
Siang ini, Rania disibukkan dengan menyiapkan makan siang untuk sang suami. Wanita itu tengah menata makanan di dalam wadah, membuatnya semenarik mungkin.
Rania melirik jam tangannya," Tak lama lagi Bima pulang, aku harus segera menyelesaikan semua ini secepatnya," gumam Rania yang melanjutkan menata makanan tersebut.
Tak lama kemudian, pekerjaannya pun telah selesai. Rania tersenyum, ia mengambil ponselnya, mengabadikan momen dimana dirinya bisa menyiapkan makan siang untuk sang suami. Ia memposting gambar yang diambilnya itu di media sosialnya.
"Sekarang waktunya aku menjemput Bima," ucapnya.
Rania melepaskan apron yang masih melekat di tubuhnya. Ia bersiap untuk menjemput Bima dan juga mengantarkan makan siang pada sang suami tercinta.
Rania berjalan menuju ke dalam mobil, sembari menenteng lunch bag yang ada di tangan kirinya. Sementara tangan kanannya, sibuk memegang ponsel, bertukar pesan pada Alvaro.
Rania : Aku sebentar lagi akan ke sana bersama dengan Bima. Ini baru saja hendak menjemput Bima. Mas sudah melihat foto yang ku kirimkan bukan? Bagaimana menurut Mas? Apakah caraku menatanya sudah mirip seperti koki yang handal?
Rania mengirimkan pesan singkat tersebut. Tak lama kemudian, ia pun mendapatkan balasan dari Alvaro.
Alvaro: Ya, aku sudah melihatnya. Dan menurutku itu tidak buruk. Apakah setelah ini istriku bercita-cita untuk menjadi koki?
Rania tersenyum saat melihat pesan yang dikirimkan oleh sang suami. Saking asyiknya berbalas pesan, ia tak melihat bahwa mobilnya sudah berada tepat di depannya, sementara Rania masih sibuk menatap layar ponselnya sembari berjalan.
Bughhhh ...
"Awww ...." Rania meringis kesakitan saat menyadari bahwa dirinya tengah menabrak mobil yang ada di hadapannya.
"Mobil sialan!" umpatnya.
Sepertinya kali ini dia tidak akan menyadari bahwa kejadian tadi adalah kesalahannya. Anggap saja itu adalah salah mobil yang salah memposisikan dirinya di sana, tidak mengerti bahwa saat ini orang yang menabraknya sedang dalam keadaan berbunga-bunga, tetapi langsung dipatahkan seketika karena rasa sakit pada bagian tubuhnya.
Setelah menabrak mobil, Rania langsung memilih untuk berhenti membalas pesan dari Alvaro yang membuatnya lupa waktu. Ia bergegas masuk ke dalam mobilnya, karena saat ini waktunya untuk menjemput jagoan kecilnya.
Rania menikmati perjalanannya menuju ke sekolah Bima sembari mendengarkan lagu. Sesekali wanita tersebut ikut bernyanyi saat lagu kesayangannya tengah diputar, menemani perjalanannya di tengah hari yang terik seperti ini.
Tak lama kemudian, mobil yang ia kendarai pun tiba di depan sekolah Bima. Rania langsung turun dan masuk ke dalam gerbang sekolah untuk menemui putra tercintanya.
Dari kejauhan, ia melihat Bima yang baru saja keluar dari ruang kelasnya. Kali ini, Rania tidak terlambat menjemput putra sambungnya itu.
"Mama!" Seru Bima berlari menghampiri Rania.
"Jangan lari-larian, Nak. Nanti kamu terja ...." Baru saja Rania hendak menegur Bima untuk tidak berlari, takut jika anak laki-laki itu terjatuh. Namun, Rania belum menyelesaikan kalimatnya, Bima pun sudah tersungkur ke tanah.
"Bima!" Rania langsung panik dan bergegas menghampiri putranya.
"Astaga Nak, ayo bangun, Sayang!" ujar Rania sembari membantu Bima untuk berdiri.
Bima pun langsung berdiri, Rania membersihkan baju Bima yang kotor. Ia pun membelalakkan mata saat melihat lutut Bima mengeluarkan darah.
"Ya ampun, Sayang. Kakimu terluka," ucap Rania panik. Sementara Bima hanya sedikit meringis dengan mata yang memerah menahan luka yang ada di lututnya.
"Sini naik ke punggung mama, biar mama obati lukamu di mobil nanti," lanjut Rania.
Dengan cepat Bima menggelengkan kepalanya, " Bima tidak udah digendong, Ma. Bima sudah besar, biar Bima jalan sendiri saja," tolak Bima.
