Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 36. Benci Jadi Cinta


__ADS_3

Di kantor, Alvaro duduk termenung sembari mengetukkan jemarinya di atas meja. Ia memikirkan ucapan putranya tadi, yang membahas tentang Rania.


"Apakah sebaiknya aku hentikan saja? Yang diucapkan oleh Bima ada benarnya juga. Aku mengejarnya hanya karena Bima, bukan karena aku memiliki rasa terhadap wanita itu," gumamnya.


"Haruskah aku berhenti?" lanjutnya.


Tak lama kemudian, sebuah ketukan pintu langsung menyadarkan Alvaro. Pria tersebut melihat sang asisten yang muncul dari balik pintu.


"Ada apa?" tanya Alvaro.


"Semua orang sudah menunggu di ruang rapat, Pak." Sang asisten menimpali ucapannya.


"Memangnya ada apa?" tanya Alvaro lagi.


Hal tersebut sontak membuat Juni mengerutkan keningnya. "Bukankah hari ini kita ada rapat?" gumam Juni pelan.


Alvaro memejamkan matanya, pria tersebut mendecak kesal karena sedari tadi memikirkan masalah Rania, ia melupakan rapat hari ini.


Pria tersebut langsung beranjak dari tempat duduknya, lalu kemudian bersiap untuk pergi menuju ke ruangan rapat.


Alvaro berjalan dengan tegap, masuk ke dalam ruang rapat dan menduduki kursinya. Juni yang sudah berdiri di depan, memimpin jalannya rapat.


Alvaro melirik Shinta yang kini sedang berada di sebelahnya. Gadis itu menunduk hormat seraya mengulas senyum saat Alvaro menatapnya.


"Ku rasa, kamu tidak perlu belajar lagi tentang ini, mengingat bahwa kamu telah lama bekerja dengan Andre," ujar Alvaro yang sedikit berbisik.


"Saya masih harus belajar dari orang lama, Pak. Walaupun saya sudah berpengalaman, akan tetapi saya tetaplah karyawan baru di sini. Dan saya masih harus banyak belajar terutama dari Pak Juni," timpal Shinta.


"Bagus jika kamu berpikir seperti itu."


Alvaro memperhatikan setiap penjelasan yang diucapkan oleh Juni. Sesekali ingatan tentang Rania kembali muncul di kepalanya. Namun, dengan cepat Alvaro mengatasinya, yaitu mencari kesibukan dengan memeriksa kertas yang dibagikan oleh Juni.


Rapat memakan waktu lima puluh menit, Alvaro pun melangkah keluar lebih dulu dari ruang rapat menuju ke ruangannya. Pria itu diikuti oleh Juni dan juga Shinta yang berjalan tepat di belakang Alvaro.


"Apakah sulit?" tanya Juni yang mencoba membuka pembicaraan pada sekretaris baru yang direkrut oleh Alvaro melalui jalur kencan.

__ADS_1


"Tidak terlalu sulit," timpal Shinta sekenanya.


Kedua orang tersebut menuju ke meja kerjanya masing-masing dan Alvaro, masuk ke dalam ruangannya, melanjutkan pekerjaan yang belum terselesaikan.


.....


Di lain tempat, Rania tampak serius tengah melakukan pembedahan kecil, memasang implan pada gigi pasiennya. Sesekali Hilda menyeka kening Rania yang berkeringat, melihat Rania yang sangat fokus melakukan pekerjaannya.


Mulai dari pencabutan gigi yang rusak, lalu memasangkan sekrup logam yang berfungsi sebagai akar gigi yang di tanamkan di dalam tulang rahang,


setelah tulang dipastikan kuat, implan pun siap dilakukan.


Setelah melakukan semua prosedur, meletakkan healing cap di atas implan, lalu kemudian langkah terakhir adalah menjahit gusi tersebut.


"Setelah ini kita ke tahap proses penyembuhan, biasanya memakan waktu berbulan-bulan ya, Bu." Rania berbicara pada pasiennya seraya melepaskan sarung tangan yang dipakainya.


"Jadi bulan depan saya kembali ke sini, Dok?" tanya wanita tersebut.


"Iya, waktu penyembuhan yang cukup lama karena untuk menunggu pertumbuhan tulang baru di rahang. Lalu kemudian menguji implan dan yang terakhir pemasangan mahkota gigi," jelas Rania nada yang lembut.


"Sama-sama," timpal Rania.


Pasien tersebut mulai meninggalkan ruangan. Rania membuka maskernya, lalu kemudian mencuci tangannya.


