
Daren mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja. Pria tersebut meraih ponselnya, mencoba mengecek pesan WhatsApp yang pernah dikirim oleh Shinta. Pria tersebut terus menarik layar ponselnya ke atas, hingga ia menemukan pesan gambar yang dikirimkan oleh Shinta beberapa hari lalu.
Pesan gambar yang merupakan makanan dikirimkan oleh Juni. Namun, Shinta mengira bahwa makanan tersebut dari Daren.
"Baiklah, aku akan menggunakan cara ini juga," ujar Daren mengembangkan senyumnya.
Daren beranjak dari kursinya, lalu kemudian berjalan keluar untuk memesan makanan yang serupa dikirimkan oleh Juni.
"Tapi ... alangkah baiknya jika aku mengajaknya makan di luar. Tidak mungkin Shinta setiap hari selalu sibuk," gumam Daren yang mengubah rencana awalnya.
Pria tersebut berjalan menuju ke meja kerja Shinta. Akan tetapi, di waktu yang bersamaan, ia juga melihat atasannya baru saja keluar dari ruangannya. Alvaro tidak sendiri, melainkan diikuti oleh Juni.
Saat mereka berpapasan, Daren langsung menundukkan kepalanya dengan hormat seraya menyapa Alvaro.
"Siang, Pak. Mau keluar ya?" tanya Daren mencoba berbasa-basi. Sementara sang asisten langsung melirik pria tersebut dengan tatapan tajamnya.
"Dasar pria penjilat!" geram Juni dalam hati.
"Iya. Saya mau keluar. Kamu ... apakah ingin menemui saya?" tanya Alvaro seraya menunjuk dirinya sendiri.
"Oh, bukan Pak. Saya ingin menemui Shinta," ujar Daren.
"Shinta?" Alvaro menjengit, ia pun melirik ke arah Juni sekilas.
"Oh, silakan. Sepertinya Shinta sedang sibuk. Katakan padanya untuk tidak melupakan makan siang atau ajak dia keluar untuk mengisi perut terlebih dahulu, baru melanjutkan pekerjaannya," ucap Alvaro sembari melirik ke arah Juni.
Seketika rahang Juni mengeras karena Alvaro menawarkan hal tersebut pada rivalnya. Ia benar-benar geram pada sang atasan. Jika saka Alvaro bukanlah orang yang menggaji dirinya, mungkin pria itu sudah berteriak untuk membentak Alvaro.
"Saya baru saja berniat mengajak Shinta untuk makan siang keluar, Pak." Daren mengembangkan senyumnya karena atasannya yang terlihat sangat mendukung dirinya.
"Lakukanlah!" ujar Alvaro tersenyum samar. Sementara Juni, ia mengepalkan tangannya dengan kuat. Merasa kesal karena Alvaro yang memihak Daren.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Pak." Daren kembali menundukkan kepalanya, pria tersebut melanjutkan langkahnya menuju ke meja kerja Shinta.
Sementara Alvaro, ia sedari tadi melirik Juni yang sudah menggertakkan giginya. "Ada apa dengan ekspresi mu itu?" tanya Alvaro terkekeh.
"Entahlah! Mungkin saja aku sedang merasa senang," sindir Juni yang sengaja mengatakan hal sebaliknya.
"Ckckck! Ada-ada saja." Alvaro melangkahkan kakinya dan Juni pun kembali mengikuti Alvaro, meskipun dirinya merasa tak rela membiarkan Shinta dan Daren berduaan.
Shinta yang tengah menatap layar komputernya dikejutkan dengan keberadaan Daren yang tiba-tiba muncul.
"Astaga! Kamu mengejutkan ku saja," ujar Shinta sembari mengusap dadanya.
"Apakah kamu masih sibuk?" tanya Daren.
"Tidak terlalu. Memang ada apa?" Shinta bertanya balik.
"Ini sudah waktunya makan siang. Aku ingin mengajakmu untuk makan di luar. Dan aku juga sudah meminta izin pada Pak Alvaro tadi," jelas Daren sembari menatap jam yang ada di pergelangan tangan kirinya.
__ADS_1
"Baiklah," ucap Shinta yang menyetujui ajakan Daren. Pria itu sangat senang karena gadis tersebut tidak menolak ajakannya sama sekali.
....
Daren dan juga Shinta memutuskan untuk menikmati makan siangnya di sebuah restoran kecil, yang letaknya tak jauh dari kantor. Daren mempersilakan Shinta untuk memilih menu yang hendak ia nikmati.
Pria tersebut memanfaatkan hal ini, bertopang dagu menatap wajah cantik wanita yang ada di hadapannya. Terlihat Shinta tengah berbincang pada pelayan menunjuk menu yang ia pilih.
"Kamu mau makan apa?" tanya Shinta pada Daren.
"Apa saja pasti akan ku makan," celetuk Daren.
"Apakah di sini ada batu batako?" tanya Shinta pada pelayan tersebut. Pelayan resto itu hanya bisa terkikik geli mendengar pertanyaan Shinta.
