Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 85. Dua Wanita Pembuat Onar


__ADS_3

"Kalian sedang apa?" tanya Alvaro.


Keduanya pun menoleh, mereka membuka kaca helm serentak sembari mengembangkan senyum,


"Sedang menggoreng ikan," ucapnya bersamaan.


"Kenapa kalian memakai kostum seperti itu? Jas hujan, helm, ck ... ck ... ck ..." Fahri menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan istri dan menantunya.


"Mas, ini namanya APD, yang berarti alat pelindung diri," ucap Arumi menekankan kalimatnya untuk memberitahukan kepada sang suami.


"Ya, tetap saja. Mama dan Rania kenapa harus memakai APD segala, kalian kan berada di dapur," celetuk Alvaro yang tak habis pikir.


"Mas, kami memakai kostum ini agar tidak terkena cipratan minyak panas. Lagi pula, nanti kalau tangan atau wajahku melepuh, Mas memilih untuk mencari wanita lain lagi," ujar Rania seraya mendelik, ucapannya itu mengarah pada kejadian saat di sekolah tadi.


Ingatan seorang wanita memang sangat tajam. Bahkan, kejadian yang dikira sudah dilupakan pun akan tetap diingat hingga puluhan tahun ke depan.


"Eh, itu ... ikannya nanti gosong," ucap Alvaro mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


Pria itu pun langsung mendekat pada sang istri. Mengambil alih spatula yang dipegang oleh Rania, lalu kemudian membalik ikan yang ada di dalam wajan tersebut.


"Ikannya hancur." Kalimat itu lah yang terlontar di bibir Alvaro saat melihat kondisi ikan yang sangat mengenaskan, hampir tidak berbentuk. Sesaat kemudian, pria itu mengarahkan pandangannya pada dua wanita yang ada di belakangnya secara bergantian.


"Heran, ikan di wajan hanya satu tapi yang pegang spatula dua," ujar Alvaro seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Dua wanita itu pun membuat heboh seisi dapur. Fahri memerintahkan kepada para pelayan untuk membereskan kekacauan itu.


"Mas, tapi aku dan Rania ingin belajar memasak," ucap Arumi memajukan bibirnya dua centi.


"Kalian berdua bukan belajar memasak, tetapi hamir menghancurkan isi dapur," bantah Fahri.


Melihat Arumi yang mulai memasang wajah masamnya, membuat Fahri pun menghampiri sang istri dan berusaha membujuk wanita yang sudah memasuki usia lanjut tersebut.


"Sayang, Istriku, nanti kamu lelah, badannya sakit-sakit, Mas tidak mau gara-gara menggoreng ikan, kamu kenapa-kenapa," tutur Fahri yang mencoba membujuk Arumi dengan lembut.


"Sekarang, biarkan para pelayan yang menyiapkan makanan," lanjutnya.


Arumi pun mulai berjalan keluar dari dapur bersama dengan Fahri. Kini tinggallah Alvaro dan Rania yang saling melemparkan tatapan.


"Ayo Sayang!" ajak Alvaro menggenggam tangan istrinya.


Rania mengerucutkan bibir, masih sempat menoleh ke belakang, seolah tak tega meninggalkan ikannya di wajan. Sementara tangannya, tetap di tarik oleh Alvaro, menjauh dari dapur.


Alvaro membuka helm yang dipakai oleh Rania. Ia dapat melihat jelas raut wajah Rania yang terlihat masam.


"Ada apa? Kamu kesal karena masalah yang di sekolah tadi?" tanya Alvaro dengan lembut.


"Sayang, masalah berkencan dengan guru Bima, itu sebelum aku bertemu denganmu. Bima yang memintaku untuk berkencan dengan banyak wanita demi mencarikan ibu pengganti untuknya."

__ADS_1


"Setelah bertemu denganmu, Bima tak lagi memaksa ku mengencani wanita lain. Dia justru mendorongku untuk terus berusaha mendapatkan hatimu," jelas Alvaro panjang lebar.


