Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 26. Hot Daddy


__ADS_3

"Dia ...," ucap Rania tercekat. Ada rasa bersalah menyelimuti dirinya karena telah meninggalkan Alvaro sendirian di depan klinik.


Tanpa berlama-lama, Rania pun langsung masuk ke dalam mobilnya. Wanta tersebut melajukan kendaraan roda empat itu untuk kembali ke klinik.


Di waktu yang bersamaan, Alvaro baru saja terjaga dari tidurnya. Pria tersebut mengusap matanya, lalu kemudian melihat-lihat sekitar klinik yang sudah sepi.


"Astaga ... Aku ketiduran," ucap Alvaro, merutuki kebodohannya.


Pria tersebut membetulkan posisinya, memasang sabuk pengaman, lalu kemudian memilih untuk segera pergi dari tempat tersebut.


"Rencana kedua kali ini, aku sendirilah yang menggagalkannya," keluh Alvaro dengan pandangan yang menatap lurus ke depan.


"Sebaiknya aku ke rumah utama untuk menjemput Bima. Putraku pasti sudah lama menungguku," gumam Alvaro yang memutar mobilnya ke arah berlawanan dengan tempat tinggalnya.


.....


Rania terlihat khawatir, ia benar-benar merasa bersalah meninggalkan tetangganya itu sendirian di depan klinik.


"Bagaimana jika nanti ada orang jahat yang mencoba untuk menyakitinya? Aku bahkan tak memikirkan hal ini karena diselimuti oleh rasa kesalku akibat ulahnya tadi pagi," gumam Rania.


Rania kembali menginjak pedal gas mobil, menambah laju kecepatan kendaraannya itu. Di dalam pikiran wanita itu hanya ada satu, yaitu pria yang acap kali ia sebut tutup panci.


Setelah cukup lama menempuh perjalanan, mobil yang dikendarai oleh Rania pun tiba di depan klinik, akan tetapi wanita tersebut tidak melihat lagi keberadaan Alvaro di tempat itu.


"Dia sudah pergi? Kemana dia? Jika pria itu pulang, kenapa aku tidak berpapasan dengannya saat di jalan tadi?" Rania bermonolog.


"Sudahlah, kalau begitu aku pulang saja. Lagi pula bukan urusanku ingin mengetahui kemana perginya dia." Rania pun kembali melajukan mobilnya menuju ke rumahnya.


.....


Bima menghampiri neneknya, pria itu berwajah masam duduk di sebelah Arumi. "Nenek, kenapa papa belum juga menjemput Bima?" tanya pria kecil tersebut.


"Cucuku, mungkin papamu akan sedikit terlambat menjemputmu, karena saat ini papa buisa jadi sedang berkencan dengan calon mamamu," timpal Arumi seraya mengusap puncak kepala cucunya.


"Calon mama yang mana lagi, Nek?" tanya Bima dengan polosnya.


Arumi menepuk keningnya,"Oh iya, nenek lupa. Calon mamamu memang banyak ya," ujar Arumi sembari terkekeh.

__ADS_1


"Itu loh, si Bu Dokter yang mengobati gigi Bima kemarin," lanjut Arumi.


"Asik! Bima senang kalau mama baru Bima adalah Bu Dokter," ujar pria kecil itu sembari bersorak gembira.


"Kamu sangat menyukai Bu Dokter?" tanya Arumi sembari menjengit.


Bima dengan cepat menjawab ucapan neneknya dengan sebuah anggukan.


"Baiklah, kalau begitu kita sama," ujar Arumi sembari mengembangkan senyumnya.


Terdengar suara langkah kaki yang tengah menuruni anak tangga, Arumi mengalihkan pandangannya pada putrinya yang hendak berjalan menuju ke dapur sembari membawa gelas yang sudah kosong.


"Varo belum juga menjemputnya?" tanya Alvira.


"Vira, panggil dia abang," protes Arumi.


"Aku dan Varo hanya beda lima menit saja, Ma." Alvira melenggang ke dapur, meletakkan gelas yang ada di tangannya ke wastafel.


Tak lama kemudian, Alvira pun kembali menghampiri ibunya. Wanita hamil itu ikut bergabung bersama I


ibunya dan juga Bima yang tengah duduk di ruang tengah.


"Iya, Ma. Akhir-akhir ini Mas Andre sangat sibuk mengurus pekerjaan di kantor," timpal Alvira seadanya. Wanita tersebut meremas ujung jemarinya, takut jika orang tuanya akan membahas yang lebih lagi tentang urusan di kantor. Selama ini Alvira lah yang selalu saja menutupi semua masalah yang diperbuat Andre, baik di kantor atau pun dalam kehidupan rumah tangganya.


