah!"


Bersambung .....

__ADS_1


__ADS_2