"Jadi, kamu menikahiku juga karena Bima, bukan karena keinginanmu?" lirih Rania dengan suara yang tercekat, Alvaro menatap mata istrinya yang mulai memerah.


"Astaga, hanya masalah kecil dia menangis," batin Alvaro.


"Tidak, Sayang. Itu sama sekali tidak benar. Aku menikahimu juga karena kemauanku, rasa inginku untuk berada di sampingmu setiap saat. Jangan berpikiran yang tidak-tidak, ya. Lagi pula tak ada yang perlu dibahas lagi tentang masa lalu, semuanya sudah berlalu," tutur Alvaro menyeka air mata istrinya yang sudah membasahi pipi.


Rania menganggukkan kepalanya, menerima penjelasan dari sang suami. Alvaro pun memeluk Rania, mengusap puncak kepala istrinya dengan lembut.


"Sudah, tidak usah menangis lagi. Aku tidak tertarik pada wanita manapun. Hanya kamu, kamu yang mampu membuat jantungku berdetak setiap detiknya, hanya Rania, istriku."


Perlahan, Rania pun mulai mengembangkan senyumnya. Ia sangat menyukai kata-kata manis yang keluar dari mulut sang suami. Tak heran, Alvaro sangat penyabar dan penuh kasih sayang, ternyata semua itu menular dari sifat papanya.


Meskipun terlihat kaku dan sangat tegas, akan tetapi saat bersama dengan keluarga mereka bersikap hangat.


Semua keluarga telah berkumpul di meja makan. Aroma masakan tercium begitu lezat dan amat menggugah selera. Sajian itu merupakan buatan dari para pelayan yang handal memasak. Sementara ikan goreng masakan Arumi dan Rania tadi, diberikan pada anjing penjaga rumah, karena memang ikan tersebut sudah tak berbentuk layaknya seperti ikan lagi.


"Silakan dinikmati, Nak. Ini masakan orang-orang yang handal, masakan kita tadi ... diberikan pada anjing penjaga rumah yang ada di belakang karena dagingnya yang sudah tak berbentuk lagi," ujar Arumi sembari terkekeh.


"Hancur karena terlalu sering membalik ikannya," celetuk Fahri.


"Ya ... mau bagaimana lagi, namanya juga baru belajar memasak," balas Arumi.


"Mama juga sudah mengatakan kepada Bibi, untuk tidak menambahkan seledri pada supnya. Sekarang, makanlah!" lanjut Arumi menawari sang menantu.


Mereka pun menyantap makan siang tersebut dengan beberapa obrolan ringan. Sesekali mereka tertawa saat ada saja celotehan Bima yang mengundang tawa.


Setelah menjelang sore, Alvaro dan keluarga kecilnya pun berpamitan pulang. Ketiganya menyambut tangan Arumi dan Fahri, menyalaminya secara bergantian.


"Nanti main lagi ke sini ya, Nak. Jangan sungkan-sungkan, kita kan keluarga," ujar Arumi menawari Rania.


"Iya, Ma." Rania menimpali dengan mengembangkan senyum terbaiknya.


"Kami pulang dulu ya, Ma, Pa," ucap Alvaro.


"Iya. Hati-hati di jalan, Nak." Fahri dan Arumi pun berucap serentak.


Kedua pasangan yang memasuki usia lanjut itu pun mengantarkan kepulangan Alvaro dan yang lainnya. Hingga mobil Alvaro yang dikendarai oleh Alvaro pun menghilang dari pandangan, membuat keduanya kembali masuk ke rumah sembari saling merangkul.


Saat di perjalanan, mobil tampak terdengar ramai karena Bima serta Rania yang tengah bernyanyi bersama sembari bertepuk tangan.


Bima tampak terdengar begitu riang, begitu pula dengan Rania yang mengimbangi Bima sembari tertawa.