"Itu Alvaro!" seru Alvira saat melihat Alvaro yang baru saja muncul dari pintu utama. Kali ini Alvira merasa sedikit terselamatkan karena kedatangan saudara kembarnya itu.


"Papa!"


Bima dengan cepat menghambur ke pelukan ayahnya itu. Alvaro menyambut pelukan anaknya, lalu kemudian menggendong putranya itu sembari memberikan sebuah ciuman singkat di pipi gembul anaknya.


"Papa ... Papa ... Kata nenek, papa tadi sedang berkencan dengan Bu Dokter. Apakah itu benar?" tanya Bima yang merasa sangat penasaran.


Mendengar hal tersebut, Alvaro langsung melemparkan pandangannya kepada ibunya. Sementara Arumi, hanya bisa mengangguk sembari terkekeh. Pertanda mengakui bahwa dirinya lah yang mengatakan hal tersebut pada Bima.


"Papa tidak berkencan dengan siapa pun, Nak. Hanya saja papa sibuk dengan urusan di kantor dan menjemputmu tak tepat waktu," timpal Alvaro.


"Benarkah? Apa kamu tidak berkencan dengannya? Padahal kamu sudah menghabiskan waktu cukup lama. Dan mama kira kamu tengah berkencan dengan gadis itu," ujar Arumi.

__ADS_1


"Tidak, Ma. Aku ketiduran dan tidak jadi menemuinya," ucap Alvaro.


Arumi menghela napasnya. Bagaimana bisa putranya itu ketiduran di saat hendak mengajak wanitanya untuk berkencan.


Alvira beranjak dari tempat duduknya, dan memilih untuk kembali ke kamarnya. Saat dia berlalu dari hadapan Alvaro, wanita tersebut sempat berbicara pada Alvaro tetapi dengan suara yang sangat pelan.


"Nanti aku akan menghubungimu," bisik Alvira dan memutuskan untuk pergi dari tempat tersebut.


Alvaro hanya menatap sekilas saudara kembarnya, seolah tak terjadi apa-apa antara mereka berdua.


"Ya sudah, kalau begitu Varo pamit pulang dulu, Ma."


"Iya, hati-hati di jalan," ujar Arumi sembari menyerahkan tas sekolah yang dipakai cucunya tadi siang.


Bima melambaikan tangannya saat Alvaro hendak berjalan menuju ke pintu. Pria kecil tersebut masih bergelayut manja dengan ayahnya.


"Papa, papa janji ya harus membuat Bu Dokter menjadi mama baru Bima," ucap pria kecil tersebut.


"Tak semudah mengatakannya, Nak. Tapi papa akan berusaha," timpal Alvaro membawa anaknya untuk masuk ke dalam mobil.


Mobil yang dikendarai Alvaro pun mulai melaju, kepulangan Bima tiba-tiba suasana di rumah tersebut menjadi sunyi. Itu lah kenapa Arumi sangat setuju jika Bima mau menginap dengannya.


Di perjalanan, Bima tampaknya terlihat lebih senang. Pria kecil tersebut sibuk bernyanyi lagu anak-anak yang sudah ia hafal.


Sesekali Alvaro melirik ke arah anaknya, ia tersenyum melihat Bima kembali riang setelah miring karena sakit gigi beberapa hari yang lalu.


Mobil yang dikendarai oleh Alvaro tiba di parkiran. Kedua pria berbeda generasi tersebut langsung turun dari mobilnya. Dan kemudian berjalan masuk ke dalam lift untuk mengantarkannya di unitnya.


Di waktu yang bersamaan, Rania tengah berdiri di depan pintu Alvaro. Wanita itu memicingkan matanya menatap pintu yang ada di depannya itu.


"Ketuk atau tidak?" gumam Rania.


Tinggg ...


Terdengar suara pintu lift yang terbuka. Dengan cepat, Rania pun pergi dari sana dan kembali masuk ke dalam rumahnya. Diam-diam Rania mengintip dari sebuah lubang kecil yang ada di pintu tersebut.


Wanita itu melihat Alvaro yang tengah menggandeng anaknya, lalu kemudian masuk ke dalam rumah tersebut.

__ADS_1


"Ternyata dia hot daddy juga," gumam Rania seraya tersenyum simpul.


Bersambung ....


__ADS_2