"Bu dokter, aku melihat lingkar matamu sedikit menghitam hari ini. Apakah Bu Dokter tidak tidur semalaman?" tanya Hilda.


"Iya, ada hal yang sangat menggangguku," timpal Rania yang terlihat sedikit kesal.


"Apakah itu karena seorang pria?" pancing Hilda.


"Iya. Tetanggaku ...." Seketika ucapan Rania pun terhenti. Gadis itu tahu jika Hilda menyukai Alvaro, tidak mungkin bagi dirinya untuk menceritakan hal yang dialaminya kepada Hilda. Tentunya akan membuat Hilda terluka, karena gadis tersebut menyukai Alvaro.


Rania melirik Hilda yang tampaknya masih menunggu ucapan gadis itu selanjutnya. Ia pun berdeham, lalu kemudian mengambil handuk kecil untuk mengeringkan tangannya.


"Kenapa tidak dilanjutkan?" tanya Hilda.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, lupakanlah!" timpal Rania.


"Apakah karena merasa tidak enak padaku yang sempat menyukai tetanggamu itu?"


Pertanyaan yang dilontarkan oleh Hilda membuat Rania menatap perawat tersebut.


"Biasa saja! Kamu tidak perlu merasa tidak enak padaku. Lagi pula itu semua sudah berlalu, kami dipertemukan hanya melalui kencan buta. Jika salah satu dari kami merasa tidak cocok, maka tidak akan dilanjutkan. Jadi, tidak usah merasa tidak enak kepadaku," tutur Hilda.


Rania mengulas senyumnya, " Maafkan aku," ucap gadis tersebut.


"Kenapa minta maaf?" tanya Hilda sembari mengerutkan keningnya.


"Sepertinya aku merasakan hal yang sama denganmu," ucap Rania yang mengakui bahwa dirinya sudah terlanjur terbawa perasaan. Setiap kali memikirkan Alvaro, ada sesuatu kesenangan dalam dirinya.


"Haha ... sudah ku duga, awalnya benci berubah jadi cinta. Aku masih mengingat ucapanmu tentangnya, kamu mengatainya bahwa tipe mu bukanlah seorang duda, dia seperti tutup panci lah, dan masih banyak lagi. "


Rania menanggapi ucapan temannya itu dengan tersenyum simpul. Apa.yang dikatakan oleh Hilda memang benar adanya, Rania memang pernah mencela Alvaro di depan Hilda, dan mengatakan bahwa pria tersebut bukanlah tipenya.


"Bagaimana rasanya, Buk? Apakah terasa nikmat menjilat ludah sendiri?" celetuk Hilda.


Spontan Rania pun mencubit lengan gadis yang ada di sampingnya itu. Ia merasa marah sekaligus malu dengan semua ucapan yang dilontarkan oleh Hilda. Namun, mau bagaimana lagi, memang begitu lah kenyataannya. Rania telah menjilat ludahnya sendiri.


Dulunya dia menghina Alvaro, kini dirinya juga lah yang mulai tergila-gila oleh pria tersebut. Mulai dari mengkhawatirkan Alvaro ketika dia tidak berada di rumah, bahkan rela berdiri di depan pintu, sembari mengintip lubang kecil di pintunya hanya memastikan apakah Alvaro sudah pulang atau belum.


"Hentikan! Kamu membuatku malu," ujar Rania.


"Hahaha ... yang lagi jatuh cinta sama Pak Duda, jodohnya tutup panci yang ternyata dirinya juga lah yang menjadi pancinya." Hilda tak berhenti menggoda Rania, hingga membuat gadis itu merasa benar-benar malu akan ucapan temannya. Ia juga merasa menyesal karena telah bercerita pada Hilda yang ujung-ujungnya membuat Rania kehilangan muka.


Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki yang masuk ke dalam klinik tersebut. Rania dan Hilda mengarahkan pandangannya secara bersamaan. Melihat sosok pria yang memiliki postur tubuh tinggi tegap tersebut baru saja masuk ke dalam klinik.


Hilda menyambut pria itu sembari mengembangkan senyum. Seketika gadis itu pun mengarahkan pandangannya pada Rania yang biasanya selalu menyambut dengan ramah pasien yang hendak memeriksakan giginya. Namun, kali ini ekspresi yang diperlihatkan wanita itu berbeda. Rania melihat dengan raut wajah yang masam sembari mengernyitkan keningnya.


"Kenapa kamu datang ke sini!" ketus Rania yang menatap pria tersebut dengan tatapan menusuk.


Bersambung ....

__ADS_1


Pria mana nih yang bikin mbak panci bad mood?🤔


__ADS_2