Alvaro sesekali melirik ke arah sang istri, dan juga Bima melalui spion tengah. Alvaro sangat bahagia. Ini adalah hal yang dinanti-nanti oleh putranya, dapat tertawa riang bersama dengan ibunya meskipun Rania hanya sebatas ibu sambung saja, akan tetapi kasih sayang yang diperlihatkan oleh wanita tersebut benar-benar tulus layaknya ibu kandung.


Mobil yang dikendarai oleh Alvaro pun sampai di apartemen. Mereka langsung turun dari kendaraan tersebut. Bima memegang tangan Rania, sesekali anak laki-laki itu melompat-lompat kecil.

__ADS_1


"Awas, Nak. Nanti jatuh, lantainya licin," tegur Rania.


"Ma, Bima malam ini tidur sama mama ya," ucap Bima.


Ketiga orang tersebut masuk ke dalam lift. Rania melirik ke arah Alvaro, sembari tersenyum penuh arti. Seolah memberi kode pada suaminya, untuk tidak meminta apapun malam ini.


Sementara yang ditatap hanya mengusap tengkuknya. Jatahnya kembali tertunda karena istrinya harus membagi peran sebagai seorang ibu.


"Boleh ya, Pa?" Bima mendongakkan wajahnya menatap sang ayah yang sedari tadi hanya terdiam.


"Iya, Nak. Boleh-boleh saja. Tapi untuk kedepannya, Bima harus tidur di tempat Bima ya, kan kasihan Teddy bear nya tidur sendirian," ucap Alvaro yang menjadikan boneka besar kesayangan Bima sebagai alasan.


"Baik, Papa. Bima mau tidur sama mama untuk malam ini saja," ujar anak laki-laki tersebut.


Pintu lift terbuka, mereka pun segera masuk ke dalam apartemen Alvaro. Sementara apartemen yang biasa di sewa oleh Rania, dibiarkan kosong dan beberapa barang-barang gadis tersebut juga telah di pindahkan ke tempat Alvaro.


Malam itu, mereka tidur bertiga, sementara Bima berada di tengah-tengah keduanya. Bima telah tertidur pulas saat Rania membacakan dongeng untuk anak laki-laki tersebut.


Sementara Alvaro, sedari tadi tak melepaskan pandangannya pada sang istri tercinta.


"Bima sudah tidur?" tanya Alvaro yang memang tidak tahu karena putranya itu memunggunginya, memeluk Rania.


"Iya, Mas. Dia sudah tidur," timpal Rania seraya menepuk-nepuk punggung Bima dengan pelan.


"Mas, ..."


"Hmmm ...." Alvaro menimpali istrinya.


"Aku ingin belajar memasak, Mas. Bisakah Mas mengajariku?" tanya Rania.


"Kenapa? Apakah kamu takut jika aku akan mencari istri lain yang bisa memasak nantinya?" goda Alvaro.


"Itu juga menjadi alasanku, Mas. Tapi alasan utamanya adalah aku ingin memasakkan sesuatu untuk kamu dan anak kita nantinya, Mas. Aku tidak ingin selalu kamu yang memasak, sementara tugas tersebut harusnya menjadi tanggung jawabku," tutur Rania.


"Kalau begitu, nanti kita cari pembantu saja," ujar Alvaro memberikan saran.


"Mas, tujuan utamaku kan ingin masak untuk kamu, untuk Bima juga. Aku benar-benar tidak bisa memasak sama sekali, aku terlalu manja dulunya hingga pada akhirnya yang bisa aku kerjakan hanyalah memasak mie instan," papar Rania.


Alvaro terkekeh, tangannya terulur mengusap puncak kepala sang istri. "Ya sudah, nanti Mas ajari kamu memasak ya."


"Terima kasih, Mas." Rania tersenyum.


Alvaro hanya menganggukkan kepalanya dengan perlahan," Sekarang kita tidur ya, lagi pula hari sudah malam."


Rania mengangguk, ia pun perlahan menutup matanya. Begitu pula dengan Alvaro, hingga mereka pun larut ke dalam alam mimpi.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2