Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 99. Benar-Benar Terjadi


__ADS_3

"Uppsss," ucap Mila sembari menutup mulut. Sementara pandangannya tak lepas dari jubah yang hampir terbuka sepenuhnya dari tubuh kekar Alvaro. Ia bisa melihat seberapa indahnya tubuh itu dari balik jubah mandi yang dikenakan oleh Alvaro.


"Dasar wanita sinting!!" cecar Alvaro sembari memperbaiki jubah mandinya yang hampir terlepas karena ulah Mila.


"Biarkan saja, kenapa tidak dilepas sekalian," ujar Mila dengan suara yang menggoda sembari mengerlingkan matanya.


"Sebaiknya kamu pergi sebelum saya bertindak lebih kasar dari pada ini!" tukas Alvaro.


"Tidak usah berlaku kasar padaku, nanti lama-lama kamu akan ketagihan dengan ini." Mila mulai menyentuh tubuh Alvaro dari balik jubah mandi tersebut.


Alvaro dengan cepat menepiskan tangan Mila. "Heh, asal kamu tahu, aku hanya bereaksi pada istriku saja. Jadi, hentikan semua ini dan pergilah dari sini!" tukas Alvaro dengan rahang yang mengeras.


"Sssttt ...." Mila meletakkan jari telunjuknya tepat di depan bibirnya.


"Tenanglah, tidak usah bertingkah sok jual mahal. Lagi pula, aku tidak menjamin jika kamu tak tergoda setelah ini." Mila mulai membuka kancing baju yang ia kenakan. Alvaro pun terkejut, dengan cepat ia menghentikan Mila. Sungguh, tetangganya ini benar-benar membuatnya merasa frustasi.


Bukan frustasi karena tubuhnya mulai bereaksi, tetapi ... jika ada yang melihat seperti ini tentu saja akan menimbulkan kesalahpahaman.


"Keluar atau aku akan menyeretmu untuk pergi dari sini!" tukas Alvaro.


Greppp ...


Tak disangka, tiba-tiba saja Mila memeluk erat tubuh Alvaro. Membuat pria itu sedikit kelimpungan dengan aksi nakal Mila. Dan ... wanita gila itu menyentuh bagian sensitif Alvaro membuat pria tersebut gelap mata.


PLAKKK ...


Satu tamparan mendarat di pipi wanita tersebut. Alvaro benar-benar marah dan kesal. Matanya menatap Mila seakan mencabik-cabik wanita tersebut saat itu juga.


"Baiklah, satu tamparan ini bisa membawamu ke jeruji besi," ancam Mila menyeka darah yang ada di sudut bibirnya.


"Jangan macam-macam kamu! Saya bisa menuntut balik dengan mengatakan pelecehan. Kamu tidak bisa membawa saya hanya karena satu tamparan itu saja. Saya akan membawa kamu ke jeruji besi dengan sebuah rekaman cctv. Hati-hati kamu!" Balas Alvaro mengancam balik.


Tak lama kemudian, terdengar suara pintu yang baru saja dibuka. Mila tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk merobek baju di bagian bahunya hingga terekspos dengan jelas.


Alvaro tertegun melihat aksi Mila yang ingin memfitnahnya. Sementara Rania sudah muncul dari balik pintu. Tatapan teduh Rania seolah berubah drastis saat menemukan sang suami bersama dengan wanita lain di dalam unit tersebut. Apalagi saat ini Alvaro tengah membenarkan jubah handuknya, sementara Mila mengeluarkan air matanya menutupi tubuh bagian bahu dengan baju yang ia robek.


"Mba Rania, ...." Wanita itu tampaknya sangat lihai bersandiwara. Bahkan ia sesegukkan menangis dan mengeluarkan air matanya.


"Sayang, apa yang kamu lihat tidak lah benar. Dia ... wanita gila ini yang lebih dulu masuk dan menyerangku. Sungguh!" ujar Alvaro yang langsung memperlihatkan kedua jarinya membentuk huruf 'V'.


"Itu semua tidak benar, Mba Rania. Dia yang lebih dulu menarik saya masuk ke sini. Padahal niat saya hanya untuk menemui Mba Rania," jelas Mila yang masih memperdalam sandiwaranya.


