Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 94. Akulah Pelakunya


__ADS_3

Pandangan Rania dan Dion teralihkan pada suara mobil yang baru saja tiba. Rania langsung beranjak dari tempat duduknya. Benar saja, ia mendapati suaminya yang baru tiba dengan menenteng tas yang ada di tangannya.


"Mas, ...." Rania berjalan menghampiri suaminya.


Alvaro menatap Dion dengan seksama, lalu kemudian menjatuhkan tasnya di kursi kosong yang ada di samping Dion.


"Ini ambilah! Uang yang ada di dalamnya sebesar seratus juta. Tidak perlu dikembalikan. Ku rasa cukup untuk membayarmu agar berhenti mengganggu Rania lagi," ujar Alvaro dengan penuh penekanan.


"Mas, ...." Rania menghentikan suaminya, wanita itu menggelengkan kepala, seolah memberikan kode pada sang suami bahwa Dion ke sini bukan untuk mengganggunya lagi.


Dion menatap tas yang tergeletak di sampingnya dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan. "Entah aku harus senang atau justru sedih mendapatkan uang sebanyak ini. Lagi-lagi aku menjual harga diriku hanya demi sebuah uang." Dion memberanikan diri menatap Alvaro yang saat ini tengah melemparkan tatapan tak suka kepadanya.


"Aku hanya membutuhkan untuk ongkos saja, selebihnya ambilah kembali. Aku tidak menginginkannya," lanjut Dion.


"Kenapa? Apakah kamu berniat untuk kembali mengganggu Rania? Dia adalah istriku! Sebaiknya hentikan aksi gilamu itu!" cecar Alvaro.


Dion menggelengkan kepala, "Setelah mendengar bahwa dia telah menikah, tidak ada sedikit pun niatku untuk kembali padanya. Dia telah menjelaskan secara jelas, bahwa aku sudah tak ada di hatinya. Dan aku juga melihatnya, bagaimana dia menunjukkan rasa cintanya padamu. Dan itu ... cukup untuk menghentikan ku."


"Selama ini aku berpikir bahwa Rania masih berharap padaku. Aku mendengar kabar bahwa ia belum menikah, membuatku berpikir bahwa ia belum bisa sepenuhnya melupakanku. Awalnya aku mengira bahwa dia bersama denganmu hanya untuk menghentikanku saja, agar aku tidak berniat menceraikan istriku. Namun, sekarang aku paham. Aku tidak ada di hati Rania lagi. Hatinya telah dipenuhi olehmu, dan tentangmu." Dion bertutur panjang lebar.


Alvaro menatap ke arah istrinya. Rania menganggukkan kepala, pertanda bahwa yang diucapkan oleh pria itu memang benar adanya.


"Kalau begitu, ambil saja. Lagi pula aku sudah menyuruh asistenku bersusah payah untuk mencairkan uangnya. Setidaknya, hargailah pemberianku dan kerja kerasnya," ujar Alvaro dengan nada yang sedikit melembut.


"Pulanglah ke kampung, mulailah menata hidupmu untuk lebih baik lagi. Gunakan uang itu sebaik-baiknya." Kali ini, Rania lah yang bersuara. Ia menasehati pria yang dulu pernah menjadi dunianya. Namun, sekarang dunianya telah berpusat pada Alvaro, seorang pria beranak satu yang mampu membuat Rania tergila-gila akan pesonanya.


Dion terkekeh, dia menertawakan hidupnya. "Betapa lucunya takdir ya. Dulu aku menyakitimu sampai membuatmu harus meninggalkan pekerjaan di rumah sakit. Dan sekarang, orang yang pernah aku sakiti lah yang mengulurkan tangannya padaku," ujar Dion.


"Belilah pakaian yang layak, carilah wanita yang bisa membuatmu hidup bahagia, bukan hanya dari segi materi saja, melainkan segala-galanya," ucap Alvaro.


Dion tak kuasa menahan air matanya. Biarlah ia dianggap pria yang cengeng. Tak ada salahnya ia meluapkan semuanya.

__ADS_1


Dulu Tika selalu menuntut Dion untuk terlihat sempurna. Tanpa mengetahui batas kemampuan yang dimiliki Dion. Maka dari itu, saat dipertemukan kembali dengan Rania, Dion justru berbalik arah, ingin kembali mengejar mantan kekasihnya yang dulunya membuat ia nyaman. Hanya saja, Dion gila akan harta dan jabatan yang membuatnya melepaskan Rania dengan begitu mudah. Sekarang, ia pun menyesali semuanya.


Mendengar petuah yang diberikan oleh Rania dan juga Alvaro, membuat Dion langsung menganggukkan kepalanya.


"Aku titip Rania," ujar Dion yang kemudian menghampiri Alvaro, memberikan pelukan pada pria itu.


"Terima kasih juga atas uangnya," lanjut pria itu.


"Tidak usah sungkan, aku tahu kamu pria penggila uang," celetuk Alvaro yang membuat Dion langsung terkekeh.


Dion melepaskan pelukannya, menatap Rania dan mencoba hendak memelukku, akan tetapi Alvaro langsung memasang badan, berdiri tepat di hadapan istrinya.