"Tapi kakimu terluka, Nak." Rania menatap putra sambungnya dengan raut wajah khawatir.
__ADS_1
"Bima masih bisa jalan kok. Mama tidak perlu khawatir," ucap Bima yang masih mengembangkan senyumnya.
Rania hanya bisa pasrah. Wanita tersebut menggandeng putranya, menuntun anaknya untuk masuk ke dalam mobil.
Sesampainya di mobil, Rania bergegas mengambil kotak P3K yang ada di dalam kendaraannya. Ia memang selalu membawa perlengkapan itu dan memasukkannya ke dalam mobil, takut jika hal yang tidak diinginkan seperti ini terjadi.
"Mama obati dulu lukamu ya, Nak. Tetapi kamu bisa menahannya kan? Karena ini sedikit perih," ucap Rania yang mulai membuka kotak P3K tersebut.
Bima menganggukkan kepalanya. Saat Rania mensterilkan luka Bima dengan alkohol, Bima mengepalkan tangannya, mencoba untuk menahan rasa perih itu.
"Apakah sangat perih?" tanya Rania sembari menatap putranya.
"Tidak apa-apa, Ma. Bima bisa menahannya," timpal Bima.
Rania kembali membersihkan luka Bima, dengan telaten ia mengobati kaki Bima dan memberikan perban untuk membalut bagian luka tersebut.
"Sudah selesai," ucap Rania memasukkan kembali peralatan obat tersebut ke dalam kotaknya.
Wanita itu menatap anaknya, lalu kemudian mengembangkan senyumnya. "Apakah sakit?" tanya Rania.
"Lumayan sakit, Ma. Tetapi Bima bisa menahannya. Nanti juga akan sembuh karena tangan ajaib mama yang mengobati luka Bima," ujar Bima menyunggingkan senyumnya.
Rania merasa tersentuh dengan ucapan putra sambungnya itu. Tangannya pun mengusap puncak kepala Bima dengan lembut.
"Anak hebat! Bima adalah jagoan mama. Sekarang kita ke kantor papa yuk! Ajak papa untuk makan siang bersama," ucap Rania.
"Asik! Bima senang bisa makan siang bersama papa," ujar Bima kegirangan.
Rania pun memasangkan sabuk pengaman pada tubuh Bima. Lalu kemudian memasangkan sabuk pengaman juga pada tubuhnya. Wanita tersebut mulai melajukan kendaraannya, menuju ke kantor sang suami bersama dengan putranya.
Tak lama lagi, mobil yang dikendarai oleh Rania tiba di perusahaan. Kebetulan melewati ke klinik tempat ia bekerja dulu. Rania menoleh sejenak saat melewati tempat itu.
"Mama mau bekerja lagi?" tanya Bima melihat ibunya yang menoleh sekilas.
"Tidak, Nak. Mama hanya melihat-lihat saja," timpal Rania yang kembali fokus ke depan.
Sesaat kemudian, mereka pun telah tiba di perusahaan. Rania memarkirkan mobilnya, lalu kemudian turun dari kendaraan tersebut bersama dengan putranya. Tak lupa dengan lunch bag yang sudah ia bawa tadi.
Rania berjalan pelan, karena memikirkan luka di kaki putranya. Namun, Bima seolah bersikap biasa saja. Jika anak seumuran dengannya, jatuh tertelungkup pasti akan menangis tersedu. Beda halnya dengan Bima. Seolah ia bisa menguatkan dirinya, tidak mudah menangis dan memilih untuk tetap tenang.
"Papa kira-kira sedang apa ya Ma?" tanya Bima mendongak, menatap wajah ibunya.
"Mungkin sedang ada di ruangannya, mengerjakan beberapa tugas kantor," timpal Rania.
Satpam yang berjaga di depan langsung menyapa keduanya dengan menundukkan kepala, Rania pun membalas sapaan tersebut dengan mengulas senyum. Begitu pula dengan pegawai kantor yang berpapasan dengan keduanya. Mereka pasti akan menundukkan kepala karena mengetahui bahwa Rania adalah istri dari atasan mereka.
Rania dan Bima masuk ke dalam lift, yang mengantarkan mereka menuju ruangan Alvaro. Sesaat kemudian, pintu lift terbuka. Mereka langsung keluar dari ruangan sempit itu.
Saat hendak menuju ke ruangan, mereka berpapasan dengan Juni. Pria itu pun langsung menundukkan kepalanya.