Rania menghela napasnya dengan berat. Wanita tersebut memilih untuk pergi sejenak, membawa Bima untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Sayang, ini adalah urusan orang dewasa. Sementara Bima masih kecil. Bima diam di kamar saja ya, terus pintunya di kunci, mengerti?" tanya Rania yang masih berbicara lembut pada putra sambungnya.

__ADS_1


"Baik, Ma." Bima mengangguk patuh, ia pun mengunci pintu tersebut. Sementara Rania, kembali menemui dua orang yang sedang bermasalah di ruang tengah.


"Mba Mila, tolong jelaskan secara spesifik kejadian barusan," ujar Rania melipat kedua tangannya di depan.


"Sayang, ...." Alvaro menjadi khawatir, ia takut jika Rania akan salah paham dengannya. Padahal Mila lah yang menyerangnya terlebih dahulu hingga membuat Alvaro seperti ini.


"Tadi saya ingin menemui Mba Rania, jadi saya mengetuk pintu. Tiba-tiba tangan saya ditarik oleh suami Mba, dan dibawa masuk. Ini ... ini adalah bukti bahwa suami Mba menyerang saya. Saya sudah berusaha untuk mengingatkan, akan tetapi ia tetap menyerang dan meminta saya menemaninya malam ini selagi tidak ada Mba Rania di rumah," jelas Mila panjang lebar.


"Woww ...." Alvaro tak habis pikir mendengar penjelasan yang sama sekali tidak benar.


"Ternyata kamu pandai bersandiwara juga. Kamu lah yang menyerang saya, bukan saya yang menyerang kamu!" tukas Alvaro menatap Mila dengan nyalang.


"Stop!!" tukas Rania membentak, ia pusing dengan perdebatan dua orang yang ada di hadapannya.


Wanita tersebut meraih tas mahal yang ada di atas sofa. Rania berjalan menuju Alvaro, hendak memukul Alvaro menggunakan tas tersebut. Seringaian licik penuh kemenangan pun terbit di wajah Mila. Ia benar-benar senang saat mengira bahwa Rania mempercayai ucapannya, dengan begitu rumah tangga mereka akan rusak, sesuai keinginan Mila.


Namun, seringaian licik itu perlahan memudar saat melihat Rania justru berbalik mengarahnya. Ia tidak jadi memukul suaminya menggunakan tas tersebut melainkan hendak memukulnya.


Bughhh ....


Bugghhh ....


Bughhhh ....


Lagi-lagi tas mahal itu mendarat di kepala Mila berkali-kali, hingga bahu Rania pun naik turun setelah meluapkan emosinya.


"Kamu pikir saya bodoh, hah?!" tukas Rania menatap tajam ke arah Mila.


"Tas mahal ini, saya tidak segan-segan menghancurkannya apalagi wanita murahan seperti kamu!" cecar Rania.


"Tas saya bahkan harganya jauh lebih mahal dari pada harga diri kamu!" lanjutnya yang terus memberikan umpatan pada tetangganya itu.


"Mba, ...." Mila menatap Rania dengan tatapan tak percaya. Sementara tangannya, memegang sebelah pipinya akibat pukulan dari Rania tadi.


"Saya tidak ingin mendengarkan penjelasan apapun dari kamu!" Rania menunjuk Mila.


"Cukup tadi siang, kamu memaksa anak saya untuk ikut bersamamu. Dan itu ... sudah menjelaskan semuanya bahwa kamu memiliki niat tersembunyi!" tukas Rania lagi.


"Saya menawarkan untuk pulang bersama hanya karena kita bertetangga, Mba. Lagi pula saya menyesal jika kebaikan saya dibalas seperti ini," ujar Mila yang masih membela diri.


"Kamu pikir saya percaya, hah?! Saya lebih percaya ucapan anak dan suami saya dibandingkan ucapan orang asing sepertimu!" cecar Rania.


Rania menghela napasnya berat, Mila benar-benar wanita yang tidak memiliki urat malu sama sekali. Bagaimana tidak? Sudah ketahuan bersalah ia masih tetap mengelak dan memberikan pembelaan terhadap dirinya sendiri.