"Awas saja jika kamu berani memeluknya!" ancam Alvaro memperlihatkan wajah seriusnya.


Dion terkekeh, "Aku hanya bercanda," ujar pria itu.


Ia mengambil tas yang ada di sampingnya. "Kalau begitu, aku permisi. Terima kasih atas bantuan kalian berdua." Dion menarik langkahnya untuk menjauh dari tempat itu. Membiarkan pasangan yang telah berbahagia untuk tetap berbahagia tanpa mengusik mereka.


"Baiklah, mari kita mulai menata hidup lagi, Dion." Setelah kalimat itu keluar dari bibirnya, Dion pun kembali melanjutkan langkahnya.


Alvaro dan Rania menatap kepergian Dion. Rania tersentak karena tiba-tiba Alvaro melingkarkan tangannya di pinggang ramping sang istri.


"Mas, lepas! Ini klinik loh!" ujar Rania yang langsung melepaskan tangan nakal suaminya.


"Benarkah dia datang ke sini bukan untuk menggodamu?" tanya Alvaro dengan wajah yang serius.


"Bukan, Mas. Dia hanya meminta padaku untuk membantunya meminjamkan uang. Aku sengaja memberitahumu karena aku takut nanti kamu salah paham padaku," ucap Rania.


Alvaro menekuk bibir bawahnya ke dalam sembari menganggukkan kepalanya.


"Oh iya, Mas. Aku merasa penasaran siapa yang menculik Dion. Sebelum kamu datang tadi, dia bercerita padaku bahwa dirinya disekap di dalam gudang selama beberapa hari. Maka dari itu, Dion tak tahu kalau kita menikah," ujar Rania.

__ADS_1


"Kira-kira siapa yang menculik Dion ya, Mas?" tanya Rania.


Alvaro menyembunyikan senyumnya. Dalam hatinya berteriak, "Akulah yang menangkapnya, Rania. Akulah pelakunya. Aku yang menculik kekasihmu itu agar tak mengacau disaat pesta pernikahan kita kemarin."


Namun, Alvaro tak ingin mengakuinya. Biarkan saja istrinya tidak mengetahui hal itu, karena akan lebih baik untuk hubungan mereka nantinya. Toh, yang dilakukan Alvaro juga bukanlah sebuah kejahatan besar. Hanya saja, ia menghindari sesuatu yang akan merusak di hari bahagia mereka yang kemarin.


.....


"Ampun, Ma ...." Febby menangis sesegukkan seiring dengan sebuah cubitan bertubi-tubi yang di berikan oleh Mila di bagian perutnya.


"Kamu ... sudah mama bilang, jika kamu harus lebih akrab dengan tetangga kita! Bukan malah menjauhinya!" tukas Mila yang kembali memberikan cubitan pada putrinya itu.


"Awww ... ampun, Ma. Sakit, Ma ...."


"Diam! Atau kamu akan mendapatkan hukuman yang lebih sakit lagi daripada ini!" ujar Mila dengan penuh penekanan.


Febby menutup mulutnya sendiri, berusaha agar meredam suara tangisnya. Gadis kecil itu kembali menjerit tertahan saat cubitan dari ibunya mendarat begitu saja, menarik kulitnya yang menyebabkan rasa sakit yang teramat.


Febby sengaja menjauhi Bima, bukan tanpa alasan. Ibunya menggunakan dirinya agar bisa merusak keluarga Bima. Lebih tepatnya, Mila menyukai ayah Bima. Hanya saja, sewaktu itu Mila malu dan menyuruh anaknya untuk lebih dekat dengan anak dari pria yang ia sukai.


Saat mengetahui bahwa Alvaro menikahi seorang dokter gigi, membuat Mila menjadi kacau. Ia kesal pada Febby yang tak kunjung mendekatkan dirinya pada Bima.


Gadis kecil itu tidak mau ibunya bersama dengan pria lain. Meskipun jauh, Febby masih mempunyai ayah. Ia tak ingin mendukung perselingkuhan ibunya karena Febby lebih menyayangi ayahnya. Walaupun ayah Febby hanya beberapa kali pulang dalam kurun waktu setahun, hal itu ia lakukan hanya untuk mencukupi kebutuhan anak dan istrinya.


Lama kelamaan, Mila pun menghentikan cubitan di perutnya. Saat pagi tadi, Mila sengaja mencekal kuat tangan putrinya, berharap agar Febby bisa mendekatkan diri pada Bima. Akan tetapi, justru Febby kembali memperlihatkan tatapan tak suka pada Bima, dan tentunya hal itu memancing kekesalan dari Mila.


Febby menatap ibunya yang perlahan pergi darinya. Ia bahkan membanting pintu dengan sangat kuat saat hendak menutup benda tersebut.


Febby memeluk lututnya. Ia kembali menangis sesegukkan saat ibunya pergi dari kamarnya. Bahu gadis kecil itu naik turun. Sesekali ia menarik air hidung yang ingin keluar. Febby meraih bingkai potret yang sudah pecah akibat ulah ibunya tadi. Perlahan, Febby pun membersihkan potret tersebut dari sisa serpihan kaca.


"Papa ... tolong pulanglah, Pa. Febby ingin kita kumpul lagi seperti kemarin," gumam Febby disela isak tangisnya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2