Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 56. Perkara Daun Seledri


__ADS_3

Dugghhh ...


Kening Rania terbentur ke sisi pintu, membuat gadis yang tadinya terlelap menjadi terbangun dari tidurnya, meringis memegangi keningnya yang terasa nyeri.


"Astaga, aku ketiduran di mobil," gumam Rania seraya mengusap keningnya.


Gadis itu meraba-raba di sekitarnya, mencari keberadaan ponselnya. Sementara mata Rania masih sedikit memicing, belum terbuka lebar.


"Di mana ponselku?" ujar Rania bermonolog. Gadis itu mencoba membuka lebar matanya, ia menemukan letak ponselnya yang sudah tak sengaja diinjak oleh kaki telanjangnya.


"Astaga, ponsel mahalku!" Ucap Rania panik.


Ia langsung membersihkan layar ponselnya menggunakan tisu yang ada di dashboard. Mengusap ponselnya dengan tissu sembari meniup-niupnya sedikit.


"Untung saja saat aku menginjaknya, aku tidak memakai alas kaki," ujar Rania.


Gadis itu menghidupkan layar ponselnya, melihat jam telah menunjukkan pukul 7 pagi. Rania sedikit menutup mulutnya karena menguap. Lalu kemudian meregangkan lehernya karena terasa sakit akibat tidur dengan posisi yang tak nyaman.


Rania keluar dari mobilnya. Ia tidak melihat adanya mobil Alvaro di parkiran tersebut. "Kemana pria itu? Apakah dia benar-benar tidak pulang semalaman?" gumam Rania.


Rania mengendarkan pandangannya, menatap berbagai penjuru, tetap saja ia tak menemukan mobil Alvaro.


Wajah Rania menjadi sendu, saat berdekatan Rania selalu saja mengajak tetangganya itu bertengkar. Di saat berjauhan, Rania merasakan rindu dan rasa bersalah yang datang secara bersamaan.


"Kamu di mana? Kenapa tidak pulang? Selain di sini merasa kosong, aku juga merasakan perutku juga ikut kosong," keluh Rania yang menunjuk dada lalu kemudian bergantian dengan perutnya yang tiba-tiba merasa keroncongan, minta untuk segera diisi.


....


Di lain tempat, Alvaro tengah berlari di atas treadmill. Pria tersebut memanfaatkan waktunya dengan berolahraga. Sementara Bima, pria kecil tersebut sibuk menunggui ayahnya. Duduk di kursi sembari menonton sebuah video yang berisi edukasi tentang nama-nama hewan.


Alvaro merasa lelah. Pria itu mematikan treadmill-nya, lalu kemudian turun dari alat olahraga tersebut, berjalan menghampiri anaknya.


"Sedang menonton apa, Nak?" tanya Alvaro sembari meraih botol minum yang ada di atas meja.

__ADS_1


"Bima sedang melihat nama-nama hewan, Pa. Ada ayam, bebek, cicak, domba, dan masih banyak lagi," papar pria kecil itu, menjelaskan apa yang ia lihat dengan sangat antusias.


Tak lama kemudian, Arumi datang menghampiri anak dan cucunya itu. Dengan memakai apron yang melekat di tubuh rampingnya.


"Varo, Bima, ayo kita sarapan!" ajak Arumi.


"Mama yang masak?" tanya Alvaro melihat ibunya mengenakan apron.


"Haha ... kalau mama yang masak, mungkin kalian tidak akan sanggup memakannya. Cukup menjadi pengalaman pahit papamu saja, setelah makan masakan mama langsung darah tinggi," timpal Arumi terkekeh geli.


"Terus ... kenapa nenek pakai baju orang memasak?" celetuk Bima.


"Apa? Ini?" tanya Arumi menunjuk apron yang ia kenakan. Dan Bima pun menimpalinya dengan sebuah anggukan kepala.


"Ah, ini hanya sebagai kostum pelengkap saja saat di dapur. Lagi pula kerjaan nenek di dapur hanya merecoki bibi memasak," timpal Arumi mengembangkan senyumnya.


"Mama dan Bima duluan saja, nanti aku menyusul. Aku ingin mandi terlebih dahulu," ujar Alvaro seraya menyeka keringatnya menggunakan handuk kecil.


Arumi langsung mengajak Bima. Pria kecil itu pun menggandeng tangan neneknya, berjalan menuju ke dapur untuk bersiap sarapan bersama.


Selang lima belas menit kemudian, Alvaro baru saja keluar dari kamar mandi. Pria tersebut mengambil pakaiannya yang ada di rumah orang tuanya, mengenakan pakaian santai tersebut. Setelah semuanya siap, pria itu pun keluar dari kamar.