"Sebaiknya kamu pergi dari sini, sebelum saya laporkan kamu ke polisi karena telah menerobos masuk ke rumah saya tanpa izin!" tegas Rania.

__ADS_1


Mila menghentakkan kakinya, ia kesal karena usahanya gagal. Di tambah lagi dengan situasi yang seperti ini, tentu mustahil bagi Mila untuk mendapatkan perhatian dari Alvaro lagi.


Wanita itu melangkahkan kakinya pergi dari unit Alvaro dengan perasaan dongkol. Namun, sebelum ia benar-benar pergi, Mila menoleh sejenak, seolah hendak memberikan perhitungan pada kedua pasangan suami istri tersebut setelah ini. Mila menutup pintu tersebut, membantingnya dengan cukup kasar.


Sementara Rania, wanita itu datang menghampiri suaminya, lalu kemudian menghambur ke pelukan Alvaro.


"Kamu percaya sama Mas kan?" tanya Alvaro yang masih takut jika Rania menyimpan keraguan pada dirinya.


Rania membenamkan wajahnya di dada bidang Alvaro, lalu kemudian menganggukkan kepalanya.


"Kalau kamu masih meragukan Mas, kamu boleh lkhat langsung rekaman cctv-nya. Bagaimana sikap Mila terhadap Mas tadi," jelas Alvaro.


"Tidak perlu, Mas. Aku tidak mau cari penyakit lagi. Melihat rekaman cctv itu sama saja dengan mencari penyakit, yang membuatku akan semakin dongkol dengan wanita itu," ujar Rania.


Rania melonggarkan pelukannya, menatap suaminya dengan mendongakkan kepala, mengingat Alvaro lebih tinggi darinya.


"Mas, maafkan aku ya yang sempat tidak percaya ucapan Mas Varo," ucap Rania dengan raut wajah bersalahnya.


"Tidak apa-apa, Sayang. Ini adalah pembelajaran untuk kamu kedepannya, jika Mas berbicara, jangan kamu tertawakan, jangan kamu anggap Mas hanya lelucon. Mas tidak akan sampai se-nekat ini, mengajak kamu pergi dari sini," tutur Alvaro.


"Berarti tujuan Mas membeli rumah hanya untuk menghindari wanita gila itu?" tanya Rania.


"Tidak hanya itu. Mas membeli rumah untuk kita nanti, supaya anak-anak lebih leluasa bermain. Memberikan hunian yang lebih nyaman untuk kalian, bukan semata hanya karena dia," bantah Alvaro.


Rania menganggukkan kepalanya beberapa kali, ia paham atas penjelasan yang diberikan oleh suaminya barusan.


"Oh iya, tadi kenapa dengan Bima? Memangnya diapakan saja Bima dengan wanita gila itu?" tanya Alvaro yang merasa penasaran atas kejadian yang menimpa anaknya.


"Tadi, Bima saat diperjalanan bercerita padaku, kalau Febby mendatanginya. Febby meminta agar Bima segera pindah rumah, dan mengatakan bahwa ibunya akan merebut kamu. Dan saat Bima pulang, Febby juga memberikan kode pada Bima untuk tidak ikut bersama mereka. Selama ini, kita salah menilai anak itu, Mas. Dia tidak menyukai Bima hanya karena terpaksa. Tidak ingin ibunya menjadi akrab dengan kita. Hanya saja, aku yang terlalu bodoh untuk menyadarinya," jelas Rania panjang lebar.


"Lalu bagaimana nasib anak itu nantinya?" tanya Alvaro.


"Entahlah. Kita lihat saja nanti. Jika dia memberikan penyiksaan terhadap Febby, aku yang akan menyuruh anak itu membuka mulut dan melaporkan ibunya ke polisi. Wanita itu sepertinya psikopat," cecar Rania.


Pandangan Rania teralihkan pada tubuh suaminya, "Mas sudah selesai mandinya?" tanya Rania yang tengah memindai tubuh Alvaro dari atas hingga bawah.


"Belum," timpal pria itu singkat.


"Ya sudah, mandi dulu sana!" Rania sedikit mendorong Alvaro agar kembali ke kamar mandi.


"Mandiin," goda Alvaro.


"Mandi sendiri, Mas bukan bayi!"


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2