"Alvaro ... apakah ada di ruangannya?" tanya Rania pada tangan kanan suaminya itu.
"Ada, Bu. Mari saya antar," ujar Juni.
__ADS_1
Juni mempersilakan pada Rania dan Bima untuk berjalan terlebih dahulu, sementara ia mengekor di belakang kedua orang tersebut.
Setibanya di ruangan Alvaro, Rania melihat Shinta yang baru saja keluar dari ruangan tersebut sembari memegang berkas yang ada di tangannya.
"Eh, Rania ...." Shinta menyapa, akan tetapi langsung mendapatkan tatapan tajam dari Juni karena bersikap tak sopan.
"Ck! Jangan memanggilnya seperti itu," bisik Juni pada Shinta.
Rania dapat mendengar apa yang dikatakan oleh Juni. Ia pun mengulas senyumnya. " Tidak apa-apa. Lagi pula kami dulunya berteman. Tolong jangan terlalu formal hanya karena aku adalah istri dari bos kalian," ucap Rania.
"Baik, Bu Rania. Maafkan saya," ujar Juni.
"Tidak masalah. Kalau begitu kami masuk dulu ya. Terima kasih karena telah di antar sampai sini," ucap Rania yang kemudian mengajak Bima masuk ke dalam ruangan tersebut.
Shinta dan Juni menatap Rania hingga istri dan anak dari atasannya itu menghilang dari balik pintu. Juni menatap Shinta, dengan kembali memberikan teguran pada sang sekretaris.
"Ada apa denganmu? Kenapa kamu melihatku seperti itu?" gerutu Shinta.
"Aku minta, untuk kedepannya jangan bersikap seperti tadi. Meskipun Bu Rania adalah temanmu, tetap saja mengutamakan kesopanan, karena ini adalah kantor, jadi patuhi aturan kantor!" tegas Juni memperingatkan sang sekretaris.
"Iya iya ... benar-benar cerewet, mungkin semalam tidak mendapatkan servis dari istrinya, makanya terbawa-bawa emosinya sampai ke sini," gerutu Shinta dengan suara pelan.
"Aku bisa mendengar ucapanmu," tegas Juni.
"Terserah!" Shinya langsung pergi meninggalkan Juni begitu saja. Sementara Juni, pria itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dengan sikap yang ditunjukkan oleh Shinta.
"Gadis itu memang susah diatur. Tidak heran jika sampai sekarang dia melajang," cecar Juni pelan.
"Tapi ... bagaimana dia tahu jika aku merajuk karena hal itu?" lanjutnya sembari menelengkan kepala.
"Terserah lah! Lagi pula wanita memang seperti itu. Susah untuk dimengerti," ujar Juni yang memilih untuk kembali ke meja kerjanya.
Di waktu yang bersamaan, Rania dan Bima baru saja masuk ke ruangan Alvaro langsung menghampiri pria yang tengah serius menatap ke arah layar komputernya.
Alvaro baru menyadari kedatangan keduanya saat mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Pria itu pun tersenyum menatap anak dan istrinya. Memilih untuk menutup dokumen yang ada di hadapannya.
"Mas masih sibuk?" tanya Rania.
"Sudah tidak lagi. Kalian datang di saat yang tepat. Perut papa langsung berbunyi saat mendengar kedatangan kalian, seolah tahu bahwa kalian membawa makanan yang lezat," ucap Alvaro sembari merangkul istrinya menuju ke sofa yang ada di ruangan tersebut.
Pupil mata Alvaro seketika membesar saat melihat kaki putranya yang terbalut perban. "Bima kenapa Nak? Ini kenapa di perban?" tanya Alvaro yang langsung berjongkok melihat kaki anaknya.
"Tadi Bima jatuh saat hendak menghampiri aku," timpal Rania.
"Salah Bima, Pa. Tadi Bima menghampiri mama dengan berlarian. Bima tersandung batu dan Bima terjatuh. Papa tenang saja, lukanya tidak parah karena telah diobati oleh mama," jelas Bima pada sang ayah.
"Jangan lari-larian lagi ya, Nak. Tuh lihat! Kakimu sudah menjadi korban atas kecerobohan yang kamu perbuat," ujar Alvaro menasihati buah hatinya.
"Baik, Pa."
"Kalau begitu, ayo kita makan siang dulu!" ajak Rania sembari mengangkat sedikit lunch bag yang ada di tangannya.
Kedua pria berbeda generasi tersebut mengangguk, lalu kemudian menduduki sofa yang ada di ruangan Alvaro untuk menikmati makan siang bersama.
__ADS_1
Bersambung ....