Ia melihat Alvira yang juga baru keluar dari kamarnya. Gadis itu mengulas senyum saat melihat keberadaan Alvaro.


"Aku kira hanya Bima yang menginap, rupanya kamu juga," ujar Alvira.


Alvaro menghampiri saudara kembarnya itu. Lalu kemudian meletakkan telapak tangannya di atas kening saudara kembarnya itu.


"Ayolah! Aku tidak demam. Lagi pula aku bukan anak kecil lagi," ucap Alvira yang langsung menepis tangan Alvaro.


"Bagiku, kamu masih seperti gadis kecil. Kamu boleh merengek kepadaku, meminta apapun yang kamu inginkan asalkan jangan sakit," ujar Alvaro tulus.


Hati Alvira langsung terenyuh mendengar ucapan saudara kembarnya itu. Wanita itu pun langsung memeluk Alvaro.

__ADS_1


"Aku sangat berterima kasih kepada Tuhan, telah diberikan saudara kembar yang sangat baik sepertimu. Kamu bukanlah hanya sosok kakak yang hebat, kamu sosok ayah yang kuat bagi Bima, dan juga sosok suami yang hangat bagi Mbak Diara," tutur Alvira sembari melepaskan rangkulannya.


Alvaro menjentikkan jarinya di kening Alvira dengan pelan. "Kamu juga saudara kembar terbaik yang aku temui. Pernikahan yang gagal bukan karena kamu istri yang tidak baik. Kami adalah istri yang hebat, hanya saja Andre terlalu bodoh menyia-nyiakan ketulusanmu begitu saja. Mulai sekarang, tidak usah memikirkan pria itu. Mulailah tata masa depanmu dan anakmu nanti," ucap Alvaro panjang lebar, menasihati saudara kembarnya.


Alvira menanggapi ucapan Alvaro dengan sebuah anggukan pelan. "Kalau begitu, ayo kita sarapan!" ajak Alvira.


Alvaro menyunggingkan senyumnya lalu mengangguk. Kedua anak kembar itu pun melangkah bersama, menuju ke meja makan untuk sarapan.


....


Di lain tempat, Rania tengah menikmati semangkuk bubur ayam yang ia beli dari abang-abang gerobak keliling. Gadis itu terlihat badmood menyantap sarapannya. Bukan karena bubur ayamnya yang tidak enak, akan tetapi karena hatinya merasa gundah saat sehari saja tak bertemu tetangga sebelahnya, duda anak satu yang cukup membuat harinya sedikit berantakan.


"Apakah dia marah padaku? Apakah dia ingin menjauhiku?" gumamnya dengan mulut yang terisi penuh oleh makanan.


"Aku menarik ucapanku yang kemarin. Aku lebih suka jika dia menempel padaku seperti perangko. Kemarin aku benar-benar terlalu bodoh menyia-nyiakan niat baiknya dan bertingkah sok jual mahal," ujar Rania bermonolog. Gadis itu merutuki kebodohannya yang kemarin.


Tak lama kemudian, Rania memasang wajah masamnya. Gadis itu berlari ke kamar mandi. Memuntahkan bubur yang ada di dalam mulutnya.


"Argghh ... daun seledri. Aku tidak menyukai daun seledri," ujar Rania dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Kenapa Abang penjual bubur ayam itu menambahkan seledri di dalam buburku. Bukankah aku sudah mengatakannya tadi, kalau pesananku tidak pakai daun seledri," gumam Rania yang mulai menangis.


"Semua pria sama saja! Tidak pernah mengindahkan ucapan wanita," lanjutnya yang meratapi perkara daun seledri.


Sebenarnya masalah utama gadis itu menangis bukan karena daun seledri. Melainkan karena tetangganya yang tak kunjung pulang. Membuat gadis itu resah dari semalam hingga pagi ini.


"Lagi pula, ada apa dengan air mata ini. Menjijikkan sekali! Hanya karena daun seledri membuatku menangis sesegukkan. Ayolah Rania, kamu bukanlah wanita lemah. Jangan kalah dengan daun seledri dan ...." suara gadis itu tercekat, ia tak sanggup melanjutkan kata-katanya.


Bak anak kecil yang kehilangan mainan berharganya. Suara tangis itu semakin kencang. Untung saja Bu Isna sudah kembali ke desa kemarin siang. Jika tidak, bisa saja Rania kena tempeleng ibunya menangisi sesuatu yang sepele yaitu daun seledri, dan ... pria yang selalu ia panggil tutup panci.


Bersambung ....


Pak duda, pulang yok! Ada yang mewek dipojokan tuh😂🤭

__ADS_1


Gengs, kalo ada tulisan yang typo, gpp tegur aja ya. Nggak usah takut aku tersinggung, justru aku seneng kalo kalian mau bantu koreksi😁


__ADS_2