"Bukan itu, maksudku makanannya," ucap Daren mengusap tengkuknya.
"Aku tidak tahu seleramu. Lebih baik kamu memilihnya sendiri," ujar Shinta menyerahkan daftar menu tersebut pada pria yang ada di hadapannya.
Daren pun melihat-lihat daftar menu, dan menunjuk salah satu makanan yang hendak ia pesan kepada pelayan.
Sepeninggal pelayan tadi, Shinta menatap Daren dengan seksama. Tentu saja hal itu membuat Daren menolehkan kepalanya ke arah kanan dan kiri.
"Ada apa? Apakah ada yang salah?" tanya Daren.
Shinta menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Daren lagi.
"Aku ingin menanyakan satu hal padamu," lanjut Shinta.
"Tanya apa?"
"Apa alasanmu sampai pindah ke sebelah unitku. Bukankah kamu sudah memiliki rumah?" tanya Shinta yang merasa penasaran.
Tak lama kemudian, pesanan mereka pun tiba. Pelayan tersebut meletakkan makanan itu di atas meja.
"Terima kasih," ujar Shinta.
Pelayan resto tersebut mengulas senyumnya. Lalu kemudian berjalan menuju ke meja yang lainnya.
Daren masih membisu. Ia belum menjawab sepatah kata pun atas pertanyaan yang diajukan oleh Shinta. Gadis itu mulai menyendokkan makanannya. Ia masih menunggu jawaban dari Daren atas pertanyaannya tadi.
"Kenapa kamu belum menjawab pertanyaan ku? Apakah sesulit itu untuk mengatakannya lebih jelas?" pancing Shinta sembari mengunyah makanannya.
"Kamu." Daren menjawab pertanyaan Shinta dengan sepatah kata.
"Maksudnya?"
"Alasanku pindah ke apartemen adalah kamu."
__ADS_1
Shinta meraih air minum yang tak jauh dari jangkauannya. Gadis itu mendorong makanan tersebut yang tersangkut di tenggorokannya.
Kemarin-kemarin ia hanya menebak saja. Namun, siapa sangka jika tebakan Shinta ternyata tepat sasaran.
"Bagaimana denganmu?" tanya Daren yang balik bertanya pada Shinta.
"Bagaimana apanya?" Shinta berpura-pura bersikap bodoh meskipun ia tahu arah pembicaraan Daren.
"Apakah masih ada harapan untukku bisa memiliki hatimu?"
Seketika suasana pun menjadi hening. Mata Daren menatap ke arah Shinta dengan lekat. Tak melepaskan pandangannya barang sedetik pun.
....
Sementara di lain tempat, Alvaro tengah menikmati makan siangnya bersama dengan sang asisten. Pria tersebut sedari tadi memperhatikan Juni yang hanya sibuk mengaduk-aduk makanannya. Sementara pikiran asistennya itu sedang melalang buana.
"Makananmu tidak akan habis hanya karena kamu aduk saja," tegur Alvaro.
Juni pun tersadar dari lamunannya. Melihat tampilan makanannya yang sudah berantakan. "Aku tak berselera makan," ujar Juni meletakkan kembali sendok yang ada di tangannya.
"Tidak biasanya kamu seperti ini. Ada apa? Apakah kamu merasa kesal?" tanya Alvaro.
Juni pun menjawabnya dengan sebuah anggukan pelan.
"Kesal dengan siapa?" tanya Alvaro lagi.
Juni mengarahkan jari telunjuknya pada Alvaro tanpa bersuara.
"Mau dipotong gaji?" ancam Alvaro sembari menyunggingkan senyumnya.
"Jangan!!" tegas Juni sembari menggeleng-gelengkan kepala.
Melihat tersebut, Alvaro langsung terkekeh geli. "Aku hanya bercanda. Lagi pula tidak mungkin aku memotong gajimu karena hal sepele," ujar Alvaro.
"Pria tadi ... kenapa kamu terlihat sangat tidak menyukainya?" Alvaro masih saja memancing Juni, agar sang asisten berbicara padanya.
"Dia adalah pria yang menyebalkan. Aku sangat tidak menyukainya," ujar Juni yang perlahan mulai terbuka pada atasannya.
"Dia tiba-tiba saja pindah ke unit sebelah. Membuatku muak melihat wajahnya setiap hari," lanjut Juni.
"Tunggu sebentar! Berarti sekarang kalian bertetangga?" tanya Alvaro.
"Iya." Juni menganggukkan kepalanya, membenarkan perkataan yang baru saja dilontarkan oleh Alvaro.
"Wow! Cukup menarik!" Alvaro melipat kedua tangannya ke depan seraya terkekeh.
"Jika banyak orang menyebutnya tetanggaku , idoalku. Namun, beda halnya dengan kalian. Sebutan untuk kalian berdua adalah tetanggaku, rivalku."
Juni berdecak sebal, sementara Alvaro sedari tadi terkekeh melihat Juni dengan wajah yang sedari tadi kusut bak baju yang belum disetrika.
__ADS_1
Bersambung ....